Hari ini adalah hari ulang tahun Elisa, yah... Tak ada yang spesial, sama seperti ulang tahunnya tahun lalu.
Saat Elisa membuka mata tak ada seorangpun yang datang ke kamarnya mengucapkan selamat ulang tahun. Padahal jika ini ditubuh aslinya sang mamih pasti sudah heboh dari jauh-jauh hari untuk membuat pesta ulang tahunnya semeriah mungkin. Miris memang tapi mau gimana lagi? Elisa kan gak punya mamih, ok ini mulai gelap ya bund.
Elisa bangkit dari tidurnya dan berjalan keluar untuk mencari Raffa karna semalam pria itu berjanji ingin menemaninya ziarah ke makam sang mama.
"Selamat ulang tahun nona." ucap Aisha girang saat Elisa baru saja menginjakkan kaki dianak tangga terakhir.
Elisa tersenyum, "makasih, Aisha." ucapnya tulus
"Ini untuk nona," Aisha menyerahkan sebuah kotak yang Elisa tak tau apa isinya. "Maaf kalau nona tidak suka, soalnya uang Aisha tidak cukup." ucap Aisha kikuk.
"Apaan sih, Lo tau gak? Lo ngucapin selamat buat gue aja, gue dah seneng anjir apalagi dikasih kado begini. Makin seneng lah gue, btw makasih ya Lo orang pertama yang ngucapin selamat ulang tahun buat gue." ucap Elisa sembari memandangi kado yang diberikan Aisha dengan tatapan sedih.
Leodra sedih karena dihari ulang tahunnya gadis ini tak mendapat ucapan selamat dari keluarga, mentok-mentok si Raffa yang ngucapin.
Keheningan meliputi mereka, Aisha sebenarnya ingin melanjutkan langkahnya menuju dapur tapi saat melihat raut sedih diwajah sang nona membuat ia mengurungkan niatnya.
"Aisha? Seandainya nyokap kagak meninggal apa hidup gue akan seperti ini?" tanya Elisa membuat Aisha terdiam
"Bukan apa sih, tapi nyesek aja gitu tiap taun pas gue bertambah umur seorangpun dari keluarga gue kagak ada yang ngucapin, mentok-mentok si Raffa yang ngucapin itupun telat. Miris banget gak sih gue? Kagak punya nyokap, dibully mulu sama anak-anak setan dan saat gue dibully pun kagak ada yang peduli." Entah sejak kapan, mata Elisa sudah mulai memburam.
Jika dulu saat ia menjadi Leodra, dia akan merasa malu jika Violetta merayakan ulangtahun nya atau mengucapkan selamat ulang tahun dan mendapat kecupan dikedua pipinya. Tapi sekarang dia benar-benar merindukan hal itu.
"Mae... Adek rindu." ucapnya seraya duduk dianak tangga terakhir
Leodra pikir dia akan baik-baik saja saat jauh dari Violetta tapi ternyata dia hanyalah anak remaja labil yang masih membutuhkan sang mamih.
Entah terbuat dari apa mental gadis yang sedang didiaminya ini, tak pernah melihat paras sang ibu atau merasakan dekapan hangatnya selama belasan tahun. Jika itu Leodra sudah dipastikan ia akan menjadi anak pemberontak dan susah diatur.
Aisha ikut menangis saat melihat nonanya menangis.
"Hiks... Hiks... Nona jangan nangis.. walau mereka gak ngucapin selamat nonakan masih punya Aisha sama mamuy Mery, hiks.. hiks.."
"Lo gak bakal ngerti," gumam Elisa dan bangkit dari duduknya dan kembali menaiki tangga menuju kamarnya.
Elisa menangis dengan menenggelamkan kepalanya pada bantal guna meredam suaranya, dia tak mau terlihat menyedihkan dihari ulang tahunnya ini.
Ceklek
Pintu kamarnya terbuka membuat ia buru-buru menghapus jejak air matanya.
"Kamu udah bangun, dek?" tanya Raffa dengan badan setengah masuk
"Udah." jawab Elisa tanpa menatap Raffa
"O-oh yaudah mandi gih, 'kan kamu bilang mau jengukin mama." ucap Raffa
"Iya, ini mau mandi kok, kakak tunggu diluar aja."
Tanpa mengatakan apapun Raffa kembali menutup pintu kamar adik perempuannya itu tapi dia tak benar-benar pergi, dia masih berdiri membelakangi pintu kamar itu dengan mata terpejam dan tangan mengepal. Dia pikir adiknya tak pernah merindukan sang mama, dia pikir adiknya tak perlu ucapan selamat ulangtahun, dia pikir adiknya sama sepertinya yang tak suka dengan hal-hal seperti itu. Tapi nyatanya gadis malang itu hanya ingin hal-hal seperti itu, lagi Raffa merasa gagal menjadi seorang kakak untuk adik perempuannya.
"Sialan!" umpat Raffa dan berlalu dari sana.
***
Elisa turun dari mobil dengan buket bunga tulip ditangannya. Hari ini tak hanya dirinya dan Raffa yang berkunjung kemakam sang mama tapi juga sang papa dan Shura.
Berjalan sekitar sepuluh meter dari pintu masuk akhirnya mereka berhenti didepan makam dengan salib yang bertuliskan 'Silvana Verenich'
Tak ada yang bersuara, semuanya hanya terdiam seolah tau jika mereka sedang bersedih.
Elisa mulai mencabuti rumput-rumput liar yang tumbuh diatas makam itu begitupun dengan ketiga pria berbeda generasi itu.
Satelah mencabuti rumput-rumput itu, mereka menuangkan air dan Elisa meletakkan tulip yang dibawanya tadi keatas makam itu.
"Maaf, mama." gumam Elisa
Hugh... Hugh... Elisa tak kuasa menahan tangisnya dia membekap mulutnya supaya tangisnya tak terdengar oleh ketiga pria didekatnya itu, tetapi tetap saja tangisnya masih terdengar.
"Sakit sekali..." ucapnya seraya memukul-mukul dadanya berharap rasa sesak yang menyiksa segera pergi.
Hugh...
Hugh...
Raffa dengan sigap memeluk adiknya itu, sementara Shura dia sudah mengalihkan pandangannya tak kuasa melihat adiknya seperti itu.
"Mengapa disini sesak sekali," ucap Elisa menunjuk dadanya masih dengan isakan. "Padahal aku tak mengenalnya ataupun bertemu dengannya."
Raffa tak membalas ucapan sang adik, dia hanya memeluk dan mengusap punggung gadis itu agar tenang.
***
Diperjalanan Elisa banyak diam dan lebih memilih menatap keluar jendela.
"Hm... Dek?" panggil Raffa yang membuat Elisa menoleh padanya
"Kakak udah dapet informasinya, gimana? Kamu mau pergi sekarang?" ucap Raffa. Shura yang mendengar itu dibuat penasaran
"Informasi apa?" tanya Shura
Krik... Krik... Krik..
Shura mendengus karna tak seorangpun menjawab pertanyaannya, "informasi apa?" tanyanya lagi
"Diem napa? Ini gue lagi sedih nih, Jan berisik. Gue tampol nih lama-lama!" decak Elisa, orang lagi sedih malah ditanyain 'kan kurang ajar.
"Berani Lo nampol gue?" tanya Shura
Elisa mengalihkan pandangannya pada Shura, "berani lah, sini deketan gue tampol Lo bolak balik." ucap Elisa
Shura mendekat pada adiknya itu, yang kebetulan mereka berdua duduk di bangku penumpang sementara Raffa menyetir dan Elbara duduk disamping Raffa.
Elisa menampol lengan Shura bolak balik dengan keras membuat cowok itu mengaduh kesakitan.
"Anjir Lo!" Shura membalas Elisa. Dia membuat Elisa merasakan keteknya yang semriwing splending.
"Lepasin anjing. Ketek Lo bau bangke!" ucap Elisa berusaha melepaskan diri
"Adek, ngomongnya dijaga." tegur Elbara yang sedari tadi hanya memperhatikan tingkah kedua anaknya itu.
"Abisnya anak papih ini nyari gara-gara." balas Elisa
"Nih anak kalau dibilangin ngejawab tross." ucap Shura masih dengan membekap Elisa diketeknya
Elisa yang jengkel lama-lama digituin, diapun menggigit pinggang Shura membuat Shura melepaskan Elisa.
"Mamam tuh." ejek Elisa dan mendapat plototan tajam dari Shura.
Senyum Raffa terbit kala menatap adik perempuannya sudah kembali seperti semula.
Tiba-tiba Shura mengeluarkan sesuatu dari kantung bajunya.
"Nih buat Lo. Kado ulangtahun dari gue," ucap Shura menyerahkan benda itu
Dengan senyum manis Elisa menerimanya dan mengucapkan terimakasih dengan tulus membuat pipi Shura memerah sampai ke telinga.
"Ehem... Buka dong."
Elisa menuruti ucapan Shura dan membuka kotak itu, disana dia melihat kalung yang berbandul GC.
"Makasih." ucap Elisa girang membuat Shura mengusap pucuk kepalanya
Elisa memasangkan kalung itu dibantu oleh Shura.
"Gila! Makin cantik aja nih gue." gumamnya
"Ini dari kakak." ucap Raffa tak mau kalah sembari memberikan sebuah kotak kecil pada Elisa.
Elisa dengan sigap membuka kotak kecil itu dan dia mendapatkan sebuah cincin dan gelang yang dilapisi emas dengan merk LV.
Gila orkay bukan maen.
"Makasih kak." ucap Elisa
Sementara Elbara dia tengah menyiapkan sesuatu yang tak kalah mewahnya untuk anak gadisnya itu.
****
Elisa berbaring diatas kasurnya, saat pulang dari makam tadi dia langsung masuk ke kamarnya. Raffa sudah mengirim alamat rumah sakitnya lewat via chet tadi.
Elisa meraih ponselnya dan memdial nomor seseorang.
"Om dimana?"
"..."
"Bisa ketemu gak? Gue ada perlu."
"..."
"Ck, pokoknya gue gak mau tau hari ini Lo kudu nemenin gue. Titik!"
Elisa langsung menutup telponnya dan beranjak dari sana untuk berganti baju.
Dia memanggil supir untuk mengantarnya kekantor Max.
Tak butuh waktu lama dia sudah sampai didepan bangunan bertingkat.
Elisa memasuki kantor Max, dia berjalan ke resepsionis.
"Ada yang bisa saya bantu dek?" ucap resepsionis tersebut dengan ramah.
"Em.. saya lagi cari tunangan saya mba." ucap Elisa
"Tunangan adek kerja disini?" tanyanya
"Iya mba,"
"Kalau boleh tau siapa namanya dek?"
"Max, Maximilian." ucap Elisa
"Oh, pak Max masih ada rapat, adek bisa menunggu diruangannya." ucap wanita itu sembari tersenyum ramah dan manggil temannya untuk mengantar Elisa keruangan Max
Seperginya Elisa, wanita yang duduk disamping resepsionis itu bertanya.
"Lo yakin dia tunangannya pak Max?" ucap temannya itu
"Iya." jawab wanita itu
"Dih, percayaan lo. Kalau dia penipu gimana? Terus kalau pak Max digoda gimana?"
"Heh! Jamal. Mau dia ngegoda pak Max kek mau dia b******a sama pak Max kek, bukan urusan gue anjir! Ini bukan dunia Oren ya njing, yang mana kalau tunangan atau istri atasan datang kekantor si resepsionis malah ngelarang dan berakhir si resepsionis dipecat. Cuih, drama amat idup lo. Monmap nih keranjang sopi gue udah meronta-ronta ingin dikurangi."
Temannya itupun terdiam, iya juga ya daripada ngegalauin si Max mending menuhi keranjang sopi. Menuhi doang beli kaga.
Elisa memasuki ruangan Max, dan melemparkan tasnya kesofa sementara ia duduk di kursi kebesaran milik Max.
Elisa sibuk mencari letak rumah sakit yang diberikan oleh Raffa padanya. Hingga tak sadar pintu terbuka menampakkan wajah Max yang agak kesal.
Elisa mengalihkan pandangannya dari ponselnya dan menatap wajah kusut Max.
"Ngape lo?" tanyanya
"Capek." ujar Max menjatuhkan dirinya kesofa
"Kasehun."
"Udah gitu doang?" tanya Max
"Lah terus apa? Gue kudu kayang gitu?"
"Pijit kek, cium kek."
"Najis."
"Btw, kamu ngapain kesini?" tanya Max
"Minta kado ulang tahun, Lo lupa hari ini gue ulang tahun?"
"Oh iya, saya hampir lupa untung kamu ingatkan." Max berjalan kesisi meja kerjanya mengambil sesuatu dan memberikannya pada Elisa
"Ape nih? Ape nih?"
Elisa membuka kotak kecil itu, lebih kecil dari yang diberikan Raffa.
"Ajigile!" Elisa berbinar menatap kunci mobil itu.
Dia senang karena sejak dari dulu ia ingin membeli mobil ini tapi si Laskar kagak ngasih karna takut dibawa ngebalap sama Leodra.
"Aakkhh, akhirnya Bugatti Chiron kita bertemu." Elisa berjingkrak di atas kursi kebesaran milik Max.
"Makasih om." Elisa memeluk Max dan mencium pipi pria itu yang dibalas kecupan hangat dikepalanya.
"Sama-sama, tapi kalau sudah tambah tua tolong tengilnya dikurangi ya sayangku." ucap Max
"Iya," ucap Elisa. "Kalau gue ingat, abisnya muka Lo tindasable banget."
"Cium jangan nih," batin Max jengkel
****