Mayang membuka pintu gerbang rumah pakdenya dengan sedikit berdebar-debar. Dio sudah mengatakan akan mengantarnya ke rumah agar jika minggu depan ia datang untuk melamar, ibunya dan juga pakde serta budenya tidak kaget. Paling tidak, malam ini Dio akan berbasa-basi sekaligus memberi kode bahwa di antara teman-teman Mayang yang datang beberapa waktu lalu, Dio lah yang spesial.
“Yuk, masuk, Dio,” ajak Mayang sembari membawa tas dan ranselnya. Dio mengangguk dan berjalan di belakang Mayang dengan menenteng plastik-plastik oleh-oleh yang mereka beli tadi. Baru saja Mayang hendak mengetuk pintu, wajah pakde sudah muncul di balik pintu depan, mengintip sedikit karena memang belum tahu bahwa Mayang hendak pulang ke Bekasi malam itu.
“Lho, Mayang toh? Kok ndak bilang kalau mau ke sini?” ucap pakde yang terlihat senang lalu membuka pintu lebar-lebar.
“Iya Pakde, maaf malam-malam, Mayang soalnya langsung dari Bandung nih, habis ada kerjaan. Nih, Mayang bawa oleh-oleh banyak,” jawab Mayang.
“Waaah … ada oleh-oleh!” ucap pakde Mayang dengan wajah gembira.
Mayang tertawa. “Oh ya Pakde, kenalin ini Dio, yang punya villa dan kafe di Bandung. Mayang habis ada pemotretan di sana,” ucap Mayang.
Dio segera maju ke depan dan meletakkan plastik-plastik oleh-olehnya di atas meja, kemudian langsung menyalami tangan pakde Mayang.
“Saya Dio, Pakde,” ucapnya sopan.
“Oo Dio,” ucap pakde sambil mengangguk dengan ramah, “ayo silakan masuk.”
“Di sini saja, Pakde,” ucap Dio sembari tersenyum sopan.
“Eh, ibu udah tidur ya, Pakde?” tanya Mayang.
“Belum, masih ngobrol itu sama Bude di dalam,” ucap pakde.
“Ya udah, Mayang masuk dulu ya,” ucap Mayang sembari membawa barang-barang bawaannya. “Sebentar ya, Dio.”
“Iya,” ucap Dio.
Mayang segera masuk ke dalam rumah, meninggalkan Dio berdua dengan pakdenya. Ia sengaja melakukan hal itu agar Dio bisa berinteraksi dengan pakde yang sudah ia anggap sebagai pengganti orang tuanya sendiri.
“Lhooo, Mayang?” seru bude yang sedang asyik menonton televisi sambil mengobrol dengan ibunya.
“Eh, Mayang? Kok nggak bilang mau pulang, Sayang?” tanya ibu yang langsung bangkit menyongsong anaknya.
“Maaf, Bu, Bude, soalnya Mayang langsung dari Bandung. Nih, bawa oleh-oleh banyak!” ucap Mayang sembari meletakkan semua bungkusan plastik yang dibawanya.
“Waaah asyiiik oleh-oleh lagi!” seru bude Mayang dengan raut wajah senang seperti anak kecil. Mayang tertawa melihatnya. Hal yang paling menyenangkan adalah membawakan oleh-oleh untuk seseorang yang menerimanya dengan senang hati.
“Kamu sama siapa, May?” tanya ibu sembari menjulurkan kepala ke arah pintu depan karena mendengar suara pakde sedang berbicara dengan seseorang.
“Oh, diantar sama Dio, Bu. Teman Mayang yang waktu itu datang ke sini juga, yang punya propertinya,” ucap Mayang.
“Ooh … ya ya,” ucap ibu sembari mengangguk, sepertinya beliau masih mengingat sosok Dio.
“Mayang mau bikin minum dulu buat Dio,” ucap Mayang sembari bergegas ke dapur, menghindari ibunya terlalu banyak bertanya tentang Dio. Sejujurnya Mayang merasa gugup sekali membawa Dio ke rumah ini. Memang Dio sudah pernah datang sebelumnya, tapi saat itu beramai-ramai dengan teman yang lain. Kalau saat ini Dio datang sendiri dan bertamu, itu tandanya ada sesuatu yang lebih special pada Dio dibandingkan dengan yang lain. Hal ini sudah menjadi kode yang bisa dimengerti oleh kebanyakan orang tua.
Mayang melirik dengan ekor matanya, memerhatikan ibu yang melangkah ke arah teras. Ia sengaja berlama-lama menyeduh tehnya untuk memberi waktu pada Dio. Dalam hati Mayang sangat berharap Dio bisa membuka pembicaraan ke arah yang benar agar nanti Mayang tak perlu banyak menjelaskan lagi pada ibunya tentang rencana lamaran Dio.
Mayang kembali ke teras dengan membawa dua cangkir teh manis hangat. Saat ia tiba di teras, tampak Dio sedang mengobrol dengan pakde dan ibunya dengan santai. Pakde bahkan tertawa terkekeh-kekeh entah menertawakan apa. Sementara ibu hanya tersenyum dan menanggapi dengan santai.
“Minum dulu, Dio,” ucap Mayang. “Wah, Mayang bikin cuma dua. Ibu tunggu sebentar ya, Mayang bikinin lagi.”
“Eeh, nggak usah,” cegah ibu, “Ibu sih gampang tinggal ambil di dalam. Ya udah Ibu mau masuk dulu, deh, mau lihat kamu bawa oleh-oleh apa aja, sih?”
“Oh ya udah Bu,” jawab Mayang, “jangan dihabisin ya, Bu. Sisain Mayang dikit.”
Ibu terkekeh sembari berdiri. “Mana mungkin Ibu habisin, paling juga pakdemu nanti yang habisin semuanya,” ucap ibu sembari mengerling kakaknya.
“Lah, kok jadi aku dibawa-bawa, sih?” tanya pakde heran, membuat Dio tertawa melihatnya.
“Ya udah, Dio, Ibu masuk dulu, ya,” ucap ibu sopan pada Dio.
“Iya, Bu,” jawab Dio sembari mengangguk sopan pada ibu Mayang.
Kemudian Mayang duduk dan bergabung dengan obrolan pakdenya. Dari yang Mayang tangkap secara sekilas, ibunya tadi seperti hendak menyelidiki tentang Dio, paling tidak berusaha memerhatikan Dio. Dan Mayang yakin saat ini ibunya sudah tahu kalau Dio memiliki hubungan khusus dengan anaknya. Sebagai orang tua pasti ibu Mayang bisa merasakan adanya getaran yang lain pada diri Dio dan Mayang. Sementara pakde tampak santai saja mengobrol dengan Dio. Tapi Mayang bisa tahu bahwa yang dilakukan pakde tidak jauh berbeda dari ibunya. Yaitu berusaha menelaah kepribadian Dio dan niatnya terhadap Mayang, namun dengan cara yang berbeda.
Sampai menjelang tengah malam, Dio berpamitan pulang. Mayang dan pakde mengantarkan sampai depan pagar rumah dan melambai saat mobil Dio bergerak menjauh. Mayang dan pakdenya kemudian masuk ke dalam rumah untuk bergabung dengan ibu dan budenya.
“Mayang, yang ini enak banget lho,” ucap budenya langsung saat melihat Mayang masuk ke dalam rumah, sambil menunjukkan sepotong bolu s**u dengan krim keju. “Bolunya lembut dan krimnya juga enak, nggak eneg.”
“Enak ya, Bude? Syukurlah,” ucap Mayang senang meliha budenya menikmati oleh-oleh yang dipilihkan oleh Dio itu.
“Kamu besok masuk kerja, May?” tanya ibu sembari mengunyah sepotong soes isi vla buah. “Nggak capek?”
“Nah itu dia Bu,” ucap Mayang sembari memegangi tengkuknya yang terasa pegal akibat jatuh terguling di hutan pinus tadi. “Kayaknya Mayang mau ambil cuti sehari deh, mau istirahat.”
“Nah, gitu dong, sekali-sekali cuti,” ucap pakde. “Masa jatah cuti nggak pernah diambil.”
Mayang tertawa. “Iya, Pakde, Mayang besok kabarin ke bagian HRD minta potong jatah cuti aja sehari. Lumayan kan istirahat di sini seharian.”
“Ya udah kalau gitu, ayo kita makan ini dulu,” ajak ibu sembari melambai mengajak Mayang duduk bersama mereka di depan televisi. “Kamu bawa makanan banyak banget gini. Uang kamu nggak habis, apa?”
“Ya nggak dong, Bu, Mayang kan jarang bawain apa-apa buat Ibu, Pakde dan Bude. Jadi sekalinya bawa langsung banyak,” ucap Mayang sambil duduk di sebelah ibunya dan mengambil sepotong brownies dan melahapnya dengan nikmat.
“Emang kemarin ada meteor shower ya?” tanya bude yang sudah mendengar dari ibu bahwa kepergian Mayang ke Bandung kemarin untuk melihat meteor shower. “Kok nggak bilang Bude? Kan Bude juga mau liat.”
“Yaah, maaf Bude, Mayang kira Bude nggak berminat sama hal kayak begitu,” ucap Mayang. “Pas malam Minggu tengah malam.”
“Lagian dari sini emangnya kelihatan? Langit kita kan banyak polusi,” ucap pakde, "boro-boro meteor, ada planet lain menggelinding ke sini juga jangan-jangan ndak keliatan."
Sontak pecah tawa semuanya mendengar ucapan pakde yang sangat lucu itu.
“Kalau dari villanya Dio, meteornya kelihatan jelas, ya?” tanya ibu.
“Iya, Bu.” Mayang mengangguk. “Jelas banget, soalnya kan langitnya bersih. Sarah seneng banget tuh, bisa dapat hasil foto yang keren. Oh iya, Mayang ada beberapa fotonya nih di ponsel. Nggak begitu jelas sih, kalau di ponsel, tapi lumayan kelihatan.”
Mayang membuka galeri foto di ponselnya, dan menunjukkan foto-foto di villa Dio kemarin pada ibu, bude dan pakdenya.
“Waah, villanya Dio bagus banget!” ucap bude terkagum-kagum ketika melihat salah satu foto yang berlatar belakang bangunan villa.
“Iya ya, ini luas banget ya, May?” tanya ibu yang ikut mengamati di samping kakak iparnya itu.
“Iya Bu, villa keluarga yang jarang dipakai,” jelas Mayang, “makanya sama Dio disewakan buat properti pemotretan majalah Style.”
“Ini yang ikut siapa aja? Kok rame banget di foto ini?” tanya pakde yang juga ikut melihat foto itu.
“Itu ada empat orang temen kost Mayang. Ini Dira, Sari, Nurin dan Indah. Kalau ini Adelio, modelnya majalah Style, ini Sarah dan Reindra temen kantor Mayang,” jelas Mayang tanpa perlu memerkenalkan Dio lagi yang juga ada di dalam foto itu.
“Lha ini siapa?” tanya pakde menunjuk kepada Mang Ujang dan istrinya.
Mayang tertawa. “Itu Mang Ujang dan istrinya, Teh Ratih, yang jagain dan ngurusin villanya Dio. Mereka ikut difoto juga. Bagus, ya?” ucap Mayang.
“Iya bagus,” ucap ibu kagum. “Sarah jago ya motretnya.”
Mayang mengangguk. “Fotografer terbaik majalah Style memang si Sarah,” ucap Mayang setuju.
“Kalau Dio awalnya gimana, kok bisa nawarin propertinya ke majalah Style?” tanya ibu. Seketika Mayang merasa ada nada yang berbeda dalam suara ibu, seolah ibu ingin mencari tahu lebih banyak tentang Dio namun melalui sebuah rangkaian pembicaraan yang seolah tidak disengaja. Dan Mayang segera menggunakan kesempatan ini untuk mulai memerkenalkan Dio pada keluarganya.
“Orang tua Dio meninggak karena kecelakaan mobil di luar negeri, setahun yang lalu.” Mayang mulai menjelaskan. “Nah, kakak-kakaknya Dio kan udah pada punya tempat tinggal semua, dan udah punya usaha serta bisnis masing-masing. Tadinya peninggalan orang tua mereka itu mau langsung dibagi aja sesuai aturan hak waris, tapi mereka merasa belum terlalu perlu. Dan akhirnya mereka mengambil opsi lain yaitu menyewakannya menjadi property untuk fotografi atau shooting. Pilihan mereka tadinya antara menawarkan ke rumah produksi film dan sinetron, atau ke media fashion atau interior. Dan akhirnya dealnya dengan majalah Style, karena dekorasi semua rumah, villa dan restoran mereka tuh udah lengkap banget, sesuai banget sama konsep majalah Style. Lagipula kalau untuk majalah, perawatannya nggak terlalu repot. Beda kalau disewakan untuk shooting film yang melibatkan banyak pemain dan crew serta aktifitasnya tinggi. Biasanya akan lebih repot dan butuh penanganan lebih.”
Ibu, pakde dan bude mengangguk-angguk mengerti.
“Kakak-kakaknya Dio cewek atau cowok? Ada berapa orang?” tanya ibu.
“Kakaknya yang pertama cowok, namanya Mas Aldo, udah menikah. Kakaknya yang kedua cewek, namanya Mbak Shita, baru cerai dari suaminya,” jawab Mayang.
“Kamu udah kenal sama mereka?” tanya ibu Mayang lagi, dengan nada yang lebih banyak penekanan. Mayang mengerti bagaimana peraaan ibu tentang ipar, karena Mayang selalu bermasalah dengan keluarga dari mendiang suaminya.
“Udah.” Mayang mengangguk. “Waktu Mayang ke Bandung yang sebelumnya itu, kita ketemu sama Mas Aldo dan istrinya, juga sama Mbak Shita, di acara peresmian Kafe Daun yang baru dibuka itu.”
“Mereka gimana?” tanya ibunya. “Maksudnya, sikapnya gimana dengan … dengan teman-temannya Dio?”
Mayang tahu ibunya ingin bertanya bagaimana sikap kakak-kakak Dio padanya, namun untuk menyamarkannya, ibu sengaja menyebutkan ‘teman-teman Dio’ secara global. Dan Mayang memilih untuk menjawab saja pertanyaan ibunya itu dengan jujur.
“Mas Aldo dan istrinya Miranda, ramah banget, baik orangnya. Kalau Mbak Shita agak galak dan tegas orangnya. Tapi kata Dio, dia saat itu memang lagi ada masalah perceraian dengan suaminya, jadi yah sikapnya agak sensitif, gitu,” ucap Mayang berusaha menjelaskan dengan santai.
“Dio itu … umurnya berapa, Mayang?” tanya pakde dengan nada menyelidik. “Kayaknya masih muda, ya?”
Mayang tersenyum. “Iya, Pakde. Dio itu seumuran sama Sarah. Yaah … kira-kira empat tahun lebih muda dari Mayang,” jawab Mayang tenang.
“Oo gitu ….” ucap pakde sembari manggut-manggut.
“Tapi kelihatannya dewasa, ya,” ucap ibu Mayang.
Mayang kembali mengangguk. “Iya, Bu. Profesionalisme kerjanya juga bagus. Dia juga seringkali ikut turun ke dapur waktu sedang di kafenya, dan bahkan dia juga sering ikut mengantarkan pesanan ke meja pengunjung kalau kafenya lagi rame,” jelas Mayang, memberi nilai plus dengan halus untuk Dio.
“Rajin ya anaknya, dan nggak malu untuk mengerjakan pekerjaan bawahan. Mana ganteng lagi,” komentar bude tiba-tiba sembari terkikik.
“Kok kamu tau kalau Dio ganteng?” tanya pakde menyelidik. “Kan kamu tadi nggak ikut ke luar?”
“Aku ngintip kok, dari balik tirai ruang depan,” ucap bude cuek sembari mengunyah cheese sticknya.
“Astaga, istri macam apa kamu, ngintipin anak muda,” tukas pakde pura-pura marah.
Dan Mayang serta ibunya juga bude dan pakde tertawa terbahak-bahak mendengar pembicaraan absurd itu. Mayang sampai nyaris tersedak bagelen cokelat yang sedang dinikmatinya. Ucapan bude tadi kebetulan sekali langsung memutus pertanyaan-pertanyaan mendetail tentang Dio yang Mayang khawatirkan kalau tidak dihentikan, Mayang akan terpaksa mengatakan niat Dio untuk datang melamarnya minggu depan. Dan itu sepertinya kurang pas kalau dikatakan saat ini karena hari sudah terlalu malam dan pembicaraan serius seperti itu biasanya akan membutuhkan diskusi panjang. Mayang sudah mengatur agar besok saja ia menyampaikan hal penting ini dalam suasana yang lebih santai.
“Ya udah, kalau gitu sekarang kita tidur dulu, yuk. Udah jam satu malam loh,” ucap pakde. “Mayang besok jadi cuti, kan?”
“Jadi Pakde,” ucap Mayang sambil meraih gelas minumnya di atas meja.
“Ya udah syukurlah,” ucap pakde, “jadi besok kita bisa ngobrol-ngobrol lagi.”
Dan setelah itu keempat orang tersebut masuk ke kamar masing-masing untuk beristirahat.
Di dalam kamarnya, Mayang berbaring telentang sembari membayangkan bagaimana reaksi ibunya besok saat ia mengatakan bahwa Dio akan melamarnya. Mayang benar-benar berharap ibunya tidak akan menangis lagi seperti saat ibunya menyampaikan perihal kutukan itu kepada Mayang. Karena saat ini Mayang benar-benar sadar kalau ia mencintai Dio dan ingin menikah dengannya.
Tak berapa lama, Mayang tertidur pulas. Beberapa kali ia mengigau dan mengerang, karena mimpinya dihiasi oleh sosok-sosok gelap yang muncul dari balik kabut. Mirip seperti yang ia alami di hutan pinus tadi sore. Namun kali ini, sosok yang keluar dari balik kabut itu ada tiga orang. Ridho, Bayu, dan … Dio.