Jangan-Jangan...

1763 Words
  Part 7 : Jangan-Jangan...   Happy Reading ^_^   ***   Laura menyisir rambutnya dengan jari, lalu menggelungnya menjadi satu dengan rapi. Dia memandangi cermin yang tertempel di pintu dalam lokernya. Entah hanya perasaannya saja atau memang berat badannya naik, tapi Laura merasa kalau pipinya sedikit lebih berisi. Kalau berat badannya memang naik –ini benar-benar gawat. Laura tidak tahu harus mengatakan apa pada Miss. Berlin kalau memang itu terjadi.   Miss. Berlin selalu sangat ketat saat Laura sedang dalam program latihan. Laura harus menjaga pola makannya, begitu juga dengan pola latihannya. Olahraga adalah kegiatan wajib yang harus Laura lakukan tiap hari agar tubuhnya terbiasa dengan beban dan tetap prima dengan durasi latihan yang terkadang dinilai cukup berlebihan.   Tapi itu dulu... saat dirinya masih berada di asrama klub dengan pengawasan Miss. Berlin selama duapuluh empat jam penuh. Sekarang? Jangankan jogging, peregangan ringan sebelum tidur pun tidak bisa Laura lakukan karena keadaannya tidak mendukung. Jadi kalau berat badannya memang naik dan Miss. Berlin mengomel panjang lebar –itu jelas hal yang sangat wajar.   “Clara! Please deh nggak usah sok cantik dengan ngaca terus. Buruan! Yang lain udah mulai pemanasan tahu.”   Suara cempreng Viony menyadarkan Laura. Buru-buru dia menutup lokernya dan menyusul Viony yang sudah berlari menuju tempat olahraga hari ini. Laura bersyukur karena hari ini adalah hari olahraga, yang mana dia benar-benar akan memanfaatkannya. Ini adalah satu-satunya hari di mana dia bisa memperbaiki diri sebelum weekend nanti menghadap Miss. Berlin untuk latihan sekaligus pertanggungjawaban.   “Eh, lo dapet info terbaru nggak tentang hubungan Daniel sama Felix?” tanya Vio di sela-sela aksi pemanasan mereka. Mata Laura membulat. Gara-gara pertanyaan itu Laura jadi teringat dengan pertarungan sengit antara Daniel dan Felixia semalam.   “Manusia rebahan macem gue mana mungkindapet informasi paling hot seantero sekolah? Ya nggak mungkinlah. Nggak bermutu banget pertanyaan lo ini.” Kata Laura sambil berdecak.   “Iya juga sih. Lo kan manusia yang paling bodo amat sama info-info macem ini,” kata Vio yang lebih ditujukan pada dirinya sendiri. “Eh, tapi kok semalem lo dianterin Daniel ke asrama sih?” tanya Viony dengan polosnya.   “Kok lo tahu sih?” tanya Laura tanpa pikir panjang. Matanya membulat menyiratkan keterkejutan.   “Tahulah. Gue pikir lo ngilang ke mana padahal udah mau abis jam malam. Pas gue buka jendela, eh tahunya di bawah pas ada lo sama Daniel.” Jawab Viony dengan polosnya. “Makanya gue pikir lo penasaran banget tentang mereka dan berniat jadi detektif pro yang bakal mengungkap hubungan Daniel dan Felix yang sebenernya.”   Ingin rasanya Laura menepuk jidat Viony agar perempuan itu sadar. Mengurusi urusan orang lain itu jelas bukan gayanya. Dan semoga saja itu juga bukan gaya Clara. Yang dia lakukan semalam benar-benar demi kepentingannya sendiri. Laura tidak ingin tidur di luar atau pun dihukum karena melanggar peraturan, makanya dia memanfaatkan Daniel. Hubungan Daniel dan Felix? Masa bodoh. Laura benar-benar tidak peduli.   “Ya nggak mungkinlah, Viony tersayang. Ngapain sih gue ngurusin urusan orang lain? Nggak penting banget.” Jawab Laura dengan cuek.   “Trus semalem lo sama Daniel kok bisa bersama kayak gitu? Pake acara dianterin ke asrama lagi,” ada jeda sejenak, lalu mata Vio membulat dengan berlebihan. Ekspresinya pun berubah jahil. “Astaga, Clara, jangan-jangan lo dan Daniel—”   Laura langsung menutup mulut Vio agar berhenti mengoceh yang tidak-tidak. Kalau orang lain mendengarnya, bisa-bisa mereka akan salah paham.   “Nggak usah lebay deh. Dia itu cuma berbaik hati nganterin gue ke asrama. Udah gitu aja, nggak ada pemikiran absurd kayak yang otak lo pikirin.”   Viony merapatkan tubuhnya ke Laura, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga sahabatnya itu. Kemudian dia berbisik pelan, “lo sama Daniel nggak mungkin ada something kan?”   Laura langsung memberikan cubitan halus di lengan Viony sebagai bantahan. “Ya nggak mungkinlah. Ngaco banget sih otak lo. Ngawurrrr!”   “Ya trus ngapain lo berduaan sama Daniel malem-malem, huh? Kan lo semalem pamitnya mau beli cemilan. Pulang-pulang nggak ada cemilan sama sekali, dan tahu-tahu mata gue yang suci ini ngeliat kalian berdua. Jangan-jangan lo bohongin gue sama Else ya tentang beli cemilan itu?”   Laura langsung salah tingkah. Dia berdehem sekilas. “Gue –gue memang beli kok cemilannya! Trus abis itu gue keluar bentar jalan-jalan.”   “Terus cemilannya ke mana? Lo semalem masuk kamar nggak bawa apapun selain cardigan lusuh lo itu.”   “Ilang.” Kata Laura dengan cengiran lebar. Dari ekspresi wajah Vio, Laura yakin sekali teman adiknya itu tidak mempercayai ucapannya sepenuhnya. Wajar saja, Laura pun menyadari betapa ‘nggak bermutu’ jawabannya tadi. Tapi hanya itu yang terlintas di kepalanya sekarang ini! “Semalem itu pas jalan-jalan, kuping gue nangkep bunyi aneh gitu di semak-semak. Otomatis gue takut dong, apalagi belakangan ini banyak kasus kejahatan ke anak sekolah. Gue lari tanpa mikirin apapun. Dan tiba-tiba cemilan gue udah nggak ada aja di tangan gue. Yaudahlah gue ikhlasin, daripada gue kenapa-napa.” Tambah Laura dengan ekspresi meyakinkan yang dia sendiri pun tidak yakin. Tapi dari ekspresi Viony, Laura tahu sahabat adiknya itu mulai sedikit percaya.   “Trus lo ketemu Daniel gitu?”   Laura menjentikkan jarinya. “Yups, bener banget. Merasa beruntung banget gue ketemu cowok songong itu. Gue takut banget kan, jadinya sekalian aja gue minta tolong anterin dia ke asrama.”   “Dan Daniel mau?” tanya Viony.   Laura mengangguk membenarkan. “Walau dengan sedikit paksaan.”   “Tumben banget cowok satu itu mau dimintain tolong. Biasanya mah mana mau dia!” nada suara Viony terdengar mencemooh. Lalu matanya kembali menatap Clara dengan intens. “Dan tumben banget lo jadi pengecut sih? Biasanya lo abis dari perpustakaan sekolah ke asrama jam tujuh malem juga sendirian. Mana pernah lo minta tolong cuma buat dianterin.”   Dalam hati Laura menggerutu. Kalau seandainya dia tahu jalan sekolah Clara dengan baik, mau jam tujum malam atau bahkan tengah malam sekalipun, dia tidak akan pernah meminta tolong untuk diantarkan pulang. Tapi kan masalahnya dia tidak tahu jalan dan ada jam malam yang tidak bisa dia langgar. Laura sendiri bergidik geli membayangkan dia semanja itu. Benar-benar bukan dirinya sekali.   “Lo beneran nggak ada apa-apa kan sama Daniel?”   Laura memutar bola matanya lagi. Mau berapa kali sih otak Vio berfikiran seperti itu? Mengenal Daniel saja tidak, bagaimana bisa ada apa-apa di antara mereka? Aneh.   “Awas aja kalo tahu-tahu lo sama Daniel udah jad—”   Laura langsung membekap bibir Vio agar tidak mengucapkan kalimat menggelikan itu. Matanya melotot. “Ssssttt! Dilarang ngomongin Daniel-Daniel terus. Ayok pemanasan trus olahraga!” katanya dengan tangan masih membekap bibir Viony.   Viony memukul tangan Clara sebagai bentuk perlawanan kecil. Mulutnya komat-kamit karena jengkel. “Sok-sokan bener sih lo ini. Kayak bakal olahraga aja. Lo kan paling males kalo olahraga renang. Males basah-basahan terus mandi dan trus ganti baju.” Kata Vio sambil lalu.   Mendengar itu, Laura langsung berhenti di tempat. Dia terperangah. Ingin rasanya dia memukul dahinya keras-keras detik ini juga. Bagaimana dia bisa lupa kalau Clara selalu sangat malas dengan yang namanya olahraga. Jangankan olahraga yang merepotkan seperti berenang, sekedar stretching saja Clara tidak becus saat melakukannya. Adiknya ini... astaga.   Jadi batal olahraga nih?   Laura menatap kolam renang yang airnya terlihat menyegarkan dengan ekspresi hampa. Gue pengen olahragaaaaaa!! Batinnya berteriak dengan miris.   ***   “Kalian duluan aja.”   Viony dan Else terkejut. “Lo mau ke mana dulu?”   Laura menunjukkan cengirannya yang paling khas kalau akan berbohong. “Gue mau ke perpustakaan.”   “Ngapain? Tugas kita juga udah selesai kan barusan?” Else menyela dengan bingung.   “Hmm ada yang mau gue baca-baca. Dahlah, pokoknya kalian tenang aja. Pulang dengan selamat, istirahat, dan bentar lagi juga pasti gue balik. Tenang aja.”   Else dan Viony berpandangan. Keduanya menatap Clara dengan ekspresi curiga, tapi Clara terus memunculkan senyum lebar yang aneh dan bukan khasnya sama sekali. Merasa tak menemukan sesuatu yang aneh –selain senyum mengerikannya- keduanya menyetujui.   “Yaudah, gue sama Vio duluan. Jangan pulang malem-malem karena lo bakal mampus kalo ngelewatin jam makan malem. Stok roti lo udah mau abis tuh di loker!”   “Siap!” kata Laura dengan tangan memberi hormat. Cengirannya tetap ada sebagai tanda kalau dia senang. Else sudah berjalan duluan, sementara Viony masih di tempat dan menatapnya dengan berdecak halus.   “Nggak usah pulang malem-malem trus jadi pengecut yang minta tolong ke Daniel. Bikin malu aja!”   “Anjirrrr! Dah sana pergi, jangan ganggu-ganggu gue!”   Vio menjulurkan lidahnya lalu berlari menyusul Else yang sudah meninggalkan mereka duluan. Dalam benaknya Laura ingin melakukan lompatan penuh semangat karena ‘rencana’ nya hampir berhasil. Setelah memastikan kedua teman Clara pergi, Laura langsung menyambar tasnya dan menuju tempat yang sempurna untuk mewujudkan rencana yang sudah dia susun.   Clara berlari kecil sebagai pertanda kalau dirinya sedang sangat senang sekali. Masa bodoh dengan teman-teman lain yang mungkin mengernyitkan kening melihat tingkahnya yang seperti ini. Ini bukan saatnya mementingkan mereka. Ini saatnya mementingkan diri sendiri.   Laura mengeluarkan ID sekolah Clara lalu meletakkannya di alat otomatis untuk proses scanning. Setelah ID-nya terbaca, Laura langsung tersenyum sumringah saat pintu tempat dia akan melancarkan rencananya terbuka. Dalam hatinya dia mengucap syukur karena sejauh ini belum ada tanda-tanda rencananya akan gagal.   Tanpa pikir panjang, Laura langsung masuk dan merentangkan tangannya lembar-lebar dengan senyum sumringah. Akhirnya gue bisa berenang!!! Batin Laura bersorak penuh kegembiraan.   Di depan Laura terpampang lima kolam renang dengan beragam kedalaman yang siap untuk digunakan olehnya. Untuk pertama kalinya, Laura benar-benar bersyukur sudah menyamar menjadi Clara. Berkat kondisinya ini, dia bisa mencicipi fasilitas luar biasa dari sekolah adiknya yang terbilang cukup berlebihan.   Dulu Laura selalu mengernyitkan keningnya setiap biaya sekolah adiknya terekspos. Rasa tidak percaya selalu muncul. Bukan sekali-dua kali, tapi sering kali Laura mempertanyakan sekolah macam apa yang dimasuki adiknya sampai biayanya semahal itu. Tapi kemudian dia sadar bahwa semua itu berbanding lurus dengan fasilitas yang didapatkannya.   Bahkan sekolah Clara memiliki fasilitas kolam renang! Batin Laura ingin berteriak sekencang mungkin dengan fakta ini. Di saat sekolah-sekolah lain mungkin harus ke kolam renang tertentu untuk mata pelajaran ini, sekolah Clara tidak perlu melakukannya. Mereka semua bisa menggunakan kolam renang ini –termasuk semua fasilitas sekolah- tanpa perlu mengeluarkan biaya sepeserpun. Semua bisa mereka lakukan selama masih dalam waktu yang diizinkan, yaitu dari pagi sampai sore dengan batas jam enam sore. Di waktu itu, sekolah benar-benar sudah harus kosong, kecuali perpustakaan yang masih dibuka sampai pukul tujuh malam.   Dan Laura punya waktu dua jam untuk berenang dan menikmati olahraga pertamanya setelah menyamar menjadi Clara, batinnya setelah melirik jam yang melingkari lengannya. Ralat, dia tidak butuh dua jam. Bahkan satu jam pun tidak masalah selama dia benar-benar bisa berolahraga. Laura benar-benar harus berolahraga sebelum tubuhnya kaku. Program latihannya pasti akan terganggu kalau itu sampai terjadi.   Laura sudah meletakkan tas dan bersiap mengganti pakaiannya. Tapi keningnya mengernyit saat dia mendengar ada orang yang datang. Secara spontan tubuhnya langsung mencari tempat berlindung. Tidak boleh ada yang tahu kalau dia di sini, apalagi jika orang itu adalah teman sekelas Clara. Mereka pasti akan mencurigai dirinya karena begitu berbeda dengan Clara yang dulu. Itu tidak boleh terjadi, pikir Laura.   Langkah kaki itu semakin mendekat. Kedua tangan Laura terkepal. Dalam hatinya dia merapalkan sebuah doa semoga saja tidak hal buruk yang terjadi. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD