“Bolehkah aku menciummu?” ucap Milea sangat lirih namun sangat jelas di dengar oleh Julian.
Julian menoleh memandang wajah Milea yang sudah memerah karena terlalu mabuk, napasnya terhenti, jantungnya berdegup kencang. Ia kemudian fokus ke depan lagi sembari terus melangkah.
”Kau mabuk, buat tidur biar lebih enak," tuturnya.
Milea mengerutkan bibir menahan kecewa yang menyelinap, tapi ia tidak mudah digoyahkan. Tanpa persetujuan pun ia tetap meraih kepala Julian lalu mencium pipinya, ia tekan lama, mata terpejam, bibir terasa hangat.
Langkah Julian berhenti, tubuhnya membeku sejenak, matanya berkedip sesekali merasa jantungnya kian berlarian. Perlahan ia menoleh, mendapati wajah cantik itu tersenyum sangat manis hingga kedua lesung pipinya terlihat.
“Terima kasih, ciuman natal yang indah," ucap Milea kemudian menutup matanya seraya mengeratkan pelukannya pada leher Julian.
Julian memejamkan matanya singkat menguasai diri, segera membawa Milea pulang karena udara begitu dingin. Natal tahun ini sepertinya lebih dingin dari tahun sebelumnya meski tak turun salju.
Begitu sampai di Apartemen, Julian dengan cekatan melepaskan sepatu yang dikenakan Milea setelah merebahkannya di ranjang. Menarik selimut untuk membungkus tubuhnya agar tidak kedinginan.
Tadinya ia ingin langsung beranjak tetapi ada sesuatu yang menariknya untuk diam di tempat. Tangannya terulur begitu saja memegang pipi Milea, tak tahu kenapa ia merasa seperti terkurung ke dalam keheningan malam, hanya ada napas lembut Milea yang mengirinya.
Wajah manja itu seperti magnet, menarik perhatiannya dengan kekuatan yang tak bisa ditolak. Ia tersentak, sadar tangannya masih menyentuh pipi lembut itu, seperti ingin mengabadikan momen ini. Ada rasa tenang yang tak biasa, seperti menemukan oasis di tengah badai, membuat Julian lupa untuk beranjak.
Ia berbisik, suaranya hampir tak terdengar. “Apa yang kau lakukan, Julian...? Kenapa kau masih di sini...?"
***
Keesokan paginya terlihat keriwehan yang dilakukan Milea di dapur, ia bukan sedang memasak melainkan sok ingin membantu Julian yang tengah menyiapkan sarapan untuk mereka.
“Butuh apa lagi? Aku ambilkan.” Mata Milea memerhatikan tangan Julian yang sangat cepat memotong sayuran di atas telanan.
Julian tersenyum lepas, mata sipitnya berkerut, ada kesan sayang di balik ledekan
“Sudah duduk saja, kau 'kan takut kompor," ucapnya sambil mengaduk sayuran dengan cekatan, tidak ingin Milea terluka.
“Mana ada? Aku hanya takut menggoreng ikan saja," kilah Milea tidak terima.
Senyuman Julian kian lebar, ia telah selesai memotong sayuran dan mengiris beberapa bumbu. Dulu waktu baru masuk Akmil dirinya sudah belajar dasar-dasar memasak, tentunya bukan hal sulit untuk melakukannya. Toh Milea juga bukan wanita yang pilih-pilih makanan, yang Julian masak juga akan dimakan.
“Kenapa banyak sayurnya, aku tidak suka sayur," protes Milea.
“Kau harus banyak makanan sayuran, tubuhmu terlalu ringan sekarang," sahut Julian mulai fokus dengan makanannya.
“Memangnya kau tahu berapa berat badanku?” Milea mengernyitkan dahi tak percaya, berdiri di belakang Julian sambil memegang kaos pria itu. Matanya mengintip sayuran yang di olah.
Julian menoleh sekilas sebelum menjawab. “Semalam aku menggendongmu.”
Kedua mata Milea melebar kemudian dikedipkan dengan cepat, ia ingat kejadian semalam membuat hatinya cukup cerah lagi ini. Tiba-tiba ia bergerak dari balik ketiak Julian kemudian mengambil alih spatula dari tangan pria itu.
“Sini, aku yang mengaduknya. Kau yang menyiapkan bumbu," kata Milea sok-sokan ingin memasak, tapi ketika melihat sayuran yang meletup ia malah langsung mundur.
Punggung Milea membentur d**a Julian dan hampir terjatuh, Julian sigap menahan pinggang wanita itu agar seimbang. Keduanya saling pandang lalu tersenyum secara bersamaan.
“Aku bilang 'kan? Sudah duduk saja sana," tutur Julian.
“Tapi nanti aku tidak bisa-bisa, kau kan di rumah hanya seminggu sekali. Aku mau belajar," rengek Milea, takut tapi ingin bisa itulah dirinya. “Ajari, ya?” pintanya memasang wajah manja.
Julian pasrah saja saat Milea meminta seperti itu, lagipula ia telah mengambil cuti beberapa hari untuk menemani Milea. Bukannya apa-apa, Julian hanya tidak mau Milea nekat seperti semalam dan membahayakan dirinya.
Pagi itu Julian menjadi lebih banyak tertawa karena ulah Milea, wanita itu menurutnya sangat lucu ketika manja. Apalagi saat cemberut, seperti ikan buntal karena pipinya yang mengembung.
“Nyerah, nyerah, aku mau menunggu makanan jadi saja." Milea kembali merengek, merasa gerah dan tak nyaman hingga ia memilih kabur.
Julian hanya menanggapinya dengan tawa. ”Ya, ini akan siap sebentar lagi. Kau mandi saja dulu."
“Tidak mau.”
“Maunya apa?”
Milea menyadarkan tangannya pada dagu, matanya sibuk menatap Julian yang menurutnya selalu tampan di segala cuaca. Tubuhnya sangat ideal, senyumnya hangat dan mata sipit yang indah.
“Mau kau," jawab Milea lirih namun terdengar sangat dalam. Julian menoleh tapi tak mengatakan apa pun. “Hubby," ucapnya lagi.
“Kau memanggilku apa?” Julian sudah menyelesaikan masakannya, dibuat terpaku dengan panggilan yang diberikan Milea.
Alih-alih menjawab Milea justru mengulas senyum yang manis, duduk tenang layaknya anak kecil yang menunggu makanan siap. Julian menggelengkan kepala, sepertinya ia hanya salah dengar. Ia melanjutkan menyiapkan makanan, membawanya ke hadapan Milea dan mencuci tangan untuk sarapan.
Milea memulai sarapan dengan lahap, kedua matanya melebar dan mengacungkan kedua jempol. “Masakanmu tidak pernah gagal, ini sangat enak," celetuknya.
“Kalau begitu habiskan.”
Milea mengangguk cepat-cepat, tak berbohong jika masakan itu enak. Padahal hanya sayuran yang dibumbu dan sedikit kecap asin. Mungkin karena hati Milea memang sedang senang sekarang.
”Kau tidak pergi ke Camp?" tanya Milea dijawab gelengan lemah oleh Julian. ”Kenapa?" Kali ini Milea begitu keheranan, biasanya Julian paling semangat jika kembali ke Camp.
Julian tidak menjawab, tak ingin Milea tahu apa alasannya tidak kembali ke Camp. Milea yang dicuekin merasa penasaran, tapi tak membutuhkan waktu lama untuk ia tersenyum kembali.
“Kau sengaja libur untukku?" tebak Milea.
Julian menghentikan makannya, mengangkat pandangan, tertangkap mata bulat Milea yang menantang. Ia berdehem, bersikap cool dan membantah. “Tidak."
“Ya!” Milea ikut membantah, bahkan mendesak dengan terus menatap Julian.
“Aku bilang tidak, kebetulan memang libur hari natal," kilah Julian lagi.
“Ya!” Milea pun masih ngeyel.
“Tidak.” Julian kembali melakukan sanggahan lali berlanjut Milea yang tak percaya.
“Ya" dan “Tidak” saling bersahutan dari bibir keduanya.
“Ya, kan? Ya, Kan? Ayo mengaku?" desak Milea terus-menerus.
“Ya!" Julian yang sudah jengkel akhirnya menyerah dan berkata jujur.
Senyum kemenangan terukir di bibir Milea saat ia menyaksikan rona merah merambat dari leher hingga ke ujung telinga Julian. Bukannya merasa iba, Milea justru merasa adrenalinnya terpacu. Dengan gerakan pelan yang sengaja dibuat dramatis, ia bangkit dari duduknya.
Langkah kaki telanjangnya nyaris tak terdengar saat ia memutar ke belakang kursi Julian. Ia menumpukan tangannya di bahu pria itu, memberikan remasan lembut yang lebih terasa seperti godaan ketimbang pijatan fungsional. Julian membeku, napasnya tertahan di kerongkongan.
Pandangan Julian tak sengaja jatuh pada pantulan Milea di kaca lemari di depan mereka. Gadis itu hanya mengenakan kaus kebesaran yang merosot di satu bahu, dengan rambut yang dicepol asal-asalan (messy bun) yang memperlihatkan tengkuk jenjangnya.
Penampilan rumahan yang berantakan itu justru terasa jauh lebih berbahaya bagi pertahanan diri Julian. Ditambah lagi, jemari kaki Milea yang sesekali bergesekan dengan lantai kayu membuat fokus Julian semakin buyar.
Perlahan, Milea mencondongkan tubuhnya ke depan. Wajahnya bergerak maju hingga hanya tersisa beberapa sentimeter dari pipi Julian. Merasakan hawa panas dari kehadiran Milea, Julian memberanikan diri menoleh.
Mata mereka bertemu dalam jarak yang begitu rapat. Julian bisa mencium aroma samar sabun mandi dan kopi dari napas Milea. Keduanya saling mengunci tatapan tajam, penuh selidik, dan sarat akan sesuatu yang tak terucapkan.
“Kau sudah di rumah,” bisik Milea, suaranya serak dan rendah tepat di depan bibir Julian. “Menurutmu, enaknya kita melakukan apa?”
Bersambung~