2. Gangnam Dan Kenangannya.

1909 Words
21 Maret, 2021 Musim semi kala itu dia begitu kepayahan. Respirasinya tidak mau diajak bekerja sama. Mungkin karena belum mengisi perut sejak pagi, atau memang semesta menetapkan takdir bahwa dia harus jatuh sakit siang itu. Matahari merangkak naik, tahtanya berada dipuncak keganasan. Nara jatuh terduduk dipinggir lintasan. Dari beberapa menit yang lalu mereka melakukan pemanasan. Tentu, guru olahraga yang memintanya. “Sera…” Dia memanggil sekuat tenaga, tapi lirihan kecil yang terdengar. Gadis itu berwajah cemas. Beberapa detik dia ragu, entah apa yang dipikirkannya. “Lo, kenapa? Asam lambungnya kumat?” cicitnya pelan. Lapangan sudah sepi, hampir seluruh muridnya sudah menepi ke lapangan lain. Berjarak satu gedung. Setitik sudut di hati Nara menghangat. Gadis itu masih mengingat dirinya, kelemahannya. Meskipun gerakan dan tutur katanya teramat menyakitkan, Sera tetap membantunya berjalan ke UKS. “Makanya jangan telat makan, Lo sih!” Nara tersenyum kecil. “Maaf.” Tempat berbau antiseptik itu sangat sepi. Hanya ada seorang gadis yang Nara tebak berada satu angkatan dibawahnya. Dengan sigap membantu Sera dalam memapah dirinya untuk dibaringkan di brankar. “Kak, gue ambilin obat dulu ya.” Dia berkata setelah Sera menjelaskan apa keluhan Nara. Namanya Yuki, gadis dengan mata sipit itu beralih menuju rak tempat obat berjajar setelah menerima anggukan Sera. Sesaat kemudian kembali. Dengan dua tablet obat serta segelas air mineral. Nara menerimanya dengan baik, menelannya tanpa protes. Pun, dia segera membaringkan tubuhnya di brankar. Matanya terpejam, dia ragu apakah benar Sera mengatakannya atau hanya sekedar halusinasi. Kesadarannya berada tiga perempat di ambang mimpi. Tapi yang jelas, Sera berbisik dengan mengusap buku jarinya. “Nara, maafin gue.” Hanya singkat. Bahkan tidak ada penjelasan lain, tapi Nara bahkan masih tersenyum dalam mimpinya. Sera masih sahabatnya. Dan hal itu tidak akan berubah. *** Sore harinya dia terbangun sendirian. Menggumam betapa perih ulu hatinya. “Jam berapa?” retorik karena dia berhadapan langsung dengan jam dinding. Bel sudah berbunyi dari dua jam lalu, sekiranya itulah yang membuat Nara terkejut. Tasnya? Apakah masih tertinggal dikelas? Dan dia bahkan belum menghubungi ibunya, orang rumah pasti khawatir. Antara satu ranjang dengan lainnya hanya bersekat tirai putih. Nara terkejut ketika pergerakan kasar dari brankar sampingnya. Dia pikir hanya dirinya disini. Sendirian. Aron muncul dengan wajah kusutnya. Mengagetkan Nara yang hampir terjatuh dari tempat tidur. “Aron?” bukan pertanyaan tapi dia hanya tidak percaya mereka berada dalam satu ruangan yang sama. Cowok itu melirik singkat kearahnya. Tas hitam yang tergeletak sebagai bantal tidur ia pakai asal. Mengeluarkan kunci dari saku celana. “Cepetan keluar. Gue mau ngunci ruangan ini.” Nara seketika mengangguk dalam diam. Ah, rupanya Aron menunggu untuk mengunci ruang UKS, atau bisa ia sebut menunggunya? Senyumnya terkulum. Keduanya berada di koridor depan UKS. Aron masih sibuk mengunci pintu. Nara menelan bulat pertanyaan yang sudah berada di pangkal lidah. “Kenapa?” Seakan tahu, Aron memecah keheningan. Selesai dengan kegiatannya dan kini menatap Nara sepenuhnya. “Itu, tas gue kayaknya masih dikelas.” “Nggak ada.” Aron menyusuri koridor menuju parkiran. Nara mengekor. “Kok bisa?” Bahkan Nara masih memakai seragam olahraga. “Gue titipin di pos satpam.” “Hah? Oh, oke, makasih?” “Pulang naik apa?” Nara tidak menduga sebelumnya. Bisa dibilang ini adalah percakapan dan waktu terlama yang mereka bagi berdua. Hanya berdua. Hanya ada Nara dan Aron. Dan ketika Aron bertanya dengan nada selembut itu dia kembali menerawang, apakah Aron akhirnya menyadari keberadaannya? “Harusnya udah dijemput dari tadi. Tapi sekarang enggak tau.” Aron memakai helm fullface , bersiap menaiki motor hitam besarnya. Mesin menyala. “Oke.” Begitulah percakapan diakhiri. Aron mengendarai motornya membelah kesunyian sekolah. Meninggalkan Nara yang mendesah berat dibelakang. Padahal Nara pikir Aron akan mengantarnya pulang. Berdua menaiki motor di penghujung senja. “Sadar, Nara.” Racaunya sembari melangkah menuju pos satpam. Dan sialnya lagi, Nara memang harus mengalami hal yang buruk lebih awal. Ditengah perjalanan pulang, tanpa sengaja ia melihat Sera dan Aron. Duduk berdua di café favoritnya. s**l. Tidak bisakah kesenangannya bertahan sedikit lebih lama? Setidaknya biarkan Nara menikmati perasaan membuncah hari ini. Dengan lesu menutup kaca mobil dengan malas. Sang ibu yang melihatnya merasa aneh. “Adek? Sakit lagi perutnya?” Nara menggeleng. Tenaganya terkuras habis. Tak bersisa. “Nanti mampir ke rumah sakit mau? Biar papa periksa adek dulu, lagian papa belum pulang.” Nara mengangguk. Ayahnya memang bekerja di rumah sakit itu. Lebih tepatnya ketua yayasan rumah sakit yang lumayan ternama di Gangnam. “Nara tadi udah makan?” Mungkin Nyonya Kwon juga menyadari ada yang aneh dari gelagat putrinya. Ada yang tidak biasa. “Belum.” Nara hanya menyahut sekenanya. “Jadi, mau makan dulu atau periksa dulu?” Tidak ada sahutan. “Ma?” “Iya sayang?” Nara menggenggam erat jemarinya. “Mama dulu bisa kenal papa karena apa? Apa mama yang suka duluan sama papa?” Nyonya Kwon mengangguk. Oh rupanya sang putri tengah dirundung soal asmara. “Papa kamu orangnya dingin,” memutar ingatan masa muda. “Kalau nunggu dia duluan yang nembak mama, mungkin kamu nggak bakalan lahir.” “Iya, kah?” Nara berbinar antusias, “terus, terus?” Ibunya terkekeh, kemudian melanjutkan sembari mengendari sedan hitam legam itu menuju rumah sakit. “Dulu, kita ketemu pas papa kamu lagi penelitian buat skripsi. Mama waktu itu anak BEM, semester lima kalau nggak salah. Lagi sibuk banget, kebetulan papa kamu itu anak pentolan kampus. Wajahnya ada di setiap cover majalah. Itu awal mama penasaran sama papa kamu. Ya gimana ya, ganteng, sih.” Kekehan menjadi penjeda. “Kita ketemu mungkin udah lama, tapi ya cuman papasan biasa. Bener-bener ngobrol yang panjang pas mama wawancara papa di radio kampus. Iseng aja ternyata dia mau pas mama tawarin. Gitu deh, kita akrab seiring waktu, tapi mama yang gencar deketin. Setiap hari mama yang nyapa duluan, emang papa kamu kayak kulkas dulu. Beku.” Nara mengangguk. “Kok mama bisa suka sama papa?” “Eum, kenapa ya? Nggak tau, mungkin karena beda rasanya? Deg-degan mau ke kampus cuman gara-gara nanti siangnya mau jalan bareng. Jadi semangat buat kuliah, biar ketemu papamu.” “Seru ya ma? Bisa pacaran, bisa suka sama orang.” Nyonya Kwon menyempatkan mengusap surai panjang Nara. “Adek punya pacar?” Nara menggeleng. “Lagi suka sama orang lain?” Meski samar gadis itu mengangguk. “Mama tau, pasti yang waktu itu dibuatin bekal sama adek ya?” Nara membulat seketika, “kok tau?” Nyonya Kwon terkekeh. “ Tau. Mama tau, soalnya, kan, adek nggak pernah masak sendiri. Tapi waktu itu senyum-senyum did dapur. Katanya mau buatin bekal buat temen. Siapa namanya?” Nara memberengut. Tidak lucu. Mamanya selalu tau apapun. Tidak asik. “Rahasia.” “Mama tebak orangnya ganteng, terus kalau senyum manis, ya nggak, dek?” “Ih, Mama kok tau?” “Lock screen kamu tuh, mama nggak sengaja liat.” Buru-buru Nara membuka ponselnya. Ah s**l. Benar, dia memasang foto Aron di sana. “Ganteng, dek. Mama kirain itu Mark NCT, loh.” Nara bersemu. “Ganteng, kan, ma?” Dengan semangat, yang dituakan mengangguk. “Iya, kapan-kapan boleh dong diajak main ke rumah.” Menimbang sebentar. “Nanti ya, ma.” Dia hanya berucap seperti itu. Berharap, kah? Mungkin iya. *** Semesta mungkin senang bermain dengan perasaan Nara. Atau ini pertanda bahwa semesta mau, menginginkan keduanya untuk kembali bertemu lewat kebetulan-kebetulan lainnya. Sudah hampir malam, tidak. Sudah malam rupanya. Nara hanya menikmati se-cup ramyeon di kursi minimarket. Mengamati rintik hujan yang menebarkan pias embunnya ke kaca jendela. Minuman soda kaleng ia teguk sekali lagi. Perpaduan luar biasa. Nara menyunggingkan senyum. Jaket yang ia pakai tidak tebal, teramat tipis hingga ia menggigil tadi. Sekarang agak berkurang–dinginnya, karena kudapan yang ia santap. Ponselnya berdering. Aron. Cowok itu meleponnya. Nara menepuk d**a kirinya. Berdehem untuk memastikan suaranya tidak bergetar. “Halo?” Tidak ada sahutan. Mungkin, suaranya teredam derai hujan. Maka Nara memutuskan untuk berucap lagi. “Aron?” Panggilan masih tersambung. Dan Nara menunggu. “Lo dimana?” Dingin sekali. “Kenapa?” “Kalau ditanya, jawab yang bener.” Nara mendengus. Tanpa sadar Aron mendengar di ujung sana. “Di rumah.” Kenapa dia berbohong? Nara pun tidak tahu. “Oke.” Sambungan terputus. Sebenarnya apa mau cowok itu, sih? Nara tanpa sadar berteriak. Menyimpan hp-nya di saku jaket. Masih dengan mulutnya yang bergumam. Hingga. “Katanya di rumah?” “Hah?!” Nara hampir terjungkal dari kursi itu. Beruntung, tangan Aron lebih cepat satu detik untuk menangkap pergelangan tangannya. Setelah membenarkan duduknya, dia tersenyum kikuk. Hell, siapa yang menyangka Aron ada disini? Duduk begitu dekat dengannya. Tahu yang lebih membuatnya gemetar? Bahu mereka bersentuhan. Dengar? Meski hanya tipis tapi sedekat itulah mereka sekarang. Sepertinya grogi hanya milik Nara, karena tampaknya Aron begitu menikmati meneguk minumannya dengan tenang. Menerawang hujan dari kaca jendela. Sementara Nara duduk tak berkutik. Nafasnya terlalu tercekat. Sumpah, mereka tidak pernah sedekat ini. “Rumah Lo, sekitar sini?” Siapa lagi, suara Aron terlalu maskulin. “Iya.” Maaf, Nara tidak menyiapkan banyak kalimat sehingga terkesan cuek. Tapi sungguh, bisakah debaran ini berhenti sekejap? Malu jika Aron bisa mendengarnya dengan jelas. “Oke.” Di atas langit masih ada langit. Dan di atas cueknya Nara, ingat masih ada Aron yang super dingin. Bisakah jawaban lain terdengar? Cowok itu hanya akan menjawab oke. Tidak ingin percakapan berakhir lebih cepat, Nara memutar otak untuk mencari bahasan yang lain. “Ra?” “Iya?” Siapa sangka Aron malah menjadi dalang dibalik konversasi berikutnya? “Buat Minggu lalu, sorry.” Nara cepat tanggap. Mengangguk maklum. “Nggak apa-apa. Gue misal diposisi Lo juga bakal ilfeel.” Gadis itu memutar kaleng sodanya. “Maaf juga ya, gue sering gangguin loker Lo. Sekarang udah enggak kok, meski gimanapun Lo pacarnya Sera.” Sakit. Sera bahkan tahu seberapa besar rasa suka Nara pada cowok ini. Rasanya seperti tertikam belati dari belakang. Tanpa persiapan, tanpa antisipasi. “Ra? Are You okay? Maksud gue, Lo sekarang agak kurusan bukan karena gue kan? Juga, style Lo sekarang sedikit berubah, itu bukan karena ucapan gue, kan?” Ingin menjawab tidak tapi benar, tak ayal Aron berperan dalam perubahannya. Meski tidak seratus persen. “Enggak kok, Lo nggak usah khawatir. Mungkin udah waktunya gue mikir soal penampilan.” Aron mengangguk. Sulit sekali membaca pikiran dari cowok yang berwajah datar itu. Semuanya tersembunyi dengan rapat. “Aron?” “Hm.” “Gue mau tanya. Tapi Lo jawab jujur bisa?” Aron mengangguk. “Tanya aja, bentar lagi gue mau balik.” Nara butuh validasi. “Alasan Lo. Misal gue nggak jelek Lo bakal mau sama gue? Misal gue nggak manja, Lo mau sama gue?” Tapi Nara terlalu jauh. Dia harus berhenti sebelum terluka lebih dalam. Kini bukan hanya Nara dan Aron, ada Sera diantara kisah mereka. “Gue nggak mau jawaban gue sekarang malah buat Lo makin bingung. Gue juga nggak butuh atau mau pembenaran atas jawaban ini. Tapi Lo tau kan, Nar? Gue punya pacar.” “I was asked you, bukan sekarang. Dulu, pas Lo nolak gue.” Nara pun tampaknya kaget dengan keberaniannya. Ayolah untuk ukuran gadis metropolitan, milenial, dan apalah itu, yang belum pernah menggenggam tangan lawan jenis selain ayahnya. Nara tidakkah punya keberanian baja? “Gue nggak suka status Lo, Nara. Sekarang udah puas?” Tidak. Jangan dulu beranjak. Nara masih menyimpan sejuta tanya untuk Aron. Tapi terlambat. Sepertinya Nara mengacaukan mood Aron. Cowok itu bergegas pergi, mendorong pintu kaca sebelum menaikkan tudung jaketnya. Menembus rinai hujan yang masih betah mengguyur bumi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD