"Bos? Siapa yang Bos?" tanya Kezia kepada lelaki itu.
Arman pun menatap tajam ke arah lelaki itu, seolah memberi kode agar laki-laki itu mau mengklarifikasinya.
"Ah, nggak, maaf, saya kira tadi suamimu itu Pak Dipta, Ci, soalnya hampir mirip, eh taunya bukan. Maafin ya, Ci," ucap lelaki itu dengan sedikit menyesal.
Lelaki itu adalah Mahendra, rekan bisnis Kezia di tim audit, juga merangkap sebagai tangan kanan Arman yang mengelola perusahaannya.
Dari Mahendra pula lah, Arman bisa mengawasi perusahaan dan bisnisnya. Apalagi, kini di tambah ada sang istri yang juga bekerja disana. Makin mudah bagi Arman mendepak orang - orang yang telah lama menggerogoti uang - uangnya.
Tak lama, Arman pun segera menghampiri kedua insan tersebut dan duduk di samping Kezia.
"Ah iya, Pak Hendra, kenalin ini suami saya, Arman," ucap Kezia memperkenalkan Arman kepada Mahendra.
"Mahendra, salam kenal, Mas," ucap Mahendra dengan sopan dan juga ramah.
"Arman," balas Arman singkat.
Arman pun lalu mengalihkan pandangannya kepada Kezia yang nampak serius sekali.
"Berkas apaan sih, Ci? Emang gak bisa apa di selesaikan di kantor aja? Ampe harus di samperin ke rumah segala, ganggu orang aja," gerutu Arman sedikit kesal.
Mahendra pun sedikit terdiam, ingin rasanya ia mengumpat lelaki yang ada didepannya itu. Pasalnya, ia kesini pun karena semalam disuruh olehnya.
"He, maaf, Mas, soalnya ditungguin si Bos, kalau gak di tungguin mah, saya gak akan bela-belain kesini," ucap Mahendra.
Tangan Mahendra sedikit mengepal erat dan saat Kezia menundukkan pandangannya, Mahendra pun mengacungkan tinjunya kepada Arman.
Sebersit senyum mengejek menghiasi wajah Arman saat itu. Keduanya seakan mengejek satu sama lain.
Tak lama, Kezia pun telah menyelesaikan berkas itu dan menandatanganinya lalu ia pun menyerahkan kembali berkasnya kepada Mahendra.
"Ini udah semua ya, Pak," ucap Kezia ramah dan mendapat anggukan dari Mahendra.
Mahendra pun terdiam sejenak melihat berkas itu dan tak lama ia pun memijat pelipisnya pelan.
"Ci, Pak Leon dan Pak Dipta udah tau kalau di kantor ada yang main curang, mau sampe kapan kamu lindungin kedua temen kamu itu?" tanya Mahendra tiba-tiba.
"Temen? Temenmu siapa,Sayang?" tanya Arman sedikit penasaran.
"Ada, Bang, orang kantorku," jawab Kezia dengan sedikit berat.
"Nanti saya pikirkan lagi, Pak, soalnya saya juga belum nemu bukti yang kuat sekalipun saya nerima keuntungan dari mereka," ucap Kezia kembali.
"Iya, tapi mau sampai kapan? Gajimu makin lama akan makin di potong terus kalau kek gini. Gak hanya gajimu, perusahaan juga bakal cap kamu jelek nantinya," ucap Mahendra memperingatkan.
"Iya, Pak. Target saya antara satu sampe dua bulan ini, semua bukti penggelapan dana di kantor pusat dan cabang kelar semua. Setelah nyerahin semua ke Pak Hendra dan Mbak Winda baru saya ajuin resign," ucap Kezia dengan sedikit berat dan hanya bisa mendapat anggukan dari Mahendra.
Setelah di rasa cukup, Mahendra pun ijin pamit untuk kembali ke kantornya, dan kebetulan saat itu Kezia ingin ke kamar mandi, jadi Arman lah yang diminta tolong untuk mengantarkan Mahendra pulang.
"Abis ini gimana lagi?" tanya Mahendra kepada Arman.
"Jalanin aja kek biasa. Cia gak akan terlalu jujur sama lu, tapi kalau sama gua masih bisa. Nanti, gua kabarin langkah selanjutnya," ucap Arman dan mendapat anggukan dari Mahendra.
"Ah iya, Ndra, tolong suruh awasin Drean di perusahaan cabang. Gua rasa, dia juga mulai menyeludupkan dana di sana. Lu tau sendiri kan adek gua gimana?" tanya Arman kemudian.
"Iya. Tenang aja, lu bisa percaya sama gua," jawab Mahendra enteng lalu segera berlalu masuk menuju mobilnya.
Setelah memastikan mobil Mahendra hilang dari pandangan, barulah Arman masuk ke dalam rumahnya.
Saat tiba di ruang tamu, nampak sayup-sayup terdengar ocehan Bu Ayes dan juga Kezia.
Arman berdiri sebentar disana dan menguping pembicaraan mereka berdua.
"Kak, yang cowok tadi cakep, siapa itu?" tanya Bu Ayes kepada Kezia.
"Atasan Kakak, Mah, kenapa?" tanya Kezia balik dengan sedikit malas.
"Cakep, Kak, kamu cocok sama dia daripada sama Arman, kenapa kamu gak coba deketin dia aja?" tanya Bu Ayes dan mendapat helaan napas dari Kezia.
Tak hanya Kezia, namun juga bagi Arman, dirinya mengepalkan jarinya erat sebagai tanda ia sedikit marah.
"Pak Hendra dah nikah, Mah, udah punya anak juga, masa iya aku mau jadi pelakor," ucap Kezia kembali.
"Haish, dia kan keknya jabatannya gede dan tinggi, gak papa lah punya istri dua atau tiga juga," ucap Bu Ayes kembali.
"Lagi, keknya kamu juga ada rasa sama dia kan?" tanya Bu Ayes penasaran.
Deg!
Seketika perasaan nyeri menjalar di hati Arman. Arman melihat raut wajah istrinya yang nampak membuang muka dan segera berlalu meninggalkan sang Mamah disana.
"Kak, berarti bener kan, kamu ada rasa sama atasanmu itu?" tanya Bu Ayes kembali memastikan.
"Aku udah punya Bang Arman, Mah," ucap Kezia setengah berteriak dari tengah tangga.
Brak!
Kezia membanting pintu kamarnya dengan begitu keras hingga terdengar ke lantai bawah.
Sementara itu ...
Deg!
Arman merasakan rasa sesak yang membuat dirinya seakan kesulitan bernapas.
Tak ingin terlalu larut, Arman pun segera keluar dari persembunyiannya dan menghampiri sang mertua yang masih berada disana.
"Tadi pintu kamar siapa, Mah, yang di banting?" Tanya Arman lembut.
"Cia kayaknya mah, coba aja samperin ke atas, Mama mau ke kamar lagi," ucap Bu Ayes lalu segera pergi meninggalkan Arman di sana.
Arman pun nampak menghembuskan napasnya kasar dan mencoba menetralkan deru jantungnya. Ia mengacak rambutnya sedikit frustasi dan meninju udara.
"Sh*t! Apa iya Cia punya rasa sama Hendra?" tanya Arman pada dirinya sendiri.
Arman pun lalu duduk sebentar di sofa itu dan mencoba mengambil napasnya kembali.
"Huft, harusnya sadar diri, sih. Ini bukan yang pertama kalinya kek gini. Hendra emang punya pesonanya sendiri dibanding sama gua," lirih Arman pelan.
Arman kembali mengusap wajahnya kasar lalu menopang dagunya dengan kedua lengannya.
"Kenapa rasanya sesakit ini ya? Padahal itu belum tentu pasti," ucap Arman kemudian.
Arman pun memilih untuk bangkit dari duduknya dan segera menyusul sang istri ke kamarnya.
Di dalam kamar, sayup-sayup terdengar suara barang yang jatuh dan tak lama seperti suara orang yang terisak.
"Jadi ... Kezia beneran ada rasa ke Hendra?" tanya Arman memastikan.
Arman pun menggenggam erat handle pintu yang akan di bukanya itu. Semua pikiran buruk pun terbesit di dalam otaknya. Rasa sakit pun kini mulak mendominasi di hatinya.
Setelah hatinya merasa lebih baik, ia pun memberanikan dirinya untuk membuka pintu.
Kriet!
Pintu terbuka secara perlahan, Arman pun masuk kesana dan melihat Kezia yang sedang membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya.
Arman kembali menutup pintu itu dengan perlahan dan menghampiri sang istri.
Ia membelai lembut pucuk kepala sang istri dan menciumnya.
"Apa benar yang di tanya Mamah?"