Keesokan paginya saat Mayang bangun tidur, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Mayang mengerjap-ngerjap berusaha mengingat-ingat mimpi yang ia alami semalam. Namun Mayang tidak bisa mengingatnya dengan jelas. Ia hanya teringat kabut yang menyeruak di balik pohon-pohon pinus, dan sosok-sosok yang muncul dari balik kabut. Tapi hanya sampai di situ saja, Mayang tidak dapat mengingat sisanya. Mayang sebenarnya masih merasa heran kenapa kemarin sore ia sampai pingsan saat melihat sosok-sosok yang tampak seperti Ridho dan Bayu itu muncul dari balik kabut. Apakah ia pingsan karena ketakutan? Atau karena kepalanya terbentur saat jatuh ke tanah? Tetapi sepertinya jatuhnya tidak terlalu keras, apalagi sampai membuatnya pingsan, karena kepalanya juga tidak terlalu terasa sakit dan tidak ada luka atau memar yang ia alami saat ini. Ia bergidik sedikit dan menggeliat.
Sambil tetap berbaring Mayang meraih ponselnya dan melihat banyak sekali pesan yang masuk. Sarah yang mengatakan bahwa ia sudah mengatakan pada bagian HRD tentang Mayang yang izin cuti, Reindra yang menanyakan apakah Mayang sehat-sehat saja terutama setelah jatuh kemarin, Dira dan teman-teman kost yang lain yang sibuk menanyakan apakah pertemuan Dio dengan ibu Mayang lancar-lancar saja, dan Dio sendiri yang mengucapkan selamat pagi sekaligus menanyakan bagaimana tanggapan ibu, pakde dan bude Mayang setelah kedatangannya semalam.
Mayang bangkit duduk dan segera menelepon ke bagian HRD untuk melaporkan bahwa ia hari ini tidak masuk karena merasa tidak enak badan dan minta untuk dipotong jatah hari cutinya saja. Kemudian Mayang mulai membalas satu-persatu pesan-pesan masuk dari semua orang. Ia membalas pesan Dio paling terakhir karena ingin menyiapkan kata-kata yang tepat dan manis supaya Dio senang membacanya. Mayang tersenyum malu sendiri menyadari sikapnya yang seperti anak remaja baru mengenal jatuh cinta. Ternyata rasanya sama saja, orang dewasa yang sudah menikah dua kali pun tetap merasakan perasaan berdebar-debar yang sama saat hendak bertemu atau berbicara dengan pasangannya, bahkan sekadar mengetikkan pesan obrolan.
Selesai membalas semua pesan yang masuk di ponselnya, Mayang segera keluar dari kamar dan menuju kamar mandi untuk menyegarkan diri dengan mandi pagi yang sudah kesiangan. Setelah mandi dan berganti dengan pakaian santai Mayang pergi ke dapur mencari ibunya serta pakde dan budenya.
“Eh, Mayang, udah bangun?” sapa ibunya yang sedang menikmati sesuatu di dalam sebuah cangkir besar besama bude. Sementara pakde tidak terlihat di sana.
“Udah, Bu. Itu apa? Mau dong, Mayang laper,” ucap Mayang seperti anak kecil yang sedang meminta makan pada ibunya. Tangannya langsung mencomot sepotong pisang bolen cokelat yang terhidang di atas meja kemudian duduk pada kursi di sebelah ibunya.
Ibu tertawa. “Kamu kayak anak kecil aja. Ini kan yang kamu bawain semalam. Baso cuanki. Ini barusan aja Ibu panasin.”
“Itu di panci masih banyak, May,” ucap bude sembari menunjuk ke arah kompor. “Bude tadi panasin tiga bungkus.”
“Waah, asyiik. Sarapan baso cuanki,” ucap Mayang sembari beranjak untuk mengambil mangkuk untuknya sendiri.
“Pakde ke mana, Bude?” tanya Mayang.
“Lagi ke rumah Pak RT. Mau bahas soal tujuh belasan,” ucap bude.
“Oh iya, ini udah awal Juli, yah,” ucap Mayang sembari menyendok baso cuanki dari panci besar ke dalam mangkuknya, kemudian segera kembali ke meja makan dan mulai menyantapnya.
“Sarapan kita random banget, ya,” ucap Mayang sambil tertawa sendiri. “Baso cuanki, terus ada bolu gulung dan pisang bolen. Sayangnya di toko yang kemarin nggak ada batagor dan siomay kayak yang waktu itu.”
“Iya, batagor yang waktu itu enak banget,” ucap bude yang sudah menghabiskan isi mangkuknya. “Tapi nggak apa-apa, ini juga enak cuankinya.”
“Ngomong-ngomong, Mayang,” ucap ibu dengan nada mencurigakan, membuat Mayang menghentikan kunyahannya dan mengangkat kepalanya menatap ibu.
“Apa, Bu?” tanya Mayang. Dan bude tiba-tiba bangkit dari kursinya dan segera membawa mangkuk kosongnya ke bak cuci piring.
Ibu menatap Mayang dengan ekspresi wajah tak bisa ditebak. “Dio kapan mau ke sini lagi?” tanya ibu tiba-tiba, membuat Mayang tercekat sesaat.
Dari sudut matanya Mayang dapat melihat bude meninggalkan bak cuci dengan sedikit terburu-buru dan pergi kea rah ruang depan.
“Eng ….” Mayang sedikit ragu untuk menjawab karena kurang mengerti ke mana arah pembicaraan ibu. Apakah ibu sekadar berbasa-basi menanyakan Dio sebagai lanjutan obrolan tadi malam, atau ibu sudah tahu bahwa Dio hendak melamarnya?
“Dio serius sama kamu, kan? Ibu tau, kok, Mayang,” ucap ibu dengan nada pelan tetapi tegas. Tersirat sedikit kekhawatiran dalam nada suaranya.
“Maaf, Bu ….” ucap Mayang sembari menunduk, menatap isi mangkuknya. Entah kenapa ia reflek mengucapkan kata maaf pada ibunya, mungkin karena mendengar nada suara ibu yang begitu datar dan terdengar lirih. Mayang merasa sudah melanggar larangan ibu tentang hubungan dengan laki-laki.
“Kenapa kamu minta maaf, Sayang?” tanya ibu dengan suara lirih namun tersenyum pada Mayang.
“Eng … soalnya ….” Mayang kembali tak dapat berkata-kata.
“Seharusnya Ibu yang minta maaf sama kamu, Mayang,” ucap ibu tiba-tiba membuat Mayang terkejut.
“Loh, kok jadi Ibu yang minta maaf?” tanya Mayang bingung.
Ibu mengulurkan tangannya di atas meja untuk menyentuh tangan Mayang dan menggenggamnya. “Ibu mau minta maaf sama kamu, karena Ibu waktu itu pernah melarang kamu untuk menikah lagi,” ucap ibu.
Mayang menoleh menatap wajah ibunya lekat-lekat, rasanya tak percaya mendengar ibu mengatakan hal itu. “Maksud Ibu ….”
“Ibu nggak berhak melarang kamu soal itu, Nak,” potong ibu. “Ibu memang orang tua kamu, tapi untuk urusan memilih pasangan, apalagi menikah, seharusnya Ibu nggak boleh mengatur-atur kamu, apalagi sampai melarang. Ibu akui, Ibu salah sebelumnya karena sudah melarang kamu menikah lagi dan membuat kamu jadi susah dan sedih. Maafin Ibu, ya.”
Mayang merasa dadanya sesak mendengar ucapan ibu. Ibunya meminta maaf padanya untuk hal yang sebetulnya bukan disebabkan oleh sebuah kesalahan, melainkan hanya berdasarkan kekhawatiran yang amat sangat.
“Bu, Ibu nggak perlu minta maaf. Mayang juga salah nggak mau mendengarkan nasihat dan saran Ibu. Padahal Ibu melakukan itu cuma karena merasa khawatir aja sama Mayang, kan?” ucap Mayang membalas genggaman tangan ibunya dengan erat.
“Iya, Sayang,” ucap ibu sambil mengangguk. “Ibu sangat khawatir dengan kebahagiaan dan keselamatan kamu. Tapi tetap aja, itu sebenarnya nggak boleh. Terlalu arogan kalau Ibu sebagai orang tua melarang anaknya untuk mendapatkan pasangan.”
“Jadi … sekarang … Ibu udah nggak percaya sama … mitos kutukan itu?” tanya Mayang perlahan dengan penuh harap.
Ibu menatap Mayang dengan serius. “Ibu masih percaya,” jawab ibu, membuat bahu Mayang merosot turun dengan kecewa.
“Jadi … Ibu masih percaya kalau Mayang membawa kutukan tersebut, tapi Ibu mengizinkan Mayang untuk … eng … punya pasangan lagi?” tanya Mayang yang merasa sungkan untuk mengucapkan kata ‘menikah’.
Ibu mengangguk. “Ibu, pakde dan bude udah bicara panjang lebar tadi pagi,” ucap ibu. “mereka berdua juga sama percayanya dengan Ibu terhadap mitos kutukan itu. Tapi, kami semua sadar bahwa kami juga nggak berhak menghalangi kamu mendapatkan kebahagiaan. Itu nggak adil buat kamu. Makanya kami sepakat membebaskan kamu untuk mencari suami lagi. Kamu sudah dewasa dan sudah tahu harus bertindak bagaimana dan melakukan apa untuk kebahagiaan kamu. Ibu, pakde dan bude hanya bisa bantu mendoakan aja, supaya rumah tangga kamu berikutnya bisa berlangsung lama sampai kalian tua nanti,” ucap ibu.
“Ibu … nggak takut kalau suami Mayang yang berikutnya nanti … ng … mengalami hal yang sama dengan … mendiang Mas Ridho dan Mas Bayu …?” tanya Mayang ragu.
Ibu menarik napas panjang dan terdiam sejenak. Kemudian menjawab, “Ibu memutuskan untuk nggak usah memikirkan hal itu. Urusan mati hidup manusia kan, sudah ada yang mengatur. Anggap saja Ibu tidak ingat kalau kamu membawa kutukan itu. Jadi, apapun yang terjadi, Ibu berharap semuanya adalah hal yang baik, dan kita anggap saja semua itu adalah takdir.”
Mayang menatap ibunya masih dengan rasa tidak percaya dalam hatinya. Ternyata ia tidak perlu mencari cara yang sulit untuk memberitahukan pada ibunya bahwa Dio berniat untuk melamarnya. Malah ibunya sendiri yang lebih dulu membuka percakapan ke arah ini.
“Terima kasih, Bu,” ucap Mayang dengan suara tercekat, rasanya ingin menangis tersedu-sedu saking terharunya mendengar kabar bahagia ini.
“Sama-sama, Sayang,” ucap ibu sambil tersenyum dan membelai lembut lengan Mayang. Mayang merasa matanya memanas melihat dan merasakan sikap serta perlakuan lembut ibunya.
“Eh iya, ngomong-ngomong ….” Mayang tiba-tiba teringat sesuatu. “Ibu kok tau sih, Dio berniat serius sama Mayang?” tanya Mayang penasaran. Meskipun malu, tapi ia sedikit heran ibunya langsung tahu niat Dio datang ke rumah semalam.
“Ya tau dong, keliatan banget kok si Dio itu suka sama kamu,” jawab ibu sambil tersenyum. “Dari sikapnya dan dari caranya ngeliat ke arah kamu waktu kamu keluar bawa teh hangat itu. Mukanya itu polos sekali, nggak bisa nutupin perasaan.” Ibu tertawa kecil.
“Eh … emang gitu ya, Bu? Ahaha … jadi malu ….” sahut Mayang yang merasa benar-benar malu. Ternyata benar kata semua temannya, terutama Sarah yang pertama kali menyampaikan padanya bahwa Dio menyukainya. Dio memang tidak bisa berpura-pura, wajahnya terlampau jujur mengutarakan perasaan.
“Mukanya kayak anak kecil, lucu,” ucap ibu sambil terkikik. “Umurnya memang masih muda sih, ya.”
“Iya, Bu. Beda empat tahun sama Mayang,” ucap Mayang sedikit tersipu. “Nggak apa-apa Bu, kalau Dio lebih muda dari Mayang?”
“Ya nggak apa-apa. Nggak ada masalah,” ucap ibu. “Soal kedewasaan kan nggak pengaruh sama umur.”
Mayang mengangguk-angguk, dalam hati membenarkan kata-kata ibunya. Seandainya saja ibu tahu apa saja yang Dio katakan kemarin malam saat mereka duduk berdua di bawah tenda atap sembari menonton meteor shower, pasti ibu juga akan terharu, sama seperti perasaannya.
“Jadi gimana, Dio udah ngerencanain kapan mau datang ngelamar kamu?” tanya ibu lagi, mengulangi pertanyaan awalnya yang belum terjawab tadi.
“Eng … rencananya … minggu depan, Bu,” jawab Mayang.
“Wah … cepet juga, ya?” ucap ibu sembari mengerutkan dahi, sepertinya memikirkan sesuatu yang penting.
“Eng … kalau misalnya Ibu merasa terlalu cepat, nanti Mayang bilang sama Dio supaya nanti-nanti aja datangnya,” kata Mayang segera saat melihat keraguan di wajah ibunya.
“Bukan, bukan itu. Ibu cuma lagi mikir, kalau ngelamarnya minggu depan, lalu rencana nikahnya kapan? Kalau bisa sih jangan terlalu cepat juga May, kamu kan baru dua bulan ditinggal mendiang Bayu,” ucap ibu. “Ibu khawatir nanti jadi omongan orang.”
“Oh, kalau soal nikahnya sih Mayang belum bahas sampai situ dengan Dio, Bu,” jawab Mayang. “Kemarin itu baru sampai rencana mengenalkan Dio ke ibu, pakde dan bude aja, kok. Bukan berarti Mayang sama Dio mau buru-buru nikah.”
“Oh, ya udah, syukurlah kalau gitu. Sampaikan aja ke Dio, silakan datang minggu depan,” ucap ibu.
“Terima kasih ya, Bu,” jawab Mayang dengan perasaan sangat bahagia.