Bima dan Anggana berada di bawah pohon Maple seperti janji mereka sebelumnya. Seperti sepasang kekasih yang menepati janji ketemuan di sebuah tempat romantis di belahan bumi lain. Anggana memperhatikan kertas dengan garis dan tulisan rumus yang sudah di hitung oleh Bima. Mereka berdua melihat-lihat bintang di selatan garis khatulistiwa. Jalur galaksi Bimasakti begitu jelas dan cerah dari tempat mereka berdua berdisi. Bintang dan lengkungan cahaya multi warna yang tak terputus dari cakrawala ke cakrawala.
“Belahan Bumi utara selalu punya semua hal yang indah tentang langit.”
Anggana mengangguk setuju, pemandangan langit di kota Oslo sangat berbeda dengan yang biasa mereka lihat di Indonesia.
“Sesuai perhitunganku, akan ada fenomena dimana Galaksi akan bergerak lebih cepat dari biasanya, yang artinya kecepatan cahaya semakin tinggi,” jelas Bima.
“Kapan?”
“Tanggal tiga puluh satu, sekitar satu bulan lagi. Artinya kita hanya memiliki waktu satu bulan untuk mendapatkan moment yang tepat agar kemungkinan alat itu berhasil semakin lebih besar.”
“Apa menurutmu kita ke tempat dimana alat itu tersimpan malam ini juga?” Anggana meminta pertimbangan. Bima menggeleng, matanya menatap ke langit yang semakin indah saat malam hari.
“Kita tetap butuh istrahat, Gan. Butuh otak yang sehat untuk menghidupkan mesin itu.”
“Oke, kita istrahat.”
“Jangan larut kalau mau begituan, jangan sampai kecapekan.”
“Sialan kamu!” dengus Anggana ke Bima. Sahabatnya itu justru hanya tersenyum penuh jenaka.
“Aku masuk ke rumahku dulu, aku juga mau tidur.”
“Oke, aku juga mau main-main dulu sama istriku, baru tidur.”
“Saat pertama kali lihat Pramesti di Bandara aku sudah sadar apa niatmu mengajak dia ke sini.”
Mereka berjalan bersama menuju rumah, sambil di selingi bercandaan untuk melenturkan otot yang menegang. Tidak bisa di tutupi bahwa apa yang ada di hadapan Anggana di depan itu cukup membuatnya waspada, kalau alat itu berhasil artinya dia akan berhadapan dengan hal besar yang terjadi di masa lalunya, kalau alat itu gagal bisa jadi dia menjemput ajal.
“Aku mengajak Pramesti hanya ingin memastikan dia hamil anakku.”
“Berarti dalam satu bulan itu kamu harus sudah bisa membuatnya hamil?” tanya Bima dengan wajah takjub. Memang sulit beban yang ada di pundak Anggana, membayangkan setiap malam harus kerja rodi untuk membuat anak.
Anggana mengangguk. “Itu artinya tiap malam kamu harus kerja rodi dong, Gan? Capek dong?” tanya Bima antusias.
Anggana memukul lengan Bima dengan pelan. “Tidak harus tiap hari, kata dokter yang bagus itu setiap 3 hari sekali.”
“Oh, begitu ya?”
“Iyaa, Bimasakti sahabatku yang cupu,” ejek Anggana tetapi sama sekali tidak mendapatkan tanggapan dari sahabatnya.
Mereka sudah sampai di persimpangan jalan yang mengarah ke rumah tempat tinggal mereka masing-masing. Sebelum benar-benar pergi, Bima masih ingin menanyakan kepada Anggana sesuatu yang menurutnya cukup urgent.
“Gan ..”
“Heemm ..,” jawab Anggana malas.
“Kalau misalnya dalam satu bulan kamu belum hamil, bagaimana?”
“Spermaku akan di awetkan, Pramesti tetap harus hamil.”
Bima ingin tertawa tetapi justru Anggana sama sekali tidak terlihat bercanda jadi Bima menelan kembali tawanya ke dalam tenggorokan.
Memang sulit jadi sahabatnya. Batin Bima.
--
Pagi harinya Anggana dan Bima pergi ke sebuah tempat yang sudah di informasikan Prof Leiden. Anggana pergi bersama dengan Bima, Padmana dan Prof Leiden sendiri. Mesin waktu yang selama ini di simpan berada jauh di belakang rumah Prof. Leiden. Mereka menggunakan Golf Car untuk sampai di tempat itu, karena kalau jalan kaki membutuhkan waktu yang cukup lama, setidaknya itu yang diinformasikan Prof. Leiden.
Tetapi memang benar, menggunakan Golf car saja mereka sampai di tempat tujuan selama sepuluh menit. Rumah dan kediaman Prof Leiden memang luas, bahkan jauh di belakang rumahnya terdapat beberapa rumah-rumah kecil seperti miliknya. Sepertinya Prof Leiden memang sedang membangun kerajaannya sendiri.
“Kita sudah sampai,” ucap Prof Leiden.
Mereka berhenti di sebuah bangunan yang terbuat dari besi berwarna hitam. Bangunan itu terlihat kuat dan kokoh menakutkan. Prof Leiden memasukan kode lalu memverifikasi dengan wajahnya yang muncul di layar.
Bhuuussttttt ..
Bunyi saat pintu terbuka sudah mampu menggetarkan setiap orang yang berada di hadapannya, aroma aneh dari dalam karena tempat itu sudah lama tidak di buka. Prof. Leiden masuk terlebih dahulu lalu menghidupkan saklar yang berada di dekat pintu masuk.
Jep
Jep
Jep
Suara lampu demi lampu yang ada di ruangan mulai nyala satu per satu. Mulai dari yang berada di dekat mereka berdiri hingga yang berada di ujung dekat dengan mesin waktu yang besar dengan pintu berbentuk bulat dan bentuk seperti rudal.
“Selamat datang di Akmaragana.”
Refleks Anggana menatap ke arah Prof. Leiden saat mendengar nama alat itu. “Akmaragana?”
Prof. Leiden mengangguk, “Akmara dan Anggana.”
“Ada harapan besar ayahandamu yang di letakkan di bahumu, Anggana. Dan mesin waktu inilah yang menjadi salah satu alat untuk memutuskan kutukan sang Maharaja Kanugara.” Papar Prof. Leiden.
Anggana berjalan mendekati mesin waktu yang terlihat usang, ada debu yang menusuk ke indera penciuman Anggana. Perjalanan ke arah pintu cukup mendebarkan dengan alunan detak jantung hebat.
Laki-laki dalam balutan jaket tebal itu kini berdiri tepat di hadapan sebuah pintu yang besarnya dua kali lipat dari dirinya. Anggana meletakkan tangannya disana, lalu merasa seperti tubuhnya di tarik di masa-masa perjuangan ayahandanya dulu. Dalam bayangannya terlihat ayahanda yang bekerja mulai pagi hingga malam menjelang.
“Haahh ..” Nafas milik Anggana lepas, memupuk asa yang membumbung tinggi di dalam dirinya.
“Mesin ini memang sama sekali tidak dibersihkan, titah dari Paduka sendiri untuk tidak membuka ruangan ini sampai Anggana datang,” jelas Prof. Leiden. “Maaf jika kotor, Paduka.”
“Tidak apa, terima kasih karena sudah memegang amanah dari ayahandaku, Porf. Leiden.”
Laki-laki paruh baya itu mengangguk pasti, sudah tugasnya sebagai Abdi untuk melakukan mandat dan amanah dari Paduka Raja.
“Apakah Ayahanda pernah mencoba alat ini?”
“Ya, tetapi tidak berhasil, padahal secara struktur dan komponen di sini seharusnya sudah bisa digunakan, minimal ada efek relativitas yang terjadi,” papar Prof. Leiden. “Tetapi semua prediksi itu tidak terjadi. Kenapa, itu yang harus kita cari.”
Anggana melihat kea rah Bima, laki-laki itu mendekat lalu membuka kertas yang sudah dia genggam sejak tadi.
“Karena waktu yang memang belum tepat,” ucap Bima.
“Maksudnya?”
“Waktu yang tepat untuk memulai perjalanan cahaya adalah saat terjadi fenomena dimana Galaksi akan bergerak lebih cepat dari biasanya, yang artinya kecepatan cahaya semakin tinggi. Itu semua terjadi saat posisi bumi, matahari dan bulan berada dalam satu tarikan garis bintang.”
“Kapan itu terjadi?”
“Tanggal tiga puluh satu bulan depan.”
“Artinya, kita hanya memiliki kurang dari satu bulan untuk kembali membuat Akmaragana hidup kembali.”
“Betul, Prof.”
Prof. Leiden mengangguk, matanya menyapu lapisan mesin waktu yang sudah terlihat usang.
“Kita mulai bersihkan dulu saja,” ucap Prof. Leiden akhirnya.