Prolog
Sepasang pengantin berjalan di sepanjang karpet merah menuju altar. Terlihat begitu serasi dan menawan. Membuat siapa pun ikut merasakan kebahagiaan mereka.
"Wah gaunnya cantik sekali," bisik salah seorang tamu pada temannya yang duduk di sebelahnya.
"Iya. Lihat sulaman kupu-kupu di ujung gaun dan taburan kristal swarovskinya. Pasti mahal harganya," balas sang teman dengan berbisik pula.
Hampir semua tamu wanita mengagumi sang pengantin wanita, terutama gaun pengantinnya. Gaun yang memang sangat menarik perhatian.
Gaun berwarna putih yang menjuntai bersulam kupu-kupu di ujungnya. Di beberapa bagian pun di hiasi dengan korsase kupu-kupu. Sekilas gaun itu bak dihinggapi ribuan kupu-kupu yang berkilau karena kristal swarovski yang menghiasi setiap korsase dan sulaman kupu-kupu tadi.
Sebuah gaun yang cantik dan elegan namun tidak berlebihan. Meski desainnya sederhana namun setiap detailnya dikerjakan dengan sempurna. Setiap bagian dari gaun itu dikerjakan dengan hati-hati dan teliti. Dari sulaman kupu-kupu yang sangat halus hingga penempatan kristal swarovski di sayap kupu-kupu.
Gaun yang hanya berwarna putih tanpa banyak pernak-pernik itu sekilas terlihat sederhana dan biasa saja. Namun saat sang pengantin perlahan menapaki karpet merah, gaun itu terlihat sangat hidup.
Perpaduan warna putih bersih dengan kilauan kristal swarovski dengan setelan jas hitam yang dikenakan mempelai pria dan karpet berwarna merah justru menonjolkan motif kupu-kupu yang menghiasi gaun sang pengantin.
Sudah dipastikan gaun ini akan menjadi perbincangan para wanita di kota ini. Dan itu sudah dimulai sedari sepasang pengantin memasuki altar pemberkatan. Bisik-bisik para tamu wanita sedikit terdengar di seluruh ruangan. Namun perlahan mereda karena upacara pemberkatan akan segera dimulai.
Upacara pemberkatan dan kemudian pesta resepsi berlangsung dengan lancar dan meriah. Sepasang pengantin itu nampak bahagia. Senyum sumringah tak lepas dari wajah mereka.
Terutama pengantin wanita. Dia benar-benar menjad ratu di hari istimewanya. Gaun pengantinnya menjadikannya pusat perhatian semua undangan. Bak peri dengan ribuan kupu-kupu mengelilinginya.
Sebuah pesta pernikahan yang sempurna. Sepasang pengantin yang berbahagia dan orang-orang di sekelilingnya pun turut larut dalam kebahagiaan mereka.
Tidak akan ada yang menduga pesta meriah itu akan diiringi dengan sebuah insiden yang menimpa sang pengantin wanita.
Pestapun berakhir dan semua tamu undangan telah meninggalkan pesta. Begitupun sepasang pengantin yang bersiap hendak menuju kamar pengantin yang akan menjadi saksi malam pertama mereka.
Keluarga sepasang pengantin memang menyewa ballroom sebuah hotel mewah untuk resepsi pernikahan sekaligus untuk akomodasi keluarga dan sang pengantin.
Rombongan pengantin dan keluarga kini menuju ke kamar pengantin di salah satu lantai atas hotel. Keluarga berencana mengantarkan sepasang pengantin baru itu menuju kamar pengantin.
"Felix, harus sabar ya. Ini pengalaman pertama lho, jangan terburu-buru," goda salah seorang yang mengiringi sang pengantin.
Pengantin pria hanya tersenyum mendengarnya. Sementara pengantin wanita tersipu-sipu malu.
Mereka bercanda dan tertawa menggoda sepasang pengantin baru itu.
Tiba-tiba saja terdengar suara derakan dan lift berhenti mendadak. Sontak mereka terdiam dan saling pandang.
Udara dalam lift tiba-tiba menjadi semakin dingin. Lampu lift pun berkedip-kedip seakan hendak padam. Spontan salah seorang dari mereka menekan tombol darurat. Namun tidak ada reaksi sama sekali.
Pengantin wanita yang bergandengan dengan pengantin pria tiba-tiba menjauh dan terlihat pucat pasi. Dan mendadak dia menjerit dan menangkupkan kedua tangannya di telinganya.
"Lili ada apa?" Sontak pengantin pria berusaha menenangkannya.
Begitupun keluarga yang lain berusaha membantu tetapi Lili sang pengantin wanita memberontak dan kini mulai mengacak-acak rambutnya dan melemparkan hiasan rambutnya sembarangan.
Kebingungan melanda rombongan itu. Lift yang berhenti, pertolongan yang tak kunjung tiba dan pengantin wanita yang sepertinya kesurupan merubah suasana gembira seketika menjadi suram.
"Kembalikan bajuku! Itu baju pengantinku! Kembalikan!" Teriak pengantin wanita histeris.
Semua orang berusaha untuk menenangkannya namun kata-kata itu terus diucapkan sang pengantin wanita tanpa henti.
"Felix ada yang tidak beres. Aku hubungi Bapak Gunadi dulu, kamu tenangkan istrimu," salah seorang kerabat pengantin mengeluarkan smartphone dari saku celananya dan menghubungi seseorang.
Teriakan Lili masih terus menggema di dalam lift. Felix tidak tega melihat kondisi pengantinnya yang acak-acakan dan nampak kelelahan. Namun sorot matanya tampak beringas di penuhi energi kemarahan.
Felix segera memeluknya dan menenangkannya. "Baiklah nanti kita kembalikan gaun pengantinnya. Asalkan kau kembali pulih dan bahagia Lili, apapun kulakukan," gugu pria itu dengan sendu.
Entah apakah ucapan sang pengantin pria memang mujarab atau suatu kebetulan, Lili berangsur-angsur tenang kembali. Namun dia seperti orang yang bingung dan linglung.
Masih terduduk di lantai lift dia menatap semua orang di sekelilingnya dengan sorot mata ketakutan.
"Koko, Lili takut," dia segera memeluk pria yang baru saja sah menjadi pendamping hidupnya.
"Koko setelah ini antar Lili mengembalikan gaun ini ke butik. Pemilik gaun ini memintanya kembali, dia membuatku takut huhuhu," tangis Lili pecah.
"Oke oke, besok kita kembalikan gaun pengantin itu. Koko janji," Felix memeluk Lili erat-erat dan mengecup keningnya.
Sepertinya janji sang pengantin pria bukan hanya menenangkan sang pengantin wanita namun juga suasana dalam lift. Lampu lift kembali normal dan tiba-tiba lift kembali berjalan seperti semula.
"Felix, Bapak Gunadi bersedia datang kemari nanti malam. Nanti kita diskusikan dengan beliau semua yang baru saja terjadi," kerabat yang tadi menghubungi seseorang berbisik pada pengantin pria.
Felix hanya mengangguk setuju. Dia tidak memiliki pilihan lain. Apalagi menyaksikan sendiri bagaimana Lili tadi berteriak-teriak seperti orang kesurupan.
Keesokan harinya, sepasang penganti baru itu benar-benar mengembalikan gaun pengantin itu ke butik di mana mereka membelinya. Mereka memutuskan seperti itu bukan hanya karena Felix, sang pengantin pria, telah berjanji sewaktu insiden di lift hotel tempat mereka mengadakan pesta resepsi pernikahan.
"Gaun pengantin ini sumber masalahnya. Sepertinya gaun ini ada pemilik sebenarnya," gumam Pak Gunadi, spiritual yang diundang kerabat mereka di saat insiden semalam.
"Di mana kalian membelinya?" Tanya pria setengah baya itu.
"Lili membelinya di sebuah butik saat kami berjalan-jalan beberapa hari lalu. Entah mengapa dia sangat menyukai gaun itu dan memutuskan untuk membelinya sehingga kami terpaksa membatalkan gaun yang sudah di pesan di butik langganannya," tutur Felix.
"Apa pemilik butik tidak mengatakan sesuatu tentang gaun ini?" Pak Gunadi menatap gaun itu dengan penuh perhatian.
"Iya. Pemilik butik mengatakan gaun ini pesanan dari pelanggannya, namun sudah hampir dua bulan dari tanggal kesepakatan dia tidak mengambil gaunnya. Tadinya pemilik butik tidak mau memjualnya, tapi aku memaksanya," Lirih Lili setengah menyesali tindakannya waktu itu.
"Begitu. Sebaiknya kalian kembalikan gaun ini ke tempat kalian membelinya. Saya khawatir gaun ini akan menimbulkan masalah lagi," saran Pak Gunadi dengan bijak.
Lili menatap gaun cantik itu. Ada rasa enggan karena dia menyukai gaun cantik itu. Namun mengingat insiden di lift dia agak takut.
"Li, kita kembalikan saja ya. Nanti kita diskusikan hal ini dengan pemilik butik. Seingatku dia wanita yang bijaksana, koko yakin dia akan mengerti," bujuk Felix dengan lembut.
"Tapi Ko di nota jelas tertulis barang yang sudah di beli tidak dapat ditukar atau dikembalikan. Harga gaun ini mahal Ko," Lili menundukkan kepalanya, menggigit bibirnya dengan gelisah.
"Jangan pikirkan uang. Apa gunanya kalau gaun ini hanya akan mencelakaimu," kembali Felix membujuk istrinya.
Lili ragu sejenak. Ditatapnya gaun itu dan ingatannya kembali melayang saat insiden tadi. Seorang wanita cantik menatap gaun pengantin yang dikenakannya dengan sedih. Tiba-tiba wanita itu menerjangnya dan dia tidak sadar apa yang terjadi selanjutnya.
"Ini gaunku. Kembalikan padaku, aku tidak akan mengganggumu. Aku mohon kembalikan gaunku!" Isak tangis dan teriakan wanita itu masih terngiang di telinganya hingga kini.
"Baiklah Koko, besok kita kembalikan gaun ini," putusnya dengan yakin.
Kini sepasang pengantin baru itu duduk di hadapan pemilik butik yang kebingungan dengan niat mereka. Apalagi setelah mereka menceritakan insiden yang menimpa pengantin wanita semalam.
"Saya tidak tahu harus bagaimana. Seharusnya barang yang sudah dibeli tidak dapat dikembalikan atau ditukar. Apalagi sedari awal saya sudah mengatakan gaun itu tidak dijual, dan alasan kalian mengembalikannya juga tidak masuk akal," wanita pemilik butik itu menatap keduanya tanpa emosi.
Nada bicaranya pun sama sekali tidak menunjukkan emosinya. Apakah dia kesal dengan tindakan mereka berdua atau tidak percaya dengan alasan mereka, itu tidak membuat wanita cantik itu kehilangan kendali.
"Saya mengerti, karena itu saya hanya ingin mengembalikan gaun pengantin ini. Anda tidak perlu khawatir kami tidak meminta kompensasi apapun, karena ini memang dii luar nalar kita," sang pria menjelaskan niat mereka.
"Tapi itu bukan solusi yang bagus untuk kita. Jika saya menerima kembali gaun ini dan memberikan gantinya itu akan mempengaruhi citra butik ini. Jika saya tidak memberikan kompensasi pada kalian itu juga akan berakibat sama," wanita itu kembali terlihat bingung.
"Begini saja, saya terima kembali gaun ini dan sebagai kompensasinya anda bisa berbelanja gaun atau pakaian lain senilai separuh harga gaun ini. Dan saya harap anda tidak menyebarkan informasi ini kepada publik. Ini sungguh di luar nalar dan kendali kita," wanita itu menawarkan solusi yang menguntungkan kedua belah pihak.
Sepasang pengantin itu setuju. Dan itulah yang menjadi kesepakatan mereka.
Pemilik butik menatap gaun pengantin yang terbungkus rapi di atas mejanya. Dengan ragu di sentuhnya plastik pembungkus gaun itu.
"Sepertinya gaun ini tidak ingin di miliki siapapun. Tapi aku tidak tahu kemana harus mencari pemilikmu yang sebenarnya," gumamnya lirih.
Di bawanya bungkusan gaun itu dan dipajangnya kembali gaun cantik itu di etalase butiknya.
"Aku harap, pemilikmu melihat dan segera mengambilmu. Hanya ini yang bisa aku lakukan," ditatapnya gaun itu penuh harap.
Gaun cantik itu kembali menghiasi etalase butik dan menjadi perhatian setiap wanita terutama calon pengantin. Seakan-akan menanti pemilik sesungguhnya untuk menjemputnya.