4. Revenge

2377 Words
Pagi ini diawali dengan sedikit huru-hara. Nyatanya kabar berhembus terlalu kencang bahwa Jake dan Nara memiliki hubungan lebih dari tetangga kompleks. Salahkan Jake yang mengetuk pintu mobilnya saat berangkat ke sekolah tadi. Cowok itu beralasan bahwa tidak ada yang mengantarnya juga malas jika harus berdempetan ketika naik bus. Huh, manja. “Kak, hari ini agak beda ya, Lo pakai make up?” tanyanya saat duduk di samping Nara. Mobil melaju membelah jalanan Gangnam dengan kecepatan normal. Tapi tidak dengan jantung Nara, debarannya seperti genderang perang yang ditabuh tak beraturan. “Kenapa? Enggak cocok, ya?” Nara sudah bersiap meraih kotak tisu basah dalam tasnya tepat sebelum Jake menggeleng dengan senyuman lebar. “Enggak. Jangan dihapus. Lo cantik.” Nara segera menyembunyikan simpul cantik dibalik senyumannya. “Iya? Beneran nggak? Gue baru belajar make up soalnya.” “Serius, eh nggak. Dua rius, sumpah Lo cantik banget.” Percakapan mereka terhenti saat sedan hitam pekat itu menepi di depan gerbang sekolah. Terdapat plakat besar di gerbang dengan tembok kokoh. Melihat itu tidak perlu diragukan berapa juta won biaya dalam setahun untuk bersekolah disini. Biaya penunjang sarana dan fasilitas yang tak main-main untuk seorang siswa SMA. Tapi tidak perlu khawatir, ketua yayasan juga membuka pendaftaran jalur beasiswa bagi siswa-siswi berprestasi yang terhambat biaya. Sebut saja Aron. Cowok itu adalah satu dari tiga siswa di angkatannya yang lolos tahap beasiswa mengenyam pendidikan disini. Ya meskipun harus diakui bahwa Aron murid pintar tapi dia tidak teladan. Sering kali dipanggil ke ruang guru hingga Bu Hani mengusap pelipisnya lagi dan lagi ketika menjumpainya merokok di belakang gedung. Jika ada yang bisa dibanggakan dari Aron mungkin hanya wajah dan otaknya, perilakunya, ya, kalian bisa menilainya sendiri nanti. Nara pun bingung, alasan apa yang membuatnya begitu menyukai cowok urakan itu? Entah, mungkin benar kata orang. Cinta tidak butuh alasan atau apapun kalian menyebutnya. Sama saja. Kembali lagi pada dua remaja itu. Mereka menyusuri jalanan yang diapit oleh taman. Menapaki beton dengan hati-hati. Banyak. Banyak sekali pasang mata yang memandang mereka aneh. Nara mengangkat bahunya ketika Jake bertanya apa yang salah pada mereka hingga jadi pusat perhatian seperti itu. Sejujurnya Nara tidak suka mendapat banyak perhatian. Dia suka menepi, menikmati kesendirian, tidak suka bersosialisasi dan memilih mengunci diri di kamar. Mungkin mereka heran, bocah sepertinya bersanding dengan Aron. Maksudnya bisa berjalan bersisian dengannya. “Ah!” Jake berseru. Nara menoleh singkat. “Mereka kagum kali? Lo cantik banget hari ini,” lanjut Jake. s****n. Kenapa Nara tersipu? Kenapa dia suka dipanggil cantik? Kenapa? “Apaan, gue ke kelas dulu ya.” Nara berjalan cepat, tanpa mendengar balasan Jake. Malu. Walau lebih banyak senangnya. Langkahnya semakin cepat saat melihat Jake yang berlari kecil menyusul langkahnya. Setelah sejajar dia berujar kelewat tenang. “Gue antar.” Nara tidak menjawab. Hatinya terlalu ambigu. Mungkin begini rasanya nyaman ketika berbicara dengan lawan jenis. Mungkin begini rasanya menjadi pusat perhatian. Mungkin inilah rasanya punya teman semenyenangkan Jake. Dan mungkin dia bisa memulai kisah baru? Senyum cantiknya hilang ketika Jake melambaikan tangannya di tangga. Karena berjalan sendirian lebih menakutkan daripada berjalan dengannya. Kini Nara menjadi satu-satunya yang disorot. Mungkin benar kata Jake tadi, mereka memperhatikannya. Penampilannya yang berbeda dari Nara kemarin. Nara yang terkenal kutu buku dan terlalu kolot akan fashion. Pintu kelas ia buka perlahan. Tentu, sebelumnya dia menarik napas dan membuangnya sekurang-kurangya tiga kali. Memejamkan mata untuk membuat debaran gugup itu memudar atau musnah kalau bisa. Dan sentuhan terakhir, senyuman yang ia latih semalaman. Riuh kelas yang semula kacau seakan tersedot ke pusaran bumi. Seluruh atensi kelas yang terpecah kembali menyatu untuk menatap sang penarik pintu. Bahkan sosok Aron yang duduk di meja paling sudut belakang menatapnya. Tangannya memutar bola basket yang kini jatuh, dia mengabaikannya. Nara melangkah kecil. Tenang. Kalem dan kuasai. Rapalnya berulang seakan semuanya terlalu tidak nyata. Nara duduk di kursi nomor tiga dari depan dan nomor dua dari samping. Meja di tiap kelas dibuat empat banjar. Hati-hati menaruh tas berat berisikan buku-buku astronomi miliknya. Nara tersenyum gemetar. Kenapa mereka masih setia menatap Nara? Tapi ada yang salah. Bukan tatapan kagum, lebih seperti… Merendahkan. Menatap remeh. Satu tendangan pada meja membuat dirinya terhenyak kaget. Salah satu murid perempuan yang sering mewarnai rambutnya –kali ini berwarna hijau neon–, Menyilangkan tangannya setelah puas membuat meja Nara terhempas. “Udah pagi. Barnya udah pada tutup.” Dia sedikit menunduk, menyamakan tinggalnya dengan posisi Nara yang duduk. Gadis itu mengernyit. Tentu saja. Dia tidak paham apapun yang diucapkan Yuri padanya. Cewek dengan rambut terang itu mengunyah permen karet serampangan. Gayanya yang seperti preman Gangnam terlebih dua antek-antek dibelakangnya, – Jihan dan Risa, yang turut memicingkan matanya. Nara pun yakin belum pernah berbuat ulah atau memancing mereka bertiga. Sungguhan. “Nara, Lo punya kaca nggak?” ucap Jihan. Sedangkan Risa, gadis naturalisasi –dulu berkebangsaan Jepang, itu melemparkan kaca lipat ke pangkuan Nara. Membuat gadis itu tertatih untuk sekedar menangkapnya rapat. “Coba deh ngaca. Lo mau sekolah apa jualan tubuh?” Setelahnya dapat Nara dengar kelewat jelas, seisi kelas menertawainya habis-habisan. Apa maksudnya? Tak sampai di sana. Yuri mengambil lipteen dari sakunya. Mengoles sepanjang bibir sampai pipi Nara. Gadis itu meronta. Tangannya mencegah Yuri yang akan mencoret wajahnya. Namun nyatanya semesta memang tak pernah sedikit pun berbaik hati. Kedua temannya yang lain, Jihan dan Sera malah mencekal genggamannya. Membuat Yuri lebih mudah mengeksplor mukanya dengan benda berwarna merah bata itu. Nara menangis. Dia benci semua yang terjadi. Dia membenci dirinya sendiri yang tidak mampu melawan. Membenci ketiga gadis itu yang kini mulai merundungnya. Percaya atau tidak, mereka tidak akan berhenti sampai disini. Tidak sampai Nara benar-benar terkena beban mental dari ketiganya. Terlepas dari itu, Nara lebih membenci seluruh penghuni kelas yang diam tak berkutik. Semuanya membatu dan memilih tuli. Menghiraukan tangisannya yang semakin menjadi. Kenapa dunia sangat tidak adil pada Nara? Apa salahnya? “Sebenernya make up Lo nggak jelek-jelek amat sih.” Yuri berkata ditengah tawanya. “Tadi macet, mana gue dimarahin bokap di rumah. Terus deh mood gue jelek. Dan kebetulan liat Lo yang mau tampil sok cantik gini. Mau berubah Lo? Jadi sailer moon? Hahahah, makan tuh ” Itulah jawaban darinya sesaat Nara merengek, bertanya apa kesalahannya. Memang setan. Seluruh kelas hening seketika. Membiarkan ketiga serangkai itu tertawa terbahak. Nara sudah ingin lari, sembunyi atau apapun asal bisa pergi dari sini. Dan ketika Sera membuka pintu kelas, telak dibuat menganga. Menutup mulutnya yang terkejut melihat penampilan Nara dibawah kuasa tiga gadis gila itu. Dengan langkah besar dan amarah yang nyata, Sera mendekat. Satu tamparan mendarat di pipi Yuri. Entah ke berapa kalinya seluruh kelas dibuat sepi, hening dan terlalu terkejut. “Apa-apaan?!” Sera mengacungkan telunjuknya pada ketiga gadis itu. Mencoba mencari pembenaran dari tindakan mereka yang kelewat batas. Sesaat setelahnya menatap Nara. Wajahnya basah oleh air mata, tidak bukan itu yang penting. Melainkan betapa carut-marutnya gadis itu. Seragamnya sudah tak berbentuk, wajahnya penuh dengan lipteen yang sengaja dibuat merata di sekujur wajah. Mereka tidak punya hubungan apapun. Bahkan Sera ingat mereka sedang silent treatment . Tapi bagaimanapun juga manusia mana yang diam saat salah satu dari mereka dirundung sedemikian rupa? Oh ya, teman sekelasnya melakukan itu. Semuanya. Dengan tangan mengepal menyeret Nara pergi. Sebelumnya sempat menaruh sweater yang ia pakai untuk gadis itu. Meninggalkan Yuri yang masih memegangi pipinya. Keram, kebas memerah. Tapi yang dia pegang kuat adalah buku jarinya. Dia boleh merundung Nara si cupu, tapi tidak Sera. Bagaimanapun, Sera bukanlah tandingannya. *** Nara menatap lamat. Meremat tangannya yang sempat sedingin es. Tadi gemetar hebat namun kini lebih baik. Duduk diam dan menurut saat Sera memintanya begitu. Berjalan hingga beberapa menit ke depan hingga Sera dengan sumpah serapahnya yang tidak henti menyumpahi Yuri, Jihan serta Risa. Tangannya telaten membersihkan setiap kekacauan yang mereka torehkan. Meskipun agak kasar, Sera tetap berhati-hati menggunakan tisu basah itu. “Gue, kan, udah bilang, Ra. Lo itu harus ngelawan. Jangan mau ditindas kaya tadi, lagian Lo salah apa, sih? Kalau Lo tau Lo nggak salah, ya jangan takut. Takut itu sama Tuhan. Jangan sama manusia. Mereka itu sama busuknya kaya apel Bu Han.” Nara yang mendengarnya tertawa di akhir kalimat. Bu Han adalah salah satu asisten rumah tangga Sera yang super pelit. Sering membeli apel tidak segar agar irit. “Ketawa Lo!” Nara tersenyum. “Iya, enggak lagi kok.” “Nggak lagi lah! Kalau mereka berani gangguin Lo, gue patahin lehernya.” Satu lagi. Gadis yang kini seperti mencemaskannya itu pemegang sabuk hitam di bela diri Wushu. Makanya, satu tamparan tadi rasanya sangat menyakitkan. Nara tahu. “Jangan pakai k*******n dong. Lo kaya preman sekarang.” Nara mencoba bercanda. “Sekarang lagi marak tau preman cewek. Nanti bisa jadi mafia, kan, seru.” “Apaan seru. Jadi penjahat kok seneng.” Sera menyimpan tisunya saat selesai membersihkan wajah Nara. Mereka tengah duduk di taman sekolah. Ad sebuah kursi panjang berwarna putih dibawah pohon rindang. Keduanya duduk di sana. Menarik napas panjang sebelum mendaratkan punggungnya di sandaran kursi. “Semua orang jahat tau, Ra. Nggak ada orang yang baik. Percaya deh, tiap orang baik pun pernah jahat dan tiap orang jahat pun pernah berbuat kebaikan. Semua orang sama aja.” Sera menghembuskan napas berat. “Itu, kan, dari persepsi kamu. Tiap orang nggak harus sama. Semua orang punya sudut pandang yang beda-beda.” “Serah Lo deh.” Sepoi angin menerbangkan daun yang berguguran. Sejuknya membuat kedua teman yang dulunya karib itu memejamkan mata. Entah kenapa Nara merasa semuanya mulai membaik. Dirinya, sahabatnya juga bebannya. Dulu dia sangat tidak suka melihat Sera, meski dia juga mencoba untuk menolak. Rasa sakit hati karena Sera mengencani Aron membuatnya terus patah. Dia mempertanyakan soal hati dan waktu yang telah mereka bagi bersama dalam kurun tiga tahun ini. Semuanya sirna karena cowok bermarga Choi itu. Tapi sudahlah. Tidak ada yang salah dalam drama perang dan cinta. Tidak ada yang salah, baik dirinya, Aron maupun Sera. Karena sejatinya jatuh cinta bukanlah suatu hal yang dapat dikendalikan oleh akal. Bukan suatu perkara yang bisa dijabarkan dengan rumus. Karena semuanya bersifat rahasia dan datang secara tiba-tiba. Tanpa peringatan. Kini melihat Sera yang sepertinya bahagia dengan Aron harusnya cukup bukan? Sera yang duduk dan setia merawatnya sebagai sahabat sudah cukup bukan? Dia tidak boleh berambisi lagi tetang Aron bukan? Karena itu semua di luar kendali. Dia tidak ingin emosi kembali mengendalikan dirinya lagi dan lagi. Nara adalah perempuan dengan rasionalitas tinggi, ego besar. Maka pantang untuk terus mengejar cowok itu setelah terang-terangan ditolak dua kali. Iya kan? *** Kali ini Nara menutupi seluruh wajahnya di bantal. Membiarkan Nyonya Kwon yang semakin beringas mengetuk pintu kamarnya beruntun. Mungkin beberapa kali lagi tenaga ibunya mampu membobol engsel daun pintu itu. Tapi biarlah. Nara sedang merajuk. Biar aku ceritakan alasan dia merajuk kali ini. Pertama, alasan yang cukup klasik sebenarnya. Sore tadi saat banyak siswa berhamburan keluar sekolah, sang ibu dengan entengnya menyebar seluruh bodyguard sepanjang jalan menuju pintu mobil. Oh jangan lupakan. Beberapa perhiasan yang sangat mubazir dipakai pada satu waktu. Bikin sakit mata. Kedua. Gara-gara kejadian kemarin saat tiga gadis gila itu merundungnya sang ibu tidak tinggal diam. Bayangkan. Sepulang sekolah mobil sedan mewah yang ditumpanginya dibuntuti oleh dua mobil lain –berisi para bodyguard, lalu dengan tatapan tajam berlalu untuk mengunjungi ketiga rumah mereka. Benar-benar gila. Perlu digaris bawahi bahwa kakeknya tak main-main terkait harga diri. Mendengar bahwa cucunya menjadi korban perundungan tentu saja membuatnya naik pitam. Reputasi serta darah biru yang mengalir pada diri Nara tidak boleh diganggu gugat. Semua harus mendapat bayaran setimpal karena berani bermacam-macam dengan Nara. Ketika mobilnya berhenti di pekarangan rumah milik Yuri, Nara mendapati mobil sang kakek sudah lebih dulu terparkir serampangan. Dan saat memijakkan kaki dilantai rumah Yuri, betapa terkejutnya ia mendapati orang tua gadis itu berlutut dihadapan kakeknya. Pria usia senja itu duduk di kursi dengan tongkat kesayangan ditangan. Wajahnya yang sudah keriput dimakan usia tidak menyurutkan aura tajam. Oh ya, kakek bilang dulu dia seorang gangster sebelum menjadi pengusaha seperti sekarang. Nara semakin dibuat membisu saat ayah Yuri menangis memohon ampun padanya. Mendapati keberadaannya, Yuri yang duduk bersimpuh di paling belakang mengetatkan rahangnya. Tidak suka keluarganya di injak-injak seperti sampah. Namun dia menurut ketika ibunya menyuruh Yuri untuk meminta maaf padanya. Maka dia mengokohkan pijakan saat menghampiri Nara. “Gue, gue salah. Maafin gue.” Dia berucap masih dengan egonya. “Yang bener. Itu cucu saya psikologisnya yang kena. Awas kamu! Ayo minta maaf yang benar!” gertak sang kakek. Yuri menunduk. “I-iya. Nara gue minta maaf, gue janji nggak bakal ngelakuin itu lagi. Gue mohon maafin gue.” “Iya Nara, dia nggak sengaja. Tante janji kalau dia berani macam-macam lagi, Tante bakal usir dia dari sini. Pegang omongan Tante.” Ibu Yuri menambahkan. Tidak berbeda dengan keluarga Yuri, Jihan dan Risa pun mengalami hal yang sama. Keduanya bahkan berderai air mata ketika sang kakek mengancam akan mengambil alih seluruh aset keluarga mereka. Yang cukup mengejutkan ternyata kakeknya menimbun banyak saham di perusahan keluarga mereka. Tak main-main, lebih dari lima puluh persen adalah bersih milik sang kakek. Ketika mereka bertiga sampai di rumah Nara. Im Kyujin –kakeknya, tidak berhenti memberinya petuah tentang bagaimana seharusnya seorang putri tunggal keturunan darah emas berperilaku. Tentang bagaimana Nara seharusnya yang memimpin sebuah gerombolan anak perundung atau tentang bagaimana Nara harus menutup mulut mereka dengan uang saat Nara di rundung. “Kamu itu bukan anak biasa, Nara. Kamu cucunya Im Kyujin. Orang berkata apa nanti kalau tau cucuku dari bahan cemoohan di sekolah? Mau ditaruh di mana wibawaku? Pernah kamu sekali saja mempertimbangkan dampak yang terjadi atau yang berpengaruh ke keluarga kita karena ulahmu?” Nyonya Kwon mengusap lengan sang ayah. Lewat usapan lembut berharap meredakan emosinya yang meluap. Nara hanya menunduk. Lagipula tahu darimana sang kakek bahwa dia dirundung di sekolah? Tidak ada yang mempan melawan Im Kyujin. Tidak dia sekalipun. Dia adalah pria dengan ego yang terlampau tinggi. Dia bahkan tidak akan pernah meminta maaf meski dia sepenuhnya salah. Begitulah kakeknya. Maka Nara hanya berdiri menatap kedua ujung sepatunya yang saling bertemu dilantai. Berpikir dan berandai. Seandainya dia hanya seorang gadis biasa, lahir di keluarga biasa, sederhana dan memiliki kisah biasa pula. Ah, rasanya menyenangkan. Berakhir di ranjangnya. Nara masih memikirkan kemungkinan lain, memikirkan tentang hidupnya yang selalu penuh intrik. Nara tidak suka. “Nara, ayo makan dulu. Kamu dari tadi nggak makan.” Nara masih marah. Maka ayo lanjutkan tidur. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD