Part 8 : Pembalasan Kecil Laura
Happy Reading ^_^
***
Laura berjongkok dengan perasaan was-was yang mendominasi. Sekujur tubuhnya tegang. Bahkan tanpa disadari pun Laura mengatur napasnya agar tidak terdengar memburu oleh indra pendengarannya sendiri. Dalam kondisi seperti ini, pergerakan sekecil apapun sangat berpotensi merusak rencananya. Laura tidak ingin rencananya terendus secepat ini.
Langkah kaki itu semakin mendekat dan Laura semakin merapatkan tubuhnya ke tempat persembunyiannya. Kepalanya semakin tertunduk dan kedua tangannya mengepal semakin kuat. Ini adalah pertama kalinya seorang Laurance Juarsa merasa ketakutan yang tak menentu seperti ini.
“Clara...”
Laura mengernyitkan keningnya. Dia seperti mengenali suara itu. Tapi siapa? Itu jelas sekali bukan suara Viony atau pun Else. Tapi dia merasa pernah mendengarnya. Ini jelas bukan halusinasinya.
“Gue liat lo masuk ke sini tadi. Nggak usah sok-sokan bersembunyi kayak pengecut.”
Laura langsung membelalakkan matanya. Kali ini bukan karena takut, tapi lebih mengarah ke jengkel. Siapa yang berani-beraninya mengatai adiknya seperti itu? Tanpa pikir panjang, Laura langsung menegakkan tubuhnya. Matanya langsung memicing marah melihat siapa yang berdiri di depannya. Kalau ingatannya masih berfungsi dengan baik, maka Laura menebak si perempuan lancang yang ada di depannya ini adalah Felixia. Felixia sialan, batin Laura dengan jengkel.
“Jadi bener lo bersembunyi...”
Dahi Laura mengernyit mendengar bagaimana cara Felixia berbicara pada dirinya yang menyamar sebagai Clara. Dari nada suaranya terdengar keangkuhan yang tanpa batas. Seolah-olah Clara memang bukan siapa-siapa di matanya dan Clara adalah orang yang mudah ditindas olehnya. Perasaan tidak suka mulai berkumpul di dadanya.
“Kenapa lo bersembunyi? Lo takut sama gue?” kata Felixia dengan nada mengejek yang semakin gencar dia lontarkan berkat respon Clara yang sangat menyenangkan untuk dilihat. Pengecut, itulah yang Felixia pikirkan akan sosok Clara sekarang.
Hilang sudah kesabaran Laura. Dia berjalan menuju tempat Felix berdiri dengan kaki yang dihentak-hentakkan. Perempuan itu harus diberi pelajaran supaya tahu kalau dirinya berhadapan dengan orang yang salah.
“Gue takut sama lo? Astaga...”
Laura mengikuti gestur Felixia yang melipat kedua tangannya di depan d**a saat berbicara padanya tadi. Tatapannya pun berubah seperti mengejek Felixia yang membuat lawannya itu mengerutkan keningnya.
“Di dunia ini gue cuma takut sama satu hal: hantu. Memangnya lo hantu? Bukan kan? Jadi lo salah kalo mikir gue takut sama lo.” Jawab Laura dengan nada yang tak kalah angkuh. “Lo tuh bukan siapa-siapa sampe perlu gue takutin.” Tambah Laura yang semakin menyulut rasa jengkel Felixia.
“Trus kenapa lo bersembunyi waktu gue dateng?” kata Felixia dengan nada marah.
“Ya itu urusan gue. Gue mau sembunyi, salto, atau bahkan kayang sekalipun ya itu urusan gue. Ngapain coba gue mesti jelasin ke lo.”
Level kemarahan Felixia naik satu tingkat. Laura menyadarinya, tapi tidak ingin menjadi pihak yang mengalah untuk menghentikan perdebatan kecil ini. Kalau dia mengalah, Felix akan semakin bersemangat menindas Clara –seperti sebelum-sebelumnya. Lagipula melihat Felix yang emosi karenanya terasa cukup menyenangkan. Dia merasa berkuasa setelah Felixia sok-sokan menunjukkan kekuasaan semunya.
“Lo sendiri ngapain ke sini? Mau berenang? Atau jangan-jangan cuma mau foto doang biar ada bahan buat update sosmed?” Kata Laura dengan nada mengejek. “Well, apapun yang mau lo lakuin –lakuin aja. Tapi jangan berharap gue bakal pergi demi kenyamanan lo di sini. Gue yang sampe di sini duluan, jadi kalo ada orang yang harus pergi karena nggak nyaman ya orangnya bukan gue.”
“....”
“Dan nggak usah tanya gue mau apa di sini karena itu bukan urusan lo. Lo paham kan bahasa manusia yang barusan gue pake?”
Laura membalikkan tubuhnya dengan kepala terangkat tinggi-tinggi. Terlihat lebih sombong dan lebih mengintimidasi adalah keharusan saat menghadapi orang-orang seperti Felixia. Jika tidak, Felixia akan terus merasa berada di atas awan dan menindas yang lain tanpa rasa khawatir sedikitpun. Dan Laura tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
“Lo sengaja deketin Daniel karena mau ngerusak rencana gue kan, Clara? Gue tahu semuanya, jadi ngaku aja.”
Laura langsung menghentikan langkahnya dan berbalik untuk menatap Felix dengan tatapan terheran-heran. Helllaawww, gue aja belum genap bertemu dengan Daniel selama seminggu, jadi bagaimana mungkin ada hubungan? Ngawur, pikirnya.
“Gue deketin Daniel?” Laura menegaskan dengan muak. Ingin rasanya dia tertawa terbahak-bahak di depan wajah Felix supaya perempuan itu tahu kalau dugaannya salah besar. “Gue bahkan nggak peduli tentang Daniel sedikitpun dan lo menganggap gue mendekati dia? Humor lo kok nggak berbobot banget.” Tambah Laura dengan nada mengejek.
“Terus apa maksud lo dengan menguping pembicaraan kami malam itu? Lo pasti mau nyebarin semua yang lo denger biar citra gue buruk. Lo bakal jadiin ini semacem balas dendam lo ke gue kan?”
Balas dendam? Laura mengakui kalau dia tidak berada di sisi Clara duapuluh empat jam dalam seminggu, tapi dia yakin sekali kalau adiknya bukan tipikal seperti itu. Membalas dendam itu cukup merepotkan dan Laura paham kalau Clara tidak suka hal yang merepotkan.
“Malem itu gue bener-bener nggak sengaja menguping. Gue cuma nggak sengaja lewat dan kebetulan kalian ngomongin hal itu.” Laura memberikan pembelaan yang dirasanya cukup masuk akal. Tapi ini bukan hanya pembelaan, ini kenyataan.
“Lo pikir gue bakal percaya?” kata Felix dengan keras kepala.
“Lo percaya atau nggak, gue nggak peduli. Tapi memang itu faktanya.” Laura mengangkat bahunya dengan cuek. “Lagian kalo gue memang mau nyebarin, pasti hari ini udah heboh. Tapi apa hari ini ada kehebohan? Nggak ada kan? Jadi jangan berburuk sangka sama gue.”
“Jangan berburuk sangka?” Felix mendecih. Laura mengernyitkan keningnya. “Gimana mungkin gue nggak berburuk sangka ke orang yang selalu mau ngerebut apa pun yang gue punya? Nggak bisa, Clara. Orang kayak lo itu harus diwaspadai atau gue akan kehilangan semuanya karena lo rebut.”
Laura merasa tersinggung. Adiknya adalah adik perempuan yang baik. Bahkan Clara tidak berani meminjam barang kepunyaan Laura yang notabene-nya adalah kakaknya sendiri, jadi bagaimana mungkin adiknya itu mau merebut dari orang lain? Dan kenapa sejak tadi Felix terus menyudutkan adiknya? Laura menatap Felix dengan muram. Bisa-bisanya Clara masih disudutkan di saat dia sedang berjuang untuk hidup dengan bantuan alat medis.
“Kenapa lo mau ngerebut semua yang gue punya, huh? Lo keliatan baik, tapi kenyataannya lo seserakah itu. Bener-bener nggak terduga. Menjengkelkan banget karena dari sekian banyak sekolah dan gue ketemu lo di sini.”
Gue juga jengkel ketemu lo, sialan! Batin Laura berteriak memaki Felixia. Persetan dengan norma-norma yang ada. d**a Laura sesak karena ada begitu banyak kalimat makian yang ingin terucap tapi dia tahan. Laura tidak bisa asal berceloteh dan membuat Felix curiga tentang penyamarannya. Dia tidak boleh ceroboh, itu adalah keharusan.
“Bisa nggak sih lo pergi dari hadapan gue, Clara? Gue bener-bener—” Felix memalingkan wajahnya ke sembarang tempat dengan penuh emosi. Felix mendekati Clara dengan telunjuk yang terus terarah ke Clara. “Gue muak sama lo. Gue muak dengan sikap sok polos lo. Gue muak dengan semua tuntutan lo. Intinya gue benci lo, Clara.”
Felixia berujar dengan telunjuk yang terus menyentuh bagian atas d**a Clara. Melihat Clara mundur seiring tekanan telunjuknya –Felixia merasa puas. Clara terlihat berbeda, tapi siapa sangka sikap pengecutnya masih sama, pikir Felix dengan sedikit rasa senang.
Laura berada pada posisi yang tidak menguntungkan. Felix terus menekan dadanya sampai dia terus mundur ke belakang. Di sisi lain Laura tahu kalau di belakangnya adalah kolam renang. Apa Felix sengaja melakukan ini agar dirinya jatuh ke kolam dan terlihat menyedihkan? Tapi Laura tidak akan membiarkannya.
“.... kenapa lo nggak pindah aja sih, Clara? Menghilang dari pandangan—”
Lelah dengan semua tekanan yang diberikan Felixia, Laura menahan pergelangan tangan Felix dan memutarnya. Dia memberikan tarikan ringan sehingga tubuh Felix terdorong maju dan Laura sedikit menyingkir. Laura yakin kalau Felix merasa di atas awan dan menjadi tidak waspada. Hal ini terbukti dengan Felix yang tidak berdaya pada saat Laura memutar pergelangan tangannya dan menariknya ke depan. Tubuh Felix langsung tercebur ke kolam renang dengan mudahnya hanya dengan sedikit tenaga yang Laura keluarkan. Laura berbalik dan pura-pura terkejut dengan aksi yang baru saja dia lakukan.
“Uppss... gue nggak sengaja,” kata Laura dengan kedua tangan tertangkup terkejut di depan wajahnya. Ekspresinya pun sangat jelas sekali kalau semua ini memang rencananya. “Aduh, gue nggak suka berenang lagi. Lo nggak apa-apa kan?”
“Sialan lo ya, Clara!”
Walau mulutnya tidak bisa tertawa keras-keras, tapi Laura menertawakan Felixia dalam hatinya. Dan rasa puasnya semakin menjadi-jadi kala mendengar makian-makian dari bibir Felixia. Ini adalah aksi paling mudah untuk menghentikan mulut Felix yang terus mengoceh dan menyudutkan adiknya. Dia pantas mendapatkan ganjaran sepele ini.
“Dari cara lo ngomong kayaknya sih lo baik-baik aja. Lo bisa kan naik sendiri? Sorry ya, gue lagi males banget nolongin. Bye, Felixia...”
Laura melambai centil, lalu berbalik dengan seringaian mengejek. Dia puas karena berhasil membungkam Felix sekaligus membuat perempuan itu marah. Meskipun ini masih tidak sebanding dengan apa yang dialami adiknya, tapi setidaknya ini adalah permulaan yang bagus. Felixia harus tahu kalau Clara yang sekarang bukanlah Clara yang dulu. Dengan begitu mulutnya dan sikapnya akan lebih terdidik sebelum berbicara padanya.
“Gue bener-bener benci lo, Clara. Berhenti ganggu hidup gue atau gue bakal membuat lo menderita!”
Laura masih mendengar makian Felix saat dia menyambar tasnya dan hendak pergi. Dalam hatinya dia mencatat semua yang dilontarkan Felix. Bagaimana bisa Felix bersikap layaknya korban disaat adiknya-lah yang koma tak berdaya di rumah sakit? Permainan macam apa ini. Bahkan sebelum dia membuat Clara menderita, Laura akan membalas Felix dua kali lipat. Laura benar-benar tidak akan membiarkan Felix bertindak seperti korban dan masih baik-baik saja. Kali ini dia benar-benar harus menjadi korban yang sebenarnya.
TBC