“Maya, kita bicara sebentar.”
“Aku sibuk, kita bicara lain kali saja.” Kakiku melangkah meninggalkan orang itu.
“Kapan? Katakan yang jelas kapan kita bisa bicara,” protesnya.
“Pulang kerja.”
Helaan napas terdengar dari orang itu. Aku sudah bertekad untuk tak terlalu dekat dengannya. Ini hanya merugikanku saja.
Warga kantor memberiku tatapan mengintimidasi, ini sangat wajar mengingat kejadian kemarin lusa. Gosip itu pasti sudah menyebar.
“Dasar tidak tau malu. Padahal sudah mencoreng nama baik perusahaan,dengan percaya dirinya masih kerja di sini.”
“Kalau aku sih sudah resign.”
“Padahal berhijab, bagaimana dia bisa setega itu merebut laki orang.”
“Oh jadi ini pelakor rumah tangga manajer marketing.”
Perlahan telingaku terasa panas mendengar makian mereka. Ku percepat langkah kaki saat pint lift akan tertutup. ”Tunggu!” teriakku pada orang yang ada di dalam.
“Ah! Terima kasih Pak,” ucapku seraya menundukkan kepala. Berkat dirinya aku tidak ketinggalan lift. Ku tekan tombol ke lantai empat, tempat divisiku berada.
Lelaki itu melirikku sekilas. “Maya ya.”
“Iya.” Aku terkejut dia mengetahui namaku.
“Yang sabar ya.”
“Hehe... Iya Pak. Saya permisi dulu, terima kasih,” balasku ketik pintu lift terbuka. Entah apa yang dimaksud pria itu, tapi dia cukup menenangkanku karena masih ada orang berhati baik.
Gunjingan tak kunjung berhenti, rekan kerja di divisi pun tak berhenti berbisik membicarakanku.
“Maya laporan!” ucap Kenzo yang baru saja masuk.
“Baik Pak.” Ku ambil beberapa dokumen yang sudah berada di dalam map. Kuharap akan mendapatkan bonus lagi karena ada beberapa tugas Kenzo yang kukerjakan.
“Sssttt! Pasti mereka akan saling menggoda di dalam sana,” bisik Putri pada Tina. Bersikap bodoamat merupakan cara terbaik saat ini.
Ketika masuk ke dalam ruangan, kulihat Kenzo akan menekan remote untuk menutup gorden ruangannya.
“Pak, apa boleh jika gordennya kita buka saja?” pintaku padanya. Dahi lelaki itu mengerut.
“Kenapa?”
Aku hanya memberikan senyuman.
“Oh oke.” Kenzo menaruh remote itu kembali. Di luar terlihat beberapa rekan kerja yang mengintip kegiatan kita. Aku dan Kenzo hanya fokus membicarakan dokumen pekerjaan kami.
“Baik May. Kerjaanmu sudah sangat bagus, bonusnya aku kirim lewat M-Banking ya,” ucap Kenzo mengakhiri pemeriksaan.
“Baik Pak.” Aku pun keluar dari ruangan itu.
“Wih dapat bonus nih!” cibir Tina kepadaku.
“Bagi-bagi dong May! Kan kamu sudah punya banyak bonus dari Pak Kenzo, tanpa kerja lagi,” sahut Putri.
Aku hanya tersenyum mendengar cibiran mereka. Rosa melirikku dengan dingin.
“Gimana nih Rosa. Kan pekerjaan Pak Kenzo yang ngerjain kamu. Eh malah wanita gatal ini yang dapat!” protes Tina. Rosa tak menanggapi hasutan Tina, dan memilih untuk melanjutkan pekerjaannya. Awalnya aku mengira Rosa juga mengerjakan tugas dari Kenzo karena ia sering ke ruangannya ketika pulang kerja, meskipun tak sesering aku. Semua orang menganggap Rosa sedang lembur. Tapi siapa sangka wanita itu selama ini sedang memadu kasih dengan suami orang. Sayangnya yang kena imbasnya adalah aku.
‘Tuhan tidak tidur May. Semua akan mendapatkan balasannya!’
Kling! Sebuah notifikasi masuk ke dalam ponselku. Ternyata pemberitahuan transferan dari Kenzo, dan sebuah pesan dari Tristan. Aku baru menyadari ada pesan Tristan.
Segera kubuka pesan itu.
[Operasiku berjalan lancar. Jika ada masalah jangan lupa menghubungiku.]
Tanpa sadar bibirku tersenyum membaca kalimat itu.
“Dia seperti mengharapkanku mendapat masalah. Naudzubillah min dzalik.”
***
Hari-hari berlalu dengan cepat, aku pun menjalaninya dengan tenang. Seseorang yang memintaku meluangkan waktu pun, tak datang menemuiku sepulang dari kantor. Entah apa yang dilakukannya, tapi kuyakin orang itu sudah tak membutuhkanku lagi.
“Mbak Maya. Obat Bimo sudah habis,” ucap Bu Yati sembari memperlihatkan kotak yang kosong melompong.
“Hahh... kali ini dia terlalu banyak mengonsumsi obat ya Bu. Ini masih 2 bulan loh.”
“Nak Bimo sering tantrum sampai kejang Mbak. Di tambah Mbak Sinta kan semakin jarang ke rumah. Jadi Ibuk bingung buat nenanginnya,” keluh Bu Yati. Aku jadi merasa tak enak hati karena berkomentar seperti itu.
“Maafin Maya ya Bu. Omongan Maya tak bermaksud menyudutkan Bu Yati,” sesalku.
“Tidak perlu minta maaf Mbak. Ibuk juga pasti mengeluh jika berada di posisi Mbak Maya. Ditambah harga obatnya Nak Bimo kan sangat mahal. Tapi, sekarang Bimo makin lancar berhitungnya Mbak. Kemarin tau sendirikan bagaimana dia mengerjakan soal penambahan dan pengurangan.” Kalimat itu sangat menenangkanku. Dan ya, Bimo sekarang sudah bisa mengerjakan soal matematik dasar. Dia bahkan betah mengerjakan soal-soal yang ada di dalam buku hingga tuntas. Menata lembaran uang yang kuberikan padanya dengan teliti. Satu hal lagi, Bimo bahkan menyadari jika dia kehilangan uang, ini lah yang sering membuatnya tantrum.
“Nanti sore aku belikan ya. Hari ini kalau Bimo tantrum langsung telpon Sinta aja ya Bu.”
Hari ini di kantor terdapat evaluasi untuk kinerja para karyawan. Hampir semua rekan kerjaku merasa gelisah dengan hasil pemeriksaan itu. Aku cukup tenang karena selama kerja aku melakukan tugas sesui dengan SOP. Selama mengumpulkan laporan pun aku jarang diminta revisi.
Posisiku sekarang aman, tapi Putri, Tina, dan Rosa memiliki beberapa pelanggaran yang cukup fatal. Itulah yang membuat mereka bertiga menggerutu sepanjang waktu. Rosa yang biasanya terlihat tenang ikut keteteran mengerjakan tugas yang sempat dia lupakan.
Ketika jam pulang sudah tiba, aku pun langsung melajukan mobil menuju tempat COD obat Bimo. Untuk mendapatkan obat itu sangat sulit, sehingga aku memilih untuk mencarinya dengan cara jasa titip orang yang suka traveling ke Amerika.
Kali ini orang itu memintaku untuk datang ke sebuah rumah makan pinggir kota.
“Kenapa bertemu disini Pak? Tempatnya sangat mencurigakan,” protesku. Warung kecil dengan lampu temaram membuat siapa pun akan berpikiran aneh-aneh melihat kami di sini.
“Sekalian jalan ke Jawa Barat Mbak,” jawab lelaki itu. Namun, raut wajahnya terlihat gelisah. “Mana uangnya Mbak? Saya harus segera pergi. Konsumen lainnya sudah menunggu.”
Aku menghela nafas, tak biasanya dia terburu-buru begini. Lelaki yang kukenal dengan nama Nadlan itu biasanya akan menawari berbagai macam obat lainnya. Hari ini dia terlihat begitu gugup, bahkan ketika menyodorkan sebungkus obat tangannya tremor hebat.
“Saya pamit dulu ya Mbak. Hati-hati di jalan,” ucapnya berlalu pergi meninggalkanku.
Krrttt... suara perut memberontak ini membuatku meringis. Tanpa sadar aku lupa makan sedari siang.
“Bu... rawon sama es teh ya,” pesanku sembari memberikan selembar uang lima puluh ribu. Ibu itu segera memberikan kembalian.
Terpaksa aku menunda waktu untuk pulang, karena lambungku yang kosong memaksa untuk diisi.
Tak lupa juga tak lupa menelpon Bu Yati untuk memberitahunya jika pulang telat.
“Hallo Bu, hari ini aku pulang telat. Aku lagi beli obat tapi tempat COD nya jauh banget. Titip Bimo ya.”
Penjaga warung menyajikan sepiring rawon lengkap dengan es teh, aromanya begitu menggugah selera siapa pun. Harumnya kuah berwarna coklat keruh itu membuat salivaku mengumpul di rongga mulut.
“Iya Bu. Maya tutup teleponnya ya. Assalamualaikum,” tukasku yang tak sanggup menahan gejolak nafsu menyantap makanan di atas meja kayu itu.
“Hmm... rasanya lezat sekali,” pujiku sambil menikmati campuran rempah-rempah yang membalut lidah. Penjaga warung tersenyum, ia bahkan memberiku kerupuk urang tambahan.
“Ini Mbak, saya kasih bonus.”
“Makasih Bu.”
Ketika akan menyendokkan nasi terakhir. Tiba-tiba segerombol orang berlari ke arah warung.
“Angkat tangan!”