“Lepasin!” “Enggak!” “Lepas!” Aku berusaha menghindari Kim, mencoba untuk pergi, sayangnya, tangan kokoh Kim terlalu kuat menahan tubuhku. Dia terus mendekap erat hingga napasku terasa sesak. “Ya ampun, Kim, lepasin!” Setengah berteriak aku meminta Kim sedikit melonggarkan pelukannya. Sampai akhirnya aku tersedu. “Ma-af,” ucap Kim, terlihat menyesal sebab telah menyakitiku. Air mataku seketika luruh begitu saja, aku menangis, entah untuk apa. Yang kurasakan, sesungguhnya aku kecewa pada diriku sendiri, bukan orang lain. Kim meraih tanganku, menciumnya lembut. “Aku benar-benar minta maaf, Rania. Kalau kamu merasa tersiksa di sini, tersiksa bareng aku, kamu bebas menentukan pilihan.” Aku terkejut, tak menyangka Kim akan bicara seperti itu. Sepasrah itu, seperti bukan dirinya yang egoi

