27. Diam

3377 Words

“Ayo mah, kita sidang papa!!” ajak Tata menarik tanganku. Aku menahan langkahnya. “Tunggu de!!. Kasihan papa baru pulang, cape dan baru tidur” cegahku. Tata duduk lagi. Abang kembar yang bertahan menatapku. “Mama sedih ya?” tanya Barra. Aku menggeleng. “Mama cuma gak mau asal main tuduh sama papa. Polisi aja butuh bukti kalo nangkap penjahat” jawabku. Anak anakku diam dan kompak menatapku setelah mereka saling tatap. “Kan pesan itu udah bukti mah?” tanya Erdo. Aku gantian diam, lalu menatap layar handphone suamiku lagi. Di tunggu undangannya Belle. Kita memang harus bertemu. Itu bunyi pesannya, sebenarnya biasa aja. Hanya karena yang mengirim pesan perempuan dan aku juga anak anak tidak kenal sebelumnya, atau suamiku belum sempat cerita ya?, soal teman perempuannya yang bernama

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD