Seperti Di Neraka! kau jahat Andri!!

4713 Words
Ajaran baru di setiap sekolah dimulai, tepat hari Senin pagi murid- murid ajaran baru mulai memenuhi halaman sekolah, menyambut upacara dan pembagian kelas – kelas yang akan mereka masuki, termasuk Olivia yang mengikuti neneknya ke ruangan kepala sekolah. Via tidak mengikuti upacara karena dia murid pindahan. Sebenarnya via tidak mau di sekolah ini tapi karena sekolah unggulan di kampung neneknya sudah penuh mau tak mau via harus pindah ke sekolah umum ini, walaupun dengan berat hati. Setibanya di ruangan kepala sekolah via dan nenek di sambut ibu Tini selaku kepala sekolah. Beliau melirik via yang berpenampilan hitam dan gemuk, seakan kaget melihat penampilan gadis ini. “assalamuallaikum, selamat pagi ibu Tini “ sapa nenek via dengan ramah. “ wallaikum salam Bu Fiana dan selamat pagi juga, langsung saja ya Bu, untuk Olivia karena dia pindahan kita tunggu anak- anak masuk ke dalam kelas terlebih dahulu baru di ikuti Olivia yang nanti akan di pandu wali kelasnya ya Bu” ucap Bu Tini kepada nenek Via. “oh ya Bu, tidak apa-apa, saya rasa via juga pasti belum tahu dimanah kelasnya” ucap nenek sambil melihat ke Bu Tini dan Via. Tidak lama berselang wali kelas baru via masuk ke ruangan kepala sekolah untuk menjemput murid barunya. “ permisi Bu Tini, saya mau menjemput Olivia, karena kelas akan dimulai” ucap wali kelas via “ Oh iya Bu, silahkan “ sahut Bu Tini “Ayo via ikuti wali kelas mu dan mulai ikuti pelajaran yang nanti akan di bimbing beliau” Ucap kepala sekolah kepada Olivia. “ Baik Bu” lirih via sambil mengikuti wali kelasnya, tidak lupa iya juga mencium tangan ibu kepala sekolah dan neneknya yang juga ikut keluar untuk pulang. “Via nanti kamu bakal di jemput sama bang Jack ojek langganan nenek ya” ucap nenek “Iya nek, via sekolah dulu ya nek, hati-hati pulangnya nek” ucap via sambil meninggalkan nenek yang berjalan keluar sekolah baru nya. Tak butuh waktu lama via sudah sampai di ruangan kelasnya, yang sangat berisik karena tidak ada guru. Dengan hati yang gugup via mengikuti dari belakang punggung wali kelasnya. “Anak-anak ayo duduk di bangku kalian masing-masing kita akan memulai pelajaran dan sebelumnya ibu akan memperkenalkan teman baru kalian yang pindah dari kota kesini, ayo via perkenalkan dirimu pada teman – teman di kelas” ucap wali kelas yang menatap via lembut. “Selamat pagi teman – teman, perkenalkan saya Olivia Zein, sebelumnya teman – teman yang lama memanggil saya via” sapa via kepada seluruh teman kelasnya, sambil menahan kegugupannya. “Hahahahah, nama mu cantik tapi sayang tak secantik rupa mu” ujar salah satu murid laki – laki yang duduk di baris terakhir. Semua murid ikut tertawa karena ucapan salah satu teman mereka. Via sangat sedih dan menahan untuk tidak menangis dengan mengepal tangannya mempertahankan kekuatan dirinya. “Zaki! Bukan begitu cara kamu memperlakukan teman baru mu, sekali lagi jika ibu lihat kamu mengganggu Olivia ibu tidak sungkan memanggil orang tua mu! “ ancam wali kelas kepada zaki yang baru saja meledek via. “via, sekarang kamu duduk di bangku mu” sambil menunjuk ke arah bangku kosong yang bersebelahan dengan gadis manis yang tersenyum lembut ke arah via. “Hai via, salam kenal aku sari” ucap gadis yang duduk di sebelah via. “Hai sari, salam kenal ya” sapa via dengan senyum manisnya. Kegiatan belajar mengajar di hari pertama sekolah pun berakhir, selain kejadian Zaki tadi pagi tidak ada anak – anak yang mengganggu via. Via dan murid lainnya pun mulai berhamburan keluar sambil menunggu jemputan mereka datang, begitu dengan via. Tidak butuh waktu lama, bang Jack sudah ada di parkiran sambil menunggu via keluar. Via pun melambai pada bang Jack. Via mengenal bang Jack karena setiap dia berlibur ke rumah nenek, bang Jack setia menjadi ojek langganan nenek. “ bang Jack! “ teriak via sambil melambai ke arah lelaki itu “ neng, ayo sudah di tunggu sama nenek dirumah” jawab bang jack sambil menghidupkan mesin motornya. Dan melaju pulang ke rumah nenek. ****** Direbahkannya badannya di kasur, sambil menenggelamkan mukanya di dalam bantal. ‘Hari pertama saja sudah seperti ini bagaimana satu tahun’ lirih via dalam hatinya, ia menyadari tubuhnya yang gemuk dan kulitnya yang hitam pasti akan jadi sasaran empuk buat teman – teman nya yang jahil. Tiba – tiba sebuah ketukan pintu yang mengagetkan via. Tok.. Tok.. Tok.. “Via, ayo cepat ganti baju mu dan langsung menuju meja makan, nenek tunggu ya makan siang bersama” ucap nenek dari balik pintu. “iya nek, via ganti baju dulu” via menjawab dan bergegas untuk mengganti baju seragamnya dengan pakaian rumah yang nyaman dan menuju ke meja makan, untuk menyantap makan siang yang sudah di siapkan nenek untuk via. Tak butuh waktu lama untuk via berganti baju dan mendekati neneknya yang sudah dahulu duduk menunggu kedatangannya. “Waaah enaknya menu harini, ada gulai labu udang, sambal terasi dan mie gomak kesukaan via semua” “Sudah cuci tangan dulu sana baru kita makan” Via bergegas mencuci tangannya dan segera kembali ke meja makan sambil melahap gulai labu udang kesukaannya, nenek selalu tahu kesukaan cucu nya ini. Sambil lahapnya via makan dia tak sadar dengan tubuhnya yang gemuk, malah dia habis 2 porsi makan orang dewasa. “Enak via? “ “enaaakkkkkk banget nek, nenek mah hebat tau saja kesukaan cucu tersayangnya “ Ucap via sambil tertawa manja. “ Habis makan, belajar ya, bagaimana harini di sekolah ? “ “hmmm ya begitu nek, via belum bisa beradaptasi, apalagi ada anak yang bernama Zaki nek, dia bilang aku gendut enggak pantas dengan nama ku” “Nama mu dan dirimu sama – sama cantik, mereka saja yang belum bisa melihatnya” ucap nenek sambil tersenyum lembut meyakinkan cucunya. “ Nek via gendut ya? Jelek ya nek” tanya via sendu “ Siapa bilang, cucu nenek gendut? Kamu itu masih dalam pertumbuhan jadi enggak usah diet – diet ya via itu berbahaya” ucap nenek yang takut cucu nya akan diet atau melakukan hal aneh. Wajar saja usia via yang beranjak 11 tahun, usia anak ABG yang mulai menyadari fisik dan lawan jenis walaupun belum intens seperti orang dewasa. Setelah mengobrol di meja makan, via beranjak ke kamar untuk sekedar membaringkan badannya. Ini sudah hari ke 7 dirumah neneknya. Sudah 4 hari yang lalu mamanya balik ke belanda. Mama Olivia yang bekerja di perusahaan asing yang mengharuskannya kembali ke belanda dan meninggalkan anaknya di rumah ibunya untuk sementara waktu, sambil mengurus untuk Olivia sekolah dan tinggal di belanda. Mama dan papa via bercerai sebulan lalu setelah kenaikan kelas di sekolah lama via, mereka bercerai dan sepakat hak asuh via jatuh pada mama via. Kata perceraian itu yang membuat hidup via hancur, kebahagiaan yang dulu sirna, sahabat dan sekolah lama nya pun ikut pergi meninggalkannya, atau via yang harus pergi mengikuti keegoisan orang tua nya. Mama dan papa via tak bisa bersama lagi karena setiap mama via balik ke Indonesia untuk liburnya, mama dan papa akan bertengkar apalagi jika waktu libur mama sudah mendekati waktu balik ke belanda. Kedua orang tua yang sama keras kepala yang akhirnya mengorbankan via. Tersentak dari lamunannya via memikirkan hari esok nya, bagaimana hari esok di sekolah, via takut di b***y teman barunya, tapi dia juga tidak mungkin untuk tidak sekolah apalagi baru hari pertama, tidak mungkin bolos. ‘ ya tuhan, semoga saja besok tidak ada yang aneh – aneh’ lirihnya di hati. Tak tersadar via pun terlena dalam lamunannya hingga terlelap tidur. Sore hari sekitar pukul 5 via bangun, dan bergegas mandi. Di basahkannya badannya di bawah shower. Sekitar 20 menit via mandi dan keluar dari kamar mandi, langsung mengganti handuknya dengan kaos dan celana bahan yang longgar dan lembut. Setelah berpakaian rapi ia keluar dan duduk di teras, di lihatnya ada mobil mewah yang berhenti tepat di depan rumahnya, dilihatnya nenek yang sedang bersenda gurau dengan orang di balik mobil mewah itu, karena terhalang tubuh nenek, via tidak bisa melihat siapa orang itu. Tanpa di sadari via, ada anak laki – laki yang duduk di kemudi depan menatap tajam ke arah via, karena terhalang kaca film yang gelap hanya anak laki – laki itu yang bisa melihat via. Dilihatnya via yang tersenyum sambil menikmati camilan yang di sajikan neneknya dan sambil melihat anak kucing yang bergelut hingga membuat via tertawa lucu. Sekitar 15 menit nenek mengobrol dengan orang yang berada di dalam mobil mewah itu yang sekarang mulai melenggang pergi meninggalkan rumah nenek, nenek yang memutar badan hendak masuk ke dalam rumah sudah di halang oleh via. “Nek siapa yang tadi? “ tanya via selidik. “Oh yang tadi itu, pak Anwar, beliau temannya almarhum kakek mu, dan sekarang menjadi pengusaha sukses” jawab nenek sambil berjalan mendekati kursi teras dan duduk. “Ada apa dia mencari nenek? Kok enggak duduk dulu dirumah kita nek? “ “Itu mantu nya baru saja meninggal dunia, nah cucunya sekarang ikut dia sementara untuk menghilangkan traumanya, karena ibunya baru saja meninggal karena kecelakaan” “Kasihan ya nek” “Ya begitulah via kehidupan, sama dengan mama dan papa mu hanya saja mereka berpisah hidup, kelak jika kau sudah besar kau akan mengerti keadaan semua ini, dan tidak lagi bersedih” ucap nenek yang membuat via terdiam lagi dalam lamunannya dan mengingat kejadian pertengkaran orang tuanya sehingga harus bercerai dan berpisah. ***** Via berjalan memasuki lorong sekolahnya, hingga berhenti di depan kelasnya, ada rasa khawatir dan takut untuk memasuki kelasnya. Dengan pelan iya memasuki ruangannya itu, sambil dia melirik ke seluruh bagian kelas, dilihatnya sosok anak laki – laki yang sepertinya baru dia lihat. Tapi teman – temannya seakan – akan sudah lama mengenal anak itu. Via melanjutkan jalannya dan berhenti di sisi bangkunya kemudian meletakkan tasnya dan duduk tanpa berkata ataupun menoleh ke arah kerumunan temannya. Salah satu anak laki – laki yang kemarin baru saja mengejeknya berbicara pada anak laki – laki yang baru pertama kali dilihat oleh Olivia. “Andri, akhirnya kamu balik lagi ya kesini, kami kesepian saat kamu pindah dulu” ucap zaki ke pada anak laki – laki itu. ‘oh jadi anak itu namanya Andri’ ucap via dalam hatinya. “Iya Ndri kami senang kamu balik lagi, ada lagi yang mentraktir bakso di kantin, hehehe” seru murid lain yang di ikuti sorakkan dari murid lain. “hhuuuuuu dasar kamu cup tahunya gratisan saja” lirih anak perempuan yang sedari tadi berusaha mendekati Andrian. “Eh ada anak baru ya di kelas kita? “ tanya Andrian pada teman – temanya . “ Si jelek itu ya, namanya Olivia di panggilnya via, tapi karena enggak cocok dengan badannya yang besar dan jelek kami sepakat memanggil dia oli” ledekan Zaki membuat semua anak – anak menatap ke arah via dan mengejeknya. “Katanya dari kota, tapi mukanya lebih jelek dari orang kampung, apalagi kulitnya yang hitam seperti m****t” hina Lia si primadona di kelasnya. Tapi sayang perangainya tak secantik wajahnya. Via yang berusaha untuk menahan dirinya untuk tidak marah dan meladeni teman nakalnya itu. Dia memilih memasang headset dan mendengarkan lagu India kesukaannya, lumayan setidaknya bisa sebagai penyumpal kupingnya dari pendengaran yang buruk kepada nya. “Tuh sok oke banget kan, aku jijik lihat anak baru itu” ucap Lia yang kesal karena tak di hiraukan oleh via, dan berjalan kasar mendekati via. Tap.. Tap.. Tap “ Heh gadis jelek, belagu banget kamu menghiraukan ucapan aku! “ ucap Lia sambil menarik headset yang terpasang di kupingnya dan langsung merusaknya di depan mata via. “Kamu kenapa ngerusak headset ku! “ bentak via yang emosi kepada Lia. Lia tak terima dan menjambak rambut Via. “Oh jadi kamu enggak suka! Mau melawan aku! Hah!!! “ Bentak Lia sambil tetap menjambak rambut via. Ga ada satu pun murid berani melawan Lia, Lia tidak hanya primadona di sekolahnya dia juga anak dari kepala sekolah. Siapa yang berani melawan Lia, enggak sungkan dia meminta ibunya untuk menghukum anak tersebut atau mengeluarkannya, Lia memang pandai bersandiwara di depan guru, dan kebanyakan guru percaya dengan Lia karena anaknya yang ceria aktif cantik dan juga lumayan pintar. “ Aku laporkan kamu ke wali kelas ya Lia! Karena sudah kasar dengan aku! Kamu kira aku takut dengan kamu, hanya karena kamu anak Ibu Tini! “ teriak kesal via yang sambil menahan tangan Lia yang sedang menjambak rambutnya. “ Lia hiraukan saja dia, gadis jelek sepertinya bisa apa sih” ucap Zaki, sebenarnya itu cara Zaki menyelamati via yang sudah kesakitan karena di jambak Lia. Walaupun Zaki suka meledek via tapi Zaki tidak suka kekerasan apalagi lawannya perempuan. “Ciih enggak sudi juga tangan Ku menyentuh dia yang jelek dan menjijikkan” hina Lia sambil melepas tangannya, dan dengan sengaja menendang lutut via dengan keras. Dan membuat murid lain takut dengan Lia. Andrian yang sedari tadi diam dan mengamati setiap gerak gerik via. Dan tersenyum sinis kepada via dan di lihat oleh via yang sedang menahan tangis berusaha kuat di hadapan para berandalan kelas. Via yang tiba – tiba bangun dari kursinya dan langsung menuju Lia yang jalan membelakangi dirinya. Di jambaknya Lia dengan kekuatan yang sama seperti Lia lakukan kepadanya, hingga Lia hampir tersungkur, kemudian di tendangnya lutut Lia persis seperti Lia menendangnya tadi. “Jangan kamu pikir aku akan takut kepada mu Lia, aku sudah berjanji pada ibu Ku untuk menjaga diri ku selama 1 tahun ke depan dan jangan kamu rusak janji Ku pada ibu ku” teriak via yang akhirnya membuat keributan dan membuat wali kelas mereka datang menghampiri mereka berdua. “Ada apa ini! Kenapa berkelahi! “ ucap wali kelas dengan nada marah tapi suara yang lembut. “Aduh Bu Olivia menendang saya Bu, karena saya tidak sengaja merusak headset nya dan Olivia tidak menerima permintaan maaf ku malah aku di jambak dan di tendangnya” bohong Lia sambil meyakinkan gurunya. “Benar itu Via!” “Dia merusak headset ku dan menendang ku terlebih dahulu, dan aku membalas perlakuannya” ucap jujur Lia sambil menahan tangis yang tak terbendung lagi. “Tetap saja kamu salah via! Seharusnya kamu melapor pada ibu dan ibu yang menghukum Lia jika ia benar bersalah bukan main hakim seperti ini! “ marah wali kelas membuat Lia merasa besar kepala. “Tapi Bu, aku kan membela diriku! “ Sanggah via yang merasa dirinyalah korban dari kejahatan Lia. “Tidak ada tapi – tapi, Via semua teman mu melihat dan mereka mengatakan sama seperti Lia, sekarang kamu Ibu hukum ke perpustakaan sekarang juga, rapikan buku – buku yang berantakan di sana, itu sebagai hukuman untuk mu” ujar wali kelas kepada via. Dan via pun berusaha kuat dan menahan tangisnya sambil berjalan menuju perpustakaan. Baru saja hari ke 2 tapi dia sudah merasa tersiksa banget di sekolah ini. Dan semua guru seakan takut dengan Lia begitu juga dengan teman – temannya. Sari saja tidak sanggup menolong dirinya yang di sakiti Lia. Hanya mampu menatap sendu via yang di jambak oleh Lia. Di ruang kelas mereka semua sedang memulai belajar sejarah, dan sedikit membosankan bagi murid – murid. Lia yang sedari tadi duduk di sebelah Andrian tak berhenti menatap takjub pada Andrian. Andrian pun tak keberatan dilihat terus oleh Lia. “kau tak lelah menatap ku terus Lia” ujar Andrian dingin. “Aku masih tak percaya kamu kembali Andri setelah terakhir kelas 3 kita berpisah, kamu tambah ganteng Andri” Ucap Lia jujur dan terpesona dengan wajah Andrian yang blasteran. Tidak di pungkirin blasteran dari ayah ibunya membuat Andrian sangat tampan di usianya yang baru 11 tahun. Ibunya yang asli orang Jerman, sedangkan ayahnya campuran Pakistan dan Melayu Indonesia. Membuat wajah Andrian sangat rupawan, matanya yang biru ke abu – abuan, hidungnya yang mancung, rambutnya yang kecokelatan serta kulit putih khas kulit Eropa menambah nilai tambah daya tariknya. Sikap dingin dan cuek andrian juga banyak membuat anak – anak yang baru beranjak remaja ini mengaguminya. Di ruang perpustakaan Olivia yang mulai tenang dan sambil mengerjakan hukumannya untuk merapikan buku – buku yang tidak berada pada tempatnya, setelah hampir 3 kelas pelajaran di laluinya Olivia merasa malas untuk masuk ke dalam kelas, ia malah lebih asyik membaca buku – buku yang ada di perpustakaan itu. Dari kejauhan terdengar suara heels yang mendekatinya, ternyata wali kelas. “Via kenapa kamu masih di sini , ini kan sudah rapi ibu lihat? “ “ Via lebih baik di sini Bu“ “Via kamu marah pada Ibu yang menghukum kesalahan mu? “ “Via tidak bersalah Bu, Lia dahulu yang mengganggu dengan merusak headset ku dan menjambak serta menendang ku! “ “Ibu tahu via, Ibu minta maaf karena salah menghukum murid, Sari tadi mendatangi Ibu dan menjelaskan semua, dia juga meminta Ibu untuk tidak menceritakannya di kelas, atau menghukum Lia. Sari takut kalau Ibu menghukum Lia, Lia akan berbuat lebih jahat lagi pada mu Via” “Jadi ibu sudah tahu? Dan semua Sari yang membantu Ku? “ Olivia merasa tak percaya masih ada teman yang mau membantu walau mungkin tidak berani terang – terangan. “ Via dengarkan Ibu, jika ibu memarahi mu walaupun kau tak bersalah maafkan Ibu ya, setidaknya Ibu akan berusaha menjaga mu dengan cara berpura pura menghukummu ke perpustakaan, karena anak – anak nakal itu jarang berada di sini, ibu baru jadi wali kelas di sekolah ini, ibu tidak bisa berbuat banyak pada Lia, karena ia anak kepala sekolah kita dan adik dari pemilik yayasan, bisa – bisa ibu di keluarkan dari sekolah ini dan tidak bisa menjaga kamu dan teman – teman yang mungkin di perlakukan sama dengan mu” ucap wali kelas itu dengan rasa bersalah. “Terima kasih Bu sudah percaya dan mau melindungi via” via menangis sambil memeluk gurunya yang ternyata tahu kebenarannya. Hanya saja tak memiliki kekuasaan untuk membelanya. Kekuasaan terkadang membuat susah untuk membela kebenaran apalagi yang berkuasa di pihak yang salah. Akhirnya seharian itu via berada di perpustakaan, tas yang berada di kelas di bawa wali kelas untuk di berikan pada via setelah pelajaran selesai. Sari pun membantu dengan giat mencatat semua pelajaran hari itu, agar bisa di pinjam via untuk belajar dirumah. Olivia yang pintar tidak susah untuknya belajar hanya menggunakan buku catatan dia bisa memahami semua isi dari buku ataupun catatan yang di berikan sari pada nya. ***** Sudah 6 bulan via di sekolah itu, sudah banyak perlakuan b***y pada dirinya, selama itu via bertahan, mau tak mau ia harus kuat menghadapi teman – teman yang jahil dan nakal kepada dirinya, sekarang via seakan terbiasa menerima kekerasan itu, tak tampak wajah kaget atau ketakutan dari diri via, yang membuat Lia semakin jengkel dan terus memperlakukan via dengan cara yang tidak baik. Jam istirahat berbunyi, semua murid berhamburan keluar menuju kantin, tapi tidak dengan via. Dia enggan berada di kantin atau di kerumunan teman – temannya apalagi sebelumnya via pernah duduk di kantin sambil memakan bakso yang di pesannya, baru saja mau memakannya bakso itu sudah di tumpahkan Lia dan di tertawakan murid - murid lain termasuk Andrian yang berada di sebelah Lia. Amarah via rasanya ingin memuncak tapi tertahan karena via tidak mau bikin khawatir neneknya.Via berusaha bertahan sampai kelulusan di depan mata. Via merebahkan badannya di kursi baca di dalam perpustakaan sekolah. Tanpan ia sadari di balik kursi baca nya ada sosok anak laki – laki. “ Ya Allah berapa lama lagi via harus kuat di sekolah ini” lirih via sambil meneteskan air matanya yang sudah ia tahan sedari tadi. “Kuat via, kamu bisa pasti bisa via” menyemangati dirinya sendiri sambil menghapus air matanya. Via tersontak mendengar suara anak laki – laki yang sedari tadi mendengarkan keluhannya. “Makanya kamu jangan gendut, jangan rakus semua di makan terus! “ ucap anak laki – laki yang ternyata Andrian. Sontak membuat via kesal dan ingin menonjok anak itu. “Enggak usah menghina ku! Aku tidak pernah mengganggu mu apalagi mengenal mu! “ “ Siapa yang menghina mu, kamu itu memang gendut hitam dan jelek! Apa kamu tidak pernah berkaca, atau orang tua mu tidak pernah mengurus mu?! “ ucap Andrian dingin tanpa rasa bersalah telah menyakiti hati via. “Jangan sok tahu kamu tentang orang tua ku, kau urusi saja Lia jangan sok kenal dengan ku! “ ucap via sambil keluar dari perpustakaan dan meninggalkan Andrian. Entah mengapa Andrian merasa tertarik untuk mengganggu via. Tapi bukan untuk menyakitinya. Waktu berlalu dan menunjukkan pukul 2 siang tak lama bel pulang sekolah pun berbunyi. Semua anak – anak bersiap pulang. Begitu juga dengan via. Via berjalan menuju bang Jack yang sudah menunggunya. Tanpa di sadari oleh Via Andrian berada di belakang dan mengikuti jalannya via, Lia yang ternyata melihat itu merasa tidak suka, di jegalnya kaki via yang sontak terjatuh, Andrian yang berada di belakang sontak ikut kaget dan tidak sengaja memegang rok Via, karena via gemuk rok yang di tarik andrian langsung robek dan membuat semua murid melihat dan menertawakannya. “Jahat banget kamu Andrian! Aku membenci mu! Kamu anak laki – laki terjahat dalam hidup ku!!!! “ amarah Via memuncak sambil terisak tangis dan berusaha menutup bagian rok yang robek dan berusaha bangun, lutut Via berdarah karena di jegal Lia tapi tak terasa karena rasa malu yang di hadapi via. “Heh enak saja kau memaki Andri! Mana mau Andri melihat tubuhmu yang hitam! Hahaha” hina Lia sambil tertawa puas. Entah mengapa Andrian hanya diam tanpa membela diri nya yang memang tidak berniat merobek rok Via, malah Andrian membuat wajah sinis kepada Via. Sebenarnya Andrian kesal karena Via membenci dirinya tanpa tahu kebenarannya. Sedangkan Via merasa Andrian sengaja merobek roknya karena ingin menjahilinya seperti Lia dan teman – teman lainnya. Sudah 3 bulan Via tidak masuk sekolah semenjak kejadian itu. Tampak Andrian selalu berharap via sekolah, yang pasti tanpa sepengetahuan via. Wali kelas via sudah mengetahui tentang kejadian itu. Dan meminta ibu kepala sekolah untuk mengerti Sikis dan mental Via, sehingga wali kelas tetap bisa mengajar via sehabis mengajar di sekolah tanpa mengganggu jadwal pelajaran. Wali kelas via membujuk kepala sekolah untuk memperbolehkan via belajar di rumah, karena terlihat jelas di CCTV bahwa Lia yang menjegal kaki via sehingga terjatuh dan menyebabkan roknya tersobek karena tersangkut di tangan Andrian, berkat CCTV itu ibu kepala sekolah tidak keberatan jika via tetap di rumah dengan persyaratan tidak membesarkan permasalahan itu dan harus hadir dalam UN. Ujian Nasional sudah hampir di depan mata, anak – anak mulai serius dalam belajar karena sudah tidak ada waktu lagi untuk bermain. Andrian terpaku menghadap kursi kosong di seberang bangkunya. Tentu saja itu bangku via, yang sudah kosong hampir 5 bulan ini. Andrian bingung mengapa via tidak masuk selama ini padahal ujian nasional sudah sebentar lagi, tapi nama Via masih berada di absensi sekolah yang menandakan Via masih bersekolah di sekolah itu. Akhirnya ujian nasional pun tiba, semua anak – anak mencari kelasnya, termasuk Andrian yang mencari kursi sesuai urutan yang ada di kartu ujiannya, sontak ia kaget melihat via yang berada sejajar dengannya, menatap dingin ke arah andrian yang di balas dingin juga oleh andrian. Hari ini ujian matematika dan ini pelajaran kesukaannya via, dengan senyum dan semangat ia kerjakan satu demi satu soal – soal ujian dan tidak butuh waktu lama, hanya 30 menit via sudah bisa menyelesaikan tugasnya, dan bergegas merapikan buku dan berjalan menuju guru pengawas. “ Permisi Bu, saya letakkan dimanah ya bu? “ tanya via pada guru pengawas yang kaget karena via sudah menyelesaikan tugasnya. “ kamu sudah koreksi ulang? Soalnya? “ tanya guru pengawas meyakinkan via untuk tidak terburu buru. “ Sudah saya koreksi 2 kali bu” “ Ya sudah letakkan saja soal jawaban di sebelah kanan dan soalnya di sebelah kiri” “baik bu, permisi bu” salam via sambil meninggalkan kelas. Andrian yang melihat merasa via sengaja menghindar dari dirinya dan teman – teman sekolah. Selang tak berapa lama andrian pun menyelesaikan soal – soal nya dan keluar mengikuti arahan guru pengawas. Benar saja via sudah tak ada di sekolah, sudah tak tampak lagi wajah via. Ke esok kan hari seperti kemarin via sudah duduk di kursinya terlebih dahulu, dan di ikuti andrian. Baru mereka berdua yang berada di kelas itu, suasana pagi itu sunyi senyap, tidak ada sedikit pun suara dari via maupun Andri. Walaupun tatapan Andrian tajam ke arah via seakan akan ingin memakan via, via yang menyadari tatapan andrian yang menakutkan itu berusaha untuk tenang dan tidak menoleh ke arah andrian sama sekali. Sekitar 20 menit keheningan itu berganti dengan suara – suara murid yang berdatangan dan memasuki ruangan. Ujian bahasa Indonesia sudah di mulai semua anak – anak sibuk mengerjakannya. Via yang juga sibuk membolak balik lembaran soal dan menjawab setiap soalnya. Sekitar 1jam via bergelut dengan soal ujiannya dan akhirnya selesai. Ia tak menyadari kalau andrian sudah dahulu menyelesaikan ujiannya, via pun bergegas pamit dan keluar setelah lembaran jawaban dan soal sudah di letakkannya di meja. Saat via keluar sedikit terkaget dengan suara yang di timbulkan oleh Andrian. “ Kenapa kaget? Macam baru lihat saja” ucap andrian dingin sambil menatap tajam via. “Bukan urusan mu! “ ucap via kesal sambil berjalan keluar sekolah. Andrian yang tak terima di acuhkan oleh via merasa marah. “Hei gendut kenapa tingkah mu menyebalkan, kau pernah di ajarkan untuk sopan kepada orang yang bertanya padamu! “ sambil menatap tajam via “Orang seperti kau tak perlu di perlakukan baik! Kau anak laki – laki yang m***m dan jahat!!! “ via membalas perkataan kasar andrian. ‘Apa dia bilang aku m***m? Kapan aku m***m padanya’ lirih andrian di dalam hatinya sambil menahan amarahnya. “Kau sudah keterlaluan gendut. Menghina ku m***m tanpa bukti! Sedangkan aku memanggil mu gendut karena memang kau gendut” teriak andrian pada via yang merasa dirinya tidak bersalah. Via yang sudah sakit hati dengan ucapan andrian memilih berlari cepat keluar dari sekolah mendekati bang Jack yang sudah menunggu via. Sebenarnya via masih trauma menghadapi andrian dia takut jika andrian melakukan hal buruk itu lagi padanya. ***** Hari ini hari terakhir ujian nasional, semua murid sudah memasuki kelas ujian mereka, begitu juga dengan andrian dan via. Hari ini ujian bahasa inggris, via dan juga andrian begitu serius mengerjakan soal – soal mereka. Waktu sudah menunjukkan pukul 9 pagi sudah 1 jam mereka di dalam ruangan. Via dan andrian sudah menyelesaikan soal dan mengumpulkannya di depan sambil menuju keluar kelas. Andrian yang sedari tadi menatap tajam ke arah via, tapi via hanya membelakanginya tanpa mengucapkan satu patah kata pun. Hingga akhirnya andrian memulai. “ Hei gendut, aku tidak akan memanggil mu gendut jika kau kurus, kenapa kau begitu menjengkelkan! Kau menuduh ku tanpa bertanya kebenaran pada ku! “ ucap andrian yang merasa dirinya benar dan dialah korban bukan via. Via hanya berjalan lurus hingga berada di ujung lorong sekolah dan menoleh ke belakang sambil menatap andrian dengan senyum kemenangan. “ aku sudah menyelesaikan janji ku pada ibu ku untuk bertahan di sini dan sekolah dengan baik di sini. Aku bertahan dari kejahatan kalian dan b***y yang kalian lakukan padaku akhirnya berakhir di hari ini, aku bahagia karena aku tak akan lagi melihat muka mu yang m***m itu, atau cewek mu yang merasa berkuasa di sekolah ini, aku bebas dan menang, dan aku tidak akan lagi bertemu manusia jahat seperti mu andri yang sok merasa ganteng! “ ucapan via seakan mengisyaratkannya bahwa dia tidak akan lagi bertemu mereka semua. ‘Gadis bodoh kau kira sekolah di daerah ini banyak apa, dimanah nama mu berada di sekolah itu aku juga berada’ ucap andrian dalam hatinya. “ Hei gadis gendut! Kau pikir kau bisa lari dari ku! Selamanya kau dan aku akan bertemu” ucap andrian kesal dan bersumpah memang akan mengikuti di mana via sekolah di situ pun dia akan bersekolah sekali pun sekolah itu jelek. Via hanya membalas dengan senyuman dan lambaian tangan seakan – akan mengucapkan perpisahan dan meledek andrian. Andrian yang tidak terima berusaha berlari ke arah via tapi via sudah pergi dengan bang jack yang tidak mungkin bisa di kejar andrian. Setelah pertemuan di ujian terakhir itu Olivia tidak pernah terlihat lagi,andrian mencari nama Olivia Zein di setiap sekolah yang berada di daerah itu tidak ada satu pun nama via tercantum sampai beberapa sekolah ternama di kota juga tidak ada nama via. Olivia bak di telan bumi. Lia Zaki dan andrian masih di satu sekolah yang sama hingga SMA. Andrian pindah ke Jakarta saat ia di terima di salah satu universitas ternama di sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD