BAB 10

1170 Words
Hal pertama yang di tangkap Anggana dalam pandangannya adalah gelap. Hal pertama yang di tangkap Anggana di pendengarannya adalah sepi. Anggana masih mencoba menerka, apakah dia sudah mati? Atau masih hidup? Anggana mencoba membuka matanya tetapi gagal, bukan hanya matanya tetapi semua bagian tubuhnya terasa sulit untuk di gerakkan. Anggana mencoba melemaskan tubuhnya, memberikan jeda kepada tubuhnya. Cukup lama! Suara detak jantung yang ada di dadanya menyadarkan Anggana bahwa kemungkinan besar dia masih hidup. Dengan sekuat tenaga Anggana kembali mencoba membuka matanya, berhasil! Namun, yang di temukannya masih gelap. Anggana mencoba membuka matanya lebar-lebar, lalu mulai menggerakkan jari-jemarinya yang kaku. “Haaashh ..,” decih Anggana di sela-sela percobaan untuk duduk. Tubuhnya lemah tak bertenaga mulai dari jari hingga setiap bagian ujung tubuhnya. Entah sudah berapa lama laki-laki itu pingsan. Yang jelas, tubuhnya lemah bahkan sekedar untuk bernafas saja sulit. Cukup lama Anggana mulai menyadarkan dirinya, lalu akhirnya matanya benar-benar terbuka. Dengan sekuat tenaga laki-laki itu mendudukkan tubuhnya di sebuah pohon yang besar. Dari balik bulu matanya Anggana menemukan mesin waktu yang berada tidak cukup jauh dari tempatnya duduk. Sebelumnya Anggana masih berada di dalam mesin itu, tetapi sekarang dia berada di luar, apakah itu artinya dia terlempar? Anggana melihat ke bagian lengannya, ada memar di sana yang menyimpulkan anggapan Anggana sebelumnya adalah benar. Dia terlempar! Anggana mencari beberapa barang yang dia bawa, tetapi tidak satu pun dia temukan. Mungkin karena gelapnya malam, atau karena matanya yang memang belum optimal. Gemericik air menyadarkan Anggana, laki-laki itu memaksakan tubuhnya berdiri dengan tangan yang tetap berpegang kuat di pohon. Anggana menemukan sungai kecil yang mengalir deras, Anggana bergegas mendekat lalu mengambil air melalui tangan dan meminumnya. Berulang kali Anggana memasukkan air ke dalam mulutnya, sekaligus membasuh muka. Sungai kecil di hadapannya sangat jernih, bahkan bisa memantulkan bayangan tubuhnya yang kini terlihat jelas dengan bantuan sinar bulan. Anggana masih mengenali wajahnya di pantulan air sungai, hanya saja kumis dan jenggot cukup lebat menghiasi wajahnya yang biasanya bersih. Anggana memastikan, memegang di bagian dagu dan atas bibir, memang benar dia bisa menemukan bulu-bulu yang mulai tumbuh berantakan dan panjang. Dari pantulan air Anggana juga bisa menemukan apel yang masih berada di pohon. Anggana menelentangkan tubuhnya, dan menemukan apel-apel yang terlihat nikmat bergelantungan di pohon. Mungkin karena siraman air jadi mata Anggana baru bisa digunakan sebagai mana mestinya. Anggana mencoba berdiri, lebih kuat dari sebelumnya. Laki-laki itu dengan mudah memetik satu apel lalu memakannya. Berulang kali dia melakukan itu hingga kenyang, tak lupa Anggana juga membawa untuk persiapan dalam perjalanan. Entah berada di mana dirinya saat ini. Di sepanjang garis pandangnya dia hanya bisa menemukan pohon tinggi dan daun-daun yang lebat. Setelah merasa cukup kenyang Anggana mulai mencoba mencari-cari barang-barangnya. Anggana mendekat ke mesin waktu, di dekat mesin itu Anggana menemukan tasnya. Laki-laki itu memastikan isinya. Kitabnya masih berada di dalam tas dengan baik. Lalu Anggana mencoba mencari barang-barangnya yang lain, beruntungnya dia masih menemukan pedang yang diberikan Prof. Leiden. Hanya ada dua barang itu kini yang menemaninya, pedang dan kitab Jiva. Anggana mulai berjalan menyusuri sungai. Dia harus tetap mengingat keberadaan mesin waktu untuk bisa kembali ke masa depan, walaupun sebenarnya dia masih belum bisa menentukan keberadaanya saat ini ada dimana. Sepanjang perjalana hanya bebatuan yang dia temukan. Anggana memutuskan terus berjalan hingga pagi menjelang. Pohon yang di lewati Anggana semakin kecil dan tumbuh-tumbuhan yang dia temukan tak lagi asing. Bahkan Anggana mulai menemukan tanaman yang rapi buatan manusia. Lalu tiba-tiba dia merasakan pukulan yang hebat di tengkuknya. Lagi-lagi pandangannya mengabur, Anggana jatuh pingsan. -- Byuurrr.. Guyuran air dingin menyadarkan Anggana. Laki-laki itu sadar, tetapi sayangnya tangan dan kedua kakinya terikat kuat di sebuah tiang tinggi. Di hadapannya berdiri dua orang laki-laki dengan tubuh besar dan hitam, rambutnya panjang berantakan dengan wajah menakutkan. “Katakan siapa namamu dan dari mana asalmu?” tanya laki-laki yang bertubuh sedikit lebih pendek dari laki-laki di sampingnya. “Namaku Anggana, aku tersesat.” Laki-laki itu mendecih meremehkan. Buughhh.. Sebuah pukulan telak di dapatkan Anggana di perutnya, membuat laki-laki itu meringis kesakitan. Dia sudah pingsan dalam waktu yang cukup lama, hanya makan apel semalam dan sekarang ini perutnya mendapatkan sebuah pukulan keras. Rasanya menyakitkan! Fuc*k.. Maki Anggana dalam hati. “Jangan pernah berani membohongi kita, katakan siapa namamu dan dari mana asalmu?” tanya laki-laki itu sekali lagi. “Aku Anggana, dan aku tersesat,” jawaban Anggana masih sama. Mata Anggana memejam saat laki-laki hendak kembali memukulnya, lama matanya terpejam dia tak merasakan apa-apa. Anggana membuka matanya melihat ke arah laki-laki itu. Terlihat laki-laki yang bertubuh lebih tinggi menahan tangan laki-laki yang hendak memukulnya. “Sabar, tidak semuanya di selesaikan dengan pukulan.” “Kakang selalu seperti itu, lembek!” ucap laki-laki itu lalu pergi dengan marah. “a*u!” Laki-laki dengan tubuh lebih besar menelisik ke wajah Anggana. “Kenapa aku seperti pernah melihatmu?” Anggana masih terdiam, tidak tahu juga menjawab apa. Dia hanya diam menunggu kalimat yang akan diucapkan laki-laki itu selanjutnya. “Jelaskan bagaimana kamu bisa tersesat sampai di sini?” “Aku tidak tahu, yang jelas aku pingsan lalu terbangun di sebuah hutan dengan banyak pohon apel, lalu aku menyusuri sungai kecil hingga sampai ke sini, itu saja,” jelas Anggana sedikit berbohong. Tentu saja dia tidak akan menjelaskan kedatangannya dari masa depan. “Apakah kamu bisa dipercaya?” Anggana mengangguk. Laki-laki itu mendekat lalu melepaskan tali yang mengikat kaki dan tangan Anggana. “Aku menemukan sebuah pedang bersamamu, sementara aku menyingkirkan benda itu.” “Terima kasih,” ucap Anggana. “Namaku, Kara,” ucap laki-laki itu mengenalkan diri. “Aku Anggana, kamu bisa memanggilku Gana.” Kara membawa Anggana ke depan rumah. Rumah Kara hanya terbuat dari kayu-kayu yang di susun untuk melindungi mereka dari hujan dan panas matahari. Tidak ada kamar, hanya dua buah dipan yang berada di depan rumah dengan meja kayu dan perabotan lainnya. “Kalau boleh tahu, sekarang ini aku berada di wilayah siapa?” Kara menatap Anggana dengan ragu. “Kerajaan Kalingga Danuwara.” Ada perasaan hebat membuncah di hati Anggana. Mereka bertiga berhasil membawa Anggana ke tahun yang sesuai dengan yang diinginkan. “Siapa yang berkuasa?” tanyanya sekali lagi untuk memastikan. “Maharaja Kanugara.” Anggana tersenyum simpul, akhirnya dia berhasil berada di sini. Kara menyajikan singkong bakar yang sudah mendingin, lalu air rendaman daun-daun berwarna hijau yang memiliki aroma manis. “Apa ini?” “Bukan racun.” Anggana tersenyum. “Aku benar-benar tidak tahu.” “Ini air rebusan daun gamala, dipercaya menyembuhkan bagian-bagian tubuh yang terluka. Aku melihat lebam di bagian lenganmu,” jelas Kara. “Terima kasih.” “Dari mana kamu mendapatkan luka itu?” “Sepertinya aku terlempar cukup jauh,” jawab Anggana sambil mencoba menyeruput minuman yang dihidangkan Kara. Sruuptt.. “Rasanya manis, enak,” puji Anggana jujur. “Kamu bisa mandi di padusan belakang, dekat dengan sungai yang membawamu kesini,” jelas Kara sambil menyerahkan sebuah batu mirip seperti pisau.”Ini untuk mencukur kumis dan jenggotmu.” “Oh, ya? Apakah bisa?” “Mau aku jelaskan caranya?” “Tentu saja,” jawab Anggana antusias.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD