"Sayang, kamu udah pu—" Nina mengernyit saat melihat putrinya berlalu begitu saja. "Kenapa dia? Ah, mungkin pengen ke kamar mandi. Kebelet pasti tuh." Wanita paruh baya tersebut kemudian gegas beranjak saat mendengar suara bel rumah. "Assalamualaikum, Bu. Aluna ada?" "Waalaikumsalam. Ada." Nina mengernyit bingung. Bukannya tadi Aluna pergi untuk bertemu Ervan? Kenapa sekarang pria itu bertanya demikian? Apa mungkin Aluna bohong? "Saya boleh ketemu Aluna?" Nina mengangguk. "Boleh. Ayo masuk." Tidak mengatakan bahwa Aluna baru saja pulang. Takut menimbulkan masalah jika benar putrinya tersebut berbohong dan ternyata bertemu orang lain. Tidak juga bertanya untuk memastikan kebenarannya. "Makasih, Bu." Ervan melangkah mengikuti calon ibu mertua. "Dari kantor langsung ke sini?'' tanya Ni

