"Mau bahas apa memangnya?" tanyanya sembari duduk disamping Zam, meja kecil menjadi pemisah keduanya. "Keisya sudah tidur, Ma?" tanyanya balik. "Kamu kebiasaan banget. Baru saja tidur, tadi merengek minta mau tidur sama kamu malam ini tapi mama coba bujuk. Kamu jangan terlalu memanjakan adikmu, nanti kalau kamu sibuk kerja terus dia mau ketemu kamu kan repot sendiri." sarannya, "Aku suka dengan sifat, Keisya." Meira tersenyum, ia akan selalu bersyukur mempunyai keluarga baru yang menerimanya dengan baik. "Aku butuh saran, Ma." Meira menoleh menatap Zam yang sudah Meira anggap sebagai anaknya sendiri. "Saran tentang apa?" "Aku berniat melamar Ayya." Meira menatap Zam tidak percaya, pasalnya selama ini Zam selalu menghindar setiap kali membahas tentang pernikahan. Setiap kali di

