Ketauan

1149 Words
"Seberapa jauh sebenarnya hubungan kamu sama Mahendra, Ci? Apalagi, ini kan nomer pribadinya Mahendra, bukan yang khusus kerjaan?" tanya Arman dengan lirih sambil memijat pelan pelipisnya. Arman benar-benar tak tau harus bilang apalagi saat ini. Hatinya seakan hancur saat mengetahui orang yang ia cintai selalu ada hubungan yang dekat dengan Mahendra. Sebelumnya, Arman pernah jatuh cinta pada seseorang, dan wanita itu tak lain adalah istri Mahendra saat ini, Nayla. Dulu, Arman pernah berjuang untuk mendapatkan Nayla, namun bayang-bayang Mauren kecil selalu menghantuinya, sehingga membuatnya takut untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Dan saat itu lah Arman mengalah pada Mahendra melepas Nayla bersamanya. Meskipun saat itu, Arman tak tau harus mencari Mauren kecil dimana. Namun, untuk saat ini, Arman akan berusaha untuk mempertahankan Kezia apapun caranya. Karena, selain Arman sudah jatuh cinta padanya, Kezia juga adalah Mauren kecil yang selama ini di carinya. Arman pun memilih menaruh hp Kezia kembali di atas nakas dan mencium pucuk kepalanya. "Ci, aku akan buat kamu jatuh cinta terus sama aku, dan gak akan pernah bisa lepas dari aku. Aku akan lakuin apapun untuk kamu, hingga kamu hanya bisa bergantung sama aku. Terdengar toxic emang, tapi itu karena aku gak mau kehilangan kamu lagi, Ci," lirih Arman pelan di telinga Kezia. Kezia hanya menggeliat pelan mendengar ucapan itu, namun matanya masih terpejam sempurna. Setelah memastikan, Kezia tetap tidur, Arman pun memilih kembali menuju komputernya dan menyelesaikan video gamenya agar besok bisa ia publish. *** Keesokan harinya, Kezia bangun duluan sekitar pukul 05.00 dan mendapati sang suami yang tengah memeluknya dari belakang. Kezia nampak tersenyum senang saat melihat lengan lelaki itu melingkar sempurna di area perutnya. Ia pun segera memutar tubuhnya, agar bisa melihat dengan jelas wajah lelaki yang kini berstatus sebagai suaminya itu. Kezia membelai lembut wajah Arman yang nampak sedikit tertutup oleh rambutnya yang sedikit panjang dan acak-acakan itu. "Nanti kita potong rambut ya, Bang, biar wajahmu terlihat lebih rapi," lirih Kezia pelan lalu mengecup pelan pipi Arman. Dengan perlahan, Kezia pun segera memindahkan lengan Arman dari perutnya dan segera bangkit menuju kamar mandi. Kezia pun segera mandi dan membersihkan dirinya, karena hari ini ia sudah harus kembali lagi ke kantor. Meskipun saat ini ia masih malas dan ingin dirumah saja bersama sang suami, namun kerjaan kantor yang sedikit banyak harus segera ia selesaikan, berharap minggu ini bisa segera selesai dan ia bisa berliburan dengan sang suami. Setelah selesai mandi, Kezia pun segera mengganti bajunya dan baru mengarah ke hpnya. Betapa terkejutnya dirinya saat mengetahui ada pesan dari Mahendra disana. "Duh kacau, keknya Abang buka pesan dari Pak Hendra. Duh, gimana ini, aku gak mau dia salah paham," ucap Kezia dengan wajah yang sedikit panik. Kezia kembali membelai wajah sang suami dan sukses membuat Arman terbangun saat itu. Arman mengerjapkan matanya berkali-kali untuk melihat siapa yang membelainya itu. "Masih ngantuk, Ci, jam berapa sih?" tanya Arman sambil menggosok matanya. "Jam 6 kurang 15, Bang, Cia hari ini kerja, Abang jadi anterin atau Cia berangkat sendiri?" tanya Kezia balik. Arman tak menjawab pertanyaan Kezia dan bersusah payah untuk bangun. Ia pun menggeliatkan tubuhnya ke kanan dan kiri agar sedikit lebih rileks. "Berangkat jam berapa emang?" tanya Arman kembali, kali ini, Arman sudah sadar sempurna. "Jam setengah 7, Bang. Perjalanan pake motor biasanya sekitar 30 - 45 menit," jawab Kezia dan mendapat anggukan dari Arman. Arman pun segera bangkit dari duduknya dan menuju kamar mandi, sedangkan Kezia segera berlalu menuju dapur untuk menyiapkan sarapannya. Selang 45 menit kemudian, keduanya pun kini sudah bersiap untuk berangkat ke kantor tempat Kezia bekerja. Kali ini, Arman memilih memakai motor Kezia agar lebih mudah dan gampang menyalip dibandingkan menggunakan mobil. Awalnya, Kezia sedikit ragu apakah Arman tau tempatnya bekerja atau tidak, namun ternyata, hanya berselang 30 menit keduanya pun kini sudah tiba disana. "Abang tau aja kantor Cia disini, padahal Cia kan gak ngunjukin jalannya," ucap Kezia setelah ia turun dari motornya. "Taulah, perusahaan sebesar ini siapa yang gak tau sih," ucap Arman sedikit ketus. Kezia pun hanya bisa mengangguk pasrah dan nampak sedikit canggung, ia merasa, sepertinya Arman sedikit marah kepadanya, mungkin karena pesan semalam. "Abang, Cia masuk duluan ya. Abang pulangnya hati-hati, jangan ngebut," ucap Kezia lembut sambil menyalami lengan suaminya. Mendapat perlakuan yang seperti itu dari Kezia, perlahan pertahanan Arman pun luluh. Arman pun tersenyum dan mengecup pucuk kepala sang istri saat itu. "Iya, Sayang. Kamu juga, kerja yang bener, jangan godain atasan. Masih kurang ganteng apa suamimu ini?" tanya Arman sedikit meledek sambil menjawil hidung milik Kezia. "Dih, apaan sih kamu, Bang," ucap Kezia sambil membuang wajahnya menahan malu. Arman pun hanya terkekeh sebentar lalu segera menyuruh Kezia masuk ke dalam kantornya. Kezia pun hanya mengangguk lalu segera pergi meninggalkan Arman di sana. Meskipun dengan perasaan yang sedikit kalut, namun melihat Arman yang sudah sedikit meledeknya membuat Kezia merasa sedikit lebih tenang karenanya. Setelah memastikan Kezia benar-benar masuk ke dalam kantornya, Arman pun segera memindahkan motornya menuju parkiran khusus VIP tempat dimana ia biasa memarkirkan kendaraannya. Setelah itu, ia pun mengambil vapenya dan menghisapnya sebentar lalu mengambil ponselnya di saku celananya. Arman mencoba menghubungi seseorang namun dua kali ia menelponnya tak jua di angkat sehingga membuat Arman sedikit kesal karenanya. Tak lama, sebuah mobil pun datang dan berhenti tepat di samping motor Arman. Setelah mobil itu terparkir sempurna, seseorang pun keluar dari sana sambil membawa sebuah tote bag kertas. "Sabar dikit lah, nih barang lu," gerutu lelaki itu yang tak lain adalah Mahendra sambil menyerahkan tote bag itu kepada Arman. Arman pun mengambil tote bag itu dan melihat isinya. Setelah itu ia pun langsung mengambil dan memakainya. Kini, penampilannya pun telah berubah. Jika tadi ia mengenakan kaos dan kemeja, kini ia hanya mengenakan sebuah hoddie berwarna hitam dan menggunakan masker, lalu memakai sebuah topi berwarna hitam juga. "Panggil Dipta aja. Jangan sampe ada yang tau kalau gua suaminya Kezia disini," ucap Arman memperingatkan dan hanya mendapat anggukan dari Mahendra. Setelah dirasa cukup, Arman pun segera melangkahkan kakinya menuju pintu belakang dan di ikuti oleh Mahendra di belakangnya. Namun, saat tiba di depan pintu masuk, Arman pun berhenti sebentar, sehingga membuat Mahendra tak sengaja mendorongnya. "Ngapain berhenti mendadak sih," gerutu Mahendra kepada Arman. "Gua lupa bilang sesuatu sama lu," ucap Arman dengan sedikit ketus. "Apa?" tanya Mahendra penasaran. Arman pun lalu mengubah posisinya berhadapan dengan Mahendra. Wajah Arman nampak sedikit dingin dan rahangnya sedikit mengeras seperti menahan suatu amarah. "Gua peringatin sama lu, jauhin istri gua, sebelum gua bikin lu hancur. Gua gak peduli mau lu orang kepercayaan gua sekalipun, tapi kalau berani gangguin istri gua, gak akan pernah gua maafin," ucap Arman dengan penuh penekanan sambil mencekal pundak Mahendra. Mahendra pun hanya diam membisu sambil mencoba meneguk salivanya dan mengangguk pasrah. "Ma -- maaf, soal itu, gua bisa jelasin," ucap Mahendra dengan takut-takut. Arman hanya mengibaskan tangannya ke udara dan segera berlalu dari sana. Sedangkan Mahendra, nampak mencoba mengatur napasnya yang sedikit sesak dan mengacak rambutnya dengan sedikit frustasi. "Sh*t! Bisa-bisanya ke gep gini."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD