Bab 3. Surat Perjanjian

1130 Words
Aluna membersihkan diri di kamar mandi setelah membantu suaminya. Gadis itu harus bersabar saat menerima bentakan demi bentakan dari Alvaro – suaminya. "Dia benar-benar seperti singa yang menyeramkan. Baru satu malam, bagaimana nanti kalau bertahun-tahun." Aluna pun mengakhiri aktivitas mandinya, lalu melihat sekeliling kamar mandi hingga membuat gadis itu teringat sesuatu. "Astaga, aku lupa bawa pakaian ganti." Dia menepuk jidatnya. Aluna mengintip di balik pintu takut ada suaminya. Gadis itu pun keluar mengendap-endap dengan handuk terlilit sampai d**a. Aluna mengambil pakaiannya di dalam lemari secepat kilat. Tanpa dia sadari, ternyata sejak tadi sepasang mata menatapnya tak berkedip. Bagaimana tidak? Gadis itu hanya memakai handuk sampai d**a dan di atas lutut sehingga menampilkan kaki jenjang miliknya. Lelaki yang duduk di kursi roda itu menelan salivanya susah payah. Bagaimanapun dia adalah pria normal, apalagi sudah menginjak usia cukup dewasa. "Apa yang kau lakukan?" Aluna seketika menoleh dan pupil matanya membulat sempurna ketika melihat sang suami berada di sana. Gadis itu sampai berteriak seperti sedang melihat setan lalu berhambur masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Alvaro terkekeh geli, tak dia sangka ternyata gadis yang menjadi istrinya itu masih polos. "Dasar gadis bodoh," cibirnya dengan senyuman lebar. Mungkin jika ada yang melihat akan jantungan dibuatnya. Bagaimana tidak, sejak dinyatakan lumpuh, pria itu memang sangat jarang menampilkan senyum pada orang lain. Tidak lama kemudian, Aluna keluar dari kamar mandi dengan piyama lengkap. Wajahnya memerah menahan malu, seumur hidupnya baru kali ini dia memakai handuk di depan seorang laki-laki setelah usia dewasa. Walaupun lelaki itu adalah suaminya, tetapi tetap saja dia merasa malu. "Apa kau akan terus berdiri di situ?" sindir pria itu melihat istrinya dengan tatapan dingin. Aluna mengangkat kepala. "Memangnya aku harus berdiri di mana, Tuan?" tanyanya polos. Lelaki itu merengut kesal. Gadis itu selalu menemukan jawaban untuk bisa membungkamnya. "Baca ini!" Pria itu melemparkan sebuah map ke arah Aluna. Untung saja Aluna segera menyambar map itu. Mungkin jika tidak, sudah dipastikan kertas-kertas yang ada di dalam map tersebut pasti akan jatuh berserakan di lantai. Mata Aluna seketika membulat sempurna saat membaca isi dari surat itu. Di depannya tertulis surat perjanjian. "Apa maksudnya, Tuan?" "Kalau kau bisa membaca, pasti kau akan paham apa isinya." Aluna menghela nafas pelan. "Tapi aku ini istrimu aku bukan pembantumu, Tuan," sanggah Aluna tak terima. "Aku tidak ingin mendengar penolakanmu. Kau mau atau tidak, itu bukan urusanku. Tugasmu adalah merawatku dan mengikuti semua kemauanku!" bantah Alvaro dengan suaranya yang tegas. "Baiklah." Aluna tampak pasrah. Tak ada kekuatan atau kekuasaan untuk dapat menolaknya. Walaupun dengan berat hati, mau tak mau, gadis itu harus tetap menuruti kemauan Alvaro. "Bagus." Pria itu tersenyum smirk. Dia akan melihat sekuat apa gadis kecil yang ada di depannya itu menghadapi sifatnya. *** Pagi harinya, Aluna terlihat menggeliat di balik selimut tebalnya. Gadis itu tidur di lantai beralaskan sprei tipis sesuai perintah sang suami. Sejenak dia terduduk di lantai, lalu tatapannya tertuju pada sang suami yang terlelap dengan nyaman di atas ranjang. "Suami lumpuhku saja menolakku, apalagi ayah dan ibu." Aluna tersenyum kecut. Meratapi hidupnya yang sungguh nestapa. Lama Aluna menatap wajah Alvaro yang jika dilihat sungguh tampan di matanya, bahkan Aluna berani mengatakan jika suaminya itu adalah pria paling tampan yang pernah Aluna temui. Namun, sayang sifat lelaki itu sungguh membuat Aluna jengah. Tidak hanya kasar, tetapi juga mulutnya pedas seperti seblak level lima. Gadis itu pun mulai melipat selimut, lalu meletakkannya di atas sofa. Semalam dia sudah diperingatkan oleh Alvaro agar tidak menyentuh ranjang tanpa izin dari pria tersebut. Aluna masuk ke dalam kamar mandi untuk mencuci muka sebelum menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya. Gadis itu keluar dari kamar dengan senyuman manis. Sejenak langkahnya terhenti lalu dia menghembuskan nafasnya kasar, biasanya pagi-pagi begini dia sudah sibuk dengan persiapan berangkat kuliah karena setelah dari kampus dia akan lanjut bekerja. "Sayang sekali kuliahku, tetapi si tuan lumpuh itu tidak memperbolehkan aku kuliah lagi." Dia mendesah pelan. "Vidya, aku rindu," gumamnya. Vidya adalah sahabat baik Aluna, pasti sahabatnya itu khawatir saat tak melihat dia masuk kuliah sejak kemarin. Aluna berjalan menuju dapur tampak beberapa pelayan sudah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. "Selamat pagi, Nona Muda," sapa mereka. "Pagi, Bi," balas Aluna tersenyum ramah sambil melambaikan tangannya seperti seorang model. "Pagi, Nona," sapa Ares juga. "Pagi juga, Tuan." Aluna membungkuk hormat. "Nona, jangan panggil saya Tuan. Anda adalah majikan saya. Panggil saja saya Ares," ucap Ares membungkukkan badannya sopan pada Aluna. "Ah, tidak sopan kalau saya memanggilmu nama, apalagi usiamu jauh lebih tua dari saya," sergah Aluna. "Ya sudah, terserah Anda ingin memanggil saya apa saja, Nona," sahut Ares menampilkan senyuman manisnya. Aluna mengetuk-ngetukan jari di ujung pelipisnya seolah sedang berpikir keras. "Aha," pekik gadis tersebut. Ares dan para pelayan berjingkat kaget mendengar teriakan Aluna. Sontak saja mereka mengusap d**a secara bersamaan. "Setelah aku berpikir sangat keras, bagaimana kalau aku memanggilmu Kak Ares saja?" ucap Aluna menampilkan wajah imutnya dengan mata yang sengaja dia kedipkan beberapa kali. Hal itu sukses membuat Ares salah tingkah hingga memalingkan wajahnya kesembarangan arah karena takut terpesona melihat wajah Aluna. "Kenapa Kakak diam saja? Kakak tidak suka dengan panggilan itu?" tanya Aluna sedikit kecewa. Dari dulu dia ingin sekali memiliki kakak laki-laki. Namun, sayangnya dia hanya memiliki kakak perempuan sehingga Aluna tidak pernah merasakan kasih sayang itu. "Hem tidak, Nona," kilah Ares. "Oh ya, Kak. Makanan kesukaan suamiku apa ya? Aku mau masak untuknya," ucap Aluna celingak-celinguk melihat dapur mewah di villa tersebut. "Anda ingin memasak untuk Tuan, Nona?" tanya Ares memastikan. Aluna mengangguk. Bukankah memasak untuk suami adalah salah satu tugas seorang istri? "Maaf, Nona. Tuan sudah memiliki koki khusus, dia tidak bisa makan makanan diluar masakan koki andalannya," jawab Ares sopan, takut menyinggung perasaan Aluna. Gadis itu pun mendelik. "Kenapa pria itu seperti seorang raja saja, ya, sampai makan harus dimasak langsung oleh koki handal?" batin Aluna merasa heran. "Tapi aku juga bisa masak, Kak. Jangan ragukan kemampuanku," ketus Aluna mengerucutkan bibirnya kesal. "Cepat katakan, Kak, apa makanan kesukaannya! Aku ingin memasak untuk suamiku," desak Aluna. Ares pun menghela nafas panjang. Gadis itu sungguh keras kepala dan semua keinginannya harus dituruti. Tidak jauh beda dengan Alvaro – tuannya. Tak ada pilihan untuk menolak, Ares akhirnya menyebutkan makanan kesukaan Alvaro yang biasa dimasak oleh koki khusus di vila itu. "Hem, baiklah. Aku akan memasak untuknya." Aluna berjalan ke arah dapur dengan semangat empat lima. Ares memberi kode pada para pelayan agar memberikan ruang untuk Aluna. Sebenarnya pria itu ingin melarang. Namun, keinginan kuat Aluna yang membuat Ares seperti tidak punya pilihan lain hingga membiarkan Aluna memasak untuk tuannya. "Apa tuan Alvaro bisa suka dengan masakan gadis itu, ya? Aku hanya khawatir kalau nanti tuan Alvaro bisa sangat murka dan malah sampai melakukan hal yang tidak-tidak. Pasti ujung-ujungnya aku juga yang disalahkan karena mengizinkan gadis itu masak," batin Ares terus melihat Aluna dengan perasaan cemas yang kini mulai memasak penuh semangat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD