2

1161 Words
Tubuh manusia itu terlihat sangat pucat, dadaku berdesir hebat. Bulu kudukku meremang melihatnya. Aku ingin berteriak dengan keras, tapi tenggorokanku tercekat kuat. Dengan tangan bergetar, kucoba untuk berdiri. “Emh!” desah manusia itu. “Apakah kamu masih hidup?” tanyaku, mencoba memastikan keadaan orang itu. Dengan pelan kaki ini melangkah mendekatinya. Lelaki berbibir tipis itu enggan menyahut pertanyaanku. Keadaannya sangat mengenaskan. “Are you okay?” kali ini aku benar-benar khawatir melihatnya. Dia terlihat ingin menjawab pertanyaanku, tapi mulutnya sulit digerakkan. Kupindai keadaan sekitar, tak ada seorangpun di sini. “Okay. Permisi, aku akan membawamu ke rumah sakit. Kau terlihat sangat mengkhawatirkan, sebelum ajal menjemput tak ada salahnya jika aku berusaha membawamu ke tempat berobat. Setidaknya jika nanti benar-benar meninggal, aku tidak memiliki penyesalan telah menelantarkanmu di sini,” cerocosku padanya. Entah lelaki itu mendengar perkataanku atau tidak, setidaknya aku sudah memberitahunya kan kubawa kemana tubuh lemas itu. Badan itu sangat berat hingga aku kesulitan memasukkannya ke dalam mobil. Namun, karena tekat dan semangatku yang besar pada akhirnya lelaki itu sudah bisa tergeletak di kursi penumpang. Kulajukan kendaraan roda empat ini ke rumah sakit terdekat. Sesekali kulirik keadaan orang itu lewat spion dalam. Ketika sampai aku langsung meminta seseorang untuk membantuku mengeluarkan pasien itu. Perawat dan dokter di sana dengan cekatan merawat lelaki yang baru saja kutemui itu. “Apakah ibu keluarganya?” tanya seorang dokter padaku. “Oh, bukan Dok. Saya hanya temannya.” “Apa tidak ada keluarga dari pasien?” Aku hanya menggelengkan kepala sembari memamerkan senyum lebar pada Pak Dokter. “Kalau begitu mari ikut ke ruangan saya,” ucapnya. Dokter itu memberitahukan riwayat penyakit yang diderita lelaki itu. “Jadi pasien harus melakukan operasi secepatnya agar segera sembuh.” Aku termenung mendengar penuturan dokter. Biayanya cukup besar. Rasanya sangat bimbang, mengingat tak ada keluarga dari lelaki itu, otomatis aku yang bertanggung jawab padanya. “Emm... lakukan saja Dok. Saya segera mengurus administrasinya sekarang.” “Baik Bu.” “Kalau begitu saya izin undur diri Dok. Terima kasih.” Kakiku langsung berjalan ke administrai untuk menebus biaya operasi lelaki antah berantah itu. Karena tak ada satupun data yang kuketahui mengenainya, aku pun kembali ke ruangannya. Terlihat dia yang belum sadarkan diri. Tiba-tiba ponselku berdering cukup hebat di saku blazer. Ternyata ada sebuah video call. “Hallo...” “Hallo May, ini sudah larut kenapa belum pulang?” tanya Santi sahabatku. “Aduh maaf San. Aku lupa mengabarimu, tiba-tiba kejadian tak terduga. Aku titip Bimo dulu ya, boleh kan?” tanyaku risau. “Huh, dasar! Iya, lain kali kabarin dong! Bikin khawatir saja kamu ini.” Wajah wanita itu terlihat kesal. Aku hanya bisa nyengir kuda. Dia adalah salah satu orang terbaik yang ada di sisiku ketika berada di keadaan menyedihkan. “Liat Bimo sebentar dong,” pintaku padanya, rasa kangenku tiba-tiba menyeruak begitu saja. Sinta segera memperlihatkan putra tercintaku. “Hallo Mama... Hari ini Bimo bisa menggambar garis loh,” ucap Sinta. Terlihat Bimo yang beringsak ingin lepas dari pelukan sahabatku. “Wahhh... anak Mama pintar banget.” Senyum merekah tiba-tiba tercetak di wajahku, mata ini pun terasa sangat panas melihatnya. Sebagai orangtua dari anak yang menyandang autisme, ada kebanggaan tersendiri mendengar Bimo mengalami kemajuan. Mungkin ini terdengar seperti kemampuan kecil, tapi untuk buah hatiku itu terasa menakjubkan. “Iya dong Ma... Bimo kan anak yang cerdas,” jawab Sinta membalas ucapanku. Aku hanya menganggukkan kepala, menyetujui perkataan Sinta. “May... Are you okay?” “I’m okay. Hanya terharu saja, hehe...” kekehku. Mengingat hari yang sangat berat, kini menghilang begitu saja mendengar kabar baik mengenai anakku. “Kalau ada apa-apa cerita ya May. Kamu tidak usah khawatir tentang Bimo. Dia aman sama aku, ditambah hari ini suamiku juga tidak bisa pulang. Jadi aku bisa menjaga Bimo, dan kamu jangan sungkan ya,” tutur Sinta dengan lembut. Aku hanya mampu menganggukan kepala. “Okay, kalau begitu aku tutup dulu video call nya ya. Sudah waktunya Bimo tidur, jangan lupa makan May.” “Iya. Makasih Sin,” jawabku. Sambungan telepon pun terputus. Kini keheningan menyelimuti ruang inap ini. Air mataku enggan berhenti menetes, rasa terharu sekaligus sedih bercampur aduk menjadi satu. Menjadi ibu dari seorang anak autis tidak semudah itu. Apalagi keluarga menolak atas kehadiran Bimo. Siapa yang tak sakit hati menerima buah hatinya dipandang sebagai aib. Rasanya memang sangat berat, tapi seiring berjalannya waktu aku bisa melaluinya. Berkat bantuan beberapa orang hingga kini aku bisa bertahan hidup. “Emh...” erangan lelaki itu membuyarkan lamunanku. Aku segera menghampirinya. “Ini dimana?” tanyanya lemas. “Di rumah sakit.” “Siapa kamu?” tanyanya kaget. “Malaikat maut!” Mata lelaki itu melebar. Aku terkekeh melihatnya, sangat lucu. “Apa kau percaya dengan perkataanku barusan? Konyol sekali.” Dia mendengkus kesal. “Kenapa kamu membawaku ke rumah sakit?” Alis lelaki itu berkerut. Kurapatkan mataku, pertanyaan itu terdengar seperti lelucon. “Tidak usah banyak tanya. Isi formulir ini sekarang.” Kusodorkan formulir padanya. Dia terlihat kebingungan. “Kamu terkena usus buntu atau apendektomi sedang. Jadi dokter menyarankan untuk segera dioperasi. Aku akan membayarnya, kamu tinggal mengisi formulir itu.” “Biayanya cukup banyak, apa kamu punya uang sebanyak itu?” tanyanya tanpa berkedip. “Kalau aku bilang akan membayarnya berarti aku memiliki uang sebanyak itu. Cepat isi! Jangan banyak bicara.” Dengan hati-hati pria itu langsung menorehkan sederet huruf memenuhi ruang kosong dalam kertas. “Tristan Bolgamara, bagus juga namamu.” Tristan hanya melirikku sekilas tanpa menyahuti apapun. Sangat dingin! Lelaki itu mengisi semua data yang diperlukan. Dan ketika selesai, ia segera memberikannya padaku. “Aku langsung pulang ya. Semua biaya bakal aku bayar kok. Tenang aja,” ucapku sembari mengambil tas yang tegeletak di sofa. “Boleh aku pinjam ponselmu?” “Buat apa?” Aku sangat curiga pada lelaki itu. “Aku harus menelpon keluargaku terlebih dahulu,” jawabnya. Dengan penuh pertimbangan akhirnya kuberikan ponsel itu padanya. Terlihat Tristan yang sibuk menekan sederet nomor di sana. “Ini nomorku, aku akan mengganti biaya operasiku. Kamu kirim nomor rekeningmu lewat nomor ini,” ucapnya. “Tidak usah, anggap saja ini rejekimu yang hampir bertemu ajal.” “Kamu sangat sombong Nona,” cetusnya. Aku tersenyum tipis menanggapi perkataan itu. “Aku hanya membantumu, bukannya berterimakasih kamu justru menyindirku seperti ini. Tidak sopan!” Tanpa pikir panjang langsung melangkahkan kakiku keluar dari ruangan pria antah berantah tersebut. Dia benar-benar orang yang tidak tau diri. “Kalau tidak mau diganti uang, biarkan aku membalas budi dengan hal lain. Hubungi aku jika kamu memiliki masalah,” lanjut Tristan. Aku tak menjawab apapun. Ingin segera menyelesaikan administrasi dan pulang bertemu dengan Bimo. Kugenggam tiga amplop coklat yang sebelumnya berisi lembaran uang, kini telah kosong tak tersisa. Rp9 juta melayang begitu saja. “Hahh... Ya Allah jika ini hanya rejeki lewat, engkau pasti menggantinya secepat mungkin bukan?” kutengadahkan pandangan menatap langit yang bertabur bintang. Ketika sampai di depan rumah, aku terkejut dengan kehadiran David, mantan suamiku. “Maya,” panggilnya yang baru saja keluar dari mobil.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD