Dareen Bisa Jadi juga Ayahnya

1250 Words
"Ap-apa yang ...?" Ucapanku bahkan tertahan sambil memegangi bibir bekas Mas Dareen menciumnya. Ingin marah, tapi ada Mas Dewa di sini. Sangat aneh kalau aku marah dicium oleh pria yang dari kemarin sengaja kubuat tameng untuk memanas-manasi mantanku. Aku juga tak mau pernikahanku dianggap pura-pura olehnya. Tapi .... Kalau nggak marah, Mas Dareen akan merasa besar kepala karena aku membiarkannya menciumku begitu saja. Dan besok-besok pasti diulangi. Oh tidak! Ish, kenapa juga harus menciumku? Sikapnya membuatku bingung! "Pandai sekali kamu mencuri start, Dareen. Cuih!" Mas Dewa mengucap sinis. Aku tahu kini dia benar-benar terbakar! Pria itu pasti tak menyangka kalau aku akan berciuman di depannya. Sesuatu yang mematahkan pikiran Mas Dewa, bahwa aku tak mungkin bermesraan dengan suamiku karena pernikahan kami hanya pura-pura. "Ah, sudahlah. Terserah kalian mau ngapain apa peduliku." Suara Mas Dewa terdengar melemah. Bagus! Dia pasti sudah menyerah dan tak lagi meremehkan hubunganku dengan Mas Dareen. "Kuharap kamu tak menyesal Kalila. Kapan pun kamu ingin kembali, aku akan menerimamu." Ah, kenapa Mas Dewa jadi sebucin itu. Kalau aku Mas? Ogah balikan sama kamu! "Qinara belum tentu hamil anakku, Kalila." Mas Dewa memulai penjelasannya. Baru satu kalimat saja hatiku sudah sakit. Belum tentu katanya? Apa itu penting? Yang penting dia sudah tidur dengan adikku. Bagaimana bisa dia melakukan itu? Apa aku harus membalasnya dalam waktu dekat dengan menagajak Mas Dareen tidur bersama? Toh kami sudah halal! "Malam itu ... setelah main catur dengan Papa, dan kamu tak kunjung keluar, aku pun memutuskan pulang. Tapi tiba-tiba bertemu Qinara yang akan balik ke kostannya." Pria itu mengingatkan bagaimana aku ngambek suatu malam. Entah, dia sengaja membahas itu agar aku merasa bersalah atau memang begitu kejadiannya. Gimana aku nggak ngambe, dia janji datang berkunjung lepas sholat isya. Tapi jam sepuluh malam baru datang, dengan alasan-alasan yang menurutku tak masuk akal. Sampai sini sebenarnya aku sudah bisa membaca situasinya. "Sebenarnya aku sendiri tak mengerti bagaimana malam itu terjadi, Kalila. Dia memberiku minuman di kostan, yang membuatku ..." "Oke udah cukup, Mas. Aku bisa membaca apa yang terjadi." Aku mana sanggup mendengar kisah mereka yang tidur bersama. Rasanya pengen kujambak, kubejek-bejek pria di depanku ini. Apa dia tak memiliki hati untuk mengukur perasaanku, dia kekasihku, calon suamiku dan menceritakan bagaimana dia tidur dengan adikku. Gila! Benar-benar gila! Bagaimana dia bisa khilaf, dan wanita itu adalah adikku!! "Tapi ... Bisa jadi anak dalam kandungannya adalah anak orang lain," sambungnya. "Sekarang kamu mau bilang kalau adikku gadis murahan, Mas?" Bagaimana bisa Mas Dewa mengatakan itu? Walau bagaimana aku ini kakaknya Qinara. "Heh!" Aku sampai geleng-geleng. Dia sangat percaya diri mengatakan itu. Bukannya aku maklum padanya. Yang ada tambah muak karena seolah yang salah hanya Qinara! "Bukan begitu, La." Mas Dewa melirik pada Mas Dareen. Seolah dia juga menyalahkan pria itu. "Entah, kenapa semua ini seperti sudah diatur." "Apa maksud Mas Dewa?" Aku merasa dia menjelaskan terlalu bertele-tele. "Apa maksudmu sekarang?" Mas Dareen menyilang tangan di d**a. Tampaknya ia merasa sebuah panah diarahkan padanya. "Malam di mana aku keluar dari kamar Qinara, aku melihat em ... dia." Mas Dewa menunjuk ragu dengan kepalanya ke arah Mas Dareen. Sontak saja pria itu terkejut. Mas Dareen menegakkan tubuhnya menatap lekat-lekat pada Mas Dewa. "Cukup! Jadi apa yang sebenarnya Mas Dewa ingin katakan?" cecarku. "Bisa saja anak dalam kandungan Qinara adalah anaknya, kamu tahu kan dia playboy dan suka tidur dengan banyak wanita. Karena uangnya yang sangat banyak itu, dia menyuap Qinara untuk membuat situasi bahwa aku lah ayahnya. Dan sejak awal aku tahu, kalau Darren itu menyukaimu Kalila," ucap pria itu panjang lebar. Hal itu sulit ku percaya. Kenapa aku tak tahu kalau Qinara dan Mas Dareen dekat? Tapi untuk apa Mas Dewa berdusta? Hal tak terduga lain terjadi, Mas Dareen tiba-tiba saja bangkit dan menarik kerah pria yang sudah menikahi Qinara itu. "Berengsek! Kenapa kamu membawa-bawa aku!" Mas Dareen tampak emosi. "Heh! Kenapa? Kamu takut ketahuan? Harusnya kamu tidak jadi pahlawan kesiangan, menggantikan posisiku untuk Kalila yang justru membongkar kebusukanmu sendiri!" Mas Dewa masih Keukeh dengan pendapatnya. "b******k! Kamu pikir aku sekotor itu!" Dilayangkan sebuah pukulan keras ke wajah Mas Dewa, hingga pria itu jatuh. "Mas! Hentikan!" teriakku. Aku yang tadinya mulai luluh pada Mas Dareen, tiba-tiba kembali kesal karena cerita Mas Dewa. Dua-duanya sama! Dua pria b******k yang Tuhan hadirkan dalam hidupku. "Kamu percaya padanya, La?" tanya Mas Dareen. Dia seolah tak terima atas tuduhan Mas Dewa. Aku terdiam. Aku tak mengerti harus percaya pada siapa? Dua-duanya membuatku kesal. Hal itu membuat Mas Dareen tampak frustasi. Pria itu mengusap wajahnya dengan kasar. "Yah, mana bisa kamu memercayaiku? Bukankah aku bukan siapa-siapa bagimu?" "Aku tidak tahu, Mas. Bagaimana aku bisa mempercayai kalian?" ucapku parau. Melihat fakta bahwa calon suamiku pernah tidur dengan Qinara saja sudah sangat menyakitiku. Bagaimana jadinya jika suamiku juga pernah tidur dengan Qinara? "Aku bersumpah apa yang dikatakan Dewa tidak benar Kalila? Aku bahkan tak pernah menyentuh Qinara, untuk apa aku tidur dengannya?" Aku menghela napas. Katanya untuk apa tidur dengan Qinara? Tentu saja jawabannya sudah jelas, karena dia pria yang haus cinta banyak wanita. Merasa tak memiliki harapan meski Mas Dareen mengatakannya dengan sumpah. Kuraih tas di atas meja lalu pergi mendahuluinya. "Heh! Dunia harus berjalan dengan adil! Kalau aku tak bisa memilikinya karena fitnah ini, kamu juga tidak boleh memilikinya Dareen!" Sayup kudengar seiring langkahku yang menjauh Mas Dewa mengucap kemenangannya pada Mas Dareen. "Kamu! Beraninya kamu berdusta!" Pria itu masih tak terima. Tapi tampaknya, dia memeilih mengejar ku ketimbang debat dengan Mas Dewa. Karena tak lama setelahnya, Mas Dareen memanggil namaku. "Kalila, tunggu!" Ah, entah siapa dia antara mereka yang benar, aku tak tahu! Sampai di parkiran, langkahku yang cepat sudah terjangkau oleh Mas Dareen. Aku benar-benar muka padanya sekarang. "Laki-laki sama saja!" makiku tak peduli. Namun, bukan Mas Dareen namanya kalau menyerah. Pria itu meraih tangan dan memegangku kuat-kuat! "Dengarlah! Oke, terserah kalau kamu lebih percaya Dewa dari pada aku. Terserah kamu menganggapku b******n! Tapi asal kamu tahu satu hal Kalila, aku menikahimu karena permintaan nenek yang syok dan nyaris jatuh karena keributan kemarin." Mas Dareen bicara panjang lebar. "Apa?" Aku sangat terkejut. Jadi itu alasannya kenapa Mas Dareen mau menikahiku? Selama ini dia dan Nenek memang dekat, apalagi ... Nenek punya jasa besar bagi keluarganya. "Ya ... Kamu tahu kan Nenek punya penyakit jantung. Dan Nenek sudah banyak berjasa pada keluarga kami. Selain itu karena aku ...." "Aku?" Mataku menyipit menunggu jawabannya. "Ah, itu tak penting! Yang jelas sekarang. Kalau pernikahan kita tiba-tiba berhenti karena kemarahanmu ini, Nenek bisa ...." Ucapannya melemah dan menggantung, seiring hatiku yang lemah. "Aku mohon Kalila demi Nenek." Mas Dareen seperti tengah menghiba padaku. Ini lucu, kenapa justru dia yang bukan cucu kandungnya memohon padaku untuk bertahan demi nyawa nenekku? Apa sudah seburuk itu nilai kemanusiaanku? Benar juga, apa pentingnya suamiku baik atau tidak. Toh kehidupanku sudah hancur sejak kemarin. Yang penting sekarang adalah bagaimana kami tidak berhenti sekarang. Di saat usia pernikahan kami belum genap 24 jam. "Kalila?" Aku mendesah. "Oke, Mas. Oke! Tak perlu bicara seolah aku tak punya hati. Kita bersandiwara saja. Sampai aku bisa menjelaskan pada Nenek, kita harus bercerai! Mas harus janji tidak lagi berbuat kurang ajar dan menyentuhku lagi." "Tapi ... aku tak pernah menyentuh Qinara." "Buktikan itu dan jangan hanya bicara. Jujur saja aku jijik pada kalian berdua, Mas!" Aku tak bisa menahan ucapan untuk tidak memakainya. Mau bagaimana lagi kenyataaannya memang demikian, aku jijik pada laki-laki yang membuang barangnya di sembarang lubang! Bersambung Nah lo ... Dareen bisa dipercaya gak sig? Seperti apa pernikahan Kalila nantinya. Apa dia bakal bucin sama Dareen? Next, POV siapa ya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD