Bel pulang sekolah berbunyi, Elisa memasukkan bukunya asal kedalam tas dan bergegas menuju gerbang karna si om m***m a.k.a Maximilian sudah menunggu didepan gerbang.
"Misi, misi." ucapnya ketika melewati kerumunan dan meminta maaf saat ia tak sengaja menabrak seseorang karna terburu-buru.
Blam
Lagi-lagi Max harus mengusap dadanya sabar kala Elisa membanting pintu mobilnya, lama-lama bisa lepas pintu mobilnya.
"Bisa tidak, kalau menutup pintu mobil tuh pelan dikit? Bisa jantungan saya kalau kamu menutup pintu seperti itu. Monmap ini tuh mobil mahal." ucap Max
Mendengar ucapan songong Max membuat Elisa kembali membuka pintu mobil dan membantingnya lebih keras.
"Kamu--"
"Apa?" balas Elisa dengan muka kesal
"Gak." akhirnya Max memilih mengalah dan menyalakan menyalakan mobilnya dan melenggang pergi dari sana.
"Om?" panggil Elisa tetapi dihiraukan oleh Max
"Om?"
"Ih, om m***m!!" jengkelnya membuat Max menjitak kepalanya.
"Yang sopan sama tunangan."
"Ya, lo kalau dipanggil nyaut kek." kesal Elisa sambil mengusap kepalanya yang dijitak oleh Max
"Tapi jangan manggil pake embel-embel om dong, saya bukan om kamu." ucap Max ngegas
"Ya biasa aja dong, gosah ngegas." balas Elisa ngegas
Mereka sudah seperti orang rimba, suka sekali teriak-teriak.
Elisa menghela napas pelan. "Lo kenal gak sama anaknya om Laskar?" tanya Elisa
"Ada urusan apa kau dengan anaknya?" tanya Max tak suka
"Jawab aja sih,"
"Aku mengenal Langit dan Lembayung tapi dengan yang bungsu, aku tidak mengenalnya." ucap Max
"Trus Lo tau dong berita yang akhir-akhir ini tentang si bungsu Sadewa, yang sedang terbaring dirumah sakit karna jatuh dari lantai 15 di apartemen temannya?" tanya Elisa
Max menatap Elisa dengan dahi berkerut. tenang saja, sekarang mereka sedang menunggu lampu merah ntar kalau si Max natap Elisa pas mobilnya jalan kan bisa tamat ini cerita. Ok lanjut
"Kamu tau darimana berita itu?" ucap Max dengan penuh kecurigaan.
"Ya... Ya darimana kek, ck, tinggal jawab juga." ucap Elisa kesal
"Aku tidak tau soal itu, tapi kalau tidak salah sekretarisnya pernah mengatakan kalau salah satu anaknya sedang dirawat dirumah sakit." jelas Max
"Trus, trus, Lo tau dimana rumah sakitnya?" tanya Elisa penuh harap tapi dijawab gelengan kepala oleh Max membuat bahunya merosot.
"Mana mungkin mereka membiarkan hal semacam itu terjadi, keluarga Sadewa sangat menjaga kerahasiaan privasinya." jelas Max membuat Elisa menganggukkan kepalanya.
Dia lupa kalau si Laskar tidak akan membiarkan apapun terjadi padanya, begini begini papihnya tetap menyayangi Leodra, ya iyalah bisa diamuk ibu negara si Laskar karna membahayakan dirinya, mwehehehehe.
"Hm... Btw Lo kan ganteng tuh," ucap Elisa membuat Max melirik sekilas padanya. "Bisalah Lo cari informasi tentang rumah sakitnya." ucap Elisa dengan senyum manis-manis bangsat
"Dapat apa saya, bantu kamu?" ucapnya Max
"Dapat azab Lo!" umpat Elisa kelewat kesal, "heran! Padahal minta bantuan doang kudu dapat imbalan, gue gencet juga nih laki lama-lama." gumam Elisa
****
Elisa menghempaskan badannya ke kasur king sizenya, menutup mata dengan lengan. Dia bingung harus mencari informasi kemana, kepada Elbara? Halah disembur yang ada. Aduh this is so f*****g situation.
Aha
Elisa bangkit dari tidurnya dan berlari menuju kamar Raffa, pasti kakaknya itu mau membantu. Semoga saja.
Elisa mengetuk pintu kamar Raffa, tak lama kemudian sang empunya kamar membukakan pintu sembari menatap bingung pada sang adik.
"Kenapa?" tanyanya
"Em.. aku boleh minta tolong gak?" ucap Elisa
"Minta tolong apa?"
"Bisa gak, kakak nyari informasi tentang rumah sakit tempat Leodra Triputra Sadewa dirawat." ucap Elisa
Raffa mengerutkan kening dalam, perasaan adik perempuannya ini tak pernah berkenalan dengan anak rekan bisnis papanya itu.
"Kenapa tiba-tiba?"
"Em.. gak ada sih, hanya saja aku ada perlu dengannya." ucap Elisa seraya memainkan jarinya dibelakang tubuhnya
Akhirnya Raffa pun mengangguk dan mempersilahkan Elisa memasuki kamarnya.
"Kamu duduk saja dulu, biar kakak mencari informasinya. Mungkin akan memakan waktu tapi bukan berarti tidak bisa." ucap Raffa dan berjalan kearah komputernya berada.
Elisa hanya menuruti ucapan kakaknya itu, dia beralih memandangi kamar kakak tertuanya itu. Seperti kamar pria pada umumnya, didominasi warna coklat dan abu-abu. Barang-barangnya pun tidak terlalu banyak dan tertata rapi.
Satu menarik perhatian Elisa yaitu sebuah foto yang dipajang disamping rak buku, disana dia melihat dua anak laki-laki dan seorang wanita hamil tengah duduk ditaman. Dimana salah satu anak laki-laki itu tengah memegang perut wanita hamil itu seolah mengajak anak yang didalam perut wanita itu berbicara, dan anak satunya mendekatkan kepalanya ke perut wanita itu.
Elisa berjalan mendekati foto itu, guna melihat wajah wanita hamil yang diduga ibu dari kedua anak laki-laki itu dan juga ibunya(?)
"Cantik banget." gumamnya sembari mengelus foto wanita hamil itu tepat diwajah.
"Ck, pantes nih cewek cantik, nyokapnya aja modelan ini. Gila!" decak Elisa kagum
"Eh tapi cantikan nyokap gue kemana-mana." si anjir:)
Raffa mengalihkan pandangannya dari komputer kearah sang adik yang sedang mengelusi wajah mama mereka.
"Itu diambil saat mama hamil kamu tujuh bulan." ucap Raffa
"Hm... Mama cantik banget ya." ucap Elisa tanpa menatap Raffa
"Banget, mama orang tercantik yang pernah kakak lihat."
"Pantesan aku juga cantik." ucap Elisa membuat Raffa terkekeh geli, entah kenapa adiknya ini sangat percaya diri.
"Oh iya, besok ulang tahunmu kan? Kamu mau kado apa dari kakak?" tanya Raffa membuat Elisa berbalik menatapnya.
"Aku mau ziarah ke makam mama." ucap Elisa membuat Raffa terdiam
"Besok juga hari peringatan meninggalnya mama kan? Aku mau jengukin mama." ucap Elisa menatap Raffa lekat
"Kakak maukan mengabulkan permintaanku?" tanya Elisa yang dibalas senyuman oleh Raffa lalu kemudian Raffa mengangguk.
"Besok kita ketempat mama." ucap Raffa membuat Elisa tersenyum senang lalu berlari dan memeluk Raffa yang dibalas dengan pelukan hangat serta kecupan dikepala oleh Raffa.
****