Ada Udang Dibalik Terigu

1112 Words
Sekitar pukul 07.00 WIB, Kezia pun terbangun kembali dari tidurnya dengan posisi yang masih sama seperti tadi, ia di jadikan guling oleh sang suami. "Masih ngantuk banget romannya suamiku ini," lirih Kezia pelan sambil membingkai wajah lelakinya. Kezia pun mengecup pelan bibir lelaki itu lalu setelahnya menyingkirkan lengan lelaki itu secara perlahan dari atas tubuhnya. Arman nampak menggeliat saat Kezia menyingkirkan lengannya namun tak sampai terbangun. Ia hanya merubah posisi tubuhnya saja menjadi telentang. Kezia pun lalu merubah posisinya menjadi duduk dan menggelung rambutnya dengan asal, setelah itu ia pun segera pergi menuju lantai bawah tepatnya ke dapur. Di dapur, nampak Pak Joey dan Adnan yang tengah bersiap dan sedang sarapan. "Tumben bangun siang, Ci, jadi ambil cuti?" tanya Pak Joey saat melihat Kezia yang baru datang. "Nggak, Pah. Hari ini terakhir aku libur, besok mau masuk lagi," ucap Kezia seraya duduk di salah satu kursi yang ada disana. Kezia pun lalu mengambil piringnya dan juga roti tawarnya dan mulai menatanya di atas sana. "Arman kemana? Belum bangun?" tanya Bu Ayes karena tak melihat sosok suami Kezia disana. "Iya, baru tidur tadi jam 4-an dia. Masih ngantuk kali," jawab Kezia dengan sedikit cuek. Pak Joey pun nampak menghembuskan napasnya dengan sedikit kesal mendengar penuturan sang anak. "Papa tenang aja, meskipun cuma dirumah, tapi rejekinya dia lumayan juga kok," ucap Kezia seakan tau apa yang ada di pikiran Sang Papa. "Yah, semoga aja bener begitu," ucap Pak Joey singkat sambil kembali menghembuskan napasnya dengan berat. Sarapan kali ini pun terasa sedikit canggung, bahkan Adnan yang biasanya paling bawel pun tampak diam sambil anteng memakan sarapannya. "Kamu gak tidur lagi, Nan?" tanya Kezia memecah keheningan yang ada diantara mereka. Adnan menggeleng lemah sambil menyuapkan sendok terakhir ke mulutnya. "Aku berangkat duluan, Pah, Mah, Kak, bye," ucap Adnan seraya menyalami mereka semua lalu segera pergi begitu saja. "Kenapa dia?" tanya Kezia penasaran. Hal yang sangat aneh bagi sang adik yaitu menyalami mereka semua, padahal biasanya ia adalah orang yang sangat cuek, pergi ya pergi saja tanpa pernah pamit. "Pah," panggil Kezia pelan kepada sang Papa. "Kenapa, Ci?" tanya Pak Joey lembut namun sedikit tegas. "Apa Papa ragu?" tanya Kezia balik. Pak Joey pun menghembuskan napasnya berat lalu mengangguk. Kezia pun segera bangkit dari duduknya dan segera menghampiri Sang Papa disana lalu berjongkok di sebelahnya. Kezia mengambil lengan Pak Joey dan menciumnya dengan lembut. "Pah, Kakak mohon, untuk kali ini, restuin pernikahan Kakak ya. Kakak janji, ini akan jadi yang terakhir kalinya, dan Kakak juga janji, kakak gak akan pernah ngecewain Papa dan Mamah lagi," lirih Kezia pelan. Ada sedikit bulir bening di netranya yang menandakan bahwa Kezia pun tak baik-baik saja. Pak Joey masih terdiam membisu, sepertinya ia pun sedang menata sedikit hatinya agar bisa terlihat tegar di mata anak sulungnya itu. Pak Joey pun membelai lembut kepala Kezia dan mengangguk. "Papa selalu restuin apa yang jadi pilihan kamu, Kak. Papa hanya syok aja waktu tau lelaki itu hobi maen game. Tapi, ngeliat kamu kek bahagia gini, Papa bisa apa?" tanya Pak Joey lembut kepada sang anak. "Kak, Papa percaya sama setiap pilihan kamu. Papa hanya gak ingin anak papa kecewa lagi nantinya, itu aja," ucap Pak Joey kembali. Cukup lama kedua anak dan papa itu dalam posisi itu, hingga akhirnya, Bu Ayes membuyarkan apa yang mereka lakukan. "Udah sungkemannya, ini hari senin takut Papa telat jalannya," ucap Bu Ayes dan mendapat anggukan dari Pak Joey dan Kezia. Pak Joey pun lalu bersiap dan berpamitan kepada anak dan istrinya. Bu Ayes pun mengikuti langkah sang suami keluar rumah, sedangkan Kezia kembali berjibaku dengan sarapannya. Setelah selesai membuat sarapannya, ia pun membawa salad dan juga dua gelas kopi s**u ke dalam kamarnya. Arman masih nampak terlelap di sana, dan Kezia pun lalu menaruh sarapannya di atas meja riasnya saja. "Meja Abang di taro dimana ya kira - kira?" tanya Kezia sambil memindai kamarnya. Pandangannya tertuju pada dinding dekat pintu kearah balkon. Ia pun segera kesana dan mencoba mengukurnya. "Kalau meja taro sini, bangku disini, kira-kira ganggu gak ya?" tanya Kezia kembali. Kezia pun memijat pelan pelipisnya dan mencoba berpikir. "Sepertinya, harus buat seperti kamar Adnan, kasur di atas dan alat kerja dibawah." Putus Kezia akhirnya. Kezia pun akhirnya kembali ke dekat ranjangnya dan mengambil hpnya. Namun, hanya sebentar, karena setelah itu ia pun lebih memilih mengambil laptopnya dan menaruh hp itu kembali. *** Sekitar pukul 09.30 WIB, Arman pun terbangun dari tidurnya. Saat membuka matanya, ia tak melihat wajah sang istri, melainkan sebuah lutut yang ada didepannya. Arman pun mengucek matanya perlahan agar bisa melihat jelas apa yang ada, dan ternyata memang itu lutut sang istri yang tengah memangku sebuah laptop. Kezia yang tengah asyik itu tak menyadari bahwa sang suami telah bangun. Lamunan Kezia buyar, saat merasa ada rasa geli yang menyambar area pangkal pahanya, dan ternyata itu adalah kelakuan sang suami. "Abang ih!" seru Kezia sambil menyingkirkan laptop di atas lututnya begitu pun dengan tangan Arman yang iseng. Arman pun terkekeh geli melihat sang istri yang mengambek itu lalu menarik hidungnya yang sedikit mancung ke dalam. "Abang, sakit," keluh Kezia sambil membelai hidungnya yang baru di tarik itu. Arman pun lalu merubah posisinya menjadi duduk dan mencium pipi sang istri. "Lagi, bangun-bangun, mata dikasihnya dengkul, orang mah wajahmu gitu, biar ada manis-manisnya," ucap Arman menggoda. "Dih, gombal! Masih pagi, Arman, gombalanmu gak berlaku," ucap Kezia sedikit ketus dan mendapat kekehan dari Arman. Kezia pun kembali mengambil laptopnya, hingga membuat Arman kembali merasa tersaingi. Arman yang sedikit kesal pun akhirnya memilih untuk bangun dan segera mencuci mukanya dan sikat gigi, setelah itu kembali lagi menuju ranjang. Saat hendak mengambil hpnya, Kezia pun dengan sigap menaruh laptopnya dan menahan lengan Arman. "Abang, mau sarapan dulu gak?" tanya Kezia sambil tersenyum. Arman pun nampak mengernyitkan dahinya tanda tak paham dan segera menarik lengannya kembali dan Kezia pun ikut melepaskan lengan Arman. "Kok curiga? Keknya ada batu di balik udang eh udang di balik terigu nih," ucap Arman. "Itu mah, bakwan Abang ih," sungut Kezia dan keduanya pun terkekeh. Arman pun kembali duduk di tepi ranjang dan mengambil hpnya kembali, namun kali ini Kezia tak melarangnya hanya langsung tiba-tiba memeluknya, membuat rasa penasaran Arman semakin besar. "Abang sarapan dulu ya, udah aku siapin itu sandwich sama susunya," ucap Kezia lembut namun mendapat gelengan dari Arman. "Ayo lah, sarapan dulu," bujuk Kezia setengah merajuk. Kezia pun lalu mencium pipi Arman dan menggigitnya pelan sehingga membuat Arman sedikit mengaduh kesakitan. Namun, Arman seakan tak peduli, ia tetap membuka hp-nya dan mengeceknya karena ia merasa pasti ada yang disembunyikan oleh Kezia. Dan benar saja, saat ia membuka M-banking di hp Fold miliknya, Kezia pun segera beralih duduk di pangkuannya dan langsung mendaratkan bibirnya di bibir Arman. "Abang, I love you ...."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD