Part 12 : Teror Daniel
Happy Reading ^_^
***
Lo harus jelasin semuanya ke gue. Paham kan maksud gue?
Daniel.
Anjirrrr, ini cowok kenapa pake ngirim-ngirim pesan ke gue sihhhh?! Rutuk Laura dalam hati sambil mengguncang-guncang ponsel Clara. Laura langsung berkacak pinggang beberapa saat kemudian. Daniel ini benar...
Laura sudah kehabisan ide dan kata-kata. Dia sudah salah besar karena sebelumnya sudah menyepelekan seorang Daniel. Bagi Laura, Daniel tidak lebih dari sekedar cowok sok cool yang populer hanya karena dia anak yang punya sekolah. Ya, hanya itu. Tapi siapa sangka dialah orang pertama yang mengetahui rahasianya. Dan ternyata dia pun sangat menyusahkan! Batin Laura berteriak frustasi.
Laura mengedarkan matanya untuk mencari sosok Daniel. Rupa-rupanya dia sedang bersikap sok pintar dengan memasukkan tiga tumpuk buku paket miliknya ke dalam tas. Mata mereka bertemu. Daniel menyeringai dan Laura memelototinya. Laura mematikan ponselnya dan memasukkannya ke dalam tas tanpa berniat membalas pesan Daniel. Dan apa yang dia lakukan itu sengaja dia perlihatkan pada Daniel untuk menunjukkan bahwa dia tidak akan menuruti semua perkataan Daniel meski kartu AS-nya kini ada di tangan Daniel.
Daniel sialaaaaannnnnnn!!! Umpat Laura keras-keras dan tentunya itu dia lakukan dalam hati. Dia ceroboh, Laura mengakuinya. Tapi kenapa harus Daniel dari sekian banyak orang yang berinteraksi dengannya selama seminggu terakhir? Bagaimana bisa Daniel menyadarinya disaat Viony dan Else –yang notabene-nya adalah sahabat karib Clara – justru tidak menyadarinya sedikitpun.
Kalau bukan Daniel, Laura pasti bisa menanganinya. Tapi Daniel –astaga, Laura benar-benar ingin mengumpat keras-keras. Daniel itu cowok sok cool, jadi bagaimana dia bisa mengendalikan cowok dengan sifat seperti itu. Belum lagi dengan fakta kalau Daniel adalah anak si pemilik sekolah. Dia bisa membeberkan semuanya hanya karena mood-nya sedang tidak baik.
“Gue nggak tahu kalo lo suka bubur, tapi nasinya bener-bener bisa hancur kalo cara lo ngambil seperti itu.” Viony bersuara yang membuat Laura langsung menunduk dan menyadari caranya mengambil nasi. Malas meladeni Vio, Laura langsung mengambil lauk dan sayur secukupnya tanpa pikir panjang, dan langsung duduk di salah satu meja yang masih kosong. Caranya meletakkan nampan makan siangnya pun lumayan kasar sehingga cukup menarik perhatian beberapa orang.
Viony dan Else berpandangan dengan terheran-heran. Keduanya ikut duduk dan menatap Laura dengan tatapan menginterogasi.
“Lo kenapa sih? Daritadi pagi kayaknya mood lo ancur banget.” Else bersuara dengan suara bijaknya. Tapi saat ini Laura benar-benar tidak butuh kebijakan apapun.
“Iya, lo kenapa sih? Trus tadi kenapa sama Daniel kok sebelum keluar pake liat-liatan kayak gitu? Kayak ada something yang seru dan kita berdua nggak tahu.” Viony menimpali dan membuat mata Laura menyipit antara geli dan jengkel.
Seru gundulmu itu! Rutuk Laura dalam hati.
“Cerita dong, Clara. Jangan tahu-tahu ntar ada info kalo lo sama Daniel udah jadian dan lagi bertengkar.”
“Gue? Jadi sama Daniel? Ogah banget.” Kata Laura dengan ekspresi yang menggebu-gebu. Mana sudi dia punya pacar yang sok cool tapi sangat merepotkan seperti Daniel. “Daripada gue jadian sama cowok kayak gitu, mending gue jadian sama—” Perkataan Laura terhenti di tenggorokan. Dia menyadari ada sesuatu dari topik ini yang bisa menjadi titik terang kenapa Daniel bisa tahu rahasianya.
Laura mengutuk seorang Daniel dan tidak mau menjadi pacarnya. Tapi posisinya di sini dia adalah Clara. Yang digoda seperti ini adalah Clara, bukan Laura. Lalu apa Clara akan mengutuk sifat Daniel seperti yang Laura lakukan ketika ada yang menggodanya seperti ini? Atau justru sebaliknya, Clara akan dengan senang hati untuk menjadi pacar cowok menyebalkan itu? Mata Laura melebar. Salah satu tangannya menutup mulutnya yang menganga.
Daniel dan Clara bukan sepasang kekasih kan? Kalau ya, pantas saja rencananya terbongkar!
***
Saat itu Daniel sedang sibuk memilih menu makan siangnya, lalu tiba-tiba sosok Clara –atau Laura- datang dan menyeretnya keluar dari gedung kantin. Daniel terkejut, tapi tidak terlalu memusingkannya. Alasan kenapa Clara palsu sampai menyeretnya seperti ini sudah sangatlah jelas. Daniel memilih tidak memberontak bahkan sampai Clara palsu membawanya ke area lapangan outdoor yang terik dan sepi.
“Well, lo mau menceritakannya sekarang?” Daniel berujar dengan tenang.
“Gue mau bertanya sesuatu.”
Kening Daniel berkerut. “Bertanya tentang apa?”
“Lo pacarnya Clara kan?”
Daniel ingin sekali tertawa terbahak-bahak di depan ekspresi serius kembarannya Clara. Demi apapun, pertanyaan kembarannya Clara sangat-sangat konyol. Tapi sebisa mungkin dia menahannya. Suasana tegang ini tidak boleh cepat berlalu.
“Itu bukan pertanyaan, kembarannya Clara. Itu adalah tuduhan yang nggak berdasar.”
Kali ini kening Laura-lah yang berkerut. “A-Apa?” Dia salah lagi? Batin Laura dengan tidak percaya. “Jangan mempermainkan gue ya, Daniel.” Ujar Laura dengan ekspresi jengkel.
“Gue nggak mempermainkan lo,” Daniel mengangkat bahunya dengan cuek. “Gue udah jawab pertanyaan lo, sekarang gantian lo yang harus jawab pertanyaan gue. Kenapa lo berpura-pura menjadi Clara, hm?”
Mendengar itu, Laura langsung memalingkan wajahnya ke beberapa penjuru arah untuk memastikan tidak ada siapapun di sekitar mereka. Kalau sampai ada orang lain yang mendengar ini, Laura benar-benar tamat.
Laura mendelik ke arah Daniel dengan telunjuk yang dia letakkan di atas bibirnya. Itu kode agar Daniel tutup mulut. “Ssssttt! Jangan bahas itu dulu. Sekarang saatnya gue yang menginterogasi lo, bukan sebaliknya.” Laura menjeda, tubuhnya maju sedikit agar semakin dekat dengan posisi Daniel. “Lo beneran bukan pacarnya Clara?”
“Harus berapa kali gue bilang sih?” Daniel terlihat malas. “Gue bukan siapa-siapanya Clara. Masih nggak percaya juga?”
Tanpa sadar, Laura mengangguk untuk menyetujuinya. Dia memang belum bisa mempercayainya. “Kalo lo bukan pacarnya Clara, lalu gimana mungkin lo bisa tahu kalo gue bukanlah Clara?”
“Gue menebaknya.”
Demi apapun! Ini kenapa ada cowok super songong kayak Daniel sih?!
Laura memutar bola matanya dengan jengah. Dia benar-benar ingin memukul wajah Daniel yang terus-terusan memancarkan kesongongan tingkat tinggi. Dengan gemas Laura berujar lagi, “Gue tahu lo pinter. Tapi sejenius apapun itu, lo nggak akan mungkin menebak dengan benar tanpa clue. So, clue apa yang lo dapetin tentang gue?” tuntut Laura.
“Itu gampang banget –astaga! Lo nggak menyadarinya?”
Laura menggeleng. Dia memang tidak menyadari apapun. Seingatnya dia sudah berusaha menjadi versi terbaik dari seorang Clara.
“Kembarannya Clara—”
“Laurance.” Sela Laura dengan cepat karena agak jengkel di panggil seperti itu. “Atau lo bisa memanggil gue Laura. Kita jelas udah pernah ketemu dan kenalan, jadi nggak usah sok nggak tahu ya.” Kata Laura dengan nada menyindir.
“Gue lupa sebenernya.”
Daniel mengakhiri kalimatnya dengan senyum sok manis yang untuk sejenak sempat mengalihkan pikiran Laura. Laura menggeleng untuk kembali fokus.
“... sikap lo dan Clara sangat berbeda dan itu kentara banget, Laura.”
Laura memasang ekspresi menantang. “Tapi memangnya siapa lo sampe seyakin itu kalo sifat kami berbeda, huh? Bahkan Viony dan Else pun nggak menyadari kalo gue adalah Laura.”
“Mereka mungkin nggak sadar, tapi gue sadar. Katakan aja gue terlalu sensitif makanya sampe bisa menyadari hal ini. Intinya di mata gue, lo dan Clara bener-bener berbeda terlepas dari wajah kalian yang sama persis.”
“Jangan bercanda, Daniel. Teori nggak sehebat itu sampe bisa bedain gue dan Clara.”
“Terserah lo mau ngomong apa, tapi intinya ya gitu.” Kata Daniel dengan cuek. “Ah, satu lagi. Sneakers yang lo pake pas balik ke asrama malem itu persis banget dengan yang lo pake pas makan bareng gue dan Daniella. Sepertinya lo lupa ganti sepatu karena udah kemaleman untuk balik ke asrama.”
Oh iya!
“Oh s**t!”
Daniel tertawa renyah mendengar u*****n spontan itu. Kapan terakhir kali dia mendengar perempuan se-spontan Laura? Dan anehnya, itu semua terdengar menyenangkan.
“Inilah perbedaan mendasar lo dan Clara. Clara nggak akan berani ngomong kayak gitu di sini. Paham kan maksud gue, Laurance?”
Laura paham sekali perkataan Daniel. Bahkan tanpa ditegaskan pun Laura sangat memahaminya.
“Terus mau lo sekarang apa?” tanya Laura dengan to the point.
“Gue cuma mau bilang, sekolah ini institusi resmi. Keluar sebelum lo ketahuan dan kalian berdua akan dapet punishment yang berat.”
“Seandainya lo yang ada di posisi gue,” Laura berusaha terkekeh, walau sulit. “Gue ngga bisa.” Imbuh Laura dengan kekehan miris.
“Jadi lo lebih memilih dihukum?” Daniel memasang ekspresi serius, tapi Laura tidak terpengaruh sama sekali. Justru ekspresi kembaran Clara itu menjadi muram sekaligus sedih.
“Gue terima untuk dihukum. Apa pun itu. Tapi sebelum itu, gue harus menghukum seseorang dengan pantas. Dan orang itu ada di sekolah ini.”
“Lo mau balas dendam di sini? Laura, ini sekolahan. Lo membahayakan Clara dan juga diri lo sendiri. Okelah kalo lo nggak masalah dihukum, tapi gimana dengan Clara? Dia mau dihukum untuk sesuatu yang bukan salahnya? Lo egois banget.”
“Gue egois?” sambar Laura dengan cepat. Dia tertawa sumbang. “Oke, gue memang egois, tapi kalian—kalian jahat, b******k, dan sialan!!” kata Laura dengan tangan yang mencengkeram kemeja sekolah Daniel. Matanya berkilat penuh luka dan emosi yang mendalam. “Apa yang udah kalian lakuin ke adik gue sampai dia koma, hah?! Dia bisa mati kapan pun karena kalian. Dan lo bilang gue egois karena memperjuangkan dia?” Laura melepaskan cengkeramannya hingga tubuh Daniel terdorong ke belakang. Buru-buru Laura mengusap matanya yang baru saja mengeluarkan bulir air mata. Lo nggak boleh keliatan lemah, Laura! Semangatnya dalam hati.
“Lo barusan bilang apa? Clara koma?” Sementara itu Daniel terlihat sangat terkejut. Dia tertegun di tempatnya selama beberapa detik. Semua yang dikatakan Laura begitu mengguncang pikirannya. “Kenapa Clara bisa koma? Apa yang terjadi sama dia?”
Laura menutup matanya saat menyadari kalau air matanya akan mengalir dengan deras. Setelah berhasil menenangkan dirinya, dia mengusap wajahnya dengan kasar dan menatap Daniel dengan dagu terdongak.
“Seharusnya gue yang tanya ke kalian. Kenapa Clara bisa sampai seperti ini, hah?! Dia menghabiskan lima harinya di sekolah sialan ini. Dia baik-baik saja sebelumnya, tapi tiba-tiba saja dia pingsan lalu koma beberapa jam kemudian.” Laura mengenang itu dengan miris. “Ini semua salah kalian! Makanya gue di sini untuk memperjuangkan keadilan buat dia.”
Daniel maju untuk menenangkan Laura, tapi perempuan itu menghindar. “Laura, semua ada caranya yang baik. Lebih baik kita laporkan ini ke komite. Mereka akan mengurusnya sampai tuntas.”
“Lo pikir komite bakal mengurus hal seperti ini? Jangan konyol, Daniel!”
“Terus mau lo kayak mana, Laura? Ini masalah yang serius.”
“Gue bakal menemukan siapa yang buat adik gue seperti ini. Gue nggak peduli kalau nantinya dia bakal dapet hukuman yang sepadan dari sekolah ini, tapi dia bener-bener harus ngerasain hukuman yang setimpal dari gue.”
“....”
“... karena itu, Daniel, gue bener-bener mohon ke lo. Please, jangan ungkap identitas gue dulu. Lo bisa kan?”
TBC