Part 6 : Pertengkaran Pertama
Happy Reading ^_^
***
“Hati-hati dengan tangan lo, Felixia. Jangan sekali-kali tangan lo menyentuh tubuh gue atau gue akan sangat marah. Lo denger kata-kata gue, hm?” kata Laura dengan nada rendah yang menyiratkan sikat tidak mau kalah. Ekspresinya terlihat muram sekali. Ini adalah ekspresi yang jarang sekali Laura tunjukkan pada siapa pun atau semarah apa pun dia pada seseorang.
“Apa kata lo tadi....?!!”
Felixia mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk menampar Laura. Dan Laura pun sudah siap untuk menangkisnya. Tapi tangan besar Daniel lebih dulu menangkap tangan Felixia dan menghempaskannya secara kasar.
“Ada gue di sini dan lo berani mau nampar orang? Barbar banget sih lo.” Kata Daniel dengan nada mencela. “Dan yang lebih mengherankan lagi, kok bisa ada rumor antara lo dan gue. Nggak masuk akal banget.”
Mendengar itu, Felixia langsung bersedekap dan memalingkan wajahnya dengan kasar. Dalam hatinya dia makin menyerukan kebenciannya pada Clara yang sekarang dinilai lebih kurang ajar dari sebelum-sebelumnya. Tapi bagaimana bisa? Kemarin-kemarin Clara masih terlihat seperti gadis lemah yang mudah ditindas, tapi kenapa hari ini dia terlihat berbeda? Benak Felixia terheran-heran.
“Clara, ayo pergi.”
Perhatian Felixia teralihkan berkat ajakan dari suara berat itu. Matanya mengikuti gestur tangan Daniel yang menggenggam tangan Clara dan mengajaknya pergi begitu saja. Felixia menatap Clara dan Daniel bergantian dengan tatapan marah. Berani-beraninya mereka....!
Clara sepertinya perlu diberi sedikit pelajaran, batin Felix seraya meninggalkan tempat tersebut dengan kaki yang dihentakkan secara kasar.
***
Daniel menggenggam tangan Clara dan membawanya pergi agak jauh dari tempat sebelumnya. Jika dua orang itu tetap berada di satu tempat, bukan tidak mungkin akan terjadi pertarungan sengit antar perempuan. Pertarungan itu pasti akan sangat dramatis –tebak Daniel- yang tentu saja sangat memuakkan dari sudut pandangnya sebagai seorang laki-laki.
Daniel menengok ke belakang beberapa kali dan setelah memastikan sosok Felixia tidak terlihat, dia melepaskan genggaman tangannya di pergelangan tangan Clara dengan cepat. Kali ini giliran dia yang akan menginterogasi Clara perihal aksi mengupingnya yang sangat-sangat tercela.
“Lo nguping pembicaraan gue dan Felix?” tanya Daniel dengan tangan bersedekap dan tidak mengalihkan sedikit pun tatapannya dari Clara.
Clara langsung memutar bola matanya begitu mendengar tuduhan tersebut. Dia pikir dirinya baru saja diselamatkan oleh pria itu, tapi ternyata Daniel hanya melakukannya karena ingin menginterogasi dirinya dengan nyaman. Pemikiran bahwa Daniel adalah pria yang cukup baik langsung sirna tanpa jejak. Daniel adalah pria yang menjengkelkan –titik.
“Gue nggak nguping ya. Ngapain coba gue nguping-nguping obrolan nggak guna antara lo sama Felix.” jawab Clara dengan nada cuek yang membuat Daniel gemas setengah mati.
“Terus kalo lo nggak nguping, ngapain lo sembunyi di semak-semak, hah? Dan nggak guna?” Daniel terkekeh dengan tatapan mengejek. “Jelas ini berguna banget buat kelompok lo yang hobinya ngegosip terus. Lo akan menyebarkannya ke geng gosip lo dan membuat keadaan semakin runyam. Iya kan?” tuding Daniel dengan nada menyindir yang khas sekali.
Laura tertawa sumbang. Baru sehari dia menjadi Clara dan dia sudah masuk dalam kelompok penggosip. Astaga, betapa menjengkelkannya ini, batin Laura. Laura benar-benar sedang berada pada fase menguatkan dirinya agar tidak langsung menampol wajah Daniel detik ini juga.
“Gue bener, kan? Nggak usah ngelak lagi deh.” kata Daniel lagi dengan sinis. “Kalau besok gosip antara gue dan Felix makin menjadi-jadi, semua ini pasti ulah lo. Lo yang menyebarkan semuanya dan mengubah banyak kalimat agar beritanya makin booming.”
Laura benar-benar sudah tidak tahan. Dengan dagu yang terdongak dan kedua tangan berkacak pinggang dia berujar, “Okelah tentang gue yang nguping pembicaraan kalian, tapi menyebarkannya ke seantero sekolah? Sorry aja ya, gue nggak sudi juga nyebarin rumor antara rumor lo dan Felixia. Nggak berfaedah banget tahu. Nggak penting.” tegas Laura dengan urat leher yang sebentar lagi akan putus kalau Daniel masih terus menuduhnya.
“Terus kalo beritanya sampai menyebar gimana? Siapa lagi yang bakal gue salahin kalo bukan lo?”
“Ya lo nggak bisa dong seenaknya nuduh-nuduh gue. Lo liat –ini tuh tempat umum. Siapa pun bisa lewat di sini. Gue ini cuma salah satu manusia yang ketahuan nguping –yang lainnya? Lo nggak tahu kan? Bisa aja ada iblis-iblis tak kasat mata yang memang pengen rumor kalian booming. Kalo gue sih ogah banget. Nggak penting. Gue juga nggak dapet apapun. Nggak guna banget pokoknya.”
Napas Laura begitu memburu setelah mengatakannya. Dia benar-benar terbawa emosi. Untung saja tangannya masih di pinggang dan bukannya menampol kepala pria itu. Dan sebelum emosinya meledak-ledak, Laura berbalik. Dia harus segera pergi sebelum peperangan sesi kedua terjadi antara dirinya dan Daniel.
“Clara, gue belum selesai ngomong!”
Laura mengabaikannya. Dia tetap berbalik dan meninggalkan Daniel dengan kaki yang dihentak-hentakkan kasar. Tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya. Sementara itu mulutnya terus komat-kamit menyumpahi Daniel yang sangat menjengkelkan. Ralat, Daniel lebih dari sekedar menjengkelkan. Laura tidak tahu pastinya, tapi pria itu benar-benar buruk.
Kalau bukan karena informasi di dalamnya, Laura benar-benar tidak akan sudi untuk menguping. Dan Daniel bilang dengan percaya dirinya kalau Laura akan menyebarkannya? Helaaawwww, Daniel dan Felixia tidak sepenting itu kalau bukan karena Clara! Batin Laura dengan tertawa mengejek.
Laura meninggalkan tempat pertarungan sengitnya dengan kaki yang dihentak-hentakkan. Dia berjalan dengan langkah mantap tanpa beban sedikit pun. Tapi kemudian dia tersadar akan sesuatu. Langkahnya yang terlihat buru-buru dan tanpa pikir panjang langsung terhenti. Matanya mengedar dan membulat di saat yang bersamaan. Gue nggak tahu ini di mana, anjiiirrr! Teriak Laura dalam hati.
Kepalanya mengedar dan tidak mendapatkan pencerahan sedikitpun. Belum genap seminggu Laura berada di sini dan menyamar menjadi Clara, jadi wajar kalau dia tidak tahu apa pun. Tapi yang tidak wajar adalah kenapa dirinya begitu ceroboh dan berjalan-jalan di malam hari di tempat yang bahkan tidak dia tahu? Entahlah. Mungkin otak Laura sudah tertinggal di ice rink sementara tubuhnya ada di sekolah ini.
Meskipun Daniel juga bersalah di sini –karena menyeretnya menjauhi Felix- tapi otak utama dari ide ini adalah Laura yang ceroboh. Jadi percuma juga dia menyalahkan Daniel di saat seperti ini. Tapi ada sesuatu yang lebih penting dari sekedar menghujat otaknya sendiri atau pun Daniel. Itu bisa dilakukan nanti. Yang perlu dia lakukan sekarang adalah menemukan seseorang yang bisa mengantarnya kembali ke asrama perempuan sebelum jam malam berakhir. Jika dia tidak kembali sebelum jam malam berakhir, maka sudah dipastikan dia akan mendapat hukuman karena melanggar peraturan. Atau kalau dia tidak ingin tertangkap sebagai pelanggar aturan, maka disimpulkan Laura HARUS tidur di luar semalaman.
Laura menggeleng karena tidak ada opsi yang lebih baik yang bisa dia pilih. Semuanya buruk. Tanpa pikir panjang dia langsung berbalik ke tempat sebelumnya. Sosok Daniel sudah berjalan menjauh, dan Laura langsung menyusulnya. Dengan meninggalkan harga dirinya, Laura menggenggam tangan Daniel untuk memohon pertolongan.
“Lo apa-apaan sih –astaga!” gerutu Daniel sambil berusaha melepaskan cengkeraman tangan Clara. Dia mendengus keras-keras.
“Lo harus anterin gue pulang.” Kata Laura tanpa tahu malu. Semoga saja Daniel bukan tipe manusia pendendam, doa Laura dalam hati.
“Apa? Jangan konyol, Clara.”
Dan dari jawabannya, Laura tahu kalau Daniel adalah tipe pendendam. Tapi dia masih berharap semoga saja Daniel mau mengantarkannya kembali ke asrama atau dia akan berakhir menyedihkan di sini.
“Lo nggak liat ini udah malem banget? Nggak pantes cewek seperti gue berkeliaran malem-malem sendirian.”
Laura masih mencoba peruntungannya. Dalam hati dia merapalkan doa semoga saja Daniel berubah pikiran dan mau mengantarkannya kembali ke asrama. Ekspresinya dia buat semelas mungkin akan mengusik nurani Daniel.
“Ya kalo lo tahu, kenapa lo masih keluar malem-malem, huh? Itu salah lo sendiri –paham?”
Laura mengangguk cepat. “Paham, gue paham banget malahan. Tapi, please dong, masa lo tega sih? Lo kan ketua kelas gue. Nggak bertanggung jawab banget sama anggota kelasnya.”
Daniel terkekeh. Sebelumnya dia dimarahi habis-habisan oleh perempuan itu padahal Clara-lah yang menguping. Lalu sekarang dia dicap tidak bertanggung jawab hanya karena tidak mengantar perempuan itu pulang? Demi Neptunus... Itu bahkan bukan tugasnya! Bahkan sebelumnya tidak ada yang berani mengusiknya seperti ini, tapi perempuan itu –astaga!
“Daniel, please... nggak gentle banget sih lo kalo ninggalin gue sendirian.”
Daniel memutar bola matanya mendengar permohonan Clara yang luar biasa menjengkelkan. Perempuan itu meminta sambil menyindirnya. Kalau seperti itu, sebaiknya apa yang dia lakukan? Menolong atau tinggalkan begitu saja?
“Daniel, gue takut banget. Kalo gue pingsan gimana? Atau parahnya ada orang jahat gimana?”
“Clara, kenapa lo jadi seperti ini sih? Sebelumnya lo sangat tenang, tapi sekarang sangat—” –menjengkelkan, menyebalkan, memalukan, menjijikkan– dan masih banyak kata sifat lainnya. “Lo bener-bener absurd banget.” tambahnya dengan muram.
Laura mencoba tersenyum setelah mendengar ejekan dalam kalimat pria itu. Ingatkan dia untuk membalas Daniel nanti. Tapi pertama-tama, dia harus mendapatkan pertolongan pria itu terlebih dahulu. Inilah yang terpenting.
“Daniel, please...”
Laura memohon dengan kedua tangan saling tertangkup di depan wajahnya. Tatapannya dia buat semelas mungkin agar Daniel tersentuh. Tapi alih-alih tersentuh, Daniel justru terlihat jijik sekali.
Daniel mendengus dengan keras. Perempuan itu tidak akan membiarkan Daniel pergi sebelum mengantarnya kembali ke asrama. Jadi sebelum dramanya semakin menjadi-jadi, lebih baik Daniel mengakhirinya sekarang juga. Dan dia hanya punya satu pilihan.
“Yaudah sana jalan! Gue ikutin lo dari belakang.” putusnya dengan nada galak yang khas.
“Ya lo duluan dong! Kan lo yang mau nganter gue. Plus lo itu kan laki-laki!”
Daniel memejamkan matanya sekali lagi. Gendernya lagi-lagi diungkit. Sepertinya Clara perlu diajari bagaimana caranya meminta tolong dengan cara yang baik, batin Daniel dengan muram. Kakinya melangkah lebar-lebar tanpa mempedulikan apakah Clara bisa mengimbanginya atau tidak. Masa bodoh, dia hanya perlu menunaikan pertolongan konyol ini dan tugasnya selesai.
Sementara itu tepat di belakangnya, Laura nampak tersenyum lebar karena berhasil mendapatkan pertolongan. Dia berusaha menyusul langkah kaki Daniel dengan riang seolah-olah baru saja mendapatkan hadiah paling keren. Dalam hatinya Laura bersyukur karena dia tidak harus mendapat hukuman karena melewatkan jam malamnya atau pun harus tidur di luar kamar. Dan semua ini berkat Daniel.
Okay, setidaknya kadar menjengkelkan Daniel turun satu persen, ujarnya dalam hati dengan riang.
TBC