Bab. 96

1166 Words

Menggengam luka dengan tabah, itulah yang aku jalani bertahun-tahun seakan aku terlahir memang untuk menguras airmata. Apa aku salah jika mengeluh pada Tuhan, mengapa aku terus didera rasa sakit karena akan kehilangan? Aku tak tahu lagi harus bagaimana mengolah rasa. Bahagiaku dirampas paksa. Di sini, di makam ini nanar kutatap batu nisan laki-laki yang selama ini kugantungkan kebahagiaanku padanya. Laki-laki yang kuharap kami akan menjalani kebersamaan hingga menua. aku tak memandang dia siapa, putra siapa, yang aku tahu dia adalah malaikat penolongku. Dua orang sudah mengeorbankan nyawanya untukku. Hampir setiap hari aku menangisi makam-makam mereka yang telah pergi. hingga membuat David jengah dan marah. Dia membenci mengapa aku tak pernah mau menerima kenyataan bahwa mereka telah tia

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD