Aluna kini tengah menatap pantulan dirinya di depan cermin. Air mata tampak membasahi pipinya hingga membuat make-up yang sudah menghiasi wajahnya sedikit memudar. Tak pernah dia bayangkan jika hari ini akan menjadi sejarah dari perjalanan hidupnya. Sesuatu di luar dugaan malah terjadi, di mana dia harus menikah dengan pria yang sama sekali tak dia kenal.
"Jangan menangis. Awas kalau kau macam-macam, Sakola Alit berada di tangan Ibu. Ibu bisa saja menghancurkan gubuk kesayanganmu dalam sekejap jika kau tak mengikuti perintah Ibu!" bisik Merry mengancam sambil merapikan gaun pernikahan yang sudah melekat di tubuh putrinya.
Aluna pun menggelengkan kepala. Tentu saja dia merasa takut karena Sakola Alit bukan hanya berharga untuk dirinya, tetapi juga untuk anak-anak jalanan yang bersekolah di sana. Sekolah kecil yang dibangun Aluna bersama teman-temannya. "Jangan, Bu!" tolaknya dengan tatapan memohon.
Wanita paruh baya itu malah tersenyum licik dan penuh kemenangan karena merasa berhasil mengancam anak perempuannya itu.
Aluna pun keluar dari ruangan rias. Dua tangannya memegang ujung gaun yang menjuntai panjang agar memudahkannya untuk melangkah. Tatapannya kosong. Di atas altar tampak dua orang pria tengah menunggu kedatangannya. Salah satunya, seorang pendeta yang akan mentasbihkan pernikahannya dengan pria lumpuh yang duduk di kursi roda.
"Silakan duduk, Nona!" ucap sang pendeta menunjuk kursi kosong di samping roda lelaki lumpuh itu.
Aluna mengangguk lalu duduk di samping lelaki yang diyakini adalah calon suaminya. Jantungnya berdebar kencang dan tak menyangka jika sebentar lagi statusnya akan berubah menjadi seorang istri.
"Silakan saling menghadap!"
Kedua calon pengantin itu saling berhadapan satu sama lain sesuai dengan perintah sang pendeta.
"Silakan saling mengucap janji suci!"
“Saya Alvaro Bautista Johanson menerima engkau Aluna George menjadi istriku dan setia selalu baik dalam suka maupun duka, dalam susah maupun senang, dalam sakit maupun sehat. Saya akan mencintai dan menjaga engkau dengan segenap hati dan jiwa saya berjanji di hadapan Tuhan, amin," ucap sang lelaki membacakan janji suci yang dituntun oleh pendeta.
Mendengar pria itu dengan fasih mengucapkannya, tibalah saatnya bagi Aluna untuk menjawab. Sesaat gadis itu terdiam. Melihat sekeliling hingga pandangannya berhenti tepat di mana wajah sang ibu tengah menatapnya dengan sangat tajam.
"Ayo dijawab, Nona!" Pendeta itu menegur saat melihat Aluna diam tak langsung menjawab.
Aluna pun menoleh. Melihat pendeta dengan air mata yang sekuat tenaga ditahan agar tak menetes. Tentu saja apa yang terjadi saat ini bukan impiannya. Menikah bukan dengan pria yang dia cintai.
“Saya Aluna George menerima engkau Alvaro Bautista Johanson menjadi …." Aluna sejenak mengembuskan napasnya kasar. Ada keraguan yang terlihat jelas di matanya. Ragu apa pernikahan itu bisa menghadirkan kebahagiaan dalam hidupnya nanti. "Suamiku dan setia selalu baik dalam suka maupun duka, dalam susah maupun senang, dalam sakit maupun sehat. Saya akan mencintai dan menjaga engkau dengan segenap hati dan jiwa saya berjanji dihadapan Tuhan, amin." Aluna pun menyelesaikan seluruh kalimat itu dengan susah payah sambil menahan rasa sedih yang bergejolak di hatinya.
Acara pernikahan itu sangat sederhana dan diadakan di vila mewah sang suami. Tidak ada tamu undangan hanya ada kedua pihak keluarga.
"Selamat ya, Nak," ucap Wilona memeluk menantunya tersebut.
"Terima kasih, Nyonya," balas Aluna.
"Jangan panggil nyonya, panggil saja Mommy. Mulai sekarang aku adalah ibumu juga," ucap Wilona.
Mata Aluna berkaca-kaca. Sebelumnya dia tak pernah mendapatkan perhatian itu dari sang ibu. Sejak remaja, ibunya itu selalu bersikap kasar padanya dan kata-kata yang sering Aluna dengar adalah, dirinya hanyalah benalu keluarga.
"Terima kasih, Mom," sahut Aluna canggung.
"Son." Wilona beralih pada anaknya.
Lelaki itu sama sekali tak menanggapi panggilan sang ibu. Dia seperti tak mendengar dan malah menatap kosong ke depan.
"Semoga kau bahagia ya, Son," ucapnya mengusap bahu sang anak yang duduk di kursi roda.
Hanya William dan Wilona yang memberikan ucapan selamat pada kedua mempelai itu. Sedangkan orang tua Aluna, selesai acara langsung pergi tanpa berpamitan.
Acara itu sangat sederhana. Tidak ada acara makan-makan seperti pesta pada umumnya atau sekedar foto-foto untuk mengabadikan momen yang terjadi sekali seumur hidup itu.
Sungguh miris bagi Aluna, semua wanita akan bahagia di hari pernikahannya. Namun, tidak dengan gadis yang baru saja sah menjadi seorang istri tersebut, bahkan setelah mengucapkan janji suci di hadapan Tuhan, sang suami masih enggan menatapnya.
***
Aluna masuk ke dalam kamar suaminya. Gadis itu berdecak kagum saat disuguhkan dengan pemandangan yang menampilkan fatamorgana keindahan pantai serta pohon-pohon kelapa yang berjejer di tepian.
"Wah indah sekali!" seru Aluna.
Gadis itu seperti orang kampung yang belum pernah melihat keindahan-keindahan itu di depan matanya.
Aluna tak menyadari jika dari tadi ada sepasang mata menatap dia dengan tajam. Lelaki yang duduk di kursi roda tersebut seperti sedang menelisik tubuh Aluna sebelum akhirnya dia jadikan santapan.
"Astaga." Aluna berjingkat kaget ketika tatapannya bertemu dengan pria tersebut.
"Maaf, Tuan. Saya tidak melihat Anda," ucap Aluna cengengesan sambil menggaruk-garuk tengkuknya yang tidak gatal. Dia bergidik ngeri ketika melihat tatapan lelaki itu.
Lelaki itu tak menjawab, dia mendorong kursi rodanya menuju kamar mandi.
"Tunggu, Tuan! Biar aku bantu," tawar Aluna.
"Jangan pernah menyentuhku dengan tangan kotormu itu!" hardik lelaki tersebut.
"Jangan ngomong sembarangan dong, Tuan. Aku tidak pegang apa-apa, bagaimana tanganku bisa kotor?" protes Aluna yang tidak terima ketika tangannya dibilang kotor.
"Sudah biar aku bantu saja," tawarnya lagi.
"Tidak perlu!" Lelaki itu menepis tangan Aluna yang hendak memegangnya.
"Jangan menolak, Tuan! Kau tidak bisa masuk ke dalam kamar mandi tanpa bantuanku," sanggah Aluna yang tak mau kalah.
"Ares!" teriak lelaki itu, memanggil asistennya yang ada di luar kamar.
Seorang lelaki tampan berjas rapi masuk ke dalam kamar sang tuan dengan langkah tergesa-gesa.
"Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Ares membungkuk hormat, tetapi napasnya tersengal-sengal karena setengah berlari saat dipanggil oleh lelaki itu.
"Bantu aku ke kamar mandi!" titahnya.
"Baik, Tu–"
"Tidak perlu, Tuan. Biar aku saja," sergah Aluna.
"Tapi, Non–"
"Aku adalah istrinya, Tuan. Lagian aku tidak mungkin meminta hakku di dalam kamar mandi," ucapnya.
Ares menelan salivanya susah payah ketika mendengar ucapan Aluna.
"Ares, yang membayar gajimu siapa? Aku atau dia?" Lelaki itu menatap asistennya tajam.
"Anda ,Tuan," jawab Ares polos.
"Kalau begitu singkirkan gadis sialan ini dan bantu aku masuk ke dalam kamar mandi!" perintah Alvaro dengan tatapan nyalang dan mata yang merah menahan amarah.
Ares mengangguk dan hendak mendorong kursi roda tuan-nya. Namun, secepatnya Aluna menahan tangan Ares. Entah kenapa pria itu langsung bungkam ketika melihat tatapan mata Aluna yang begitu teduh dan memikat?
"Biar aku saja, Tuan!"
Tanpa menunggu persetujuan Ares dan sebelum Alvaro protes serta mengamuk, Aluna dengan cepat mendorong kursi roda suaminya. Dia masih memakai gaun penggantin dan belum berganti pakaian.
"Kau ini–"
"Sttt, diam, Tuan. Izinkan aku memandikanmu." Pria itu langsung terdiam ketika Aluna meletakkan jari di bibirnya.
"Kau mau apa?" tanya lelaki itu ketika Aluna hendak membuka pakaiannya.