Bab 4. Alvaro Bautista Johanson

951 Words
Seorang pria tampan mengeliat di balik selimut tebalnya. Pantulan cahaya matahari menyinari wajah lelaki itu. Dia masih enggan membuka matanya, tidurnya semalam begitu pulas dan nyaman. Dia mulai terusik dengan cahaya tersebut hingga terpaksa membuka mata dengan wajah merenggut kesal. "Biasanya juga tidak ada sinar matahari walau bangun siang," gerutunya sambil duduk. Lelaki itu melirik kearah jendela, pantas saja cahaya matahari masuk ternyata gorden tersebut sengaja digeser kearah samping. "Ini pasti ulah gadis sialan itu," protesnya mengusap wajahnya dengan kasar. Lelaki itu bergeser ke arah bibir ranjang dan berusaha menggapai kursi rodanya. "Argh, kenapa susah sekali?" Tangannya terus terulur hendak mengambil kursi roda tersebut. "Siapa yang menggeser benda tersebut sehingga jauh dari ranjang?" gumam Alvaro "Argh." Saat dia hampir jatuh ada sebuah tangan yang langsung memeganginya. "Biar aku bantu, Tuan," tawar Aluna. Aluna mengambil kursi roda tersebut dan hendak membantu sang suami duduk. "Lepaskan! Jangan so peduli!" Pria tersebut menepis tangan Aluna. "Jangan keras d**a ehh salah jangan keras kepala, Tuan. Kau itu, sudah diam saja dan menurut lah!" ketus Aluna. Lelaki itu terdiam menatap istrinya. Ini pertama kalinya ada orang yang berani membantah dirinya. Biasanya semua orang takut, entah melihat amukan atau karena takut hukuman? "Ayo, Tuan." Aluna membantu Alvaro duduk di kursi rodanya. "Apakah Anda ingin ke kamar mandi?" Alvaro hanya mengangguk dengan wajah datar tanpa ekspresi. Dia tahu jika istrinya ini hanya kasihan bukan karena peduli padanya. Semua orang selalu begitu, melihatnya dengan kasihan tetapi dalam hati mengejek. Aluna membawa suaminya ke dalam kamar mandi. Tak lupa dia memasang stel untuk menahan kursi itu agar tidak bergerak. "Keluarlah!" usirnya. "Kenapa memangnya? Biar aku saja yang mencuci mukamu, Tuan," sergah Aluna. Pria itu menatap Aluna dengan tajam rahang mengeras dan tangan mengepal sangat kuat. Dia paling tidak suka di bantah. Aluna bergidik ngeri seraya menelan saliva susah payah. Tatapan lelaki ini seperti mampu menembus indra penglihatan dan masuk ke dalam sendi-sendi tulangnya. "Aku tahu kau melakukan ini karena di bayar oleh kedua orang tua ku, 'kan?" tudingnya. "Hem, sebenarnya begitu, Tuan. Tetapi karena kau suamiku jadi aku melakukannya dengan ikhlas. Apalagi katamu aku adalah perawat dan pembantumu," jawab Aluna santai tanpa beban. "Sudahlah, biarkan aku membersihkan mu!" Alvaro Bautista Johanson berusia 35 tahun. CEO Bautista Johanson Group perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata dan perhotelan. Kecelakaan yang dia alami lima tahun silam telah merenggut segalanya, dia tak hanya kehilangan kaki yang selalu dia banggakan. Tetapi juga kehilangan sosok kekasih hati yang kini sudah tenang di alam yang berbeda. Kejadian tersebut menguncang jiwanya. Dia menepi dan tinggal di vila yang jauh dari perkotaan. Sejak saat itu, Alvaro mengurung diri di dalam vila mewah ini. Sementara untuk urusan perusahaan dan kantor di urus oleh Ares dan orang-orang kepercayaannya. Alvaro menjadi pribadi yang dingin, kejam dan tegas. Dia tak segan-segan memberikan hukuman pada orang-orang yang berani bermain-main dengannya. Dia benci semua orang karena baginya orang-orang memperhatikannya hanya karena kasihan bukan benar-benar peduli. Bahkan Alvaro membenci kedua orang tua nya, kecelakaan tersebut di sebabkan oleh sang ayah dan sang ibu yang tidak merestui hubungan mereka. Niat hati ingin kabur dan membawa kekasihnya ke luar negeri. Tetapi siapa sangka takdir justru berkata lain. . . Aluna mendorong kursi roda sang suami keluar dari kamar mandi. Dia membantu lelaki itu mengenakan pakaiannya tanpa peduli dengan penolakan Alvaro. "Kau benar-benar tak tahu diri," sindir Alvaro. "Lebih baik tak tahu diri, dari pada pura-pura tahu diri," sahut Aluna santai seraya menampilkan rentetan gigi putihnya. "Kau–" "Diam, Tuan Suami. Aku sedang memasang pakaianmu," sergah Aluna. Gadis itu sama sekali tidak malu atau takut ketika membuka dan memasang pakaian sang suami. Entah karena dirinya terlalu polos dan berpikir bahwa Alvaro tidak akan macam-macam dengannya atau memang dia sengaja menggoda lelaki tersebut. "Mandi sudah. Sekarang waktunya makan dan minum obat," ucap Aluna hendak mendorong kursi roda Alvaro keluar dari kamar. "Aku tidak mau," tolak Alvaro. "Lalu kau mau apa?" tanya Aluna bingung dan menatap suaminya penuh selidik. "Tinggalkan aku sendiri. Aku bisa mengurus diriku," ucap Alvaro dingin. Apakah keadaannya sangat menyedihkan sehingga gadis ini harus merawatnya seperti orang yang sakit parah? "Ck, bagaimana bisa?" "Tinggalkan aku sendiri," bentak Alvaro menatap istri kecilnya itu dengan tatapan membunuh. Bukannya takut Aluna malah memutar bola matanya malas dan menguap beberapa kali. Entah terbuat dari apa hati wanita itu, sehingga tidak takut atau tersinggung dengan bentakan Alvaro padanya. "Iya sudah, baiklah. Aku akan mengambil makanan untukmu," ucap Aluna mengalah. Gadis itu keluar dari kamar mereka. Langkahnya terhenti sejenak. "Sabar, Lun. Inilah jalan takdir hidupmu. Jangan mengeluh. Jangan menyerah. Kau pasti bisa membuat lelaki lumpuh itu jatuh cinta padamu. Kalau dia tidak bisa jatuh cinta padamu, biarkan saja dia jatuh dari kursi rodanya." Gadis itu cekikikan seperti orang gila. Tidak lama kemudian Aluna kembali seraya membawa nampan berisi makanan di dalamnya. Gadis itu masuk setelah Ares membuka pintu untuknya. "Terima kasih, Kakak Tampan," godanya mengedipkan matanya jahil. "Sama-sama, Nona." Ares membungkuk hormat. Di dalam kamar itu, Alvaro tampak duduk dengan lamunan panjang. Dia bahkan tak menyadari kedatangan istri kecilnya. Bayangan kejadian menyakitkan lima tahun yang lalu seperti menguak luka kembali di hatinya. Saat terbangun dari tidur panjang dia mendapati dirinya tak bisa berjalan dan satu hal lagi bahwa kekasih yang dia cintai sepenuh hati telah pergi meninggalkannya untuk selamanya. "Tuan Suami, ayo makan " ucap Aluna meletakkan nampan tersebut di atas nakas. "Aku tidak mau makan," tolak Alvaro. "Tidak bisa begitu, Tuan. Kalau kau sakit bagaimana?" protes Aluna. "Ayo, Tuan. Cepat makan, aku sudah memasak makanan kesukaanmu." Aluna mengambil piring berisi makanan tersebut. "Buka mulutmu, Tuan," paksanya. Alvaro menepis piring tersebut hingga jatuh dan isinya berserakan di atas lantai. "Sudah aku katakan, aku tidak mau makan. Apalagi di suapi oleh tangan kotor mu itu!" hardik Alvaro menatap Aluna dengan nyalang dan penuh amarah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD