Senyum Mas Dewa

877 Words
"Aku juga tahu alasanmu kenapa tiba-tiba menikahi Kalila." Ucapan terakhir Mas Dewa membuat mataku sontak menyipit ke arahnya. Dia tahu? Benarkah? Sementara Mas Dareen terlihat diam, menatap pria itu. Lebih tepatnya terlihat tenang. Entah, apa yang ada dalam pikirannya sekarang? "Oya?" Mas Dareen manggut-manggut kemudian. "Huft." Pria itu meniup pelan udara dari mulutnya. Lalu berbalik tubuh menatapku. Sadar ia akan bicara padaku, aku pun menghadap Mas Dareen hingga kami saling tatap. "Katakan padaku, kamu ingin bicara padanya?" tanya Mas Dareen, menatapku dalam. Aku menggeleng. Meski aslinya sangat ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang Mas Dewa lakukan sampai Qinara bisa hamil? Kenapa dia bisa tiba-tiba menjalin hubungan dengan Qinara, dan sejak kapan? "Aku ulangi lagi." Mas Dareen masih menautkan tatapannya padaku. Tak beralih sedikit pun. "Pergilah dan dengarkan dia untuk sekarang. Hanya sekali ini aku akan mengizinkannya, Kalila. Jika kamu menolak sekarang, kamu tidak akan mendengar apa pun lagi dari pria itu ...." "Kamu!" Suara Mas Dewa terdengar menekan. Saat menoleh, kulihat pria itu tampak kesal, mengepalkan kedua tangan menahan amarahnya. Mungkin, karena Mas Dareen berhasil membuatnya kesal. Suami dadakanku itu, menunjukan otoritasnya sebagai seorang suami. Mengatakan pada dunia, terutama pada Mas Dewa, bahwa seorang Kalila ada pemiliknya. Bukan lagi gadis bebas yang mudah diajak bicara tanpa ada pria yang marah karena memegang tanggung jawab penuh terhadapnya. "Kenapa kamu marah, Mas? Dia suamiku. Tentu saja aku tak boleh bicara dengan pria lain tanpa seizinnya." Kusilang tangan menghadap pria itu. "Lagi pula ini aneh, kenapa baru setelah akad kamu kalang kabut ingin menjelaskan kesalahanmu. Apa gunanya? Kenapa kamu diam dan pasrah saja, saat Qinara bilang itu anakmu dan ... dan ...." Mataku memanas. Aku tak kuat menghadapi ini. Ah, kenapa aku seperti ini! Sakit sekali membohongi diri sendiri? Mas Dareen tiba-tiba meraih tanganku, lalu menariknya. "Kita pergi saja! Pria itu merusak mood kamu." "Kalila?" panggilnya kala tubuhku tak bergerak mengikutinya. Aku malah menunduk menyembunyikan wajah, di mana dua mata sudah serasa sesak dijejali air mata yang berdesakan ingin keluar. Aku ingin mendengar penjelasan Mas Dewa dan tahu apa yang terjadi. Dia juga bilang tahu alasan Mas Dareen mau menikahiku. Aku sangat penasaran untuk dua hal itu. Baru saja hidup semalam dengannya, pria itu sudah banyak menarik perhatianku. Tiba-tiba saja aku takut jika dia mempermainkanku dan pernikahan kami. Bukankah lebih baik tahu sekarang, sebelum kami hubungan ini terlalu dalam ... siapa yang bisa menduga masa depan? Bisa saja aku jatuh cinta padanya seperti gadis-gadis lain yang mengenalnya, atau bahkan semakin merindukan Mas Dewa. Akan lebih baik jika tahu sekarang ... maka aku bisa menyetir hatiku dengan benar. "Mas aku ingin bicara dengan Mas Dewa," lirihku. Aku mendongak menatap wajah tampan Mas Dareen dengan tatapan berembun. Bisa kulihat raut kecewa di wajahnya. Dilepasnya tanganku perlahan seiring tatapannya yang meredup. Pria itu mengangguk. "Okay. Fine." "Bukannya tadi Mas bilang hanya mengizinkanku kali ini?" tanyaku. Aku mungkin bukan muslimah yang baik dan taat, tapi aku tahu bahwa wanita yang sudah bersuami hanya boleh melakukan sesuatu jika suaminya mengizinkan. Apalagi bicara dengan pria lain seperti ini. Ah, menyedihkan ... saat menyebut pria yang kucintai sebagai orang lain. "Ya, ya. Kamu benar Kalila." Mas Dareen manggut-manggut. "Pergilah," ucapnya lemah. Pria itu kemudian melangkah pergi. Sementara aku mengikuti Mas Dewa memasuki lobi hotel lalu menuju sebuah restoran di lantai dua, dengan menaiki eskalator. Dari sini aku bisa melihat Mas Dareen sedang antri untuk membeli kopi di bawah sana. Jarang sekali aku melihat wajahnya seserius tadi dan juga raut kecewa di sana. Ah, tapi kenapa aku terlalu memikirkannya? Dia memang suamiku. Tapi ... Toh pernikahan kami bukan pernikahan normal, pernikahan darurat karena pernikahan yang seharusnya batal. Pernikahan yang entah bertahan sampai kapan, karena Mas Dareen sendiri bilang akan melepasku ketika aku ingin mendapatkan Mas Dewa kembali. "Aku senang Dareen gentleman sebagai seorang pria. Dia menyelamatkan harga diri keluargamu. Heh." Ucapan Mas Dewa membuatku sontak menoleh ke depan dan mendongak menatapnya. Pria itu menaikkan satu sudut bibirnya. Seolah tak suka pada keputusan Mas Dareen . Sama denganku, rupanya pria itu juga memperhatikan gerak-gerik suamiku. "Aku tahu dia akan mengambil kesempatan ini. Otak bisnis sepertinya, mana bisa membiarkan peluang lewat begitu saja di depannya?" sambungnya, yang membuat dahiku mengerut karena berpikir. Apa sebenarnya maksud pria itu? Kenapa seolah-olah Mas Dareen sangat berdosa, sampai dia lupa pada kesalahannya sendiri yang begitu besar. "Apa maksudmu, Mas?!" tanya dengan mata menyipit. "Kenapa terus membahas Mas Dareen?" "Ouh?" Pria itu menoleh padaku. "Ya. Maaf. Aku lupa, kita akan membahas tentang kita saja." "Kamu sangat lucu, Mas," ucapku ketus. Kini kami sudah di lantai dua. Aku terus berjalan mengikutinya. "Jangan terlalu jauh, aku tak mau suamiku kesulitan mencariku!" perintahku pada pria jangkung di depanku. Tak ada jawaban. Ia terus berjalan hingga ke satu meja. Aku sengaja memanas-manasinya, bahwa keberadaan Mas Dareen sekarang ini lebih penting dari padanya. "Duduklah. Aku tak akan memakanmu, La. Kamu sudah lama mengenalku. Kenapa bersikap seolah sangat kejam padaku?" Pria itu sudah duduk dengan nyaman di seberang meja. "Masih bertanya?" lirihku kesal. Baru saja akan menarik kursi, tiba-tiba seseorang sudah menariknya lebih dulu. Sontak saja hal itu membuatku dan Mas Dewa menoleh ke arah orang yang kupikir adalah pelayan. "Dareen?" Mas Dewa mengucap tak suka pada kehadiran suamiku. Pria itu tersenyum. "Maaf jika kamu tak suka, mana bisa sebagai suami kubiarkan istriku bicara berduaan dengan pria lain?" Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD