Julian tetap tenang ketika godaan lembut itu hadir, namun ternyata ia tidak bisa setenang biasanya. Telinga terlihat memerah dengan rona merah yang ikut hadir pada pipi, ia berusaha duduk tenang tetapi kian resah ketika tangan mungil itu meremas lembut bahunya.
“Kita akan ibadah merayakan natal, bersiaplah aku akan membereskan ini,” sahut Julian menoleh melempar senyum tipis pada Milea.
Milea membalas senyum itu tanpa rasa kecewa, lagipula ia hanya menggoda Julian bukan yang benar-benar ingin melakukan sesuatu. Kini malah hatinya terasa berbunga-bunga saat melihat telinga Julian yang sangat merah, jelas hal itu sudah menjawab segalanya.
Tak langsung beranjak, Milea justru mencondongkan tubuhnya kembali ke arah pria itu hingga aroma rambutnya yang wangi tercium.
“Kenapa buru-buru ingin pergi, ini masih sangat pagi,” ucapnya, suara itu jatuh lembut dengan nada yang pasti.
“Lebih enak pergi pagi agar tidak terlalu panas ‘kan?” Julian masih tenang, tetapi ia merasakan sesuatu yang dingin menyentuh punggung.
“Sial!” Dalam hati mengumpat jengkel sekali, ini jelas bukan dirinya yang biasa.
Mata Milea melirik rona merah yang kian menjalar ke mana-mana, bahkan ke leher hingga membuat wajah Julian terlihat seperti kepiting rebus. Ia tak mampu menahan tawanya, merasa sangat lucu.
“Tertawa?” Julian mengernyitkan dahinya aneh.
Milea masih tertawa kecil kemudian menundukkan wajahnya lebih dalam hingga hidung keduanya nyaris bersentuhan. Mata mereka saling bersitatap sangat dekat.
“Ternyata kau sangat lucu kalau salah tingkah, Kapten.” Milea berbisik lirih, suaranya parau yang menggetarkan perasaan Julian. “Apa ini bentuk jawaban, jika …” Perlahan Milea mengulurkan tangan menyentuh d**a Julian, mengusapnya sangat lembut hingga ia bisa merasakan debaran jantung pria itu.
“Namaku sudah ada di sini.”
Julian mencekal tangan Milea saat ingin bergerak turun lagi, menggenggam kuat namun tidak menyakiti.
“Kau sudah sangat berusaha seperti ini, jadi ayo kita buktikan.” Tiba-tiba Julian bangkit dan mengubah keadaan dengan merengkuh pinggang Milea dengan satu dekapan tangan.
Milea sangat kaget akan gerakan Julian yang begitu tiba-tiba, ia pun berusaha tenang dan menantang meski jantungnya berdegup sangat keras. Ia mengangkat dagu seolah tak goyah.
“Siapa takut?” Ia berbisik melempar tatapan sendu yang benar-benar menggoda iman.
Julian kembali mengumpat dalam hati, tangannya terangkat menyentuh kedua pipi Milea dengan penuh kelembutan. Milea tersenyum, ikut memegang tangan itu seraya melempar senyum yang indah. Tak bisa dipungkiri oleh Julian, pertahanan dirinya goyah. Wajah cantik di hadapannya terlalu menggoda membuatnya menunduk, menyatukan hidungnya dengan Milea namun masih ragu untuk mendekat lagi.
Milea merasa seperti berada di atas awan, dia tidak tahu apa yang akan terjadi, tapi dia siap untuk menghadapi apa pun. Napas keduanya beradu sangat cepat, hangat dan terasa mendebarkan.
Julian menarik napas panjang, mencoba menguasai dirinya sebelum benar-benar kehilangan kendali. Melihat Milea yang tampak sangat percaya diri setelah menggodanya, sebuah ide jahil muncul di kepala sang Kapten.
Tanpa melepaskan rengkuhannya, tangan Julian bergerak cepat ke arah pinggangnya sendiri, melepas ikat pinggang kulit yang ia kenakan.
"Julian! Apa yang mau kau lakukan?" seru Milea kaget, matanya membelalak.
"Tadi kau bilang 'siapa takut', kan?" Julian menyeringai tipis. Dengan gerakan cekatan khas seorang prajurit, ia menarik kedua tangan Milea ke depan dan melilitkan ikat pinggang itu di pergelangan tangan wanita itu. Tidak terlalu kencang hingga menyakiti, tapi cukup kuat untuk membuat Milea tidak bisa bergerak bebas.
"Julian! Lepaskan! Ini curang!" protes Milea sambil mencoba meronta, wajahnya memerah karena kesal. "Aku cuma bercanda tadi, kenapa aku malah diikat begini?"
"Ini hukuman karena kau sudah membuat detak jantungku kacau pagi-pagi begini," sahut Julian santai sambil mengunci ujung ikat pinggang itu. "Sekarang kau diam di sini. Aku tidak mau kau aneh-aneh lagi sampai kita berangkat ibadah."
Milea mendengus keras, bibirnya mengerucut tajam. Ia memalingkan wajahnya ke arah lain dengan gaya ngambek yang sangat kentara. "Jahat! Kapten macam apa yang mengikat istrinya sendiri? Aku tidak mau bicara padamu!" gerutunya ketus.
Melihat Milea yang merajuk seperti anak kecil, Julian justru merasa wanita itu berkali-kali lipat lebih menggemaskan. Ia tidak menjauh, justru kembali mendekat hingga tubuh mereka nyaris bersentuhan lagi.
"Marah?" tanya Julian lembut.
Milea hanya diam, tetap membuang muka dengan napas yang memburu karena dongkol.
Tiba-tiba, Julian menundukkan kepalanya. Ia tidak mencium bibir Milea, melainkan menyodorkan pipinya tepat di depan wajah Milea. Ia diam di sana, menunggu dengan sabar.
"Kenapa pipimu di depan wajahku?" tanya Milea ketus, meski matanya mulai melirik ke arah kulit bersih di pipi Julian.
"Biar tidak marah, " bisik Julian sedikit kaku nadanya, entah kenapa ia melakukan ini.
Milea tertegun, sedikit kaget malahan dengan permintaan itu. Amarahnya yang tadi meledak-ledak seolah tersiram air es, langsung padam seketika. Ia menoleh perlahan, menatap pipi Julian yang kini berada hanya beberapa milimeter dari bibirnya. Keheningan tiba-tiba menyergap, dan Milea bisa merasakan ketulusan dan sedikit rasa malu di balik permintaan suaminya itu.
Tanpa kata, Milea akhirnya menyerah. Ia memajukan wajahnya dan mendaratkan sebuah kecupan lembut, lama dan dalam.
Cup
Seketika, Milea terdiam. Wajahnya yang tadi merah karena marah, kini berubah menjadi merah karena malu yang luar biasa. Ia menunduk, menyembunyikan senyumnya yang mulai muncul di balik tangannya yang masih terikat. Julian pun tidak jauh berbeda, ia tersenyum lebar, merasa menang telak pagi ini.
“Bilang saja kau ketagihan ciumanku, Kapten!" bisik Milea yang berhasil menghadirkan rona merah kembali di pipi sampai telinga Julian.
Julian tidak menjawab apa pun, berpura-pura sibuk lagi setelah melepaskan ikat pinggang di tangan Milea. “Bersiaplah," ucapnya sok dingin.
***
Matahari pagi menyusup di sela-sela pepohonan saat Julian mengeluarkan dua buah sepeda dari bagasi rumah. Udara Natal yang sejuk membuat suasana terasa begitu tenang. Julian sudah rapi dengan kemeja yang pas di tubuhnya, sementara Milea terlihat cantik dan segar, meski sisa-sisa rona merah di wajahnya akibat kejadian tadi belum sepenuhnya hilang.
"Kenapa dua sepeda?" tanya Milea sambil berkacak pinggang, menatap dua kendaraan roda dua itu dengan kening berkerut.
"Kenapa? Kita memang berdua, satunya aku dan satunya kau." Julian mengernyitkan dahi bingung akan pertanyaan itu.
Milea mendengus kesal, ia tiba-tiba memutar tubuhnya yang sudah cantik dengan pakaian terbaiknya itu. “Sudah secantik ini, yakin tidak ingin memboncengku, Kapten?”
Julian tersenyum tipis seraya menggelengkan kepala, ia menyentil dahi Milea perlahan. “Bersepeda sebentar supaya tubuhmu sehat, ayo naik."
Julian mulai mengayuh pelan, menganggap perdebatan selesai. Namun, ia tidak tahu bahwa Milea punya seribu cara untuk mendapatkan keinginannya. Milea menatap ban belakang sepedanya dengan kilat jahil di mata. Dengan gerakan secepat kilat, ia berjongkok, membuka katup udara, dan menekan p****l bannya sampai terdengar suara desis yang panjang.
Pshhhhhhh...
"Julian! Aduh, tunggu!" seru Milea dengan nada yang dibuat-buat panik.
Julian mengerem sepedanya dan menoleh. Ia turun dan berjalan menghampiri Milea yang sedang memasang wajah paling memelas sedunia. "Kenapa lagi?"
"Lihat ini... ban sepedaku kempes total. Sepertinya bocor atau katupnya rusak," ucap Milea sambil menunjuk ban yang sudah rata dengan tanah. Ia menahan tawa sekuat tenaga saat melihat ekspresi Julian yang tampak curiga.
Julian berjongkok, memeriksa ban itu. Ia tahu persis ban itu baru saja ia pompa tadi malam dan tidak mungkin bocor tiba-tiba tanpa sebab. Ia melirik ke arah Milea yang sedang bersiul kecil sambil melihat ke langit, seolah-olah dia tidak tahu apa-apa.
Julian menghela napas panjang, ia berdiri dan menatap Milea dengan tatapan "aku tahu akal busukmu"
"Bocor, ya?" tanya Julian pelan.
"Iya, sayang sekali ya. Padahal aku ingin sekali bersepeda sendiri tadi," dusta Milea dengan akting yang sangat meyakinkan. "Jadi... gimana? Masa aku jalan kaki pakai sepatu cantik begini?"
Julian terdiam sejenak, lalu ia mendengus gemas. Tidak bisa marah, tapi juga tidak bisa membiarkan kelakuan istrinya ini lewat begitu saja. "Ya sudah, naik," perintahnya sambil menepuk kursi belakang sepedanya.
Wajah Milea langsung cerah secerah matahari pagi. Ia melompat naik ke boncengan belakang dan segera melingkarkan lengannya erat-erat di pinggang Julian.
"Ayo jalan, Kapten!"
Julian mulai mengayuh dengan beban tambahan di belakangnya. Namun, rasa gemasnya sudah di ubun-ubun. Di tengah jalan yang sepi, ia tiba-tiba menghentikan sepedanya secara mendadak.
"Eh, kenapa berhenti?"
Julian berbalik, tanpa peringatan ia menggunakan kedua tangannya untuk mengacak-acak rambut Milea dan mencubit kedua pipi wanita itu dengan gemas sampai wajah Milea jadi penyek.
"Kau ini nakal sekali, ya! Kau pikir aku tidak tahu kau sendiri yang mengempeskan bannya, hah?"
"Aduwh! Ju-lian! Lepasin!" seru Milea dengan suara tidak jelas karena pipinya diremas.
Julian baru melepaskannya setelah puas menguyel-uyel wajah istrinya itu. Ia tertawa, tawa lepas yang jarang ia tunjukkan sebelum kembali mengayuh sepeda dengan Milea yang kini tertawa sambil memeluknya lebih erat dari sebelumnya.
"Jangan diulangi lagi, atau aku turunkan di tengah jalan," ancam Julian, meski nada suaranya sangat lembut.
"Tidak janji!" sahut Milea riang, menyandarkan kepalanya di punggung kokoh Julian, menikmati setiap kayuhan menuju gereja di pagi Natal yang indah itu.
Julian kembali mengayuh dengan wajah yang kembali cool dan lurus ke depan. Ia melakukan ini semata-mata karena kewajiban sebagai suami. Baginya, Milea hanyalah "gangguan manis" yang harus ia hadapi setiap hari, belum lebih dari itu.
Bersambung~