"Damian!"
Damian yang baru saja melepas sepatu dan kaus kakinya mendengus kesal. Ia mendongak ke arah Freddy, sang ayah, yang menatap tajam ke arahnya.
"Ada apa lagi, Papa?"
"Segera batalkan keberangkatanmu ke Jerman!"
Sontak Damian berdiri lalu membalas tatapan tajam Freddy. "Gak bisa! Dami udah ikut wawancara dan sudah memutuskan mengambil kesempatan itu!"
"Bagaimana bisa kau mengambil jurusan Manajemen Bisnis sedangkan dalam darahmu mengalir darah seorang dokter!" hardik Freddy.
"Papa memang seorang dokter, begitu juga dengan Mama. Tapi apa aku gak berhak sama sekali menentukan keinginanku sendiri? Kenapa kalian tidak bisa mendukungku? Lagi pula aku kuliah di sana dengan jalur beasiswa penuh, bukan pakai uang kalian!" balas Damian.
"Kau anak tidak tahu diuntung!" hardik Freddy lagi.
Damian menggeleng lemah. "Aku tidak menjadi dokter bukan berarti aku akan menjadi anak durhaka, Papa. Aku hanya sedang berusaha mewujudkan mimpiku dan membuat kalian bangga dengan caraku. Tanpa menjadi dokter, aku masih bisa menjadi manusia yang bermanfaat. Aku bisa membantu orang yang butuh pekerjaan atau bahkan bersedekah lebih banyak untuk orang lain. Jika Papa dan Mama berusaha menolong orang dengan tindakan medis dan menyelamatkan nyawa orang lain, aku bisa membantu perekonomian keluarga fakir miskin dengan pekerjaan halal yang aku tawarkan pada mereka. Itu keinginanku, Papa. Aku mengharapkan dukunganmu, bukan caci makimu," lirihnya.
Damian melangkah gontai menuju kamarnya. Ia benar-benar merasa lelah di hari terakhir ujian nasional, sedangkan Freddy masih mematung di tempatnya berdiri. Namun, kedua matanya tampak memerah. Entah apakah karena menahan amarah atau justru sebaliknya.
"Papa, jangan paksa Damian lagi!" ucap Hanin, istri Freddy.
Freddy menghela napas panjang. Saat Hanin menarik lembut lengannya dan mengajaknya duduk di sofa, ia menurut saja.
"Aku hanya berharap Damian menjadi dokter seperti kita, Sayang. Itu saja. Sayangnya anak kamu itu susah banget diatur. Keras kepala banget!"
Hanin terkekeh geli, membuat Freddy menatap kesal wanita cantik yang sudah 20 tahun bersamanya itu.
"Kenapa menertawakanku?" Freddy menatap tajam sang istri.
Bukannya takut, Hanin justru kembali tertawa. "Damian itu jiplakannya kamu. Tampan dan keras kepalanya sama persis!" ledeknya. "Kamu masih ingat waktu pernikahan kita tak direstui Ayah karena statusku yang yatim piatu, kan?"
Freddy mengangguk.
Hanin tersenyum lebar. "Saat itu, kamu berusaha keras meluluhkan hati Ayah agar menerimaku sebagai menantunya. Kamu pun harus rela memulai semuanya dari nol demi keluarga kecil kita." Wanita paruh baya itu menghela napas panjang. "Melihat Damian, aku seperti melihat Freddy saat masih muda. Penuh ambisi dan tekad yang kuat demi mewujudkan impiannya. Benar apa kata Damian, Papa, dia butuh dukungan kita untuk mewujudkan impiannya. Remaja seperti dia jarang sekali berpikir tentang masa depan, padahal di usianya yang jelang 18 tahun biasanya akan berpikir tentang kesenangan apa yang bisa ia lakukan bersama teman-temannya. Kita mesti bersyukur karena sampai saat ini, Damian masih menjadi anak yang baik."
Freddy mengangguk pelan seraya merangkul sang istri penuh cinta. "Aku akan menemuinya, Sayang."
"Nanti saja, Pa. Damian kelihatannya lelah usai ujian. Biarkan saja dia istirahat dulu!" ujar Hanin lembut.
***
Hana menghela napas lega karena tugas terakhirnya sudah selesai. Ia akan kembali ke sekolah besok tanpa Damian. Tentu saja Damian tidak akan mengantarnya karena giliran kekasihnya yang libur sekolah hingga hasil ujian nasional diumumkan dua minggu lagi.
Saat Hana sedang merapikan isi tasnya yang akan ia bawa besok, ponselnya berdering. Seketika ia menjawab panggilan dari kekasihnya itu.
"Sedang apa, Sayang?"
"Lagi beresin buku untuk besok, Kak. Ada apa?"
"Kangen!"
Mendengar suara Damian yang terdengar manja, Hana jadi tertawa.
"Kenapa menertawakanku?"
"Suaramu lucu tahu! Baru kali ini Kak Dami manja kayak gini!"
"Aku manjanya cuma sama kamu lho, masa gak boleh?"
"Iya deh, maaf! Gimana ujiannya, Kak?"
"Lancar, Sayang. Pokoknya kamu terus doain aku biar lulus dengan nilai memuaskan."
"Aamiin. Eh, kamu lagi apa sekarang?" tanya Hana.
Terdengar helaan napas kasar dari kekasihnya. "Aku diam di kamar. Tadi sempat bertengkar sama Papa."
"Kenapa? Soal yang kamu ceritain itu, ya?"
"Iya."
"Maaf, Kak. Boleh gak aku kasih saran?" tanya Hana hati-hati.
"Boleh dong!"
"Coba kamu bicara dari hati ke hati sama beliau, kalau perlu libatkan ibu kamu! Biasanya ibu lebih bisa menjadi penengah di saat kalian sedang panas-panasnya. Melangkah tanpa restu orang tua itu tidak akan mudah, Kak, apalagi kamu bakal ke negeri orang di mana gak ada siapa pun yang kamu kenal."
Damian terdiam, sedangkan Hana masih menanti suara kekasihnya.
"Aku mau coba, Sayang. Terima kasih, ya!"
"Sama-sama, Kak. Lebih baik kamu sekarang makan, terus ngomong baik-baik sama orang tua kamu! Semoga berhasil, ya!"
"Eh, tunggu! Kamu tahu dari mana aku belum makan?"
Hana mendengus sebal. "Kamu kan emang gitu! Selalu melewatkan waktu makan saat lagi ada masalah, padahal otak juga butuh nutrisi biar bisa dipakai mikir!"
Suara tawa Damian akhirnya terdengar juga. "Baru sebulan lho, tapi kamu udah tahu aku banget!"
Hana berdeham untuk menutupi kegugupan yang tiba-tiba melanda. "Udah sana!"
"Cie ... bilang aja sekarang lagi malu-malu! Padahal aku gak lihat wajah kamu lho, Hana!"
"Ih, berisik! Aku matiin, ya! Bye!"
Hana memutus sambungan telepon secara sepihak demi meredakan detak jantungnya yang semakin tak karuan.
"Hah ... Kak Dami emang jagonya bikin aku deg-degan!"
***
Damian keluar dari kamarnya setelah membersihkan diri. Perutnya sudah meronta minta diisi setelah sempat melewatkan makan siangnya. Saat makanan sudah tertata rapi di atas meja makan, kedua orang tuanya menuruni tangga dan menyusul Damian di meja makan.
"Dami, setelah makan, Papa mau bicara!" ucap Freddy tegas.
"Baiklah, Pa!" sahut Damian.
Mereka bertiga makan dengan tenang tanpa pembicaraan sedikit pun. Setelah makan, Freddy dan meminta Damian mengikutinya ke ruang kerjanya.
"Kamu tetap pada pendirianmu, Nak?"
Damian tertegun. Tak ada nada tinggi dari pertanyaan yang terucap dari sang ayah. Namun, Damian masih tak menjawab pertanyaan itu seolah ia masih sulit untuk percaya.
"Nak, kamu dengar Papa, kan?" ucap Freddy sekali lagi.
"Iya, Papa. Aku akan tetap ambil beasiswa itu!" jawab Damian tegas.
Freddy menghampiri putranya dan langsung memeluknya erat.
"Mama benar. Kamu adalah jiplakan Papa," kekeh Freddy. "Apa pun yang kamu inginkan, selama itu tidak mengecewakan kami, kami akan mendukungmu, Nak."
Damian mengurai pelukannya. "Papa serius?"
Freddy mengangguk. "Kalau Papa gak serius, Papa tidak mungkin memelukmu seperti ini." Ia kembali memeluk putra kesayangannya.
Damian tersenyum haru. Ia membalas pelukan sang ayah tak kalah eratnya.
"Terima kasih, Papa. Dami janji gak akan bikin Papa sama Mama kecewa," ucapnya.