Sore di hari berikutnya, rombongan Anggana sudah sampai di Negara Norwegia. Bulan ini, sedang musim salju sehingga hawa dingin langsung menyambut rombongan Anggana yang baru saja sampai di bandara Gardermoen Oslo. Anggana menguatkan genggaman tangannya saat hawa dingin menusuk di tulang, perubahan musim yang begitu drastis dari Indonesia dan Norwegia cukup memaksa rombongan Anggana semakin menguatkan jaket hangat yang menyelimuti tubuh.
“Kita langsung ke rumah Prof Leiden,” ucap Anggana.
Padmana sudah menyiapkan mobil untuk perjalanan mereka ke rumah Prof. Leiden. Rumah Prof. Leiden dan tempat mesin waktu itu berada di desa Flam. Sebenarnya mereka bisa menggunakan kereta api, tetapi Anggana tidak ingin terlalu banyak berinteraksi dengan orang-orang sehingga Padmana memilih untuk menyiapkan mobil di sini.
“Mobil di sebelah sini, Tuan.”
Anggana, Pramesti dan Bima. Mereka bersama-sama mengikuti Padmana yang memimpin berjalan di depan. Saat berjalan, Pramesti merasa tangannya bersentuhan dengan Anggana, lalu tiba-tiba tangannya terasa hangat. Jari jemari Pramesti masuk ke dalam sela-sela genggaman Anggana membuat hati Pramesti berdesir tak karuan.
“Silahkan masuk.”
Pramesti hendak masuk di kursi depan, tetapi tangannya di tarik Anggana untuk masuk dan duduk di kursi belakang bersamanya. Bima yang melihat itu hanya tersenyum penuh arti.
“Perjalanan berapa lama, Padmana?”
“Sekitar 4 jam.”
“Kita makan dulu, aku lapar.”
“Baiklah, Tuan.”
Setelah perjalanan kurang lebih 5 jam, karena mereka berhenti untuk makan terlebih dahulu, akhirnya rombongan Anggana sampai di tempat yang di tuju, Desa Flam. Desa Flam memiliki banyak bukit tinggi yang megah dan sungai bersih yang mengalir di sepanjang desa. Hawa dingin lebih terasa di desa ini karena letaknya yang berada di pegunungan. Salju di gunung, seperti perpaduan wisata yang indah tentu saja. Tetapi sayangnya mereka di sini bukan untuk berwisata.
Mobil Padmana berada di sebuah gerbang tinggi berwarna hijau tua. Ada sebuah ukiran gambar matahari yang berada di setiap sisi gerbang. Mereka sudah sampai di rumah Prof. Leiden tepat sebelum matahari menghilang.
“Selamat datang, Tuanku Paduka,” sambut Prof. Leiden dengan aksen khas orang luar negri. “Saya berharap perjalanan Paduka cukup menyenangkan.”
Sebagai orang yang sudah tinggal lama di Norwegia, aksen dan bahasa Indonesia Prof. Leiden cukup baik. Bahkan sebagai orang Indonesia, Anggana mampu menangkap kalimat dan bahasa Prof. Leiden dengan mudah.
“Terima kasih sambutannya Prof. Leiden,” jawab Anggana dengan membungkuk hormat.
Prof. Leiden membawa Anggana masuk ke dalam pelukannya, memeluk seperti menyimpan rindu yang begitu hebat. Ada isakan yang tiba-tiba di tangkap pendengaran Anggana.
“Dirimu mengingatkanku dengan Paduka Raja Akmara, kamu adalah duplikasi nyata dari seorang Akmara.”
“Benarkah? Saya pikir Ayahanda pasti lebih tampan dan lebih segalanya dari Anggana.”
Prof. Leiden menggeleng dengan pasti. “Kamu adalah duplikasinya, bahkan saat pertama kali aku mendengar suaramu melalui sambungan telfon, aku benar-benar membayangkan bahwa seseorang yang sedang berbicara denganku adalah Akmara bukan Anggana.”
“Sayang, lebih baik kita mempersilahkan tamu kita untuk masuk, di luar sangat dingin.” Kalimat itu datang dari istri Prof. Leiden.
“Kenalkan, ini istriku namanya Aimaar,” ucap Prof. Leiden memperkenalkan seorang wanita paruh baya dengan kain yang menutupi bagian kepalanya.
“Senang bertemu denganmu, Aimaar.”
“Sebuah keberuntungan bagi saya karena bisa melayani Paduka Raja Anggana, semoga Paduka merasa betah tinggal disini.”
“Pasti.”
“Lebih baik kita segera masuk ke dalam. Saya minta maaf, terlalu terpukau dengan keberadaan Anggana di hadapanku hingga melupakan dinginnya salju Norwegia,” ucap Prof Leiden dengan tertawa hingga matanya menyipit. “Mari silahkan masuk,” ucap Prof Leiden mempersilahkan.
Laki-laki dengan pawakan besar dan mata sipit itu masuk terlebih dahulu di ikuti Anggana di belakangnya. Rumah Prof Leiden tidak terlalu luas berbeda dengan halamannya yang terhampar luas berwarna hijau menyejukkan mata. Bahkan saat masuk melalui pintu gerbang, mobil mereka berjalan cukup jauh hingga akhirnya sampai di pintu utama.
Rumah Prof. Leiden terbuat mayoritas dari dinding dengan hiasan berbagai ukiran kayu, cukup berbeda dengan model rumah pribumi di negara ini. Ada sebuah jam besar antik yang berdiri dengan kokoh di tengah ruangan, jendela-jendela di rumah ini juga rata-rata besar, tetapi karena musim salju oleh karena itu semua jendela dan pintu selalu tertutup rapat.
“Silahkan duduk,” ucap Prof. Leiden mempersilahkan. “Saya sudah menyiapkan tempat tidur tuanku dan rombongannya di dua rumah yang berada di halaman belakang, terpisah dari rumah utama. Rumah untuk Paduka yang berada di sebelah kiri, sedangkan rumah untuk yang lainnya yang berada di sebelah kanan.”
Keempat manusia di hadapan Prof. Leiden hanya mengangguk. “Saya sarankan Tuanku Paduka beristrahat dulu, nanti malam kita kembali bertemu untuk makan malam.”
“Terima kasih atas sambutan dan persiapan yang begitu .. maaf, merepotkan,” ucap Anggana dengan bijaksana.
“Sudah menjadi tugas saya sebagai Abdi Wisnukancana.”
Anggana tersenyum tipis. “Aku dan istriku akan beristrahat terlebih dahulu,” ucapnya meminta izin.
“Saya antar, Paduka,” tawar Aimaar.
“Terima kasih.”
Aimaar mengantar Pramesti dan Anggana, berjalan jauh dari belakang rumah utama. Anggana dan Pramesti melewati jembatan dengan sungai kecil yang mengalir jernih, ada beberapa ikan yang berwarna warni terlihat memperindah sungai jernih dengan bebatuan di setiap sisinya.
Suasana di kediaman Prof Leiden mengingatkan dengan rumahnya yang berada di Indonesia, banyak tanaman hijau dengan sungai kecil mengalir di belakangnya. Bagi keturunan kerajaan, wajib membuat aliran sungai di dalam rumahnya. Sungai dan air dianggap sebagai sumber kehidupan yang wajib ada di kediaman para Raja.
Mereka berdua sampai di sebuah rumah dengan bahan dan bentuk hampir mirip dengan rumah utama. Luasnya pun sama, tidak terlalu luas. Hanya ada kamar tidur, dapur, ruang tengah dan ruang makan.
“Semoga Tuanku Paduka menyukai rumah ini.”
“Aku menyukainya,” jawab Anggana tulus. “Terima kasih, Aimaar.”
“Terima kasih kembali, saya pamit ke depan dulu.”
Aimaar pergi setelah mendapatkan persetujuan dari Anggana. Laki-laki itu merebahkan tubuhnya di kasur setelah pintu tertutup dan hanya ada dirinya dan istrinya di kamar.
“Mau kemana?”
“Buat teh,” jawab Pramesti.
“Tetaplah di sini, aku tidak butuh teh,” ucap Anggana dengan wajah sebal. “Suasana sedang dingin, aku membutuhkan kehangatan dan olahraga untuk menghangatkan tubuhku.”
Anggana mengucapkan kalimat menggoda dengan senyum dan alis yang ia naik turunkan. Pramesti yang paham dengan maksud suaminya memilih mengalah, duduk di ranjang di samping suaminya.
“Kenapa aku melihat tujuan Paduka mulai berubah,” ucap Pramesti saat tangan Anggana mencoba melepaskan kancing kemejanya.
“Maksudnya?” tanya Anggana bingung, tetapi tangannya tidak berhenti melakukan apa yang dia sedang kerjakan.
“Paduka bukan cuma mau dapat anak, tapi -.”
“Sambil menyelam minum air,” ucap Anggana sambil menarik tubuh Pramesti untuk semakin mendekat.
Took .. took
Suara pintu yang berbunyi cukup keras memaksa Anggana menghentikan kegiatannya. Matanya menatap ke arah Pramesti yang mengedikan bahunya, lalu Anggana berdiri dengan malas.
“Tutup kembali bajumu,” perintah Anggana dengan beranjak berdiri. “Kalau tidak penting, aku janji akan menggantung siapa pun orang yang ada di luar sana.”
Pramesti tahu laki-laki itu hanya pura-pura karena kesal. Wanita itu tersenyum meremehkan.
“Bima, ngapain?”
“Jangan sewot, kaya pejantan lagi nggak dapat jatah aja kamu,” goda Bima padahal memang itu yang sebenarnya terjadi.
Melihat respon Anggana menciptakan gelak tawa dari Bima, sepertinya apa yang baru saja di godanya memang kenyataan.
“Bhahahaa …”
“Seneng? Mau apa kamu kesini? Awas kalau ndak penting!” ancam Anggana.
“Bhahaa ..” Bima masih tertawa, semakin membuat Anggana kesal. Jika saja dia bukan sahabat dan tidak membutuhkannya, pasti Anggana benar-benar menepati janjinya untuk menggantung Bima di tiang bendera.
“Sudah belum? Kalau belum aku masuk lagi ini.”
“Sudah .. sudah, ini sudah,” jelas Bima berulang kali.
“Kenapa?”
“Aku ingin memberi tahu kamu sesuatu, tapi tidak di sini, bisa kita bicara di bawah langit?”
Anggana menjauhkan tubuhnya dengan alis yang menyatu. “Kamu tidak sedang ingin beromantis ria bersamaku, kan?”
“Jijik! Aku masih suka perempuan.”
“Ya siapa tahu, aku juga belum ada bukti tentang itu, kamu belum pernah punya pacar.”
“Kamu memang sialan, Anggana. Aku di sini membantumu dan kamu justru membully kejombloanku.”
“Hahahhaa ..” Kali ini giliran Anggana yang tertawa terpingkal. “Aku menyukai raut wajahmu yang sewot seperti ini, gumush!”
Bima mengehela nafasnya berat, lalu menatap Anggana dengan sebal. “Aku tunggu di bawah pohon Maple,” ucap Bima. “Tapi sebelum itu, tarik resletingmu dengan benar, biar burungmu ndak keluar dari sangkar.”
Bima langsung lari setelah mengucapkan itu tanpa lagi melihat ke arah Anggana yang dapat Bima pastikan sedang menahan amarah dan malu bersamaan.