Part 11 : Daniel dan Rusaknya Rencana Laura
Happy Reading ^_^
***
Laura menyadari kalau latihannya di hari sabtu sangat-sangatlah jauh dari kata baik. Dan Laura bersyukur karena di hari minggu, semuanya menjadi jauh lebih baik. Laura benar-benar menjadikan pengalamannya kemarin sebagai acuan agar menjadi lebih baik lagi. Laura tidak mengatakan latihannya hari ini sangat sempurna, tapi paling tidak kesalahan yang dilakukannya jauh berkurang daripada kemarin.
Beberapa kali Laura masih melewatkan ketukan musik, tapi tidak masalah karena dia sedang berusaha menyelaraskan antara koreografi yang baru diterimanya dengan musik. Pendaratannya pun tak semuanya berjalan dengan mulus. Beberapa kali Laura masih terjatuh tapi rasanya tidak separah hari kemarin. Intinya, hari ini semuanya berjalan dengan lancar.
Tempat latihan sudah sepi karena beberapa temannya yang akan ikut kompetisi juga sudah bersiap-siap untuk pulang. Laura juga seharusnya sudah bersiap-siap untuk pulang, tapi entah kenapa hatinya terasa enggan untuk pergi. Laura sadar bahwa ini adalah hari terakhirnya untuk bisa berlatih atau paling tidak merilekskan pikiran di minggu. Nanti malam dia sudah harus kembali ke asrama dan keesokannya dia sudah harus menjadi Clara.
Melirik ice rink luas yang dingin ini membuat Laura kembali menghela nafas. Inilah hidupnya. Inilah yang disukainya. Dan inilah yang ingin dia lakukan. Tidak peduli apakah sekolah Clara memiliki banyak fasilitas mewah –tapi di sinilah tempatnya. Laura hanya ingin berlatih, berlatih, dan berlatih. Laura tidak mau mempelajari teori apapun yang tidak dimengerti olehnya.
Laura memijat pelipisnya yang terasa berdenyut nyeri. Dia harus menjernihkan pikirannya sebelum semua rencana yang disusunnya hancur berantakan. Oleh karenanya Laura menghidupkan musik melalui sambungan bluetooth, lalu secara perlahan tubuhnya meluncur ke tengah-tengah ice rink mengikuti alunan melodi yang terdengar sendu dari soundtrack house of woodclock.
Dulu saat Laura masih di asrama seringkali dia menyelinap ke tempat latihan di malam hari. Tentu saja itu bukan untuk berlatih super keras sampai mengabaikan jam istirahatnya, melainkan untuk sekedar menari di atas ice rink untuk mengenang kembali kompetisi-kompetisinya dulu. Laura melakukannya ketika hatinya sedang tidak tenang. Dengan mengenang tarian-tarian kompetisinya yang sudah lampau, Laura berharap bahwa dia bisa lebih bersyukur. Di mana semuanya sudah menjadi masa lalu, dan dia berhasil sampai di sini dengan melewati semua kompetisi-kompetisi yang dulunya dia kira akan sangat berat. Dia berhasil dengan penuh perjuangan.
Skating yang dia lakukan berbeda dengan skating orang awam yang hanya sekedar meluncur biasa, sehingga dia membutuhkan tempat yang memang lebih privasi. Tujuannya tentu saja untuk safety semua orang –termasuk dirinya- sehingga hanya di sinilah Laura bisa melakukan free skating. Dia bebas menguasai ice rink ini tanpa perlu khawatir akan menabrak orang lain. Sehingga hanya tempat inilah yang sering Laura jadikan tempat untuk merilekskan pikirannya yang sedang tak menentu.
Dulu dia bebas keluar masuk tanpa khawatir, tapi sekarang semuanya sudah terkendala karena dirinya yang menyamar menjadi Clara. Oleh karena itu hanya hari inilah kesempatannya untuk merilekskan pikirannya. Laura benar-benar harus memanfaatkannya.
Soundtrack House of Woodcock adalah salah satu instrumental yang Laura gunakan di kompetisi sebelumnya. Di mana kompetisi ini menghantarkan Laura pada posisi juara satu yang memenangkan medali emas. Kompetisi sebelumnya memang bukan kompetisi yang besar, tapi pada intinya dialah juaranya. Karena kemenangannya inilah yang membuat Laura semakin yakin untuk mantap berlatih agar berhasil masuk tim nasional.
Laura melakukan semua gerakan dengan sempurna –persis seperti saat kompetisi dulu. Kelenturannya pun tidak usah diragukan lagi. Lompatannya indah dan pendaratannya pun sempurna. Bahkan dia juga berhasil melakukan lompatan yang sulit tanpa kesalahan sedikitpun. Laura benar-benar berhasil membawakan koreografi House of Woodcock untuk yang pertama kalinya setelah kompetisi dengan memuaskan.
“Kak Laura, kau hebat!!!”
Laura yang sedang dalam pose ending dari tariannya langsung berdiri tegak. Matanya mengedar dan membulat saat melihat seorang perempuan dan laki-laki berdiri di tribun. Bahkan sekarang penonton perempuan yang tak diinginkannya malah melambaikan tangan dengan riangannya. Astaga... itu... bukannya dia Daniella dan kakaknya? Mampus gue!
Laura langsung meluncur secepat yang dia bisa ke pinggir ice rink dan mematikan musik House of Woodcock yang sengaja dia putar secara berulang. Tak lama dari itu, sosok Daniella muncul dengan riangnya. Anak ini kenapa masih ngikutin gue sih?! Batin Laura dengan miris.
“Kamu ngapain di sini? Kalau setahuku, orang baru seperti kamu nggak ada jadwal latihan sore.” Kata Laura dengan senyum antara malas, muak, dan gelisah. Dan senyumnya semakin suram saat melihat sosok Daniel muncul dari belakang.
“Memang nggak ada, kak. Tapi kakak aku masih pengen traktir kakak buat masalah yang kemaren. Kebetulan aku tahu sore itu jadwal latihan kakak-kakak, jadi ya udah aku dateng sama kakak aku.”
Ya Tuhan, ini orang kenapa masih ngeributin masalah kemaren siiihhh?! Gue aja udah melupakannya, batin Laura dengan jengkel.
“Ya ampun kayak apa aja sih. Udah santai-santai, nggak usah traktir-traktir juga nggak apa-apa kok.” Kata Laura dengan senyum yang dipaksakan.
Di traktir makan adalah berkah yang tak terduga. Kalau keadaannya tidak seperti ini, Laura pasti akan menerimanya dengan senang hati. Tapi masalahnya adalah ada Daniel yang sepertinya mencurigai sesuatu dan Laura tidak bisa membiarkan pria itu tahu.
“Kakak aku maksa banget, kak. Katanya dia nggak akan tenang kalo belum melakukan sesuatu ke kakak sebagai balas budi.”
Lebay banget sih nih cowok!
“Atau lo memang nggak mau ditraktir makan? Mungkin sesuatu yang lain...”
Laura langsung mengibaskan tangannya dengan cepat. Gara-gara cara berbicara Daniel, Laura terkesan seperti perempuan mata duitan yang suka memanfaatkan keadaan. Padahal kenyataannya benar-benar tidak seperti itu.
“Nggak perlu! Seriusan, gue nggak butuh apapun kok.”
“Ayolah, jangan buat gue terus merasa nggak enak.”
Daniel memaksa dan Laura ingin sekali memplester mulut Daniel sekarang juga. Di sekolah, Daniel seperti anak remaja yang tak tersentuh. Ada orang yang mengganggunya, dikit-dikit melotot. Kenapa di luar sekolah Daniel begitu merepotkan dan cerewet sih!
“... makan malam gimana? Gue tahu lo lagi diet, tapi ini waktunya makan. Lo tetep harus makan kan?”
Sialannnnnn!
Kemarin masih sore dan Laura punya alasan masuk akal untuk menolaknya. Sekarang? Benak Laura menggeleng miris. Tidak ada bahan yang pas untuk mengelak lagi.
“Yaudah, ayo makan malam.”
***
“Kak, gimana rasa makanannya? Ini restoran favorit aku dan kakak aku, jadi semoga aja sesuai selera kakak.”
“Makanannya enak kok.” Jawab Laura dengan senyum yang setengah di paksakan.
Seenak apapun makanan di sini, tetap saja tidak bisa membuat Laura merasa senang. Masalahnya ada pada cowok yang duduk di sebelah Daniella. Cowok itu memang tidak berbicara yang aneh-aneh, tapi Laura tetap saja merasa ada sesuatu yang ganjil. Dia merasa dicurigai. Atau hanya perasaannya saja? Entahlah. Seandainya saja Daniel tidak ada di sini, maka traktiran ini pasti akan sangat sempurna.
“Oh ya, kakak bener-bener nggak terluka kan? Soalnya kemaren pas nolongin aku, kakak kan jatuh juga.”
Laura berfikir sejenak, lalu menggeleng. “Its okay, Daniella. Tubuh aku udah terbiasa jatuh, jadi nggak perlu terlalu khawatir.” Kata Laura menenangkan. “Justru yang aku khawatirin itu keadaan kamu. Nggak ada something yang serius kan?”
Daniella menggeleng dengan antusias. Dalam hatinya, Laura memuji betapa manisnya seorang Daniella itu. Tapi siapa sangka dia lahir dari rahim yang sama dengan cowok sok cool yang bernama Daniel itu.
“Nggak ada kok. Lengan aku memar aja sih, tapi udah di kompres dengan air es. Aman pokoknya.”
“Itu bagus,” Laura mengangguk-angguk. “Lain kali, kamu harus lebih hati-hati. Jangan memasuki spot yang memang nggak diizinkan. Bukan masalah senior-junior, tapi masalahnya adalah latihan kita udah berbeda. Di spot kalian, kamu mungkin hanya akan memar. Tapi di spot kami, kamu mungkin harus masuk rumah sakit kalau sampai terjadi kecelakaan.”
Laura menjelaskan detail permasalahan yang sebenarnya. Sementara itu Daniella terlihat mendengarkan dengan seksama. Ini adalah nasehat dari senior yang luar biasa, pikir Daniella, jadi dia tidak akan menyia-nyiakannya.
“Dan satu lagi, jangan menggunakan jaket yang terlalu tebal. Aku tahu kalau suhu ruangan sangat dingin dan kamu belum terbiasa, tapi belajarlah untuk membiasakannya. Jaket yang terlalu tebal bisa menyulitkan pergerakan kamu.”
“Misalnya sweater press body seperti yang kakak pakai tadi?”
Laura tergelak melihat sedikit kengerian di wajah Daniella. “Itu terlalu ekstrem, Daniella. Seperti kataku –kamu belum terbiasa. Bisa jadi kamu akan kedinginan dan tidak fokus latihan. Kamu bisa menggunakan jaket latihan khusus yang memang tidak terlalu tebal.” Laura menjeda. “Aku tidak mengatakan ini untuk maksud lain, tapi jam terbang kita berbeda, Daniella. Karena sudah menggeluti bidang ini dalam waktu yang cukup lama –tubuhku benar-benar sudah beradaptasi dengan baik. Aku jarang sekali merasa sakit setelah terjatuh. Begitu juga dengan suhu ruangan yang sangat dingin. Tubuhku benar-benar sudah terbiasa sampai aku mampu berlatih dengan pakaian yang lebih sedikit daripada kalian.”
“Kakak bener-bener udah lama banget ya menggeluti bidang ini?” tanya Daniella dengan takjub.
Laura terkekeh sambil memainkan sedotannya. “Lumayan lama. Kompetisi pertamaku terjadi saat aku berusia sembilan tahun. Tapi sebelum itu aku sudah berlatih skater sejak usia delapan tahun. Butuh waktu sekitar satu tahun supaya aku benar-benar yakin untuk ikut kompetisi.”
Mata Daniella membulat tak percaya. “Delapan tahun, kak? Astaga. Seingatku di usia itu aku benar-benar masih sibuk dengan boneka-bonekaku!”
Laura tergelak. Lagi-lagi Daniella sangat ekspresif. Laura benar-benar tidak percaya seorang Daniella punya kakak yang sangat dingin dan datar layaknya Daniel.
“Pantes aja kemampuan kakak udah nggak diragukan lagi. Ternyata memang udah latihan dari kecil. Sedangkan aku? Aku baru mulai dan masih belum mendapat apa-apa. Bahkan aku masuk klub ini pun hanya karena insting biasa. Kira-kira aku bakal berhasil nggak ya, kak?”
“Daniella, ini cuma masalah waktu. Kamu masih sangat baru dalam bidang ini. Jangan coba-coba membandingkannya dengan aku yang sudah menggeluti bidang ini dari beberapa tahun silam dan sudah mengikuti beberapa kompetisi junior. Itu benar-benar tidak adil karena kita tidak berada di level yang sama. Intinya adalah terus berlatih dan berlatih.” Laura berusaha memotivasi Daniella yang tampaknya seperti remaja labil yang tidak yakin dengan apa yang sedang dilakukannya. “Lalu apa rencana kamu selanjutnya? Kamu mau jadi atlet skater?” tanya Laura dengan kekehan yang disambut gelak tawa Daniella.
“Memangnya ada kompetisi khusus untuk ice skating ya?”
Mendengar itu, tawa Daniella dan Laura langsung sirna. Laura benar-benar mengutuk sosok Daniel yang sejak tadi sok cool dan kemudian menyela dengan pertanyaan super bodoh. Cowok itu sejak tadi diam, tapi sekalinya dia membuka mulut, semuanya benar-benar menjengkelkan. Laura benar-benar ingin memplester mulut Daniel sekarang juga.
“Ya ampun, kak, please deh jangan kayak orang bodoh yang nggak tahu hal sepele seperti ini. Kalo kompetisi itu nggak ada, ngapain coba kita bahas?” kata Daniella dengan nada gemas. “Makanya otak kakak sedikit diberi wawasan yang berlebih. Jangan cuma tahunya olimpiade matematika, fisika, dan sejenisnya!”
Demi Spongebob yang lawakannya nggak pernah lucu, tolong banget ini mah karena gue pengen banget ketawa! Batin Laura sambil menjaga mimik mukanya tetap biasa walau dalam hatinya dia benar-benar ingin tertawa. Seorang Daniel yang sok cool dibabat habis oleh selorohan adiknya. Intinya Daniel kalah dari adiknya, woy! Batin Laura bersorak-sorak antara bahagia sekaligus geli.
Daniel memelototkan matanya pada Daniella. Adiknya ini benar-benar menjatuhkan harga dirinya di depan orang yang tak dikenalnya. Ekspresinya semakin suram saat memerhatikan ekspresi wajah senior Daniella yang seperti menahan tawa.
“... udah kakak diem aja kalo nggak tahu tentang skater. Fokus makan aja itu. Jangan banyak omong biar nggak keliatan bodohnya di bidang ini.”
Ini resiko kalo lo punya adik yang bahkan nggak takut sama lo sedikitpun, Daniel, batinnya mengingatkan dengan muram. Daniel benar-benar harus mengajarkan etika yang lebih pada Daniella setelah pulang dari sini nanti.
Daniel melanjutkan makannya dengan hati dongkol. Ingin sekali dia mengabaikan adiknya dan juga senior Daniella karena rasa jengkelnya sudah melebihi batas yang mampu ditoleransi olehnya. Tapi sayangnya percakapan mereka sekarang sangat menarik. Tadi Daniella bertanya apa? Daniel lupa, tapi jawaban Laura terasa seperti angin segar yang membuat Daniel teringat sesuatu.
“... panjang ceritanya, Daniella. Tapi intinya adalah aku mengalami hal buruk yang membuat aku nggak bisa bersekolah tepat waktu. Ketika semuanya membaik dan aku mengikuti saudara kembarku bersekolah, aku bener-bener nggak nyaman. Sampai akhirnya aku memutuskan berhenti dari sekolah itu dan memilih homeschooling. Aku nyaman dengan homeschooling dan memilih ice skating sebagai pengisi di waktu senggang.”
“Lo punya kembaran?” tanya Daniel hanya selang beberapa detik setelah Laura menyelesaikan ceritanya. Daniel memperhatikan gerak-gerik senior Daniella dan menyadari adanya kejanggalan. Laura –atau siapapun namanya itu- terlihat gelisah. Daniel mengerutkan keningnya. “Gue ada temen yang wajahnya persis banget kayak lo. Namanya Clara. Benerkan?”
Pergerakan tangan Laura yang sedang menggulung pasta langsung terhenti detik itu juga. Memangnya tadi gue bahas soal kembar ya? Batin Laura mempertanyakan sebab dari pertanyaan Daniel. Laura berfikir dan menyadarinya tak lama setelahnya. Astaga, ini gara-gara sikap ceria Daniella yang membuat Laura benar-benar merasa bebas menceritakan apapun.
“Ya, gue kembar. Identik.” Laura menegaskan dengan berat hati. Bahkan senyum yang dia umbar pun terkesan sangat dipaksakan. b**o banget sih lo, Laura! Umpatnya dalam hati.
“Beneran, kak? Wow.”
Sebelumnya Laura akan sumringah mendengar kata wow dari Daniella yang terdengar sangat tulus dalam mengagumi sesuatu. Tapi gara-gara kata wow yang ekspresif itu juga sekarang Laura berada di posisi yang tidak menguntungkan.
“Tapi kok kakak aku tahu? Jangan-jangan mereka satu sekolah lagi.”
Kalau tadi Laura ingin memplester mulut Daniel, kali ini Laura sangat ingin memplester mulut Daniella. Dia merasa perlu melakukannya supaya Daniella diam dan tidak membuat dirinya merasa harus membongkar tentang Clara pada siapapun. Tapi sayangnya itu hanyalah niat. Pada akhirnya Laura hanya terkekeh karena kebodohannya.
“Namanya Clarance, tapi orang-orang manggil dia Clara. Dia sekolah di Dharma Bangsa.” Laura menjelaskan dengan berat hati. Sudah kepalang basah, pikir Laura.
“Ya ampun, dunia sempit banget ya, kak Laura. Itu tempat kakak aku sekolah juga, tahu.”
“Oh ya?”
Ya gue tahu, anjirrr! Batin Laura menjawab dengan sedikit ngegas. Lain dengan batinnya, Laura justru menampilkan tawa palsu yang agak dipaksakan. Kalau seandainya ini semua memang benar-benar kebetulan, Laura akan sangat antusias. Dia akan memberondong cowok sok dingin itu dengan beragam pertanyaan tentang adiknya di sekolah. Tapi masalahnya dia tahu kalau ini adalah jenis kebetulan yang berbahaya.
“Pantes sejak awal gue kayak familiar banget sama lo. Ternyata lo memang kembarannya Clara.” Daniel bersuara setelah sekian lama terdiam.
“Clara jarang banget bawa temen main ke rumah, jadi jarang banget ada temen dia yang tahu kalau dia punya kembaran. Bahkan kalaupun ada, gue juga jarang banget di rumah. Selama ini gue lebih banyak menghabiskan waktu di asrama buat latihan ice skating.”
“Berarti kalian memang jarang ketemu ya,” Daniel mengangguk-angguk tanpa arti yang jelas. “Hari ini lo udah ketemu adik lo?”
Laura terlihat menahan napas sekilas. Jantungnya berdebar karena entah bagaimana tiba-tiba topik bahasan sudah berubah menjadi membahas dirinya dan Clara dalam hal yang sedikit lebih pribadi. Laura mulai tidak nyaman. Ingin sekali dia mengakhiri pertemuan ini.
“Gue ketemu dia sebelum berangkat latihan. Yah, tapi cuma sekedar say hi aja. Nggak ada obrolan yang serius-serius banget.”
Semoga saja tidak ada keringat di dahinya karena merangkai kebohongan yang berlanjut ternyata sangat sulit. Laura mulai kewalahan. Dalam hatinya dia kembali menyesal karena sudah berbicara banyak. Seharusnya dia menjawab semua pertanyaan dengan kata tidak dan semuanya akan beres.
Laura merogoh ponselnya dari dalam saku jaketnya. Dia membuka lockscreen ponselnya dan berpura-pura membaca sesuatu. Keningnya dibuat mengerut sedikit, kemudian dia menatap kakak-beradik yang membahayakan rencananya dengan tatapan memohon maaf.
“Mama gue barusan mengirim pesan dan gue udah harus pulang. Sorry banget ya, tapi kayaknya gue memang harus balik duluan.”
“Its okay, kita juga udah selesai kan, Daniella? Kita bisa kok sekalian nganter lo balik.”
“Nggak perlu.” Kata Laura dengan cepat dan sedikit panik.
Laura benar-benar mulai mewaspadai Daniel layaknya wabah berbahaya. Laura yakin sekali kalau Daniel memang mencurigai sesuatu. Tapi apa? Batinnya bertanya-tanya. Laura tidak merasa melakukan kesalahan sedikitpun. Dia memang membahas Clara sebagai saudara kembarnya, tapi apa salahnya dari topik bahasan itu. Apa di sekolah Daniel sudah mencurigai dirinya? Tapi bagaimana bisa?
“Kalian bener-bener nggak perlu buat nganter gue balik. Makasih atas traktirannya dan gue duluan ya. Bye!”
Tanpa pikir panjang Laura langsung meninggalkan kedua suspect penghancur rencananya.
***
Laura menatap gerbang asrama sekolah dengan tatapan ragu. Gara-gara kecurigaan Daniel sekarang Laura merasa tertekan. Bahkan untuk menyamar sebagai Clara pun Laura sudah merasa terbebani. Dia khawatir akan sesuatu yang masih belum jelas.
Laura tahu kalau semua yang dia lakukan memiliki resiko, tapi Laura tidak menyangka bahwa beban moril yang harus ditanggungnya sedemikian beratnya. Semua ini lebih menyakitkan melebihi saat dirinya terjatuh di atas ice rink. Dia tidak punya siapapun untuk berbagi keluh kesahnya. Laura benar-benar menanggung semuanya sendiri. Setelah semua pengorbanannya, Tuhan benar-benar tidak ingin memudahkan rencana Laura.
Apa aku harus berhenti sekarang juga? Batinnya merasa bimbang.
Laura ingin berbalik untuk pulang, tapi tubuhnya kembali berbalik menatap gerbang asrama Clara. Ya Tuhan, kenapa semuanya sangat berat? Dia memulai semuanya dengan berat hati dan untuk mengakhirinya pun hatinya terasa berat.
“Clara...”
Laura terlonjak dan langsung membalikkan badannya. Betapa terkejutnya dia saat mendapati Daniel-lah yang tadi memanggilnya. Astaga, kenapa gue harus ketemu cowok ini lagi sih? Batin Laura dengan muram.
“Lo baru balik ke asrama jam segini?”
Bahkan rencananya gue nggak pengen balik ke sini lagi, anjir, batin Laura dengan agak jengkel.
“Ya, gitulah. Gue agak males sebenernya, jadi balik ke asramanya ya agak maleman.”
“Males? Si anak tiga teratas di kelas bisa males ke sekolah? Wow.”
Entah hanya perasaannya saja yang sedang sensitif atau tidak, tapi Laura merasa kalau kalimat Daniel mengandung unsur cibiran. Tapi kenapa Daniel mencibir dirinya? Sebagai Clara, Laura benar-benar tidak merasa melakukan kesalahan apapun pada Daniel.
“Ya bisa dong. Namanya juga manusia.” Jawab Laura dengan ketus.
“Terkadang sifat manusia memang bisa berubah-ubah. Tapi kalo perubahannya drastis banget juga patut di pertanyakan. Iya nggak?”
Tanpa sadar tangan Laura mengepal di bawah karena perasaan jengkel sekaligus takut. Daniel benar-benar cowok yang berbahaya.
“... dan dari sifat lo sekarang, lo lebih mirip dengan seseorang yang baru aja gue temui tadi sore. Tebak dia siapa?”
“Memangnya siapa yang lo temui sore tadi, hah?”
“Saudara kembar lo. Laura.”
Badan Laura langsung dingin seketika. Tebakannya benar. Daniel memang mencurigai sesuatu tentang dirinya.
“Lo bukan Clara kan?”
Dengan dagu terdongak Laura menjawab, “Gue nggak perlu menjelaskan panjang lebar ke lo karena lo jelas bukan siapa-siapa, Daniel. Tapi siapapun yang ada di depan lo sekarang, itu bener-bener nggak penting. Itu bukan urusan lo.”
Setelah memberikan tatapan tajamnya, Laura langsung meninggalkan Daniel untuk masuk ke dalam asrama Clara. Dia harus menyusun rencana baru karena rencananya yang sekarang hampir hancur karena seorang Daniel Dharmawangsa yang sialan itu.
TBC