Azka POV
Aku baru saja mendapat laporan kalau baru saja Jendral Herlambang menjadi korban penembakan.
"Bagaimana kejadiannya bisa terjadi?" aku panik, bagaimana tidak. Jenderal Herlambang adalah orang yang sudah aku anggap sebagai Ayah sendiri.
"Katanya saat Jenderal keluar dari dalam rumah akan masuk ke dalam mobil tiba-tiba saja terdengar suara tembakan," jelas rekan sejawatku Dani.
"Sebaiknya kita melihat keadaan Jendral yang dibawa ke rumah sakit umum kota," saran Dani.
"Belum juga kelar ketiga masalah kemarin, sekarang masalah baru lagi. Hobi sekali mencari masalah ck!" gerutuku sepanjang perjalanan menuju rumah sakit.
Keadaan UGD di rumah sakit kota benar-benar sibuk. Orang-orang berpakaian putih berjalan bolak balik.
"Kau tenang saja, Jendral baik-baik saja. Aku dengar Jendral akan dipindahkan ke ruang rawat besok pagi," aku menghela napas lega, setidaknya keadaan Jendral tidak begitu parah.
"Saya mau malam ini kalian berdua berjaga disini!!" perintah KOMJEN Malik.
"Siap Jendral!!!"
***
"Apa pendapatmu tentang kasus ini?" pertanyaan itu dilontarkan oleh Dani, aku dan Dani bersahabat sejak duduk dibangku kelas 11.
"Ini merupakan kasus bersambung," gumamku pelan, sejak tadi aku sudah memiliki pemikiran seperti ini. Sekarang aku dan Dani sedang berjaga di ruangan UGD.
"Coba kau lihat ke arah suster-suster disana, salah satu di antaranya ada yang mencuri-curi pandang kesini," dasar Dani playboy.
"Coba sekali saja pikiran playboymu itu sirna!" aku hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya.
Walaupun begitu aku tetap melihat ke arah para suster yang dimaksud Dani, sebenarnya mereka semua memperhatikan kami dengan terang-terangan. Namun salah satu diantaranya hanya melirik sesekali saja.
Suster itu mengenakan jilbab putih, tepat saat itu matanya menatap kearahku. Bola mata itu...
Akifa Naila
Aku tersenyum ke arahnya yang terlihat gugup karena tertangkap sedang curi-curi pandang. Aku hampir saja melupakan fakta bahwa Kifa seorang suster.
"Tadi kau ngomel-ngomel sekarang kau yang tebar pesona ke arah mereka," aku memutar bola mataku cepat. Dasar perusak suasana.
"Kau tak lihat semua suster di sana hampir pingsan karena senyuman mautmu itu?" aku tak menanggapi lagi perkataan yang dilontarkan Dani.
Saat aku sedang asik memperhatikan gerak-gerik Kifa pintu UGD terbuka. Masuklah seorang dokter muda yang menangani Jendral tadi.
"Dia itu dokter Fajri," aku menaiki sebelah alisku. Apa urusan aku dengan dokter itu.... Dani benar-benar tukang gosip kelas wahid.
"Kabarnya semua suster dan dokter perempuan disini memujanya," Dani akan memulai acara gosipnya kali ini. Acara Polisi gosip keren juga...
"Tapi sayang, dia sudah memiliki incaran calon istri. Kau ingin tahu yang mana calonnya?" aku tak berkomentar sama sekali. Aku hanya memperhatikan dokter muda itu ikut duduk bersama para suster disana.
"Suster cantik yang mengenakan jilbab disana, yang mencuri-curi pandang kemari tadi."
"Uhuk.. Uhuk.. Uhuk...." aku tersedak kopi yang aku minum saat mendengar perkataan Dani barusan.
Aku melotot tak percaya, masih shock. Suster yang dimaksud Dani adalah Kifa. Ntah kenapa ada perasaan marah, sakit, dan nyeri menelusup kedalam dadaku.
"Pelan-pelan kenapa, mau nambahin kasus baru lo? 'Ajun Inspektur satu polisi mati karena tersedak kopi saat bertugas' gak lucu banget tau ga,k" sialan banget nih anak. Apa dia gak sadar kalau ini akibat perbuatannya barusan....
"Lo tau dari mana soal gosip itu?" aku melirik sinis ke arah Dani, dasar tukang gosip. "Kebetulan Fajri itu teman SMA gua dulu, dia cerita soal tu suster saat reuni."
Aku terdiam memikirkan kesempatan yang aku miliki mungkin akan sirna.
Akifa POV
Setelah sholat duha aku mengistirahatkan tubuhku yang lelah, aku mendapat libur satu hari. Tadi malam terpaksa tiga orang suster harus ikut berjaga malam.
Baru saja aku akan memejamkan mata, tiba-tiba saja pintu kamaaku diketuk.
"Sayang, boleh Mama masuk?"
"Masuk aja ma, gak dikunci kok," tumben sekali Mama mengganggu acara tidurku, biasanya Mama tahu kalau jam segini aku pasti sudah mau terbang ke alam mimpi.
"Nanti habis magrib kamu siap-siap ya, ada temen Papa dan Mama yang akan makan malam disini," oh my God.
"Kali ini siapa lagi ma?" aku sudah sewot duluan kalau mendengar acara makan malam dengan teman Mama atau Papa.
"Kamu tu yah, gak boleh suuzon sama orang tua sendiri," aku mendengus jengkel mendengar pembelaan Mama.
"Pokoknya Mama gak terima alasan apa pun!" ini namanya pemaksaan!!!
"Iya iya, sekarang Kifa mau tidur dulu ma, ngantuk banget nih," tanpa mendengar jawaban Mama, aku sudah masuk bergelung didalam selimut, memejamkan mataku erat.
***
Tok tok tok
"Kifa kamu ngapain sih lama banget!" teriak Mama dari depan pintu kamarku.
Ceklek...
"Gak sabaran banget sih Ma!" aku menggerutu pelan sambil mengikuti Mama turun ke meja makan.
Aku kaget setengah hidup melihat siapa yang ada di meja makan sekarang, mereka sedang asik berbincang dengan Papa ketika aku dan Mama datang.
Saat aku duduk tepat dihadapannya aku menunduk semakin dalam, aku tak boleh tenggelam dalam tatapan elangnya.
Dia... Azka Putra
Laki-laki yang entah bagaimana bisa membuatku sering memikirkannya beberapa waktu ini.
Acara makan malam berlangsung hangat denga topik pembicaraan mengenai bisnis antar kedua orang tua kami.
"Setelah makan bagaimana kalau kita ngobrol-ngobrol dulu?" astaga saran Om Aji gak banget. Aku gak mau pertemuan ini semakin membuat aku terjerumus jurang cinta. Astaghfirullah....
Mau tak mau aku ikut bergabung bersama mereka setelah mendapat pelototan maut dari Mama. Kini aku duduk manis berhadapan dengan Azka.
Terkadang kami berdua saling curi-curi pandang. Aduh malu banget kalau sampai Azka lihat muka aku yang udah merah kayak tomat gini.
"Begini Hen, saya datang kemari ingin melamarkan putri anda Akifa Naila untuk anak kami Azka Putra" aku shock setengah sadar mendengar perkataan Om Aji.
Aku dilamar?
"Untuk semua keputusannya ada pada anak saya Kifa, jadi Kifa bagaimana?"
Aku masih diam membisu, Mama menggenggam lembut tanganku. Memberikan kehangatan untukku.
Aku melihat semua tatapan orang-orang yang ada diruangan ini menunggu jawabanku.
"Dijawab sayang," ucap Mama membangunkan ku dari pemikiranku.
Aku mengatur nafasku, lalu aku mengangguk dengan tegas "ya saya bersedia menerima lamarannya."