Azka POV
Penilaian pertamaku tentang Akifa Naila adalah: dia cantik, manis, matanya bulat, sopan, dan dia soleha.
Penilaian plus tentangnya bertambah saat sesi perkenalan, dia berbeda dengan calon yang sebelumnya ganjen dan benar-benar berpakaian tidak sopan. Sepertinya Mama sudah sadar kriteria seperti apa yang aku cari.
Dia menangkupkan kedua tangannya didepan d**a "Akifa Naila," ucapnya saat perkenalan. Wajahnya yang tertunduk, aku rasa itu bukan karena dia malu, tetapi dia ingat soal syariat Islam.
Aku mengikuti apa yang dilakukannya tadi "Azka Putra," senyum ku mengembang begitu saja, yah mungkin perjodohan ini dapat aku pertimbangkan.
"Nak Azka, jangan salah sama tampang dewasanya Kifa ini," aku mengerutkan keningku, apa maksudnya tante Sarah coba.
"Kifa ini manjanya luar biasa, yah tante sekedar mengingatkan saja.."
"Mama apaan sih, gak lucu tau," Kifa memotong perkataan tante Sarah cepat, kasihan sekali dia. Pasti malu banget sifat buruknya dibongkar.
"Oh iya Azka ini polisi kan?" tanya om Hendra mengalihkan pembicaraan, sepertinya om Hendra sangat pengertian dengan Kifa.
"Iya om," kulirik kearah Kifa yang terlihat anteng ditempatnya tanpa ada raut keterkejutan.
"Kalau Kifa bekerja dimana nak?" kali ini Mama yang bertanya, aduh kalau dia bilang dia kerja kantoran, langsung aku coret deh dari daftar.
Ntah kenapa aku tak suka dengan perempuan yang bekerja di kantor.
"Aku kerja di rumah sakit umum kota tante," jawabnya sopan dengan suara yang lembut luar biasa.
"Dokter?" Mama kepo banget sih.
"Bukan tante, Kifa suster disana," beruntung Kifa bekerja sebagai suster, yah sepertinya aku cocok dengan yang kali ini.
Akifa POV
Benar dugaan ku Azka seorang polisi, untung dia bukan pengusaha seperti yang ada di bayanganku pertama kali.
Yah kalau dia cocok dengan ku, mungkin aku tidak akan menolak yang kali ini.
"Umur nak Azka 27 tahun kan ya?" sepertinya Mama akan memulai aksinya. Dari gerak gerik tante Dewi sepertinya mereka akan berkomplot.
Aku lihat Azka mengangguk tegas, dia benar-benar mencerminkan seorang polisi dari sikapnya.
"Nah Kifa umurnya 24 tahun, jadi cocokkan. Tidak terlalu jauh perbedaannya," benerkan ajang promosi akan dimulai.
"Iya tante setuju banget kalau Azka sama Kifa, Kifa kan cantik dan soleha juga," sambung tante Dewi, mampus deh kalau acara ini masih lama selesainya.
Aku cuma bisa meringis meratapi nasib ku saat ini, sedangkan Azka dia tetap adem ayem dengan obrolan ini. Jelas lah dia kan polisi, pasti sudah dilatih untuk dapat menahan emosi.
"Aduh Wi kalau kita besanan pasti seru banget," aduh Mama parah banget sih, terang-terangan banget kode perjodohannya.
Aku tetep pura-para sibuk dengan sup jagung pesananku. "Papa gimana? Setuju gak kalau kita besanan?" gak Mama gak tante Dewi sama saja.
"Papa sih setuju aja, wong menantunya cantik kayak Kifa. Kau gimana Hendra? Setuju anakmu jadi anakku juga?" alamak ini lagi yang bapak-bapak pada ikut-ikutan.
"Jelas aku setuju, aku percaya Azka bisa menjaga Kifa," astaga lampu hijau itu dari Papa. Bakalan diteror nih sama Mama bau-baunya.
Azka POV
"Umur nak Azka 27 tahun kan ya?" Tante Sarah memulai introgasinya, sebagai jawaban aku hanya bisa mengangguk.
"Iya tante setuju banget kalau Azka sama Kifa, Kifa kan cantik dan soleha juga," Mama menimpali perkataan tante Sarah, Mama dan tante Sarah pasti bakalan klop banget nih soal rumpi.
Aku sudah ingin tertawa terbahak-bahak melihat eksperi Kifa, shock banget kayaknya. Aku hanya mendengarkan setengah hati percakapan para orang tua, aku lebih tertarik melihat perubahan raut wajah Kifa yang sangat lucu.
"Ehem, Azka," dehaman dari Papa membuatku tersadar dari lamunanku tentang wajah Kifa. Astaghfirullah...
"Belum muhrimnya, jangan diliatin terus. Dosa!!" mampus, Papa ember banget sih...
Aku cuma bisa meringis, yah mau dibantah dosa. Wong itu benar adanya aku ngeliatin Kifa terus. Mau bilang iya malu banget pasti plus gengsi.
***
Pagi ini sehabis sholat subuh perasaan gelisah merayap ke dalam relung hatiku. Aku sedang bersiap dengan baju dinasku, berkali-kali mematut diri di depan cermin. Biasanya aku tak pernah seperti ini.
"Pagi Ma Pa," sapaku kepada kedua orang tuaku yang sudah duduk manis di meja makan, kebiasaan keluarga kami adalah sempat tidak sempat harus disempatkan sarapan bersama.
"Kamu itu sudah waktunya untuk disapa dan menyapa istri," omelan Mama dimulai, aku hanya bisa menyeringai mendengarkan omelan Mama.
"Bagaimana dengan Kifa?" kali ini Papa sudah meletakan dan melipat korannya. Papa menunggu jawabanku dari pertanyaan Mama.
"Akan aku pertimbangkan," ucapku cuek sambil tetap menyendokkan nasi goreng buatan Mama. Kulihat Papa tersenyum puas mendengar jawabanku.
"Kifa itu cantik dan soleha, cepat tentukan pilihan sebelum menyesal," Papa mengatakannya dengan nada penuh harap. Kalau sudah begini pasti akan susah untuk menolak.
Yah walaupun Kifa memang kriteria calon istriku. "Aku berangkat Ma Pa, Wassalamu'alaikum."
Akifa POV
"Jadi gimana acara tadi malam?" Mbak Rere bertanya soal tadi malam, Mbak Rere salah satu teman akrab ku yang sudah aku anggap kakak sendiri. Aku memang sering curhat dengan mbak Rere.
"Yang pasti kali ini gak seperti sebelumnya" aku menjawab tanpa melihat ke arah Mbak Rere, aku dan Mbak Rere sedang berjaga di ruang UGD.
"Jadi...." perkataan Mbak Rere terputus karena tiba-tiba ruang UGD dibuat sibuk, ada korban penembakan yang dibawa oleh beberapa polisi.
Aku yang sedang berjaga dengan beberapa suster langsung menghambur, aku membersihkan darah yang mengalir di area bawah perut.
Tak perlu waktu lama dokter Fajri muncul bersama beberapa suster Ana dan suster Maya.
Keributan yang terjadi begitu mencekam, korban penembakan sudah banyak kehilangan darah, korban penembakan itu sendiri seorang perwira polisi.
Satu jam berlalu dengan kesibukan disana sini, korban sendiri baru bisa dipindahkan keruang rawat besok, dikarenakan ruang rawat sedang penuh.
"Aduh Mbak, jadi polisi itu bahaya juga ya. Jabatan perwira saja tidak menjamin kita bisa tertembak peluru atau tidak," ntah kenapa aku jadi teringat seseorang.
"Fa setiap pekerjaan itu memiliki resiko tersendiri," mbak Rere memang sosok kakak yang hangat.
"Kifa kamu hari ini jaga malam kan?" jangan kalian kira aku ini hansip, aku ini suster. Kami memiliki jadwal jaga yang sudah ditentukan.
"Iya mbak, yang gantiin Mbak malam ini siapa?" sekarang Mbak Rere sedang hamil muda, jadi mbak Rere selalu masuk pagi.
"Mbak ikut jaga malam kok, dokter Hadi harus memantau seorang pasien di ICU karena kondisinya yang masih kritis," jelas Mbak Rere panjang lebar, dokter Hadi sendiri adalah suami Mbak Rere.
"Paling ntar di atas jam 12 mbak izin tidur di ruangan dokter Hadi hehehe," tambah Mbak Rere sambil nyengir.
"Duh enaknya jadi istri dokter kepala hihihi," ucapku menggoda mbak Rere sambil tertawa kecil.
Tiba-tiba pintu ruangan UGD terbuka dan masuk lah beberapa polisi dan sepertinya beberapa petinggi rumah sakit yang belum pernah aku lihat.
Aku memang baru 3 bulan bekerja di sini, "sttt ada yang mbak kenal diantara mereka?" kadang aku memang sedikit kepo orangnya.
Belum lagi Mbak Rere menjawab pertanyaanku, aku sudah menahan napas melihat siapa yang berdiri di antara mereka yang masuk ke ruang UGD.