Tanggapan Dio

2030 Words
Mayang terbangun dengan kepala terasa berat. Ia membuka matanya perlahan, dan menemukan wajah kedelapan orang temannya sedang membungkuk di atasnya. “May? Lo nggak apa-apa?” Terdengar suara Dio yang tepat berada di atas kepalanya. Mayang mendongak dan menyadari ia sedang berbaring di atas pangkuan Dio. Mayang segera bangkit untuk duduk, merasa sedikit malu dengan posisinya saat ini. “Gue … pingsan, ya …?” tanya Mayang seolah tak percaya dirinya barusan tak sadarkan diri. “Iya, May, lo jatuh dari atas situ,” ucap Sarah sembari memegang dahi Mayang. “Lo kenapa tadi teriak, May?” Dan Mayang seketika teringat akan apa yang membuatnya tadi mendadak menjerit ketakutan. Ia mendadak menegakkan tubuhnya dan memandang melewati bahu Dio, menoleh ke sana ke sini dengan panik, mencari-cari menembus kabut yang masih mengambang di udara. “May, lo nyari apa?” tanya Dio yang ikutan menoleh. “Tadi … tadi ada itu … di … di belakang gue ….” ucap Mayang. Indah yang tadi berada pada posisi paling dekat dengan Mayang, ikut mencari-cari di belakangnya. “Nggak ada apa-apa, May,” ucap Indah. “Tadi gue juga sempat berpose menghadap ke samping tapi nggak ada apa-apa di belakang sana.” “Tapi tadi ada!” ucap Mayang sedikit histeris. “Mereka bisik-bisik di belakang sana … terus … terus pas gue nengok, mereka ada!” “May, mereka itu siapa?” tanya Reindra. Mayang menatap Reindra selama beberapa detik, kemudian menjawab, “Mas Ridho … sama Mas Bayu ….” jawabnya dengan suara bergetar. “Hah …?” Sarah tercengang menatap Mayang dengan heran, mengira telinganya salah mendengar. “Udah yuk, kita balik ke mobil aja sekarang,” ucap Dio segera ketika melihat suasana semakin membingungkan karena jawaban Mayang. “May, kuat jalan nggak? Mau gue gendong?” Mayang menggeleng. “Makasih Dio, gue jalan aja,” sahut Mayang sembari berdiri dengan bertopang pada lengan Dio. “Yuk, kita balik. Lagian udah sore juga,” ucap Reindra yang melangkah mendahului bersama Dira, Indah, Sari dan Nurin. “Sar, peralatan lo,” ucap Adelio sembari menarik Sarah untuk mengemasi perlengkapan fotografinya. “Sar, Ridho sama Bayu itu siapa? Apa mantan suaminya Mayang?” bisik Adelio sembari berjalan di sisi Sarah. Sarah mengangguk. “Iya. Aneh, kan?” Sarah balas berbisik. “Masa Mayang liat suami-suaminya yang udah pada meninggal. Padahal tadi itu kan kita sedang bersenang-senang dan ketawa-ketawa dalam suasan gembira. Kok bisa ya, Mayang berhalusinasi kayak gitu? “Yah … bisa jadi, sih ….” ucap Adelio sembari menoleh ke belakangnya, ke arah tanah hutan yang membukit di mana kabut turun semakin tebal. “Meskipun tadi suasananya lagi ceria, tapi … kabutnya memang aneh, agak terlalu tebal untuk suhu yang nggak terlalu dingin seperti ini. Mungkin Mayang memang nggak sedang kepikiran tentang mendiang suami-suaminya, tapi bisa jadi … terjadi sesuatu di udara sekitar kita gara-gara kabut ini, yang bikin dinding dimensinya jadi agak terbuka. Makanya Mayang jadi ngeliat yang seharusnya nggak bisa dilihat.” Sarah sontak menoleh pada Adelio dengan sangat heran. “Kok, lo jadi kayak Mang Ujang yah, mengarahkan hal mistis kepada sains,” ucap Sarah sembari nyengir. “Tapi lo bener juga, sih. Yah, biarpun kelihatan lagi bersenang-senang dalam suasana gembira, tapi tetep aja Mayang sedikit banyak pasti kepikiran dengan lamaran Dio semalam. Jadi mungkin tanpa sengaja otaknya berputar sangat keras memikirkan hal itu, dan jadinya menyebabkan sensitifitas pada indera penglihatannya. Makanya dia jadi bisa lihat sesuatu dari dimensi lain yang mewujudkan diri sebagai Ridho dan Bayu.” “Nah, tuh, lo sendiri jadi kayak Teh Ratih,” ucap Adelio. Mayang tertawa terkekeh. “Rese lo!” makinya pura-pura kesal pada Adelio. “Ya udah yuk, sini gue aja yang bawa tripodnya.” Adelio menggeleng. “Gue aja, kan tas kamera lo sendiri udah berat banget tuh,” ucap Adelio sambil memanggul tripod yang cukup berat di atas bahunya dan berjalan berdampingan dengan Sarah. Mayang ditempatkan di kursi depan oleh Dio, agar posisi duduknya lebih leluasa dan luas. Setelah mengantarkan Mayang, Dio kembali ke dalam untuk membeli minuman hangat untuk Mayang dari warung tempat mereka membeli minuman setelah berendam air belerang tadi. Sebelum berangkat, Dio memastikan bahwa Mayang sudah aman dan nyaman di kursinya. “Kita langsung pulang aja, ya?” ucap Dio lebih ditujukan kepada Mayang yang duduk di sebelahnya. “Eh, nggak beli oleh-oleh dulu?” tanya Mayang. “Lo nggak apa-apa kalau kita mampir dulu?” tanya Dio. Mayang menggeleng. “Nggak apa-apa, gue udah enakan kok. Lagipula yang lain juga pasti pingin beli oleh-oleh, kan?” tanya Mayang sembari menoleh ke belakang, ke arah teman-temannya. “Mau dooong!” sahut semuanya serempak, senang melihat Mayang sudah kembali seperti biasa lagi. Entah apa yang sebenarnya tadi Mayang lihat di balik kabut di atas sana, yang penting sekarang mereka harus membangun suasana agar terasa nyaman dan menyenangkan selama perjalanan pulang. “Tuh, Dio, pada mau. Lagian gue juga pingin beliin brownies crispy buat nyokap gue, kayak yang waktu itu gue bawain,” ucap Mayang. “Oh ya udah oke, kita ke toko oleh-oleh yang paling lengkap aja ya, biar sekalian,” ucap Dio sambil melajukan mobilnya. Di toko oleh-oleh semua langsung turun dengan bersemangat. Mengambil keranjang di pintu masuk, dan kemudian berbaur dengan para pembeli lainnya yang memenuhi tempat itu. Dio berjalan dengan satu tangan menggandeng tangan Mayang dan satu tangan lagi membawa keranjang belanjaan. Mayang tak menolak perlakuan Dio karena tak ingin membuat laki-laki itu sedih. Mayang tahu ada banyak pertanyaan di benak Dio dan teman-temannya yang lain mengenai pernyataannya tentang sosok-sosok yang ia lihat di dalam hutan pinus tadi. Mayang bahkan menyebutkan dua nama yang sudah dikenali oleh teman-temannya sebagai nama-nama mantan suaminya yang telah meninggal. Maka tentunya pernyataan Mayang tadi membuat yang lainnya berpikiran aneh terhadapnya, bahkan ketakutan. Maka dari itu Mayang memutuskan untuk bersikap hangat terhadap semuanya terutama terhadap Dio yang mungkin saja merasa tidak nyaman mendengar Mayang menyebutkan nama dua orang tersebut. Mayang khawatir Dio berpikir bahwa ia masih memikirkan mantan-mantan suaminya dan itu pasti akan mengganggu perasaan Dio pada Mayang. “Nih, May, gue beliin ini, ya. Yang ini juga nih enak,” ucap Dio sembari memasukkan sekotak bolu s**u cokelat dengan krim keju. “Nah, yang ini juga.” Dio terus saja memasukkan bermacam-macam makanan ke dalam keranjang. “Eh, Dio, kok banyak banget!” ucap Mayang kaget melihat isi keranjang di tangan Dio sudah hampir penuh selama dia melamun tadi. “Ini buat kita berdua?” tanyanya heran. “Nggak.” Dio menggeleng. “Ini buat lo aja. Kan buat nyokap, pakde, dan bude lo,” jawab Dio enteng. “Eng … tapi ….” Mayang berusaha menolak. “Udah, tenang aja. Gue emang pingin beliin oleh-oleh buat keluarga lo,” ucap Dio. “Kan, minggu depan gue mau ke rumah lo.” Wajah Mayang sontak memerah teringat janji Dio untuk datang ke rumahnya minggu depan. “Eng … jadi … gue harus ngasih semua ini ke nyokap, pakde dan bude sambil bilang kalau ini dari lo, gitu?” tanya Mayang bingung. Dio terkekeh. “Ya nggak harus gitu juga, sih,” jawabnya, “nggak usah bilang apa-apa. Anggap aja dari lo. Minggu depan pas gue datang ke rumah lo juga gue akan bawa sesuatu, kan?” Mayang masih terlihat bingung dan tidak enak hati karena dia tahu Dio yang akan membayar semua makanan itu. “May, udah nggak usah dipikirin,” ucap Dio. “Wajar kan, kalau gue beliin oleh-oleh buat keluarga calon istri gue?” Dan wajah Mayang semakin merah padam mendengar kata-kata Dio. Sementara Dio tampak puas karena telah berhasil membuat wajah Mayang tersipu-sipu karena ucapannya, karena itu tandanya Mayang menyetujui ucapannya tersebut. Dan akhirnya pukul setengah tujuh malam setelah selesai belanja, Mayang adalah yang paling banyak membawa pulang oleh-oleh. Empat plastik besar penuh sesak dengan bungkusan dan kotak makanan khas Bandung yang berada di sudut bagasi adalah milik Mayang. Dan setelah semua selesai memasukkan semua barang-barang di dalam bagasi, mereka segera berangkat menuju ke Jakarta. Pukul sembilan malam mereka sudah memasuki tol lingkar dalam Jakarta. Dio sengaja tidak memulangkan Mayang terlebih dahulu dan memilih membawanya ke Jakarta untuk menganarkan yang lainnya lebih dahulu. “Thanks banget ya, Dio,” ucap Reindra yang paling terakhir diantarkan. “Sama-sama Rein,” ucap Dio dari bali kemudi. “May, duluan ya. Baik-baik di jalan. Eh iya, kalau lo masih kurang sehat atau apa, mending besok lo cuti aja May, biar bisa istirahat di rumah nyokap.” “Oke, Rein,” ucap Mayang. “Daaah!” Dan setelah itu Mayang dan Dio kembali berputar arah untuk menuju ke Bekasi untuk mengantarkan Mayang. “Dio, lo nggak apa-apa jadi bolak balik begini?” tanya Mayang tak enak hati. “Coba tadi gue turun duluan di Bekasi, kan jadinya lo tinggal pulang ke apartemen, nggak balik lagi.” Dio menggeleng dan tersenyum. “Nggak, ah. Kan, gue emang sengaja biar agak lamaan berdua sama lo, May. Hehehe ….” Mayang terkikik antara malu dan geli dengan keterus terangan Dio. Namun detik berikutnya ia kembali teringat dengan peristiwa di hutan pinus tadi. Dan ia merasa ini adalah saat yang tepat untuk menceritakannya pada Dio. Biar bagaimanapun Dio adalah calon suaminya jika seandainya hubungan mereka direstui. Dan sudah sepantasnya Mayang berbagi cerita dengan Dio tentang apapun yang ia alami, bahkan hal yang paling aneh sekalipun. “Dio,” panggil Mayang. “Ya?” sahut Dio tanpa mengalihkan pandangan dari jalan raya di hadapannya. Kemudian Mayang menceritakan apa yang dilihatnya di hutan tadi. Mulai dari suara bisikan yang ia dengar, hingga ke sosok Ridho dan Bayu yang muncul dari balik kabut yang mendadak tersingkap seperti memberi jalan pada mereka. Dio mengerutkan dahi mendengar cerita Mayang. Ia bukannya tak percaya dengan apa yang Mayang lihat, tetapi lebih merasa penasaran kenapa Mayang sampai mengalami hal itu. “Ekspresi mereka kayak gimana?” tanya Dio tiba-tiba setelah terdiam selama beberapa saat. “Ha …? Ekspresi siapa?” tanya Mayang yang sedikit bingung dengan pertanyaan mendadak Dio itu. “Ya ekspresi mereka. Ridho dan Bayu,” ucap Dio. “Apa wajah mereka keliatan marah? Atau gimana?” Kini gantian Mayang yang mengerutkan dahi, berusaha mengingat lagi kejadian tadi hingga ia bergidik sendiri. “Seingat gue sih … mereka nggak seperti marah ya, soalnya gue juga nggak terlalu jelas lihat wajah mereka karena agak buram tertutup kabut. Tapi … menurut gue mereka bukannya marah. Kayak seperti … apa yah, seperti orang yang … khawatir, gitu,” jelas Mayang. “Hmm ….” Dio bergumam sembari berpikir keras. “Kenapa, Dio?” tanya Mayang. “Kenapa lo menduga mereka menunjukkan wajah marah?” Dio menarik napas dalam sebelum menjawab. “Tadinya gue berpikir, lo melihat kemunculan mereka berdua karena diakibatkan oleh rasa bersalah lo akibat pernyataan gue semalam,” jawab Dio. “Gue kan bilang mau ngelamar dan menikahi lo, May. Nah, gue pikir, mungkin rasa bingung lo, atau rasa tidak enak lo karena akan menikah untuk yang ketiga kalinya, membuat lo jadi mengkhayalkan kedua suami lo yang sebelumnya dalam kondisi marah atau tidak senang. Bisa aja kan, lo merasa bersalah pada mereka karena lo mau menikah lagi. Tapi … setelah lo bilang wajah mereka malah terlihat seperti orang yang merasa cemas, nah ini agak aneh, sih. Kalau memang sosok mereka muncul karena halusinasi yang terjadi di otak lo sendiri, kenapa lo membayangkan mereka akan mencemaskan diri lo, ya? Yang wajarnya memang mereka kelihatan marah atau nggak senang karena lo udah punya pasangan baru.” Mengabaikan ucapan Dio tentang ‘pasangan baru’ yang entah kenapa membuat Mayang sedikit ingin tertawa, ia bertanya, “Jadi, menurut lo … yang gue lihat tadi itu … apa …? Kalau bukan halusinasi gue sendiri, apakah mereka itu memang … hantu …?” Dio menoleh sekilas ke arah Mayang, kemudian mengembalikan fokusnya pada jalanan di depannya. “Gue sih nggak berharap itu hantu, ya. Yah kecuali lo memang dari awal udah indigo yang punya kemampuan melihat makhluk halus,” ucap Dio. Mayang menggeleng. “Gue bukan indigo, dan nggak punya kemampuan kayak gini sebelumnya,” ucap Mayang. “Nah, kalau gitu, itu kita jadikan PR aja. Buat kita pikirkan sambil jalan,” ucap Dio, “soalnya saat ini kita udah masuk area Bekasi, nih. Sebentar lagi kita sampai di rumah orang tua lo.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD