BAB 8 - Kehamilan Pramesti

1205 Words
Setelah berjalan hampir satu bulan, akhirnya mesin waktu Akmaragana bisa kembali dihidupkan. Ada beberapa modifikasi yang di persiapkan Anggana dan Bima, akhirnya mesin itu nyaris sempurna dan siap digunakan di tanggal tiga puluh satu. Mereka bertiga sedang beristrahat setelah menghabiskan waktu melelahkan beberapa jam sebelumnya. Anggana duduk di sebuah kursi besar yang mengarah langsung ke komputer, dengan Prof. Leiden yang berdiri sambil melihat ke arah mesin waktu yang kini terlihat lebih bersih. Bagaiman dengan Bima? Laki-laki itu sibuk membuka ponsel. Bima memiliki gebetan, setidaknya itu alasannya kenapa harus membuka ponsel walaupun di saat genting. “Apakah aku bisa menggunakan mesin waktu ini untuk kembali ke masa sekarang. Prof?” tanya Anggana. “Seandainya ada yang aku butuhkan disini,” tambahnya. “Seharusnya bisa, Gan. Mesin ini di rancang untuk pulang dan pergi, seharusnya jika kamu bisa pergi, kamu juga bisa kembali.” “Semoga saja mesin ini bisa berjalan sesuai yang di rencanakan,” ungkap Anggana. “Pasti, Anggana.” Jawab Prof. Leiden. “Aku tinggal memasang daya 1000 watt untuk menambah tekanan, aku takut tiba-tiba berhenti di tengah jalan kalau daya mesinnya kurang maksimal,” ucap Anggana memecah sepi. “Aku setuju saja, Gan. Memang lebih baiknya di persiapkan dayanya,” jawab Bima masih dengan tetap memusatkan perhatiannya ke arah layar. Satu bantal yang biasa digunakan mereka untuk tidur terlempar tepat mengarah ke Bima. “Aduh,” Bima mengaduh. “Kamu masih beruntung aku cuma melempar bantal bukan besi!” “Kamu kenapa sewot sahabatmu punya gebetan? Aku juga sudah jawab kan, memang harus ditambahkan daya, aku setuju.” “Oke,” jawab Gana dan Prof Leiden bersamaan. Bima memandang keduanya dengan malas, lalu meletakan ponselnya di meja. Mengalah, lebih tepatnya. Hanya mereka bertiga yang boleh masuk ke ruangan ini, bahkan Padmana hanya akan menunggu di luar sampai mereka selesai mengerjakan proyek mesin waktu. Setiap hari Anggana dan Bima menghabiskan waktu lebih dari 15 jam di ruangan ini. Bahkan makanan pun harus di sediakan Padmana dari luar lalu di bawa masuk. Saat di rumah, mereka sudah lelah. Biasnaya mereka akan makan lalu kembali ke kamarnya masing-masing. “Sepertinya hari ini kita akhiri sampai di sini, daya akan segera aku dapatkan maksimal besuk,” janji Prof. Leiden. Anggana dan Bima setuju, mereka bertiga juga cukup lelah, memutuskan untuk pulang kembali ke rumah. Di sepanjang perjalanan, mereka membahas tentang beberapa persiapan Anggana melakukan perjalan mesin waktu. Termasuk pakaian yang harus bisa menyesuaikan di masa itu. Semuanya harus dipersiapkan dengan matang. Tepat pukul lima sore Anggana sudah berada di rumah, hal yang tidak biasa terjadi selama hampir satu bulan ini, membuat Pramesti terkejut. Wanita itu baru saja selesai memasak tetapi suaminya sudah pulang. “Tumben sudah pulang?” tanya Pramesti. Hidup bersama laki-laki itu beberapa bulan sudah mampu mengikis perasaan takut dan malu yang dulunya pernah ada. Bahkan sekarang ini, Pramesti tidak segan untuk melihat langsung ke mata Anggana tanpa ragu. “Kamu seneng ya, ditinggal suamimu kerja terus?” tanya Anggana tidak terima. Pramesti hanya mencebik.”Digituin aja sudah baper. Aku cuma belum mandi, masih bau.” “Digituin bagaimana? Dan bentar, aku cium dulu buat memastikan kamu bau apa enggak.” “Apa sih!” jawab Pramesti sambil menjauh. Pramesti mengedikan bahunya, lalu duduk di sebelah suaminya yang sedang memainkan ponsel. “Kenapa?” tanya Anggana. Tidak biasanya Pramesti mendekat jika tidak diminta. “Jadi mau inseminasi buatan?” “Aku belum memutuskan,” jawab Anggana gusar. Pramesti belum juga hamil, padahal setelah di cek ke dokter keduanya dinyatakan sehat. Dia harus segera mendapatkan keturunan, terlebih waktu yang tepat untuk memulai perjalanan mesin waktu sebentar lagi. Tetapi jika diharuskan inseminasi buatan? Anggana masih ragu. “Apakah belum ada tanda-tanda hamil?” tanya Anggana. “Nah, itu sebenarnya yang aku ingin beri tahu ke kamu.” “Apa?” “Ini ..,” ucap Pramesti sambil menyerahkan sebuah kotak kecil berbentuk hati yang ada di dalam sakunya. “Apa ini?” “Buka toh, jangan nanya terus.” “Kamu itu, sekarang berani ya ngelawan aku, kemarin-kemarin cuma menunduk malu.” “Ish.“ Pramesti mencubit pinggang suaminya yang sama sekali tidak ada lemak. “Nah, kan! Malah berani cubit-cubit!” “Buka, Tuanku Paduka Raja.” “Lengkap sekali,” jawab Anggana tetapi tak lagi mendapatkan jawaban dari istrinya. Anggana membuka tali yang ada di kotak itu. Di dalamnya terdapat sebuah benda panjang berwarna putih. Lama Anggana mengamati benda itu tetapi tak menemukan jawaban. “Ini apa?” tanya Anggana. Dia benar-benar tidak paham dengan benda yang sedang berada di tangan kanannya. Laki-laki itu mendekatkan benda itu kea rah Pramesti karena merasa tidak penting. “Ih, kamu sebesar ini masa nggak tahu itu apa, Mas?” “Memangnya apa?” “Ini testpack.” “Apa itu testpack?” “Astagaaa, itu untuk alat tes kehamilan!” “Hah? Terus ini artinya apa?” “Artinya aku hamil!” “Ka .. mu, hamil?” “Iyaa, aku hamil, hamil anakmu, keturunan Wisnukancana!” “Alhamdulillah akhirnyaa, terima kasih Ya Tuhan,” ucap Anggana dengan sujud syukur. Laki-laki itu mencium kening Pramesti berulang kali, tak lupa mengucapkan terima kasih karena sudah mau dihamilinya. Lalu dengan cepat laki-laki itu menghubungi ibundanya untuk menginformasikan kabar baik yang sudah sangat lama ingin di dengar semua orang. Setelahnya Anggana berlari ke luar rumah, mengumumkan kepada semua orang tentang kehamilan Pramesti. Semua orang yang berada di sana tertawa bahagia mendapatkan informasi menggemberikan sekaligus melihat tawa bahagia Sang Paduka Raja. “Aku mau jadi ayah!” teriak Anggana dengan kedua tangan yang mengepal ke udara. “Aku sebentar lagi jadi ayaaah,” teriaknya sekali lagi. “Bima dan Anggana meloncat kegirangan di halaman tengah yang menghubungkan rumah keduanya. “Kamu ndak perlu membekukan spermamu, Gan, hahahah,” ucap Bima. “Selamat ya sahabatku.” “Terima kasih.” Ditengah-tengah kegembiraan dengan kabar kehamilan Pramesti, sebelum tawa mereka reda, tiba-tiba Bima merasakan hujan yang jatuh menetes di tangannya. Tes .. Tes .. “Ada apa?” tanya Anggana saat Bima membisu. Tangannya sibuk mencermati air yang menetes di tangannya. “Hujan, Gan.” “Kalau hujan terus gimana?” “Ada perubahan musim terlalu cepat, seharusnya musim hujan itu belum datang. Apakah itu artinya waktu berjalan lebih cepat? Artinya kamu harus segera melakukan perjalan mesin waktu itu saat ini juga,” jelas Bima. Anggana menatap sahabatnya tidak percaya, rencananya dia akan pergi dua hari lagi, tetapi kenapa tiba-tiba mendadak berubah? Anggana menekan kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing. Bagaimana dia harus siap pergi sekarang juga. “Lihatlah,” pinta Bima sambil menunjuk ke arah langit yang gelap. Garis tangannya menunjukkan garis bayangan yang membentuk sebuah sudut. “Gan, bulan dan bumi dalam satu titik.” Bima menarik tangan Anggana berjalan menuju teleskop, mereka berdua bersisihan melihat lengkung bintang. “Berarti aku harus masuk ke mesin waktu saat ini juga?” tanya Anggana yang sepertinya lebih pantas disebut pernyataan. Bima mengangguk, “kita harus segera memberi tahu Prof. Leiden karena kita butuh daya itu saat ini juga.” “Tapi aku belum merasa siap, Bima!” ucap Gana frustasi. “Sekarang atau kita harus menunggu tahun depan?” Tantangan Bima membungkam mulut Anggana. Ya, bagaimana pun caranya dia harus tetap melakukan misi itu malam ini. “Oke,” jawab Anggana akhirnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD