3. Yang Datang Setelah Hujan

2685 Words
Bisa dibilang jika hujan datang pelangi akan muncul setelahnya. Jika dingin berembus maka akan ada kehangatan yang datang. Nara bertanya, kapan gilirannya sampai? Kapan bahagianya sampai? Jujur, dia juga lelah sendiri dengan harapannya. Melepas masker wajahnya, Nara tersenyum kecut. Anggaplah sedikit perawatan kecil ini untuk membantunya merawat diri. Setidaknya mari menyingkirkan beberapa jerawat yang tak kecil ini. Pintu diketuk, tak lama ibunya muncul. “Adek ada yang nyariin.” Nyonya Kwon menumpukan kedua tangan pada kusen pintu. Hanya terlihat kepalanya, tampak hati-hati. Sementara Nara, dia tidak ingat pernah punya teman. Mungkinkah Sera? Ah, rasanya mustahil. Lalu siapa? “Siapa, Ma?” Nyonya Kwon menggelengkan kepalanya, “entah.” Wanita paruh baya lulusan teknik elektro itu berbalik pergi, namun belum genap sepuluh detik sudah muncul kembali diambang pintu. “Tapi mukanya familiar, cowok di lock screen kamu–mungkin.” Tentu saja Nara membulatkan matanya. Kaget. Syok. Maka dengan cepat menyudahi sesi me-time dan bergerak terburu menuruni anakan tangga. Dan demi apa? Nara hampir melempar sandalnya setelah mengetahui cowok yang duduk manis seraya menatap cangkir kopi yang tak lagi mengepulkan uap itu–bukan Aron, tersenyum. “Jake?” Yang disebut hanya melambaikan tangannya. Tersenyum lebar, sangat lebar. Nara memutar tubuhnya, memandang penuh perhitungan pada sang ibu yang memasang tampang tidak paham. “Jake?” Nara mengulangi. Sungguh. Sumpah. Tapi mendapati sosok adik kelas yang suaranya wira-wiri sebagai DJ di sekolahnya bukan hal yang wajar. Dia–Jake, merupakan blasteran Korea-Australia. Wajahnya sangat bule, bicaranya fasih, public speaking-nya tak perlu diragukan. Sosok yang digadang-gadang akan menjadi debater handal itu merupakan cowok yang diagungkan keberadaannya. Sebab itu, menilik dari keduanya yang teramat minim interaksi sungguh menjadi alasan kuat, Nara belum ngeh bagaimana cara Jake bisa sampai disini. Hell, bahkan teman sekelas pun, tidak ada yang ia beritahu letak geografis rumah ini. “Halo, Kak?” Nara mengikis jarak dengan duduk di sofa seberang pemuda itu. Baiklah, apa kabar yang ia bawa? Rasanya tidak mungkin Jake jauh-jauh kemari untuk tersenyum seperti itu, kan? “Apa, ada perlu sesuatu?” Jake sangat kasual. Rambutnya ia sisir rapih, tentu dengan gaya forehead. Hidungnya bangir, matanya akan setipis garis jika kerutan tawa mendesak kedua pipinya. Oh jangan lupakan kaos hitam dengan lengan pendek. Nara sudah bilang, belum? Jake, tampan. Cowok bermarga Sim itu menggeleng. “Nggak ada. Apa gue kelihatan kaya pembawa berita?” Konotasi dan segala korelasi. Tapi terlalu ambigu, dia DJ kan? “Ya? Mungkin.” Satu asisten yang membantu urusan rumah tangga datang membawa secangkir teh hijau untuk Nara. Tentu saja mereka membutuhkan seorang asisten, rumah ini terlalu besar untuk ditempati bertiga. Terlalu melelahkan untuk diurus seorang diri, atau mungkin pundak mereka terlalu lelah menopang pundi kekayaan. “Wow. Rumah lo, gede. Gede banget.” Tatapan Jake yang memandang kagum interior ruangan sungguh seperti binar anak anjing. Mengingatkannya pada anak anjing yang mengibaskan ekornya. Menggemaskan. “Bukan yang gede banget, sih, Jake. Mungkin karena atapnya tinggi sama nggak banyak barang jadi keliatan dua kali lipat dari ukuran asli.” “Ini misal bersihin gitu, apa enggak cape?” Jake kenapa lucu ya? Seperti anak TK yang kagum akan banyak hal. “Belum pernah bersihin, sih.” Nara terkekeh kikuk. “Oh iya, tadi kenapa? Malah jadi bahas rumah.” Jake memutarkan jarinya pada cangkir. Menyeruput meski panasnya sudah lama hilang. “Gue mau balikin buku ini.” Jake mengangsurkan cangkirnya di meja. Kemudian mengambil sebuah buku dari jaket yang ia sampirkan di sandaran kursi. Astaga. Pipi Nara memerah sendiri. Apa Jake membacanya? Ya ampun. Itu adalah buku aib yang ia miliki. Diary. s****n sekali. Sekarang rasanya seperti ditelanjangi. Malu. “Ini.” Jake menggoyangkan buku yang ia ulurkan sesaat setelah Nara tak kunjung menggapainya. Apa gadis ini sangat terkejut? Nara mengedipkan matanya, kemudian mengambil buku itu. Dia simpan dibalik punggung. “Lo–baca?” Jake tertawa lebar. Perlu waktu untuk menunggunya selesai. Anak ini suka sekali tertawa rupanya. Jika tidak dalam kondisi teramat memalukan ini, mungkin dia akan memuji betapa wajah itu bersinar. Namun sekarang, kekesalan masih menguasai keseluruhannya. Astaga, rupanya sikap defensif Nara karena dia malu, Jake membatin. “Santai aja. Nggak mungkin gue baca. Cuma kebuka aja tadi.” “Sama aja.” Bukannya marah, gadis itu malah ikut tersenyum. ketika melihat cowok itu begitu tidak terganggu dan tidak peduli, makanya Nara memilih menurunkan tensi. “Enggak kok. Misal gue baca, pun, kayaknya gue nggak bakal berani balikinnya.” Nara mengangguk, benar juga. “Tapi Jake, Lo bisa tau alamat rumah ini dari siapa? Maksud gue, Lo nggak nyelinap di kantor guru buat ambil data gue, kan?” Pertanyaan Nara membuatnya membuka mulut lebar. Meskipun dia kesulitan, tidak mungkin ide yang riskan itu dia lakukan. Jake meskipun selalu guyon juga belajar etika, belajar di sekolah juga untuk menuntut ilmu. “Ya kali. Besok dicincang pak Jihwan kalau ketahuan.” Jake menjeda, melirik ke sudut laiin, “kak, Mama Lo liatin dari tadi. Apa nggak diminta duduk disini aja?” Tentu saja ketika melihat sang tuan rumah duduk di meja makan yang tidak bersekat dengan ruang tamu membuatnya sungkan. Jake menganggukkan kepalanya sopan, sesekali Nyonya Kwon ikut tersenyum. “Mama!” Nara memperingati. Mungkin karena jarang membawa temannya pulang atau lebih tepatnya memang Nara yang ia kenal tidak pernah membawa satupun temannya pulang ke rumah, membuatnya begitu penasaran. Sebenarnya siapa Jake ini? Apakah anak gadisnya sudah berani berkencan? Kira-kira darimana pria muda dengan wajah kebulean itu? Berapa penghasilan orang tuanya perbulan? Dan tinggal di residence mana ia? Seperti itulah jika dijabarkan setiap pertanyaan Nyonya Kwon. “Mama!” Kali ini Nara berteriak putus asa, merengek agar sang Mama mendengarkan dan membiarkan mereka berdua, garis bawahi, berdua, tanpa ada yang mencuri dengar. Nyonya Kwon meletakkan majalahnya dengan sampul boy grup kenamaan negeri ginseng. Grup yang kini teramat disegani dengan tercatat sudah delapan belas Minggu berturut-turut menduduki chart Billboard, BTS. Fyi, sang Mama juga sangat menggilai mereka. Nyonya Kwon mengangkat bahunya seakan berkata. Oke-fine-mama-pergi. Sebelum menggerakkan dua jari tengah dan telunjuk ke mata dan mereka berdua bergantian. Sinyal spy secara terang-terangan dikibarkan. Mungkin besok ia harus meminta sang papa agar mamanya itu mengurangi menonton film zombie dan action-thriller. Percaya atau tidak, Mamanya sering bertingkah aneh setiap selesai marathon movie atau drama Korea. Seperti kemarin, benar kejadian itu baru saja terjadi. Dimana sang Mama baru menyelesaikan Series Sweet Home yang dibintangi Song Kang – ya aktor pendatang itu cukup naik daun sekarang, aktingnya sangat sangat diapresiasi– setelahnya Nyonya Kwon bertingkah seperti Zombie. Berjalan dengan gerakan patah-patah dan jari tangan yang menekuk. Jangan lupakan ekspresi wajahnya – yang kata tuan Kwon, seperti menahan buang air– sangat menggelikan. Mamanya sangat, sangat absurd, setelah menonton Vincenzo, beliau berdalih menyesal telah menikah cepat. Mungkin jika mau menahan hasrat lima atau sepuluh tahun, dia akan menikahi mafia corn salad itu. Tapi berujung menikah dengan Papa, yang katanya roti sobek saja harus beli ke toko roti. “Mama, kan maunya yang bisa dielus pas tidur!" keluhnya. Ada-ada saja. Oh ya, Minggu lalu mamanya juga menonton film Space Hunter dan berakhir dengan membeli pakaian luar angkasa full set , entah Nara juga tidak tahu darimana yang ibu mendapatkannya. Saat dirinya mengejek bahwa barang itu imitasi, sang ibu mendiamkannya tanpa ampun. Katanya butuh kecepatan dan duit yang tak terhitung untuk mendapatkan barang tersebut. Tidak bisa dipungkiri karena kekayaan sang kakek– ayah dari nyonya Kwon– sangat melimpah, tahun lalu dia menempati posisi ketiga sebagai pengusaha paling berpengaruh di Korea Selatan. Sudah dikatakan bukan? Soal harta, Nara adalah keturunan emas murni. Melimpah sebagai pewaris satu-satunya. Oh tidak sekarang, dari tadi ibunya mengeluhkan mual, dugaan sementara sang ibu tengah hamil tapi tolong katakan tidak. Nara tidak mau punya adik yang rewel, sangat tidak mau. Jadi doakan saja hasilnya nanti adalah masuk angin, bukan gejala trimester pertama. Kembali lagi pada Jake. Pemuda itu memilih mengikuti Nara berkeliling rumah yang luasnya mencapai setengah hektar itu. Bahkan dibelakang rumahnya terdapat kebun binatang, ya isinya hanya beberapa satwa yang sudah mendapatkan izin sebagai hewan tak dilindungi. Ada lapangan berkuda disebelah kanannya, juga kolam renang dilantai ketiga. Jake dibuat takjub. Sangat takjub karena bingung harus mengagumi yang mana terlebih dahulu, dan jangan lupakan dia masih belum melupakan akuarium besar sebagai dinding ruang tamu tadi –Ada hiu didalamnya, oh my God!, Jake masih takut kalau-kalau itu bisa bocor. Sebenarnya, mereka sekaya apa? “Lo baru pindah kesini?” tanya Nara sesaat keduanya sampai di ruang paling atas. Sebuah ruangan yang paling sederhana dari ruang lainnya. Berada disisi kanan kolam renang. Nara mendorong pintu setelah menempelkan sidik jarinya. Keamanan yang sangat tinggi, katanya juga hanya dia yang punya akses akan ruangan ini. Didalamnya tidak semewah ruangan lain, hanya polos dengan cat putih di sepanjang mata memandang. Beberapa barang masih tertutup kain putih menandakan tempat ini tidak atau jarang terpakai. Jendela yang menuju jalanan perumahan elit dibuka, debu masih menempel di tralis jendela. “Itu rumah gue.” Jake menunjuk satu rumah bergaya minimalis tanpa pekarangan. Catnya dominan hitam dengan sedikit tambahan abu-abu. “Wah kita tetangga!” Seru Nara yang entah sejak kapan antusias. Jake sama berbinarnya, “untung bukan depan rumah ini langsung ya. Pasti ketutupan saking gedenya.” Kemudian disusul Kekehan. “Ini ruangan apa?” Nara berkacak pinggang. “Ruangan buat santai aja, tapi abis direnovasi malah belum dibersihin dan ditata ulang. Makanya jadi berantakan gini.” “Ooo.” Jake mengangguk. Sebuah kain besar dengan barang yang mempunyai kaki kayu. Jake mendekatinya, penasaran akan bentuknya yang aneh. “Ini apaan?” “Buka aja.” Nara menarik ujung kain putih, menariknya dengan bantuan Jake. Debu yang sudah lama mengendap terbang bersama udara, membuat keduanya terbatuk untuk beberapa waktu. Sebuah lukisan membuat Jake terpana. Ada dua pasang sepatu, sekelilingnya hanya cat yang dilukis abstrak, dia tidak tahu maksudnya. Namun sepatu itu kecil, berwarna putih dengan tali sepatu terurai. Saat diamati lagi, dibelakangnya terdapat rak sepatu yang transparan. “Ini, Lo yang ngelukis?” Nara mengangguk, “iya gue. Buat healing. Dan gue juga yakin, di luaran sana banyak orang melakukan hal yang sama, mencari satu dua kesibukan buat dinginin kepala dan hati, hanya saja medianya beda. Ada yang suka fotografi, lukisan, beli album dan hype idol, terus nonton drama Korea, menulis cerita, baca buku, banyak deh. Waktu yang kita habisin sekarang menuntut kita buat susah sosialisasi sama orang lain, mungkin kayak gue yang sudah gaul. Nggak punya teman selain buku, dan gue juga butuh pengalihan. Butuh pelampiasan dan teman ngobrol.” “Lo tau maksud gue ngelukis ini?” Jake menggeleng. “Ada dua sepatu, kusut, kumal dan nggak kepake. Dibelakangnya ada rak. Maksud gue adalah saat kita capek, kita boleh istirahat bentar. Nggak apa-apa buat sekedar duduk, rebahan atau istirahat kalau memang perlu. Sepatu ini udah mencapai batas maksimal, mereka butuh waktu untuk nggak terikat kencang, perlu waktu untuk istirahat dari diajak berlari. Mereka capek, dan menurut gue its okay buat biarin mereka take a rest for a while. Tanpa mikirin dunia, tanpa mikirin uang, cinta, jabatan. Tidur aja dulu.” Jake membulatkan mulutnya. Memang orang pintar itu bahasanya beda ya, dia yang hanya jago main-main agak sedikit lamban menangkap maksudnya. Namun setelah memproses dia mengangguk setuju. “Orang-orang nggak perlu nge-push diri mereka buat ngikutin orang lain. Boleh kayak gitu karena memang kita perlu perbandingan, perlu aturan, perlu menaati kewajiban. Tapi emang, kuncinya satu. Kalo capek ya istirahat. Taruh sepatunya ke rak. Gitu, kan?” Nara mengulas senyum lebar. Sepertinya dia dan Jake akan cocok sebagai teman ngobrol. Gadis itu mengusap surai Jake yang memiliki tinggi sedikit lebih tinggi darinya. Cowok itu menutup mata, menikmati setiap belain seperti anak anjing. “Kak, Nanti, lima tahun lagi jangan usap kepala gue gini lagi ya?” “Kenapa? Lucu banget sih bahasnya udah lima tahun lagi?” Mengabaikan Nara yang terkekeh tak menghentikannya melanjutkan. “Mungkin sekarang gue kayak anak bandel, mungkin kayak adik Lo ya kak?” Nara mengangguk. Jake akan ia anggap sebagai adik tentunya. “Nanti pas gue gede, dewasa gue nggak bisa jadi adik Lo lagi.” Meski tak paham maksudnya, Nara tetap tersenyum dan mengacak habis rambutnya. “Iya Lo gemesin banget, sih?” Sepulangnya sang adik kelas sekaligus tetangga barunya, Nara mendapati sang Mama yang duduk disebelahnya. Setoples pringles berada di pangkuan. Duduknya sama seperti pejabat pemerintahan, kepalanya mendongak menandakan sedang dalam mode tidak bersahabat. “Nggak sopan.” Nyonya Kwon membuka kalimat dengan sarkas, membuat kening Nara mengernyit. Memilih abai, Nara mengganti channel TV dan menampilkan program Knowing Brothers. Biasanya sang Mama akan luluh. “Dulu mama nggak pernah tuh berani ngusir nenek pas papa kamu ke rumah.” Oh, masih masalah Jake tadi? Astaga mamanya benar-benar seperti anak kecil yang kehilangan permen. Kenapa pula itu yang dibahas? Seperti tidak ada hal lain saja, lagipula jangan samakan Jake dengan ayahnya. Jake hanya Jake, dan ayah adalah ayah. Apa perlu diulangi lagi bahwa dia dan Jake tidak ada hubungan apapun. Kenapa pula? 8Nara menggelengkan kepalanya. Malas berargumen. “Mama juga nggak berani diemin orang tua yang lagi ngomong.” Kalau dijawab salah, katanya membantah orang tua, giliran nggak dijawab dikira menyepelekan. Nara tersenyum pilu. “Mama, Jake tadi cuman main. Lagian Jake itu tetangga baru kita.” “Kalau tetangga itu ya diajak keliling kota, masa diajak keliling rumah? Emang dia pindahnya ke rumah ini?” “Tau ah, Mama.” “Terus yang sama Mark itu gimana?” Tuh, kan. Mamanya mulai lagi. Kilatan mengenai kejadian tempo hari terulang lagi, Nara, kan berniat melupakannya. “Mama, ihh.” “Kok jadi kamu yang ngambek?” Nara menghentakkan kakinya seraya bangkit dari duduk. Meninggalkan sang Mama yang kemudian mengedikkan bahu. Sedikit bingung akan respon putrinya, memang remaja itu sulit sekali dimengerti. Nyonya Kwon mengatakan bukan tanpa alasan, dia juga pernah muda. “Nanti sore ada les piano!” Nara mendengar teriakan menggema setelah menutup pintu kamar. Mengambil duduk di meja belajar sebelum membuka materi yang akan dipelajari esok hari. Satu dari sekian cara agar dia bisa melupakan sedikit masalahnya. Pelampiasan. Tidak ada yang salah. Memang negara ini terkenal akan ambisi dan persaingan yang besar antar siswa. Apalagi yang dari kalangan atas seperti dirinya. Banyak dari ibu murid yang mencari banyak guru privat untuk mengajar anak mereka secara pribadi. Dalam tanda kutip juga memberikan latihan soal yang hampir mirip dengan soal ujian. Persaingan untuk menuju tiga universitas besar disini sangat ketat. Sangat. Banyak orang menempuh cara tidak baik dan merugikan kalangan siswa menengah ke bawah. Nyonya Kwon adalah satu diantara ribuan orang tua itu. Meskipun jadwalnya ketat dan mengharuskan putrinya untuk terus giat belajar, dia masih memiliki sisi manusia. Tidak mewajibkan Nara mengikuti segala kemauannya. Maka, ketika Nara membuat rencana study cadangan dan pergi ke Australia, dia mendukung sepenuh hati. Tidak perlu berusaha terlalu keras, karena nyatanya harta mereka sangat cukup untuk memasukkan putrinya ke Hankook University ataupun Seoul University. Dalam tanda tebal kalau memang Nara mau. Tapi gadis itu tidak, dia ingin semua yang ia dapatkan adalah dari usaha sendiri tanpa campur tangan orang tua. Setiap hari selalu bekerja keras untuk belajar. Para siswa disini juga sudah terbiasa dengan jam sekolah yang akan berdenging pukul sepuluh malam. Belum juga dengan segala tambahan kelas dan ekstrakurikuler serta kelas mandiri. Sungguh, maka tidak aneh jika angka kematian akibat bunuh diri sangat tinggi. Stress berkepanjangan karena tuntutan belajar, ekonomi, serta strata penyebab berkumpulnya anak orang kaya sebagai pelaku bullying tak dapat dihindari. Silver spoon atau sendok perak juga menjadi privilege kasat mata yang memang benar adanya. Terlahir di keluarga ternama, terpandang serta kekayaan melimpah merupakan jembatan serta keuntungan berlebih yang didapatkan. Hierarki juga seperti itu, meski menyandang negara maju sebagai nama tengah, Korea nyatanya bukan tempat yang baik untuk bersosialisasi. Maka ketika Nara tumbuh sebagai putri tunggal keluarga kaya raya, pewaris sah satu-satunya dengan kekayaan tak habis hingga anak cicit. Dia sebenarnya menanggung beban besar. Seluruh usahanya akan dipandang sebelah mata, dipandang sebagai hasil koneksi dan relasi dari orang tuanya. Mungkin banyak yang seperti itu, Nara pun tak menampik bahwa mungkin orang tuanya juga turut andil atas strata sosial dan stereotype yang melekat padanya. Dan ketika dengan tegas Aron mengatakan hal itu kepadanya secara gamblang dan jelas. Nara tahu, mereka akan bersama jika salah satunya membuang ego ataupun merelakan pergi dari kekayaan. Pilihan yang sulit. Sangat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD