Kenapa Harus Dikasih Izin?

1177 Words
Farin masih duduk di sofa ruang keluarga saat malam semakin larut. Diam tanpa melakukan apa pun saat anak-anaknya sudah masuk ke kamar dan istirahat. Sementara Arlan masih berada di ruangan pribadinya dengan urusannya yang mendapatkan panggilan dari Roland sejak setengah jam yang lalu. Hembusan napas berat dikeluarkan oleh Farin sedari tadi. Wajahnya terlihat memiliki banyak sekali pikiran yang dia pendam. Arlan yang baru saja keluar dari ruang pribadinya dan melihat istrinya yang masih berada di ruang keluarga dengan cahaya yang remang-remang. Dia memilih untuk mendekati istrinya dan duduk di samping wanita yang selama ini menemaninya dengan sabar tanpa lelah menemaninya hingga hari ini. Farin menoleh ke samping saat merasa di sampingnya ada seseorang yang datang dan duduk bersama dengannya. “Kenapa, Ma? Ada yang mau dibicarakan?” tanya Arlan pada istrinya yang tersenyum tipis melihat dirinya yang duduk di sampingnya. “Pa, kamu sungguh kasih izin Raka buat hangout sama teman-temannya?” balas Farin yang melihat suaminya dengan saksama. “Ada alasan buat aku larang Raka enggak berangkat saat dia sudah lama meminta izin itu, Ma?” Arlan merangkul istrinya yang terlihat sangat banyak pikiran. “Ada. Kamu sudah tahu mereka masih di bawah umur, kenapa itu bukan termasuk alasan buat kamu, Pa? Aku enggak bisa biarkan dia tanpa pengawasan, Pa.” Farin mengeluarkan pendapatnya untuk membiarkan Raka liburan dengan teman-temannya. “Sayang, coba percaya sama Raka. Dia enggak akan mengecewakan kita. Aku tahu sama rasa takut kamu, aku pun sama awalnya. Aku juga enggak mau membatasi pertemanan anakku degan alasan yang menurutku masih bisa untuk diatasi. Selama ini kita mengajarkan Raka banyak pelajaran hidup. Mungkin kalau itu Icam, aku masih perlu banyak pertimbangan, Sayang. Percaya sama Raka ya. Kasih dia kepercayaan sebanyak apa yang dia berikan ke kita. Dia percaya kita akan menjadi orang tua yang bisa dia banggakan nantinya, percaya ya.” Arlan masih mencoba menjelaskan alasan apa yang membuat dia juga ingin mengizinkan Raka untuk melakukan apa yang diinginkan anaknya itu. “Aku enggak mau Raka menjadi anak yang terlalu bebas pergaulannya, Pa. Aku enggak mau kehilangan Raka yang seperti sekarang. Aku enggak mau Raka-” Farin belum juga selesai mengatakan apa yang ada di pikirannya, Arlan langsung mengecup bibirnya. “Sayang, aku tahu apa yang ada di pikiran kamu sekarang. Kamu yang minta Raka tetap cerita tentang apa pun ke kamu, anakmu menurutinya, Sayang. Percaya sama dia, kalau dia akan tetap menjadi anak kamu yang enggak akan mengecewakan kamu. Jangan pernah memikirkan hal yang buruk tentang anak kamu, Sayang. Aku bertanggung jawab atas semua yang aku pilih, termasuk izin buat Raka.” Arlan mengusap rambut istrinya memberikan ketenangan untuk istrinya itu. “Aku enggak mau memikirkannya, tapi itu lewat gitu aja, Pa.” Farin menghela napas panjang mencoba menenangkan dirinya sendiri. “Aku tahu. Sudah ya, jangan terlalu dipikirkan. Kamu bisa ikut mengantar Raka saat dia mau berangkat,” kata Arlan menenangkan istrinya. *** Raka bangun terlalu pagi untuk mengikuti ayahnya yang biasanya memilih untuk melakukan salat subuh berjamaah di masjid dekat rumah mereka. Raka bangun dan segera bersiap, meski masih terlalu pagi untuk dirinya bersiap. Raka memilih untuk keluar dari kamarnya setelah bersiap di kamarnya. Raka duduk di ruang keluarga dan memainkan HPnya sendiri dibawah terangnya lampu yang baru saja dia hidupkan. Raka memainkan game online bersama dengan teman-temannya yang sudah terbangun. Raka melihat ke arah jam dinding saat mendengar suara masjid yang sudah menghidupkan puji-pujian. “Papa kok belum keluar jam segini? Biasanya paling rajin kalau masalah salat jamaah,” kata Raka yang menghentikan permainnannya dan berjalan ke lantai dua kembali untuk membangunkan kedua orang tuanya. Raka mengetu pintu dan mendengar jawaban dari ayahnya yang memintanya untuk menunggu. Raka hanya bergerak kembali kembali ke kamarnya untuk mengambil sarung dan bersiap-siap. Raka keluar bersamaan dengan ayahnya yang baru saja selesai bersiap-siap. “Kamu ikut ke masjid, Kak?” tanya Arlan yang melihat anaknya sudah siap. “Iyalah, Pa. Masa kaya gini malah mau ke pasar sama Mama.” Raka menjawab pertanyaan ayahnya dengan nada sedikit kesal mendengar pertanyaan ayahnya yang menurutnya tidak masuk akal. “Pamit dulu sana sama Mama,” kata Arlan yang menyuruh anaknya untuk pamit terlebih dahulu kepada istrinya. Raka langsung melakukan apa yang diminta oleh ayahnya. Mereka segera berangkat bersama ke masjid setelah Raka pamit pada Farin. Mereka pun berjalan layaknya ayah dan anak yang menghabiskan waktu bersama. Raka memang memiliki kebiasaan yang lebih disiplin daripada Icam dan Ana. Semua seolah menuruti aturan yang dibuat sendiri oleh Raka, meski sedikit mengadopsi dari ibunya. Setelah salat subuh bersama, Raka dan ayahnya berjalan pulang dan Raka mengatakan ingin membeli bubur yang ada di depan perumahan mereka dan buka sejak subuh. Arlan yang tidak tahu pun hanya mengikuti anaknya yang ingin membeli bubur dengan menyiapkan uangnya sendiri. Arlan tidak pernah tahu, jika Raka selalu membawa uang, meski hanya sedikit di sakunya. “Kak, Papa sekalian mau ngomong sama Kakak dulu ya. Sambil nunggu bubur Kakak siap,” kata Arlan pada anaknya yang sedang menunggu buburnya. “Kenapa, Pa?” tanya Raka pada ayahnya. “Kakak tahu ‘kan, Kakak itu anak kebanggaannya Mama sama Papa, meski semua anak-anak Papa itu membanggakan. Tapi, Kakak selalu membuat Mama sama Papa bangga. Kakak selalu bisa menyelesaikan masalah Kakak sendiri, meski masih ada sedikit bantuan dari Papa sama Mama. Tahu ‘kan kalau Mama sangat menyayangi Kakak dengan tulus? Mama enggak mau Kakak meninggalkan Mama, tahu?” tanya Arlan yang melihat anaknya yang mulai duduk di sampingnya. “Iya, Pa. Aku tahu. Aku tahu semua, aku juga enggak pernah ada pikiran buat meninggalkan Mama. Memangnya ada apa, Pa? Aku buat salah sama Mama?” tanya Raka yang bingung dengan arah percakapan ayahnya itu. “Enggak, Kakak enggak buat salah. Mama hanya khawatir sama rencana Kakak. Mama semalam minta Papa buat larang Kakak berangkat, secara enggak langsung. Mama enggak mau Kakak terpengaruh dengan pergaulan bebas yang enggak sehat buat Kakak. Papa sama Mama selama ini selalu jaga Kakak dari pergaulan bebas, jadi Papa mewajarkan Mama memiliki pikiran itu, Kak.” Arlan menjelaskan apa yang ada di kepalanya. “Lalu, Papa mau menarik izinnya buat aku?” tanya Raka yang mulai paham dengan arah pembicaraan mereka. “Enggak, Papa enggak akan larang kamu buat menghabiskan waktu sama teman-teman kamu. Pesan Papa, tolong Kak, jaga pergaulan Kakak. Jangan sampai buat Mama kecewa sama Kakak. Papa tahu, Kakak sayang sekali sama Mama, jadi Papa minta … jaga perasaan Mama yang sudah mau melapangkan dadanya buat memberikan izin Kakak kumpul sama teman-teman Kakak,” kata Arlan pada anaknya yang sangat dia sayangi. “Aku janji, Pa.” Raka mengatakannya dengan tegas. “Kalau ada yang buat Kakak penasaran dan Kakak dikasih tahu banyak sama teman-teman Kakak, tolong konfirmasi dulu sama Mama atau Papa, siapa tahu teman-teman Kakak itu salah informasi. Kalau Kakak di kasih apa pun, tolong jangan langsung dimakan atau diminum, kalau itu enggak meyakinkan. Kakak beli sendiri aja yang halal, mengerti?” Arlan menasihati anaknya dengan panjang. “Iya, Pa. Aku akan jelaskan juga ke Mama. Aku enggak maumembuat Mama sangat khawatir sama aku, Pa.” Raka tersenyum memberikan banyak janji yang ingin selalu dia pegang. Bersambung …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD