Tindakan Tercela Pembawa Keberuntungan

1582 Words
Part 5 : Tindakan Tercela Pembawa Keberuntungan Happy Reading ^_^ ***   Laura menghela nafas entah yang ke berapa kalinya malam ini. Belum genap seminggu dan dia sudah muak dengan kehidupan sekolah formal. PR-PR ini –Laura menghela nafas lagi. Dia benar-benar tidak menyukainya. Laura lebih memilih berlatih melompat sampai jatuh berkali-kali daripada disuruh menghitung berdasarkan rumus-rumus aneh. Dan sayangnya hari ini dia tidak punya opsi itu.   Gue harus segera keluar dari ruangan ini sebelum kepala gue berasap! Tekad Laura. Dia tidak bisa bertahan lebih lama lagi kalau dia masih mengharapkan kewarasannya tetap utuh.   “Gue keluar bentar ya,” kata Laura setelah jiwanya meronta-ronta tidak kuat dengan PR-PR Clara yang memuakkan.   “Lo mau ke mana?”   Laura mematung dalam posisi setengah duduk. Otaknya berfikir keras akan ke mana dia akan pergi pada waktu malam hari seperti ini.   “Itu...” Laura berfikir keras. “Gue –gue mau beli cemilan! Ya, cemilan. Di bawah kan ada stand cemilan. Gue perlu ngemil biar ga pusing.” Laura berujar dengan tersendat-sendat. “Ada yang mau titip?” tambahnya sambil memamerkan senyum bodoh. Semoga saja tidak ada yang curiga, doa Laura dalam hati.   Else dan Viony berpandangan, lalu keduanya menggeleng. Merasa lolos, Laura langsung menyambar cardigannya dan mengenakannya sambil jalan. Kakinya melangkah secepat kilat meninggalkan kamar sebelum Else dan Viony berubah pikiran dan mencurigainya.   Membeli cemilan tentu saja bukan tujuan Laura yang sebenarnya. Bahkan sebenarnya Laura tidak pernah melakukan kegiatan ‘ngemil’ di malam hari seperti yang dikatakan pada teman-temannya tadi mengingat dia harus menjaga berat badannya demi kelancaran latihannya. Dia hanya asal bicara karena hanya itu yang cukup masuk akal. Rasanya pasti akan sangat konyol kalau dirinya bilang mau mendinginkan otaknya yang seperti sedang mendidih. Laura memang tidak terbiasa, tapi Clara pasti sangat terbiasa dengan semua ini. Jadi akan sangat aneh kalau dia mengaku muak dengan PR-PR tersebut.   Sebagai seseorang yang selama ini hidup tanpa PR seperti ini, wajar bagi Laura untuk merasa cepat muak. Satu-satunya PR yang dia punya selama ini hanya seputar kegiatan ice skating. Dia harus berlatih koreografi dan memperbaiki skill utama seorang atlet  figure skating* seperti melompat dengan berbagai tingkatan, melakukan putaran, serta menambahkan serangkaian gerakan kombinasi untuk mempercantik performance-nya di atas ice rink*. Dulu PR Laura hanya itu dan sekarang PR-nya bertambah berkat karena rasa pedulinya pada sang adik. Itu artinya dia menambah PR-nya dengan sukarela.   Laura terus berjalan sambil menarik nafas dalam-dalam. Udara cukup dingin, tapi kondisi ini jauh lebih baik daripada berada di kamar yang hangat dengan penuh pikiran yang buruk. Dia perlu udara dingin ini untuk mengembalikan pikirannya tetap pada jalurnya. Karena semakin ke sini, perasaan ‘sukarela’ untuk sang adik kembali dipertanyakan oleh batinnya.   Berpura-pura menjadi Clara, bangun pagi untuk sekolah, dan tidur sampai malam untuk belajar membuat Laura merasa tertekan. Ini bukan hidupnya. Ini bukan yang disukainya. Meskipun berkali-kali dia menegaskan kalau ini demi adiknya, tapi perasaan tidak rela terus menggerogotinya. Karena itu Laura perlu meninggalkan kamar sebelum berbagai penyesalan terus menggerogotinya dan keesokannya dia menjadi egois dengan pergi begitu saja.   Laura memeluk tubuhnya sendiri untuk meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Semuanya akan berlalu. Dia akan tahu apa yang terjadi pada adiknya. Clara akan bangun dari komanya dan baik-baik saja setelahnya. Sementara dia akan tetap ikut kompetisi dan masuk tim nasional seperti mimpinya. Semuanya akan selesai satu persatu dan membuahkan hasil yang manis. Laura yakin sekali karena dia tidak egois. Dia melakukan ini demi adiknya. Dan Tuhan pasti tidak akan membiarkan dirinya terluka setelah banyak berkorban demi adiknya. Ya, semoga saja memang begitu.   Langkah kaki Laura langsung terhenti begitu saja saat mendengar suara berisik yang terdengar secara samar-samar. Tanpa sadar dia menengok ke belakang dan menyadari kalau dirinya sudah berjalan cukup jauh. Bodohnya dia karena terlalu larut dalam pikirannya dan berjalan sejauh ini. Dalam hatinya dia bertanya-tanya bagaimana caranya kembali ke asrama nanti?   Tapi lebih dari itu, Laura justru merapalkan doa semoga saja suara berisik itu bukanlah suara hantu atau sejenisnya. Tapi suara itu terdengar nyata, batin Laura. Kepala Laura mengedar ke kanan dan kiri untuk mencari sumber suara. Dia langsung membekap bibirnya sendiri dan berjongkok saat melihat ada pasangan yang sedang bertengkar. Ada bangku kayu di dekat pasangan itu, tapi mereka bertengkar sambil berdiri. Itu berarti pertengkaran mereka sangat serius –Laura menyimpulkan.   Untuk menghormati pasangan itu, seharusnya Laura pergi. Tapi dia tidak bisa melakukan itu di saat dia mengenali si cowok yang saat ini sedang bertengkar. Cowok itu adalah Daniel. Salah satu dugaan muncul. Mungkinkah kalau si cewek yang berhadapan dengan si Daniel itu adalah Felixia? Entahlah.   Dan untuk mencari tahu, Laura mengendap-endap agar semakin dekat dengan semak-semak tinggi yang dipangkas rapi. Semak-semak itu terletak tidak jauh dari posisi pasangan yang sedang bertengkar sehingga memungkinkan Laura untuk mendengar semua yang mereka katakan dengan jelas. Dia bersembunyi di sana layaknya perempuan kurang kerjaan dan menajamkan telinganya.   Menguping memang bukan tindakan yang baik, tapi tidak apa-apa kan kalau tidak ada yang mengetahuinya? Toh Laura juga tidak akan menceritakan tindakan absurd-nya ini dengan bangga pada Viony ataupun Else. Jadi intinya hanya dia, batinnya, dan juga Tuhan saja yang tahu. Semua aman.... setidaknya untuk sekarang.   “Gue tanya sekali lagi, siapa yang menyebarkan rumor nggak masuk akal itu, hah? Jangan main-main dengan gue, Felixia.”   Mata Laura membulat. Jadi benar dugaannya kalau perempuan yang bersama Daniel saat ini adalah Felixia. Felixia –perempuan yang membuat adiknya koma saat ini. Seketika dia langsung merasa beruntung karena sudah memutuskan melakukan tindakan tercela ini. Laura mencoba menajamkan penglihatannya untuk melihat seperti apa wajah Felixia melalui celah kecil dari semak-semak yang menutupinya. Wajahnya oke, tapi attitude-nya kurang. Jadi intinya Felixia tidak cantik, Laura menyimpulkan dengan bangganya.   “Gue nggak tahu, Daniel. Berapa kali sih harus gue jawab, hah? Gue nggak melakukan apa pun yang lo tuduhkan!”   “Ya terus gimana beritanya bisa menyebar? Gue bahkan nggak kenal lo sama sekali.”   “Ya memang gue kenal lo? Sama sekali nggak, Daniel. Semua ini murni opini teman-teman kelas lo yang absurd itu.”   “Temen kelas gue absurd? Menurut gue, lo lebih absurd, Felixia. Camkan omongan gue –lo pikir gue nggak tahu apa yang lo lakuin? Lo yang menggiring publik untuk berspekulasi kayak gitu.”   “...”   “... lo yang tiba-tiba pake sesuatu yang mirip dengan kepunyaan gue, sehingga kesannya kayak kita pake barang couple. Padahal, nggak ada apa pun di antara kita. Gue udah risih banget, jadi gue ngomong sekarang ke lo. Lo dan gue nggak akan pernah ada di titik seperti yang dirumorkan. Perempuan kayak lo jelas bukan tipe gue.”   Jantung Laura berdentum cepat sekali. Rasanya hampir sama seperti dirinya sedang lari dan dibatasi oleh waktu. Menguping bukan tindakan yang benar, tapi Laura tidak merasa menyesal sudah melakukannya. Ini adalah pertama kalinya dia menguping sesuatu yang terdengan sangat seru seperti ini. Perasaan senang meluap-luap kala Daniel menolak Felixia dengan kalimat tajamnya. Tapi di sisi lain juga dia merasa Daniel sangat jahat karena berkata sekasar itu.   Laura ingin melanjutkan aksi mengupingnya, tapi kakinya sudah bergetar karena berjongkok terlalu lama. Alhasil, keseimbangannya hancur dan tubuhnya terdorong ke depan dengan cukup kuat dan membuat semak-semak yang menutupinya bergoyang. Laura memejamkan matanya sambil merapalkan doa agar dua sejoli itu tidak menyadarinya.   Tapi sayangnya Tuhan tidak ingin berbaik hati lagi. Karma langsung mendatanginya secepat kedipan mata. Dan ketika dia mendongak, sesuatu yang menakutkan melebihi hantu berdiri menjulang tak jauh dari tubuh Laura yang terduduk layaknya orang bodoh.   “Lo ngapain di situ, hah?”   Laura salah tingkah karena aksi tidak terpujinya ketahuan oleh orang tersebut. Dan karena sudah terlanjur malu jadi Laura berusaha menebalkan mukanya. Bahkan saat Felixia dengan terang-terangan menatapnya dengan marah pun Laura berusaha mengabaikannya. Dia berdehem dan berusaha berdiri seanggung mungkin. Dagunya terdongak tinggi-tinggi sebagai tanda kalau dia tidak takut sama sekali.   “Gue lagi jalan-jalan aja. Di asrama sumpek banget, jadi gue keluar buat mencari udara segar.”   Jawaban Laura membuat Felixia langsung berang. Perempuan itu salah dan dia tidak merasa bersalah sedikit pun. “Mencari udara segar di balik semak-semak? Jangan bohong, Clara!” hardiknya dengan nada tinggi.   Laura menyipitkan matanya mendengar hardikan bernada tinggi itu. Pertama, Felixia tidak sekelas dengannya, tapi perempuan itu mengenal Clara dengan sangat baik. Itu berarti mereka memang saling mengenal, entah dalam hal baik ataupun buruk. Kedua, dari caranya melafalkan nama adiknya, tidak terdengar nada canggung atau apa pun. Bahkan dari caranya menghardik pun semuanya terdengar biasa saja. Seolah-olah menghardik Clara dengan nada tinggi seperti itu sudah menjadi kebiasaannya. Laura menatap Felixia dengan muram karena dugaan-dugaannya.   “Lo menguping pembicaraan gue dan Daniel. Dan lo masih bisa menegakkan kepala lo seperti itu? Dasar nggak punya malu.”   Laura mengepalkan tangannya di kedua sisi tubuhnya. Apalagi saat telunjuk Felixia terus mengarah ke tubuhnya. Emosinya sudah di ubun-ubun.   “... kenapa diem aja? Lo harus minta maaf ke gue, Clara. Lo harus—”   Laura menangkap tangan kanan Felixia yang sejak tadi terus menunjuk ke arahnya dengan marah. Dia meremas tangan itu sebentar hingga si pemilik tangan mengernyitkan keningnya. Perempuan itu kesakitan. Tapi alih-alih langsung melepaskan, Laura justru semakin memperkuat remasannya. Dia tidak peduli ataupun takut. Mata mereka bertatapan dengan intens. Setelah merasa cukup, Laura langsung menghempaskan tangan itu ke bawah.   “Hati-hati dengan tangan lo, Felixia. Jangan sekali-kali tangan lo menyentuh tubuh gue atau gue akan sangat marah. Lo denger kata-kata gue, hm?” kata Laura dengan nada rendah yang menyiratkan sikat tidak mau kalah.   Clara mungkin sosok yang bisa ditindas, tapi Laura tidak akan pernah bisa. Alih-alih ditindas, Laura-lah yang akan menindasnya. Mulai sekarang dia akan menciptakan image baru adiknya yang akan diingat oleh Felixia-Felixia itu untuk seumur hidupnya.   Note:   Atlet Figure Skating: atlet ice skating. Cabang olahraganya adalah figure skating, makanya atlet-nya pun disebut sebagai atlet figure skating. Atau bisa juga dikenal sebagai skater. Ada banyak penyebutan, jadi jangan heran ya.   Ice rink: Lapangan ice skating. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD