Berbeda dari rencana sebelumnya, dua hari setelah pernikahan, Anggana memutuskan untuk membawa Pramesti dan beberapa orang pilihannya berangkat ke Norwegia. Anggana sudah menghubungi professor Leiden, seseorang yang ditugaskan ayahanda untuk menyimpan mesin waktu dan merawatnya. Tempat tinggal di sana sudah dipersiapkan, bahkan Profesor Leiden sudah mempersiapkan mesin waktu yang sudah lama tidak tersentuh, membersihkan untuk menyambut kedatangan keturunan Wisnukancana.
Selama ini mesin waktu itu masih berada di tempatnya tak tersentuh sedikit pun. Ayahanda Anggana sudah memberikan titah untuk tidak membuka ataupun melanjutkan project tanpa kehadiran keturunannya. Semua titah itu di lakukan dengan baik oleh Profesor Leiden.
“Kita berangkat menggunakan pesawat pagi, aku ingin kamu mempersiapkan diri, Padmana.”
“Baik Tuan.”
Tidak banyak barang yang akan di bawa Anggana, hanya beberapa pakaian dan kebutuhan mereka disana, tak lupa kitab ‘Jiva’ yang merupakan sumber ilmu dan kekuatan keturunan Wisnukancana. Jiva dalam bahasa Sansekerta artinya ‘benih kehidupan’. Leluhurnya percaya melalui kitab ini, benih kehidupan keturunan Wisnukancana akan lahir.
Sebelum berangkat, Anggana berniat menghabiskan waktunya di rumah atau Puri. Rumah tempatnya menghabiskan waktu dan beranjak dewasa. Rumah yang memiliki banyak sekali kenangan di dalamnya. Anggana berjalan menyusuri taman, mencari seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya, yaitu Ibunda Denayu. Wanita itu sedang duduk di sebuah kursi panjang bersama dengan istrinya, Pramesti.
“Kamu jangan pernah meninggalkan anakku, tugasmu di sana adalah melayani dan berbakti di sisinya,” ucap Denayu memberikan wejangannya.
“Sejahat apapun anakku, sedingin apapun sikapnya, kita sebagai istri harus tetap lembut dan hangat melayani, apakah kamu ngerti Pramesti?”
“Iya, Kanjeng.”
“Jangan panggil aku dengan sebutan itu, kamu boleh memanggilku dengan panggilan Ibu.”
“Baik, I-bu,” ucap Pramesti dengan terbata.
Semua adegan dan obrolan cukup panjang terekam di pikiran Anggana. Walaupun terpisah jauh, Ibu memastikan kehidupan Anggana dengan mempersiapkan Pramesti di sisinya. Sebenarnya, rencana sebelumnya Anggana berangkat setelah Pramesti hamil, lalu wanita itu akan tinggal di sini bersama ibunya sampai melahirkan anak dengan selamat. Tetapi rencana berbeda, Anggana menginginkan Pramesti untuk ikut ke Norwegia di dampingi Padmana dan Bima.
Denayu mulai sadar dengan keinginan anaknya. Denayu tidak ikut, dia tetap harus memastikan segala proses dan urusan di Indonesia berjalan lancar.
“Apakah tidak ada yang berniat bercengkerama denganku? Ibu sekarang lebih senang bercengkerama dengan menantunya dari pada dengan anaknya sendiri,” ucap Anggana mengejutkan kedua perempuan di sana.
“Tuanku..” Pramesti berdiri lalu menunduk penuh hormat ke arah Anggana. Laki-laki itu mendekat lalu duduk di kursi kosong yang sebelumnya di tempati Pramesti, sedangkan wanita itu berdiri di samping suaminya. Saat Anggana berjalan mendekat, manik matanya beradu dengan manik mata Pramesti, entah kenapa hal ini membuat pipi Pramesti memerah karena malu. Saat Anggana bangun tadi pagi, Pramesti sudah tidak ada di kamar, ini adalah pertemuan keduanya pertama kali setelah melakukan kewajiban sebagai suami istri.
“Katakan apa wejangan Ibu memberatkanmu, istriku?” Anggana bertanya dengan melihat ke arah Pramesti, dan menekankan kalimat di akhir kalimatnya. Pertanyaan Anggana biasa saja, tetapi entah kenapa mampu membuat Pramesti meremang.
“Ti .. tidak, Tuanku! Tidak sama sekali,” jawabnya.
“Baguslah, aku tidak ingin Ibuku membuatmu menyesal menikah denganku di hari kedua pernikahan kita.”
Denayu memukul lengan anaknya dengan pelan.” Ibu jamin tidak akan ada wanita yang menyesal menikah dengan seorang laki-laki luar biasa hebat seperti Anggana.”
Anggana tersenyum manis. “Anak sendiri memang nomor satu, mari kita dengar tanggapan Pramesti setelah beberapa bulan menikah dengan laki-laki dingin dan kaku sepertiku.”
Ketiganya tersenyum, merasa lucu dengan Anggana yang sadar diri dengan sikapnya selama ini.
“Pramesti, bisa kamu ambilkan suamimu teh hangat,” perintah Denayu kepada Pramesti.
“Baik, Ibu.” Pramesti melakukan tugasnya, tubuhnya menghilang di balik pintu yang mengarah langsung ke dapur.
Sepeninggalan Pramesti, Denayu menyerahkan sebuah amplop ke tangan Anggana. Matanya membisu tetapi menunjukkan banyak hal yang tak bisa Anggana tebak. Mata ibunya sulit terbaca, menyimpan berbagai fakta yang tak bisa Anggana tebak. Tangan Denayu masih menggenggam tangan Anggana dengan kuat.
“Apa ini, Bu?” tanya Anggana.
“Alamat seseorang.”
Satu alis Anggana terangkat, menunggu penjelasan lebih dari ibunya yang sepertinya masih merangkai kata. Denayu melepaskan genggaman tangannya, pun juga mengalihkan arah pandang. Denayu memilih menatap tanaman yang dia tata rapi dengan daun-daunnya yang hijau, terasa segar menyejukan mata.
“Alamat itu adalah pegangan terakhirmu, saat kamu merasa lelah dan berniat untuk menyerah, pergilah ke alamat yang tertulis di dalam amplop itu.”
“Ini alamat siapa?”
“Kamu akan mengetahui setelah bertemu dengan beliau langsung.”
“Bu, jangan membuat hidup Gana penuh teka-teki.”
“Ibu hanya ingin menekankan ke kamu, kalau seseorang yang tinggal di alamat itu adalah penolong terakhir kita, datanglah kepadanya saat kamu sudah benar-benar bisa berada di hadapan Maharaja Kanugara.”
“Apakah ini adalah alamat keturunan Maharaja?” tanya Anggana masih ingin tahu.
Denayu mengangguk.
“Apakah aku bisa menemuinya sebelum aku masuk ke dalam mesin waktu?”
Denayu menggeleng. “Mereka tidak akan percaya jika kamu tidak membawa salah satu barang dari Maharaja Kanugara. Ayahmu sudah pernah mencoba.”
“Tapi aku belum tentu bisa kembali lagi, Ibu?”
“Sudahlah, jalani saja dulu, Anggana. Alamat ini hanya penolong terakhir kita.”
Anggana tak lagi menyela, apapun keputusan ibunya pastilah sudah di pikir matang. Laki-laki itu menyimpan alamat itu di dalam jas miliknya. Tak lama Pramesti datang dengan membawa satu teko keramik dengan dua cangkir di nampan. Pramesti meletakan minuman itu di meja, lalu mempersilahkan suaminya dan ibu mertuanya untuk menikmati teh buatannya.
“Ibu mau ke kamar, kamu temani suamimu menikmati teh pertama kalian sebagai suami istri,” ucap Denayu dengan berdiri. “Saran Ibu, sering ngeteh bersama, biar semakin lengket.”
“Iyaa, Bu,” jawab Pramesti malu-malu.
Denayu pergi meninggalkan anak dan menantunya, memilih untuk menghabiskan waktunya di dalam kamar miliknya.
“Duduklah,” perintah Anggana. Pramesti menurut, duduk di ujung kursi yang sama dengan suaminya.
“Kenapa di ujung? Mendekatlah.”
Sekali lagi Pramesti hanya menurut, semakin mendekat untuk mengikis jarak. Kepalanya masih menunduk seperti enggan bersitatap dengan suaminya.
“Tatap aku,” titah Anggana sekali lagi.
Pramesti melakukan apa yang di perintahkan kepadanya, matanya menatap ke wajah suaminya yang sedang menatapnya dengan tatapan aneh.
“Kenapa tadi pagi tidak membangunkanku?”
“Sepertinya Paduka lelah, eh maksud Prames, iya itu tidurnya lelap banget,” ucap Pramesti dengan terbata dan sedikit salah tingkah.
Gelak tawa Anggana menggelegar, laki-laki itu bahagia melihat Pramesti yang tersipu malu-malu. Sedangkan yang di tertawakan hanya memandang suaminya dengan sebal tetapi takut.
“Sudah? Tertawanya?” tanya Pramesti saat Anggana sudah berhenti tertawa. Pramesti sedikit mengerucutkan bibirnya natural, dia memang sebal karena Anggana yang menertawakannya.
“Sudah, tapi jujur, kamu benar-benar lucu.”
Pramesti tersenyum, lalu mendekat ke arah suaminya. “Aku senang karena sudah membuat suamiku bahagia.”
Setelah mengucapkan kalimat itu dengan nada nakal, Pramesti berlari lalu di ikuti Anggana di belakangnya.
“Hey, tunggu aku!!” Anggana berlari mengejar Pramesti yang berlari memasuki rumah. Langkahnya begitu saja mengarah ke kamar.
“Awas saja kalau kamu ketangkep ya,” ancam Anggana sambil tetap berlari mengejar Pramesti yang sudah berlari mendahuluinya.