Aku ternganga kaget melihat kedatangan mereka. Tak lupa memasukkan sesendok nasi terakhir ke mulutku. Sangat disayangkan jika aku menyisakan makanan yang lezat ini.
“Angkat tangan!” kali ini seorang pria mendekatiku sembari menodongkan pistol. Aku terjerembat melihat s*****a itu.
“Uhuk uhuk!” Sisa nasi yang belum tertelan membuatku tersedak. Untungnya masih ada segelas teh di sana.
“Astaga! Apa-apaan ini,” ucapku kebingungan. Seorang wanita langsung mengambil tas plastik tempat obatnya Bimo.
“Eh Mbak! Itu punya saya.” kucoba meraih plastik itu tapi tak bisa karena seseorang membegukku hingga tersungkur. Kedua tanganku langsung terborgol.
“Ah! Lepaskan! Kalian ini ngapain sih!” teriakku.
Semua orang yang ada di warung pun ikut disandera oleh kawanan itu.
“Mari ikut saya ke kantor polisi.”
“Hah!? Kantor polisi? Apa salah saya?”
Tak menjawab orang-orang itu menyeretku begitu saja menjauh dari warung.
“Mobil saya Pak! Mobil saya gimana?” tanyaku histeris, itu adalah benda berhargaku. Hanya itu yang kupunya untuk berpergian. “Saya tidak mau pergi kalau mobil saya ditinggal di sini.”
“Jangan memberontak!” bentak seseorang yang menyeretku.
”Mobil anda aman Bu. Tim kami akan membawanya, ” jelas wanita yang merampas plastik obatku.
“Oke saya tidak akan memberontak. Tidak bisakah kalian menyeretku lebih halus!?”
Mereka tak menggubris sama sekali. Hari ini benar-benar s**l.
Ketika sampai di kantor polisi, aku diminta untuk menghubungi wali. Bu Yati adalah orang pertama, sayangnya tak ada jawaban apapun. Lalu ku mencoba hubungi Sinta, hasilnya nihil. Aku berpikir keras mencari seseorang yang bisa menjadi waliku, Kenzo adalah pilihan selanjutnya. Telepon berdering cukup lama hingga panggilan pun tersambung.
“Hallo Kenzo!” girangku karena ada seseorang yang bisa menjawab. Namun, sedetik kemudian lengkungan di bibir perlahan menjadi datar.
“Hei wanita gatal! Masih saja menghubungi suami orang. Aku peringatkan sekali lagi ya, jangan pernah menghubungi Kenzo! Atau aku akan memberi pelajaran untukmu!” hardik Gita penuh emosi. Tut! Panggilan telepon pun berakhir.
“Bagaimana? Apakah sudah ada wali yang akan datang ke kantor polisi?” tanya salah satu petugas yang sedari tadi duduk di hadapanku. Aku hanya menggelengkan kepala. Lelaki itu menghela napas, “Coba cari lagi.”
Mataku terasa panas, aku sangat bingung meminta tolong pada siapa. Aku sudah tak memiliki keluarga, temanku pun hanya ada Sinta dan Kenzo.
Ah! Mas David. Segera kucari nomor telepon mantan suamiku. Satu panggilan saja sudah cukup untuk menyambungkan teleponku padanya.
“Hallo May,” sapanya ramah.
Aku sangat senang mendengar suara itu.
“Hallo Mas. Aku mau minta tolong boleh?” tanyaku langsung to the point.
“Minta tolong apa May? Katakan, aku akan membantumu.”
“A-aku...”
“Apa-apaan kamu David! Masih saja menghubungi wanita miskin ini,” teriak seseorang di dalam telepon. “Hei Maya! Aku kan sudah memberimu kompensasi yang sangat besar. Kenapa masih saja mengganggu keluargaku? Apa kompensasi itu masih kurang? Bukankah kemarin David juga memberimu uang yang banyak untuk biaya hidup anak i***t itu?” Mulutku terkatup rapat mendengarnya.
“Dasar wanita matre! Diberi sebanyak apa pun masih saja terasa kurang! Sekali lagi kamu menghubungi David, kan ku pastikan hidupmu hancur!” hardik mantan ibu mertua. Sambungan telepon pun terputus. Secercah harapan yang kunantikan kini menghilang. Bibirku terasa kelu mendengar omelan mantan ibu mertua, kata-katanya tak pernah berubah. Dia selalu memaki tanpa henti. Sesak sekali rasanya. Nasibku hari ini benar-benar malang. Kepala terasa pening memikirkan masalah yang terjadi. Tidak ada yang membantu, selama beberapa menit hanya menyecroll kontak di dalam ponsel, dan jariku langsung berhenti pada sebuah nama, yakni Tristan.
“Apa dia bisa membantuku?”
“Hubungi saja Bu,” jawab polwan yang baru masuk ke ruangan interograsi.
Tutt... tutt... tutt... cukup lama menunggu jawaban dari lelaki itu. Bahkan aku harus menelponnya sampai tiga kali, ini yang keempat. Jika tak kunjung diangkat maka aku pasrah apabila dimasukkan bui, setidaknya beberapa bulan telingaku tak merasakan goncangan fitnah yang bertubi-tubi.
“Hallo,” suara serak tiba-tiba terdengar di telingaku.
“Hallo arwahi, ternyata masih hidup. Ups sorry,” sesalku. Entah kenapa jika berbicara dengan Tristan mulutku loss dol tak bisa dikontrol.
“Ada apa?”
“Uh! Aku memiliki masalah. Bisakah kamu membantuku? Aku berada di kantor polisi.”
“Baiklah. Share locationmu sekarang,” perintahnya dan langsung menutup telepon.
Beberapa menit kemudian, Tristan sudah datang menemuiku dia benar-benar lelaki kilat.
“Jelaskan bagaimana kamu bisa ada di sini?” tanyanya dingin. Hawa ruangan berubah menjadi suram, dan mulutku tak henti menjelaskan situasi yang tak terduga itu.
“Hm. Aku akan bernegoisasi dengan pihak kepolisian. Aku harap semua perkataanmu benar. Dan untuk anakmu, aku ingin melihatnya. Jika semuanya salah, maka kamu harus mengganti kerugiannya hingga 100 kali lipat.”
“What the hell? Gila kamu! 100 kali lipat itu sangat banyak, tega sekali kamu!” protesku. “Tapi tidak masalah, karena aku mengatakannya dengan jujur tanpa mengada-ada.”
Tak merespon protesanku, Tristan pun pergi dari ruangan tempat ku dikurung. Beberapa menit kemudian, seorang polwan datang sembari memintaku untuk memberikan sampel urine dan darah. Katanya untuk pemeriksaan apakah aku positif n*****a atau negatif. Aku menuruti semua prosedur. Cukup lama menunggu hasil pemeriksaan, tanpa sadar tertidur karena merasa bosan. Ponselku pun disita oleh pihak berwajib.
“Kita pulang sekarang,” ucap Tristan membangunkanku.
“Bagaimana hasilnya?” tanyaku dengan mata yang berat dibuka.
“Negatif, dan bebas.” Aku terlonjak mendengar jawaban Tristan, kini khayalan berada di dalam bui selama berbulan-bulan langsung sirna. Tanpa sadar aku menggenggam tangan lelaki itu dan melompat seperti anak kecil.
“Alhamdulillah ya Allah!”
“Ekhem!” dehamnya sembari mengibaskan tanganku.
“Sorry.”
Kami pun pulang, Tristan mengikuti mobilku dari belakang. Lelaki itu mengikutiku memakai sepeda supra. Dia terlihat sangat santai, sedangkan aku masih girang karena terbebas dari bui. Hari ini sangat melelahkan.
Sesampainya di rumah, aku langsung mempersilahkan Tristan masuk. Mataku terbelalak melihat pemandangan di dalam.
“Astaga!” pekikku. Terlihat Sinta dan Bu Yati yang terduduk lemas di lantai, semua barang berserakan di mana-mana.
“Kenapa bisa seperti ini?”
“Ahh... Maya. Hehe...” Sinta justru terkekeh melihat kedatanganku.
Bu Yati yang lemas memaksa dirinya berdiri. “Bimo tadi ngamuk Mbak, untungnya tidak kejang,” adunya.
“Ya ampun, pasti sangat merepotkan. Sekarang Bimo di mana?”
Bu Yati menunjuk daun pintu di belakangku. Di sana terlihat Bimo yang sedang bermain uang. Tristan hanya mematung melihat keadaan rumahku.
“Hehe... maaf ya berantakan. Silakan masuk.” Kupersilahkan lelaki penyelamat masuk. Sinta dan Bu Yati langsung membereskan ruang tamu.
“Siapa?” bisik Sinta yang kepo.
“Penyelamatku! Jangan pulang dulu, nanti aku ceritakan kejadiannya.”
Sinta memberikan kode oke dengan jarinya. Bu Yati ingin membawa Bimo masuk ke dalam rumah, tapi Tristan mencegahnya.
“Biarkan dia di sini Bu,” pinta lelaki itu.
“Ah iya.” Wanita itu melirikku sekilas, dan aku memberikan persetujuan atas permintaan Tristan.
Lelaki itu hanya mengamati Bimo dalam diam, sesekali dia membantu anakku merapikan uang yang berserakan di atas meja.
“Minum tehnya terlebih dulu,” ingatku padanya. Tristan hanya melirikku sekilas, tapi tangannya langsung menyambar segelas teh yang kurasa sudah dingin. Dia meminumnya hingga tandas.
“Aku pamit pulang dulu.”
“Sekarang?” tanyaku.
“Ya. Ini sudah larut,” ucapnya sembari melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sepuluh. Perkataannya memang benar, dan kita sampai di rumah pada jam sembilan.
“Baiklah. Hati-hati di jalan, dan terimakasih atas bantuanmu.” Aku mengantarnya hingga depan rumah.
“Kita impas,” ucapnya berlalu pergi bersama motor andalan bapak-bapak.