Part 4 : Bergosip Itu Penting
Happy Reading ^_^
***
Bangun pagi, mandi, sekolah dari pagi sampai sore, lalu mengerjakan tugas sampai malam... Laura benar-benar harus membiasakannya dari sekarang. Atau setidaknya selama dia berpura-pura menjadi Clara. Homeschooling dengan sekolah formal pada umumnya benar-benar berbeda. Dan untuk Laura yang sudah lama meninggalkan homeschooling-nya untuk fokus pada klub ice skating-nya –semua ini terasa cukup berat. Dia yakin nilai Clara akan menurun drastis selama dia berpura-pura nanti.
Menjadi Clara benar-benar tidak mudah. Walau mereka kembar, tapi mereka hanya bertemu dua kali dalam seminggu saat weekend. Mereka tidak pernah saling mengunjungi di tempat kebanggaan masing-masing, bahkan mencuri waktu untuk bertemu di luar sekolah pun tidak pernah. Sehingga Laura benar-benar tidak memiliki bayangan bagaimana Clara ketika di sekolah. Apakah sikap adiknya yang pendiam di rumah juga seperti itu saat di sekolah? Atau justru sebaliknya? Entahlah.
Tapi Laura tidak akan menyerah. Semua pasti ada jalannya. Pertama-tama dia akan bersikap biasa saja, sampai orang-orang tanpa sadar mulai terbiasa dengan sikap Clara yang baru tanpa curiga. Ya, hanya itu yang bisa dia lakukan sekarang ini.
“Clara, ayo berangkat.”
“Oke.”
Laura menjawab dengan singkat setelah memastikan tidak ada hal yang berbeda antara Clara yang sekarang maupun Clara yang dulu. Setelah semuanya aman, Laura bergegas keluar untuk menyusul Viony dan Else yang sudah berjalan lebih dulu.
Jarak sekolah dengan asrama tidak terlalu jauh. Mereka bisa sampai hanya dengan berjalan kaki ataupun naik sepeda. Di area sekolah dan asrama, walaupun luas, tapi tetap tidak diizinkan menggunakan kendaraan bermesin yang bisa membuat polusi. Satu-satunya transportasi yang diizinkan hanya sepeda. Bahkan pihak sekolah juga menyediakan parkir untuk sepeda-sepeda tersebut yang tentunya berakhir sepi karena kebanyakan siswa memilih berjalan kaki saja.
Sebelumnya Laura berfikir kalau sekolah Clara biasa saja, tapi sekarang dia harus mengubah pikirannya yang salah itu. Sekolah Clara memang luar biasa. Uang yang Mamanya keluarkan sebanding dengan apa yang Clara dapatkan di sekolah ini. Bahkan tidak ada sampah berserakan di sepanjang jalannya menuju area sekolah. Rumput-rumput dipangkas dengan baik, dan sekolahnya... Laura rasa ini adalah sekolah terbaik yang pernah dirinya datangi.
Mamanya memang tidak pernah main-main dengan yang namanya pendidikan untuk anak. Clara diberikan sekolah terbaik untuk memotivasi semangatnya, begitu juga dengan Laura yang diberikan fasilitas terbaik dalam bidang ice skating. Semuanya mengeluarkan biaya yang banyak, tapi Laura bersyukur karena Mamanya tidak pernah mengeluhkannya di depan anak-anak. Dan tentunya dia juga bersyukur karena mereka tidak pernah kekurangan uang meski hidup tanpa seorang pria yang menafkahi keluarganya. Mereka baik-baik saja... setidaknya sebelum Clara dinyatakan koma seperti sekarang.
“Clara, sini!”
Laura tersentak ketika nama samarannya selama di sini disebut dengan begitu lantang oleh Viony. Laura yang masih mematung bak orang bodoh mengagumi kelas beserta furniture-nya langsung bergegas mendekat ke arah Viony dan Else. Dua teman Clara itu sudah duduk berkerumun bersama siswi lainnya dengan pusat satu orang yang Laura tidak tahu siapa dia.
Karena tidak ingin berbeda, Laura mendekat dan menarik sembarang kursi untuk lebih dekat dengan kerumunan. Mereka bergosip dan Laura merasa perlu mendengarkan. Yah, walau ini bukan dirinya sekali, tapi dia tetap perlu mendengarkan. Siapa tahu dia bisa mendapat sedikit informasi tentang Felixia-Felixia yang semalam disinggung oleh Else. Sekali lagi, ini bukan untuk dirinya, melainkan untuk adiknya, Clara.
Dan seperti mendapatkan angin segar di tengah-tengah panas terik yang menyengat, Laura mendengar nama Felixia dibawa-bawa sebagai objek gosipan mereka. Secara spontan Laura langsung memajukan tubuhnya sebagai pertanda kalau dia penasaran sekali.
“Daniel dan Felixia jadian!”
“Serius?”
“Demi apa?!”
“Oh my god!”
“Mereka nggak deket lho, kok bisa jadian sih? Nggak mungkin. No picture, hoax.”
“Gue ada buktinya. Nih liat...”
Suara riuh langsung menggema. Laura menatap kanan-kirinya dengan tatapan cengo. Di saat semua siswa begitu heboh dengan berita yang diklaim sangat hot news ini, Laura justru ingin tertawa keras-keras sambil membenturkan kepalanya ke dinding sekarang juga. Selain Felixia –yang itupun dia belum tahu wajahnya- Laura tidak tahu siapa itu Daniel! Alhasil dia hanya bisa tertawa –lebih tepatnya menertawakan dirinya sendiri sambil terus menyimak.
Tapi Laura mengabaikan ketidaktahuannya dan kembali mendengarkan dengan seksama. Dia harus mendengar semuanya karena siapa tahu ada clue tersembunyi yang bisa mengarah pada kenapa adiknya bisa sampai seperti ini.
“Ada yang bilang kalau mereka udah jadian dari liburan semester kemaren, tapi yah, who’s know. Intinya sekarang mereka jadian.”
“Kok bisa sih... Felix ini beruntung banget ya. Baru masuk delapan bulan lalu dan udah berhasil ngegaet anak pemilik sekolah ini.”
“Bener banget. Hebat banget tekniknya. Untung cantik.”
“Nggak begitu cantik ah, masih cantikan juga gue...”
“Dia cuma beruntung aja. Palingan beberapa hari dah ditendang tuh. Daniel itu punya segalanya. Levelnya pasti no kaleng-kaleng kayak Felixia itu.”
“Okelah ada buktinya, tapi yakin banget ini bener gitu? Felix dan Daniel itu nggak pernah keliatan sweet gitu. Okelah kalo Daniel emang cowok cool yang nggak lebay, tapi masa iya ke pacarnya datar ajaaaa. Nggak percaya gue masian!”
“Nggak mungkin salah! Informan gue terpercaya,” kekeuhnya. “Lagian bisa aja mereka pura-pura saling anti padahal mah lengket kayak lem kalo di belakang kita. Kita aja yang nggak tahu!”
Laura tidak tahu harus mendengar lalu percaya kubu sebelah mana. Semua memiliki pemikiran masing-masing dan mengutarakannya secara bersahut-sahutan. Ya, memang hanya Laura yang tidak punya pemikiran sama sekali. Dia tidak tahu apa-apa tentang sekolah ini, lalu tiba-tiba saja dia disuguhkan gosip terpanas begitu dia duduk untuk pertama kalinya di kelas ini. Wajar sekali kalau dia tidak tahu apa pun dan merasa semua ini tidak penting.
Tiba-tiba saja kerumunan penggosip itu buru-buru bubar dan duduk rapi di tempatnya masing-masing. Laura yang sibuk dengan pikirannya gagal bubar secepat teman barunya –dan ditambah juga dia tidak tahu di mana Clara sebelumnya duduk- dan menjadi pusat perhatian saat ini, terutama di kalangan penggosip.
Seketika dia bingung. Dia menengok ke kanan untuk meminta penjelasan pada kawanan penggosip tadi dan tidak ada jawaban. Mereka menatap lurus ke depan seperti tidak terjadi apa pun sebelumnya. Ralat, lebih tepatnya seperti ada setan di sisi kanan dan kiri tubuhnya. Dan ketika Laura menengok ke arah kiri, kepalanya dihadang oleh sebuah tubuh besar berdiri di sebelahnya. Laura mendongak.
Laura yang tidak tahu apa pun hanya menatap pria itu dengan berkedip beberapa kali. Pria itu juga menatap ke arahnya. Matanya menyipit seolah-olah mengejek. Mata Laura membulat ingin marah, tapi dia tahan. Dia tidak boleh merusak citra adiknya yang sangat lemah lembut, tidak seperti dirinya.
Laura mendengar desisan keras yang dipaksakan. Dia melihat Viony yang menggerakkan bibirnya. Laura memerhatikan dengan otak yang berfikir keras. Untung saja perempuan itu melakukan gerak tubuh yang cukup memperjelas bibirnya yang komat-kamit.
Intinya adalah: Kembalikan kursi itu ke tempatnya. Kemarilah. Ini tempat dudukmu, bodoh!
Detik itu juga jantung Laura langsung bertalu-talu. Buru-buru Laura mengembalikan kursi yang didudukinya ke tempat sebelumnya, kemudian dia menatap pria yang sepertinya pemilik kursi tersebut. Dengan cengiran bodohnya dia berkata, “Sorry, sorry.”
Stupid banget sih lo, Laura! Ejek batinnya dengan gemas.
***
“Gara-gara lo ya Daniel jadi tahu kalo kita ngerumpiin dia. Lo liat nggak matanya udah kayak mau keluar pas dia ngumpulin tugas kelompok tadi? Lo sih b**o banget nggak langsung kabur pas dia dateng.”
Viony menggerutu dengan gaya khasnya yang berlebihan. Laura hanya menunjukkan cengiran bodoh. Mana dia tahu kalau pria yang berdiri menjulang di atasnya tadi adalah Daniel. Dan mana dia tahu juga kalau kursi yang dia tarik sembarangan tadi adalah kursinya Daniel. Dan gara-gara ini, mata Daniel terus melotot ke arahnya sampai kelas berakhir. Kenapa dia jadi tersangkanya di saat dia hanya ikut-ikutan dan tidak tahu apa pun? Menjengkelkan sekali.
“Sorry, sorry, refleks gue buruk banget.” Laura berkilah dan mengakhirinya dengan cengiran tanpa dosa. Dalam hal ini memang seharusnya dia tidak berdosa. Kan dia tidak tahu apa-apa!
“Dari jaman dahulu kala emang refleks lo jelek banget. Untung aja si Felix nggak ada di kelas itu. Coba kalo ada, mungkin dia udah nyinyir karena digosipin kayak gitu.”
Seperti biasa, Viony selalu menjadi yang paling heboh di antara mereka bertiga. Laura menyimak karena bisa jadi ada informasi tambahan tentang Felixia selain yang tadi dia dapatkan berkat bergosip di kelas. Tapi sejauh ini Viony tidak mengatakan sesuatu yang penting. Yang dikatakan oleh teman Clara itu lebih tepatnya tidak ada yang penting. Seketika dia bertanya-tanya, kenapa adiknya yang pendiam seperti orang sok misterius itu berteman dengan anak seceria Viony? Cara Clara memilih teman memang unik, pikirnya.
“Els, nggak mungkin banget kan kalo Felixia itu jadian sama Daniel? Dia cantik sih, tapi gue nggak suka. Makin semena-mena dia nantinya gara-gara jadian sama anak yang punya sekolah!”
Kali ini Viony berbicara pada Else. Dia sadar karena Clara tidak mungkin mengurusi hal seperti ini secara berlebihan, jadi Else-lah tempat pembuangan semua keluh kesahnya.
“Udah sih, nggak usah ngurusin urusan orang lain. Mau Felixia sama Daniel jadian atau nggak, itu nggak ada urusannya sama kita. Selama kita nggak pernah berantem sama Felixia, kita aman. Dia nggak mungkin secara tiba-tiba ngusik kita.” kata Else dengan suara cuek yang terkesan tidak peduli pada hal seperti itu.
Dan Viony langsung komat-kamit karena tidak ada satu pun temannya yang bisa diajak bergosip. Ya, inilah efeknya kalau dia berharap lebih hanya karena Else sedikit lebih baik dari Clara. Mereka berdua setipe, walau Clara jauh lebih mengenaskan kadarnya.
Di tengah kejengkelan Viony tentang Daniel dan Felixia yang berpacaran serta ketidakpedulian Else pada apa yang dikatakan oleh Viony, Laura nampak berfikir keras. Dia berusaha mencerna semua perkataan yang didengarnya karena merasa ada info tersembunyi di dalamnya.
Informasi pertama, Felixia tidak sekelas dengan dirinya. Kedua, Felixia itu cantik. Ketiga, Felixia suka mengintimidasi orang lain. Keempat, mereka tidak pernah bertengkar dengan Felixia.
Ada keganjilan dari informasi-informasi itu. Else mengatakan ‘kita tidak pernah bertengkar dengan Felixia’ lalu apakah Clara juga termasuk dengan golongan kita itu? Kalau Clara dan Felixia tidak pernah bersinggungan, lalu bagaimana mungkin adiknya bisa kecelakaan saat bersama Felixia seperti yang pernah disinggung oleh Else? Apakah mereka berteman dan kecelakaan itu adalah ketidaksengajaan? Laura menggeleng tidak yakin.
Mulut Laura gatal karena ingin bertanya tentang Felixia-Felixia itu lagi, tapi dia berhasil menahannya dengan baik. Kalau dia sampai menanyakannya, Viony dan Else pasti akan curiga. Dari cara mereka mengungkapkan sosok Felixia yang luar biasa, mustahil tidak ada yang tahu. Terlebih lagi Felixia adalah murid baru dan Clara adalah murid lama sekolah ini. Rasanya pasti konyol sekali.
Sekarang cukup itu dulu, batin Laura. Dia yakin ada banyak informasi yang akan dia dapat kalau dia bersabar.
TBC