bc

Terjerat Bayangan Masa Lalu

book_age18+
11
FOLLOW
1K
READ
contract marriage
HE
heir/heiress
bxg
witty
city
like
intro-logo
Blurb

Elena hancur ketika melihat tunangannya berselingkuh. secara tidak sengaja dia menubruk Alvaro pradipta seorang CEO dingin yang wajahnya sangat mirip dengan Arga cinta pertamanya yang sudah meninggal lima tahun lalu. karena tuntutan keluarga, Alvaro menawarkan sebuah pernikahan kontrak. mereka pun menikah tapi ternyata ada sebuah rahasia di balik kemiripan wajah Alvaro dan Arga, juga kematian Arga lima tahun yang lalu.

chap-preview
Free preview
Bab 1. Runtuhnya ilusi dan pertemuan tak terduga
Hujan deras di luar jendela restoran mewah seolah menjadi pengiring kehancuran hati Aurora. Di meja sudut yang teduh, ia duduk mematung, matanya menatap tajam ke arah dua sosok yang baru saja masuk dari pintu utama. Sosok itu adalah Daniel, tunangannya selama tiga tahun, dan wanita lain seorang model iklan yang sering Aurora lihat di majalah. Daniel tertawa, tawa yang biasanya membuat Aurora merasa dicintai, kini terdengar asing dan menusuk. Tangan pria itu melingkar erat di pinggang wanita itu, sementara bibir mereka saling bertaut dalam ciuman m***m, tanpa peduli pada pandangan orang-orang di sekitar. Darah Aurora mendidih. Rasa sakit di d**a berubah menjadi amarah yang membara. Ia bangkit berdiri, kursinya bergeser menimbulkan suara berdecit yang cukup keras untuk menarik perhatian beberapa pengunjung, namun Daniel terlalu sibuk dengan dunianya sendiri untuk menyadari kehadiran mantan tunangannya. Aurora melangkah mendekati meja mereka. Langkahnya berat, setiap hentakan kakinya terasa seperti palu yang menghantam harga dirinya. Saat ia tiba tepat di samping meja Daniel, ia tidak berteriak. Ia hanya membanting tas tangannya ke atas meja, membuat gelas-gelas kristal berdenting nyaring. "Selamat malam, Daniel," ucap Aurora dingin, suaranya bergetar menahan tangis. Daniel tersentak kaget. Wajahnya yang tadi bersinar karena gairah kini pucat pasi. "Aurora? Apa yang kamu lakukan di sini?" "Aku seharusnya bertanya hal yang sama padamu," jawab Aurora, matanya beralih ke wanita di samping Daniel yang tampak bingung namun tetap tenang. "Atau lebih tepatnya, siapa dia?" "Dengar, Ra, ini bukan tempat untuk" Daniel mencoba meredam situasi, tangannya meraih lengan Aurora. Aurora menepis tangan itu dengan kasar. "Jangan sentuh aku, Tiga tahun, Daniel. Tiga tahun aku menunggu pernikahan kita, tiga tahun aku percaya padamu. Dan kau melakukan ini? Di depan umum? Seperti binatang tak bermoral!" Suara Aurora mulai meninggi, menarik tatapan penasaran dari seluruh isi restoran. "Aurora, tolong, jangan buat skandal di sini," desis Daniel, wajahnya merah karena malu dan marah. "Kita bisa bicara nanti." "Bicara apa lagi?" Aurora tertawa pahit, air mata akhirnya lolos dari pelupuk matanya. "Kau pikir aku bodoh? Kau pikir aku buta? Cincin pertunangan ini." Ia melepas cincin berlian di jarinya dengan gemetar, lalu melemparkannya ke wajah Daniel. Cincin itu memantul dan jatuh ke lantai dengan bunyi ting yang nyaring. "Hanyalah sampah bagiku sekarang, sama seperti perasaanmu." Tanpa menunggu respons Daniel yang terlihat panik, Aurora berbalik dan berlari keluar dari restoran. Ia menerobos kerumunan orang yang menatapnya dengan iba dan jijik, lalu menerjang pintu kaca restoran menuju hujan lebat di luar. Air hujan langsung menyiram tubuhnya, membasahi gaun pesta mahal yang ia kenakan. Aurora tidak peduli. Ia terus berlari, kakinya menginjak genangan air, napasnya tersengal-sengal di antara isakan tangis yang tak tertahankan. Dunia terasa runtuh dan harga dirinya hancur berkeping-keping. Di tengah kepanikan dan kabut air mata yang mengaburkan pandangannya, Aurora tidak melihat seorang pria tinggi besar yang sedang berjalan cepat sambil berbicara di telepon di trotoar seberang. Bruk! Tubuh Aurora menabrak tubuh pria tersebut dengan keras. Pria itu terhuyung mundur, sementara Aurora terjatuh telentang di aspal basah. Ponsel milik pria itu terlepas dari genggamannya, melayang sebentar di udara sebelum jatuh menghantam tepi trotoar dengan suara retakan yang mengerikan. Layarnya pecah berantakan. "Aduh..." Aurora meringkuk, memegang lututnya yang terluka. Pria itu menghela napas panjang, menutup panggilan teleponnya dengan wajah datar namun penuh ketegangan. Ia menunduk, menatap ponselnya yang hancur, lalu mengalihkan pandangannya ke wanita yang masih terduduk di tanah. "Maafkan saya," bisik Aurora, suaranya parau. Ia mendongak, siap meminta maaf lebih lanjut, namun kata-katanya tercekat di tenggorokan. Waktu seolah berhenti. Di bawah sorotan lampu jalan yang redup dan guyuran hujan, Aurora menatap wajah pria itu dengan seksama, rahang tegas, hidung mancung, dan sepasang mata tajam berwarna abu-abu gelap. Rambut hitamnya basah kuyup dan menempel di dahinya. Jantung Elena berhenti berdetak sesaat. Wajah itu sangat familiar. Terlalu familiar. Itu adalah wajah dia Arga. Teman sekolah SMA Aurora, cinta pertama yang polos dan tulus. Pria yang meninggal dalam kecelakaan mobil lima tahun lalu, meninggalkan luka mendalam yang belum sepenuhnya sembuh di hati Aurora. "Arga?" panggil Aurora lirih, matanya membelalak. Tangannya gemetar saat ia berusaha berdiri, meski kakinya masih sakit. "Apakah ini mimpi?" Pria itu mengerutkan kening, bingung dengan reaksi wanita di depannya. Ia tidak mengenal Aurora. Baginya, wanita ini hanyalah orang asing yang ceroboh dan telah menghancurkan ponsel mahalnya. "Nona, saya bukan siapa-siapa yang Anda kenal," ucap pria itu dengan suara yang dalam dan dingin. "Dan Anda baru saja merusak ponsel saya." Aurora menggeleng kuat-kuat, air mata bercampur dengan air hujan mengalir di pipinya. "Tidak mungkin, kamu mirip sekali. Mirip sekali dengannya." Pria itu, yang bernama Alvaro Pradipta, CEO muda dari konglomerat teknologi terbesar di kota, merasa kesabarannya menipis. Ia sudah memiliki hari yang buruk, rapat yang melelahkan, dan sekarang ponsel yang berisi data penting rusak parah. Ia menatap Aurora yang tampak linglung dan histeris. Daripada memanggil polisi atau meninggalkan wanita gila ini, Alvaro memutuskan untuk mengikuti Aurora. Bukan karena tertarik, tapi karena Elena tampaknya dalam kondisi mental yang tidak stabil dan mungkin bisa menjadi saksi jika ada masalah hukum terkait kerusakan ponselnya, atau sekadar karena insting bisnisnya yang selalu ingin tahu siapa orang di depannya. Aurora, yang masih syok, berjalan gontai menuju halte bus terdekat. Alvaro mengikuti dari belakang, jaraknya beberapa meter sambil mengamati setiap langkah wanita itu. Ia memperhatikan bagaimana bahu wanita itu terguncang oleh tangisan, betapa rapuhnya ia terlihat di balik gaun mewah yang kini kotor oleh lumpur. Setelah sepuluh menit mengikuti, Aurora akhirnya berhenti di bawah atap halte yang sempit. Ia duduk di bangku besi, memeluk lututnya, dan kembali menangis. Alvaro mendekat. Ia berdiri di depan Aurora, menghalangi angin dingin. "Nona," panggil Alvaro tegas. Aurora mendongak, matanya bengkak. "Apa lagi? Mau kamu lapor polisi? Silakan. Aku tidak peduli. Hidupku sudah hancur malam ini." Alvaro menatapnya lama. Ada sesuatu di mata Aurora, kesedihan yang begitu dalam, mirip dengan kesepian yang sering ia rasakan di puncak kesuksesannya. Tiba-tiba, sebuah ide liar muncul di kepala Alvaro. Ia membutuhkan istri palsu untuk menghentikan desas-desus tentang orientasi seksualnya dan untuk memenuhi syarat warisan dari kakeknya yang konservatif. Dan wanita di depannya, dengan wajah yang polos dan situasi hidupnya yang hancur, tampak seperti kandidat yang mudah dikendalikan. Polisi tidak akan membantu memperbaiki hatimu, Nona," kata Alvaro dingin. "Tapi aku punya penawaran lain." Aurora menatapnya bingung. "Penawaran?" Alvaro mengeluarkan kartu namanya dari saku jas basah dan menyodorkannya ke depan Aurora.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Unscentable

read
2.1M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
857.5K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.1M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
1.0M
bc

A Warrior's Second Chance

read
393.3K
bc

Not just, the Beta

read
366.1K
bc

The Broken Wolf

read
1.2M

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook