Bab 01.
Unit gawat darurat terlihat mencekam karena sekelompok gengster datang untuk mencari seorang dokter bernama Aldharic O'Neill, untuk mengoperasi bos mereka yang terluka.
"Dimana dokter Aldharic?" salah satu gengster bertanya dengan nada membentak membuat para suster ketakutan. Para pasien UGD pun juga ketakutan.
"D-dokter Al sedang keluar untuk makan siang, dia tidak disini." jawab seorang suster dengan nada ketakutan.
Aldharic yang baru kembali dari makan siang bersiul dan berjalan santai menuju UGD. Baru saja di pintu langkah Aldharic terhenti karena melihat para gengster itu.
"s**t!!" umpat Aldharic. Aldharic berbalik dan langsung berlari, kelompok gangster yang melihat Aldharic langsung mengejarnya. Terjadilah aksi saling kejar-kejaran di lorong rumah sakit.
"Tunggu, dokter!" seru para gengster itu. Gengster itu terus mengejar Aldharic, Aldharic masuk ke pintu gawat darurat Aldharic berlari hingga ke lantai 15.
"Sialan!! Aku tidak bisa berlari lagi, aku akan mati kalau aku berlari lagi." ujar Aldharic dengan nafas tersengal-sengal. Aldharic memutuskan untuk mencari persembunyian yang aman di lantai 15.
Aldharic mengambil masker untuk menutupi wajahnya, perhatian Aldharic tertuju pada satu ruangan Aldharic memutuskan untuk bersembunyi di ruangan tersebut. Aldharic masuk ke dalam ruangan ini dengan hati-hati setelah itu Aldharic menutup pintu ruangan. Aldharic bisa bernapas lega, Aldharic berjalan mundur hingga tidak sengaja menabrak tiang infus.
Tiang infus itu jatuh dan cairan infus itu pecah, jarum infus juga lepas. Aldharic mengumpati kecerobohan nya, Aldharic melihat pasien yang terbaring diatas ranjang tidak terganggu sama sekali.
"Aku harus segera membereskan kekacauan ini." gumam Aldharic. Aldharic merapikan tiang infus yang jatuh, Aldharic melihat cairan infus yang sudah rusak.
"Dimana aku mendapatkan cairan infus yang baru?" Aldharic melihat sekeliling ruangan itu dengan bingung. Tapi Dewi Fortuna berada di pihak Aldharic, di ruangan itu terdapat cairan infus baru dan berbagai obat lainnya tidak lupa dengan alat-alat canggih medis.
"Ini pasti ruangan VVIP, semua sudah tersedia. Tapi aku beruntung, sekarang aku tinggal ganti infusnya." ujar Aldharic. Aldharic mengambil cairan infus baru dan mulai memasangkannya, setelah semua selesai Aldharic bisa bernafas lega.
"Dia gadis yang cantik, tapi sayang sekali dia dalam kondisi koma. Maafkan aku Nona, aku ceroboh hingga infusmu terlepas tapi tenang aku sudah memasangnya kembali." ujar Aldharic. Aldharic ngerasa tidak bisa bersembunyi di dalam ruangan ini lebih lama lagi.
"Namaku Aldharic. Terima kasih aku bisa bersembunyi di ruanganmu." imbuh Aldharic. Aldharic pun membuka pintu sedikit untuk melihat situasi, dan tidak terlihat anggota gengster itu.
"Mereka sepertinya sudah pergi, sekarang aku bisa keluar." gumam Aldharic. Merasa situasi aman Aldharic keluar dari ruangan itu, dan bejalan santai tapi tetap memakai masker untuk berjaga-jaga.
Aldharic tidak berhenti waspada tapi anggota gengster itu sudah pergi, Aldharic bernafas lega dan berjalan kembali ke UGD tempatnya bertugas.
"Dokter Al, anda selamat!" pekik seorang suster melihat Aldharic kembali. Aldharic tersenyum pada suster itu.
"Suster Lia, aku pasti selamat. Aku selicin belut, tidak mungkin tertangkap oleh mereka." ujar Aldharic dengan sombong.
"Baru satu minggu bekerja sudah membuat keributan di UGD. Dokter Al, apa kau benar-benar dokter biang onar?" ujar seorang dokter laki-laki, Vincent.
"Dokter Vincent, apa anda iri denganku? Aku sampai dicari bos gengster untuk mendapatkan perawatanku, Itu berarti aku sudah sangat terkenal." ujar Aldharic. Vincent yang mendengar ucapan Aldharic yang begitu percaya diri membuatnya kesal sendiri.
"Untuk apa aku iri dengan dokter umum sepertimu, tidak ada kata iri dalam kamus hidup Vincent." ujar Vincent. Setelah mengatakan hal itu Vincent berjalan pergi meninggalkan Aldharic, Aldharic mengedikan bahunya.
"Dokter Al, paling bisa membuat dokter Vincent kesal." ujar Lia. Aldharic tertawa mendengar ucapan Lia. Dari pertama bekerja disini Vincent memang tidak suka dengan Aldharic, karena menganggap Aldharic saingan untuk mendapatkan seorang dokter cantik, bernama dokter Fanny.
"Aku tidak tahu, kenapa dia selalu kesal denganku. Apa mungkin karena, dia merasa kalah tampan dariku?" ujar Aldharic. Lia tertawa mendengar ucapan Aldharic yang begitu percaya diri.
Kembali ke lantai 15. Seorang dokter memasuki ruangan VVIP itu, dokter itu membawakan bunga Lily. Para suster yang melihat itu dari luar merasa iri.
"Dokter Kevin, itu sangat romantis dan setia. Sudah tiga tahun Nona Adeline koma, tapi dia tidak pernah lelah untuk merawatnya." ujar salah seorang suster.
"Benar sekali, orang seperti dokter Kevin hanya bisa ditemukan di drama saja. Udah tampan, dokter berbakat, baik, setia paket komplit." sahut suster lainnya. Mereka pun setuju dengan ucapan suster Itu, karena hal itu Kevin menjadi banyak dikagumi oleh suster, dan dokter wanita. Bahkan Kevin sering diundang ke sebuah acara televisi karena kisahnya yang setia menunggu kekasihnya yang koma tiga tahun.
"Adeline, aku sangat merindukanmu. Tolong cepat bangun, dan kita bisa menikah secepatnya." ujar Kevin. Kevin memegang tangan Adeline dan mencium punggung tangan Adeline beberapa kali.
"Pa, Kevin sangat mencintai putri kita. Mama tidak yakin dia akan rela untuk melepaskan Adeline." ujar Isabella. Martin dan Isabella Sterling melihat Kevin dari pintu ruangan VVIP Adeline.
"Ini sudah tiga tahun. Kevin harus melanjutkan hidupnya, keputusan Papa sudah bulat." jawab Martin. Martin juga berat untuk melepaskan putrinya tapi Martin merasa tiga tahun cukup untuk menahan putrinya.