Rencana Hangout Raka

1065 Words
Perencanaan perpisahan sendiri belum juga terrealisasi, bahkan setelah pendaftaran telah dimulai. Raka memperhatikan HPnya selagi dia menunggu ayahnya memimpin rapat. Arlan mengajaknya untuk ke kantor setelah beberapa kali Raka meminta izin pada kedua orang tuanya untuk ikut Arlan melakukan pekerjaannya. Raka ingin tahu apa saja yang ayahnya itu kerjakan, meski sering kali dia ikut menemani ayahnya di kantor, tapi dia masih belum terlalu paham dengan apa yang ayahnya lakukan. Raka yang mulai merasa bosan karena rapat berjalan cukup lama pun mulai pergi ke kamar yang ada di ruangan ayahnya. Kamar yang sering ayahnya pakai saat tidak bisa pulang karena banyaknya pekerjaan, dulu. Semenjak ibunya memutuskan untuk berhenti, Arlan jarang sekali memilih lembur di kantor. Raka sebagai anak yang memiliki banyak rasa penasaran pun tidak ingin menanyakan itu. Karena dia tahu, jawaban Arlan akan aneh untuknya. Raka menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur dan menggoyangkan kakinya yang menjuntai ke lantai. Dia memilih menghidupkan musik, meski tangannya aktif membalas pesan dari teman-temannya yang masih berdiskusi tentang acara yang ingin mereka buat. Raka adalah anak yang mudah menuruti apa yang akan dilakukan. Raka jarang sekali menolak ajakan teman-temannya selama itu baik untuk dirinya dan kedua orang tuanya mengatakan hal yang sama dengannya. "Kak, capek?" tanya Arlan yang membuat Raka terbangun dari posisinya. "Papa sudah selesai?" balas Raka yang melihat ayahnya berada di pintu kamar. "Sudah. Sebentar lagi visit proyek. Kakak mau sekalian diantar pulang?" tanya Arlan pada anaknya. "Aku mau temani Papa. Kok malah diantar pulang? Pokoknya aku ikut Papa aja," jawab Raka. "Oke. Kakak istirahat aja dulu, Papa lanjutkan pekerjaan Papa dulu, ya." Arlan mengatakan pada anaknya dan mendekati anaknya. Dia mengecup kening anaknya yang semakin dewasa. "Jangan cepat dewasa, Kak. Papa belum siap buat bantu Kakak lamar anak orang," kata Arlan membuat Raka mencebik bibirnya. "Aduin ke Mama, ah. Papa bilang kaya gini." Raka memainkan HPnya membuat Arlan merampasnya sebelum anaknya benar-benar menghubungi Farin. "Mau ngadu apa?" tanya Arlan. "Papa enggak mau aku dewasa karena enggak mau bantu aku lamar anak orang. Kalau Mama enggak mau aku dewasa dulu, karena Mama enggak mau aku tinggal jauh-jauh dulu. Papa sama Mama beda!" keluh Raka. "Iyalah beda. Mama sudah minta kaya gitu, masa Papa ulangi lagi. Enggak enak ah, kalau diulangi lagi. Mending cari alasan yang lain," balas Arlan. Raka mencebik bibirnya dan meminta HPnya untuk dikembalikan. Arlan mengembalikannya sembari tangannya mengacak rambut Raka dengan gemas. Di mata Arlan sebesar apa pun Raka, dia masih menjadi anak kecil yang sangat mengemaskan. Raka mendengkus kesal dengan kelakuan ayahnya yang suka menggodanya. Jika Ana sering ramai dengan Icam, maka Raka terkadang ramai dengan ayahnya. Terkadang memang cara ayahnya dekat dengan anaknya adalah dengan menggodanya. Raka tidak pernah masalah dengan itu. Justru semakin hari, saat ayahnya sibuk dan tidak menggodanya lagi, Raka merasa takut kehilangan. Berkali-kali Raka meminta ayahnya untuk beristirahat, tapi dia juga tidak bisa egois karena nyawa ratusan, bahkan ribuan orang dipundak ayahnya. *** Makan malam membuat Raka semakin bahagia karena setelah seharian menemani ayahnya hingga mendatangi proyek yang sedang dijalankan. Farin mendengarkan cerita anaknya dengan saksama. Arlan hanya menggelengkan kepalanya melihat Raka yang sangat antusias menceritakan kegiatannya. Beberapa kali Ana mencoba mencari perhatian Farin, tapi itu tidak kalah dengan Raka yang sedang bercerita. "Oh iya, Pa ... kalau misal aku liburan bareng anak-anak apa boleh?" tanya Raka yang langsung menoleh ke arah Arlan yang tengah meminum air putihnya. "Anak-anak siapa, Kak?" tanya Farin menyahuti pertanyaan anaknya. "Welly, Andra, temen-temen SMP kemarin itu loh, Ma." Raka menjawab pertanyaan ibunya langsung. "Liburan? Acara perpisahan mandiri itu?" tanya Arlan. "Iya. Boleh?" balas Raka. "Liburan ke mana? Pakai acara nginap?" tanya Arlan pada anaknya tanpa emosi. "Kayanya ada acara nginep, karena Andra juga mau adakan acara barbekyu, Pa. Gimana? Boleh enggak? Mereka sudah fix kok." Raka menjelaskan pada ayahnya. "Papa sih, boleh aja. Asal jaga diri, Kak. Kalau ada yang menurut Kakak enggak benar. Jangan diikuti. Kapan acaranya? Di mana? Jauh enggak, Kak?" Arlan mulai menginterogasi semua planning Raka. Raka menjelaskan, bahkan menunjukkan hasil chat dengan teman-temannya yang membahas tentang acara mereka. Arlan mendengarkan dan membaca apa yang anaknya beritahu. Farin menatap suaminya dengan wajah yang susah diartikan. "Oke, Papa bisa antar Kakak ke sana. Acaranya dari hari Jumat ya, Kak?" Arlan mengembalikan HP anaknya. "Iya, Pa. Aku bareng Welly atau yang lain juga enggak papa kok, Pa. Kalau Papa sibuk enggak perlu memaksa." Raka tidak ingin merepotkan ayahnya. "Kalau bukan Papa, Mama yang antar atau Pak Oding. Kakak enggak usah aneh-aneh. Baru juga dibilangi. Welly itu yang kemarin ke rumah Yangti naik motor itu, 'kan?" Arlan melihat anaknya yang menganggukkan kepalanya. "Tuh, kamu mau bareng Welly naik motor. Gitu mau kamu?" tanya Arlan kembali. "Enggak gitu, Pa." Raka bingung menjelaskan seperti apa pada ayahnya. "Diantar atau tidak sama sekali?" Pilihan untuk Raka pun akhirnya keluar. Ana dan Icam yang sedari tadi hanya diam, semakin diam mendengar nada suara Arlan yang berubah. Raka menghela napasnya dan melihat ibunya yang tidak berkomentar sama sekali. Farin masih diam saat Raka menatapnya penuh selidik. "Gimana, Kak? Malah lihat Mama. Mau cari bantuan ke Mama? Enggak akan dibantu sama Mama. Welly aja belum punya SIM, Kak. Terus, kenapa kamu jadi mau bareng sama dia?" Arlab kembali membuka suaranya membuat Raka menoleh ke arahnya. "Bukan kaya gitu, Papa. Welly itu nyetirnya enggak kaya orang tawuran kok, Pa. Dia suka hati-hati, makanya aku mau bareng dia. Memangnya Papa kenapa enggak bolehkan aku sama Welly?" balas Raka. "Ya, karena dia enggak punya SIM, Kak. Kalau kalian kena polisi, Papa juga yang bingung selaku orang tua kamu. Kamu mau berurusan sama polisi karena mengendarai motor di saat usia kamu aja masih belum menginjak tujuh belas tahun, Kak." Arlan masih teguh tidak ingin mengizinkan anaknya, jika Raka tidak diantar. "Oke, diantar Papa, Mama atau Pak Oding." Raka menyerah berdebat dengan ayahnya yang pasti akan berujung memberikan banyak larangan untuknya. "Kakak ikhlas enggak terima pilihan dari Papa?" tanya Farin. "Ikhlas, Ma. Aku enggak marah sama sekali dengan apa yang Papa minta. Aku tahu, Papa pasti mempertimbangkan keselamatan aku dan semua tentang aku, Ma. Maaf, kalau sempat buat debat di meja makan kaya gini," kata Raka pada ibunya. "Oke. Kalian balik sama kesibukannya sendiri-sendiri sana. Mama mau bersihkan ini dulu." Farin menyuruh keluarganya untuk kembali melakukan aktivitasnya sendiri. Semua hanya mengikuti perkataan Farin dan pergi ke aktivitas masing-masing. Raka memilih untuk bermain PS bersama dengan Icam dan Ana memilih untuk bersama dengan Arlan menonton TV. Rumah pun terasa ramai di beberapa sisinya. Bersambung ...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD