Lelaki yang membuangku demi kehormatan keluarganya kini berani menunjukkan batang hidungnya. Dua tahun lalu dimana aku yang menyandang sebagai istri direktur di salah satu perusahaan pangan terbesar negara ini, tapi semua runtuh ketika aku bercerai dengan suamiku. Dari awal memang aku tak direstui menikah dengan David, mantan suamiku. Namun, karena kegigihan lelaki itu membuat keluarganya tunduk dan menerimaku dengan terpaksa. Sangat disayangkan, saat pernikahan berjalan di tahun ketiga tiba-tiba aku dipermalukan dengan k**i. Bukan tanpa alasan, mereka melakukan hal itu karena kehadiran Bimo. Buah hati hasil hubungan cintaku dengan David mengidap autism, dan keluarganya menganggap itu sebagai aib. Masih teringat dengan jelas bagaimana mereka mencaciku dengan kasar bahkan David tak berkutik dan memilih keluarganya.
“Maya, detik ini juga aku menceraikanmu!” seru David menggelegar di ruangan pertemuan keluarga. Aku hanya terpaku mendengar perkataan itu.
“Astaghfirullahaladzim! Ada apa Nak David? Kenapa kamu menceraikan Maya, salah dia apa?” tanya mamaku yang terkejut mendapati anaknya tiba-tiba diceraikan.
“Dia melahirkan anak cacat! Keluarga kami tidak bisa menerima anak i***t itu!” caci ibu mertua sembari menunjuk Bimo yang berada di dekapanku.
“Apa maksudnya?” waktu itu aku masih kebingungan dengan konflik yang kami hadapi.
“Bimo autis May,” jelas David dingin.
“A-apa!?”
“Kami tidak bisa menerima kehadiran anak cacat itu! Makanya kami meminta kamu dan orangtuamu untuk menyetujui perceraian ini.” Ibu mertua melirikku dengan tajam. Semua anggota keluarga memandang rendah aku.
“Dia bukan anak cacat Ma! Dia anak istimewa yang diberikan tuhan untuk aku dan Mas David!”
Suami yang aku andalkan ketika dirundung kini tak berpihak sedikitpun, justru memilih meninggalkan ruang pertemuan dan sejak itu aku tak pernah bertemu dengannya. Dan pada hari itu juga aku langsung diusir dari kediaman kami.
“Pergi dari sini sekarang! Keluargaku sudah tak sudi menerima kalian di sini.” Ibu mertua melemparkan tas besar yang berisikan uang dan emas. “Bawa ini dan jangan pernah mengusik kami!” lanjutnya. Masih kuingat mendiang ibuku yang menangis tersedu-sedu mendapat perlakuan k**i dari mertuaku.
“Kamu yang kuat ya Sayang, Mama akan membantumu merawat Bimo. Maafkan Mama...” Kata maaf berkali-kali diucapkan wanita itu. Dia merasa gagal menjadi ibu yang baik untukku karena tak bisa membawa ayah kembali ke pelukan kami hingga ia dijemput ajal setahun yang lalu. Dengan dasar inilah keluarga David tak menyukaiku. Karena aku adalah anak broken home yang tak memiliki ayah.
Kehadiran lelaki itu secara tiba-tiba membuatku ingin muntah. Dadaku bergemuruh hebat menatapnya. Tak hanya itu, kepalaku terasa pening ketika mencium aroma tubuhnya. Wangi parfum yang selalu kurindukan siapa sangka sekarang bagaikan racun.
“Maya... sudah lama tidak bertemu,” ucapnya dengan senyum semringah. Tanpa menjawab, segera kulangkahkan kakiku menuju pintu masuk.
“May, aku ingin bicara sebentar,” pintanya sembari mencengkram tanganku yang akan membuka daun pintu.
“Lepaskan.”
“Aku mohon.”
“Satu menit,” jawabku tanpa menatap David.
“Terima ini.” Lelaki itu menyondorkan paper bag yang berukuran cukup besar. “Gunakan ini untuk memenuhi kebutuhanmu dengan Bimo. Maafkan aku yang tak pernah menghubungi kalian.”
Kulihat isi tas itu, sekumpulan uang berwarna merah tertata rapi di sana. Kutelan saliva yang memenuhi mulut dengan paksa. Sangat menggiurkan! Mengingat dompetku dalam kondisi kosong melompong membuat paper bag itu seperti harta karun.
Aku cukup lama berpikir ketika akan mengambil benda itu. Namun, David dengan cekatan memberikannya padaku. Dengan terpaksa aku menyampingkan rasa gengsi demi uang itu. Aku pun menerimanya, David tampak senang melihat responku.
“Em... lalu ini.” Ia nampak ragu ketika menyondorkan selembar kertas. Tidak, itu bukan kertas biasa melainkan undangan pernikahan.
“Maafkan aku, kuharap kalian mau datang ke acara ini.”
Aku hanya menerimanya tanpa berniat membaca isi undangan itu.
Tak menggubrisnya lagi, aku pun masuk ke dalam rumah. Meninggalkan pria yang kucintai sendirian di sana. Hatiku terasa di cabik-cabik mendapatkan undangan pernikahan ini. Ditambah, orang yang mengantarkannya adalah David, lelaki yang hingga sekarang masih aku cintai dan belum tergantikan oleh siapapun. Tubuhku tersimpuh di lantai yang dingin, sedingin hatiku yang sedang tersakiti oleh realita.
“Secepat itu kamu mengganti namaku di hatimu Mas.”
Buliran air mata menetes seiring dengan isakan tangis. Hari ini benar-benar terasa melelahkan. Badan dan hatiku terasa remuk. Untungnya putraku sedang berada di rumah Sinta. Jika tidak, entah bagaimana nasibku. Emosi yang tak stabil akan menghadirkan amarah yang besar apabila aku mengasuh Bimo malam ini.
Pancuran shower enggan meredakan eranganku yang kesakitan saat menerima kenyataan. Rasanya seperti dihantam meteor bertubi-tubi. Dunia terasa runtuh kembali, sempat terbesit lelaki itu akan membawaku kembali ke kehidupannya. Siapa sangka dia justru menggantinya dengan perempuan lain.
“AAaarrrrggghhhh!!!!”
***
Keesokan paginya, kepalaku terasa pening. Sepertinya aku demam karena terlalu lama berada di kamar mandi.
“Kenzo, hari ini aku absen. Tiba-tiba badanku demam.” voice note itu kukirimkan pada lelaki biadab. Tak menunggu waktu lama, tiba-tiba telepon dengan nama kontak Kenzo muncul di sana.
“Hallo.”
“Hallo May, sakit apa kamu?”
“Demam.”
“Bodoh! Bagaimana bisa kamu terkena demam? Dasar lemah!” makinya. Benar-benar lelaki j*****m.
“Diamlah berengsek! Aku ingin istirahat sekarang!?” sentakku padanya. Kekesalan ini sangat sulit dikendalikan.
“Okay. Aku kirimkan sarapan untukmu. Makan itu dan minum obatnya. Sinta akan ku kabari untuk membawamu ke rumah sakit,” cerocosnya seperti rel kereta api.
“Tidak usah. Aku akan ke rumah sakit dengan Bu Yati. Dia sudah ada di rumahku sekarang,” ucapku yang mendapati Bu Yati sedang mengambil baju kotor di kamar mandi. Wanita itu hanya memberikan jempol kepadaku.
“Jangan bohong.”
“Aku serius Zo. Ya kan Bu?”
“Iya Mbak,” sahut Bu Yati ketika akan keluar dari kamarku.
“Kamu dengar kan?”
“Oke-oke. Kalau begitu sarapannya jangan lupa dimakan.” Tanpa menunggu jawabanku, Kenzo sudah memutuskan sambungan telepon tersebut.
Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 10.00 WIB. Segera ku pinta Bu Yati untuk memesan Gocar.
“Mbak, mobilnya sudah ada di depan.”
“Oh iya.”
Kami pun menuju rumah sakit, tempat di mana Tristan menginap. Tujuanku ke sini juga ingin menengok keadaan orang itu. Meskipun dia sangat menyebalkan, tapi aku tetap saja kepikiran padanya. Bisa saja pagi ini dia sudah dijemput malaikat maut tanpa sepengetahuanku.
Di lobi saat aku menunggu nomor antrian bersama Bu Yati, tanpa sengaja melihat Rosa yang baru saja keluar dari ruang dokter obgyn. Sayangnya dia tak melihatku karena penampilanku yang tertutup rapat memakai hoodie dan masker.
“Kenapa dia?” gumamku penasaran.
“Kenapa Mbak?” tanya Bu Yati yang ikut penasaran karena aku berbicara sendiri.
“Eh tidak Bu. Aku hanya penasaran dengan wanita itu,” aku menunjuk Rosa yang sedang berdiri di depan.
“Nomor antrian 55!” panggil suster.
“Mbak giliran kita.”
“Eh Bu, aku masuk sendiri saja. Ibu pantau perempuan itu ya,” pintaku.
“Iya Mbak.”
Aku langsung menghampiri suster yang menungguku di sana. Aku sempat menoleh melihat Rosa, dia masih berdiri di depan rumah sakit sembari sibuk memainkan ponselnya.