11. Berat untuk Berpisah

1405 Words
Proses belajar mengajar yang sempat terhenti selama tiga hari kini berlangsung normal. Seperti biasanya, Hana keluar dari kamar dengan seragam lengkap dan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya. "Pagi, Mami, Papi!" sapa Hana. "Pagi, Sayang!" balas kedua orang tuanya. "Kakak masih dinas?" tanya Hana sembari mengolesi roti tawar dengan selai nanas. "Minggu ini dia dinas pagi. Habis salat Subuh dia udah berangkat," jawab Zain. "Yah, berarti gak bisa sarapan bareng, dong!" sahut Hana lesu. "Maklumi saja, Nak! Namanya juga dokter," timpal Evita. "Kamu sendiri mau kuliah di mana nanti? Jurusan apa?" tanya Zain sembari menatap lurus ke arah putri semata wayangnya. "Arsitektur, Papi. Menurut Papi, bagusnya di mana?" Hana mengunyah pelan roti selai nanas miliknya. "Kamu mau tetap di sini atau di luar negeri?" tanya Zain balik. "Di sini saja, ya, Nak!" pinta Evita. "Mami gak mau pisah sama anak Mami." Hana terkekeh geli seraya memeluk tubuh sang ibu dari samping. "Iya, Mami sayang. Aku gak akan ke mana-mana. Aku juga khawatir kalau Mami sendirian di rumah sementara Papi ngurus proyek di luar kota." Ayah kandung Hana adalah seorang arsitek dan memiliki firma arsitek sendiri yang sudah berdiri sejak sepuluh tahun yang lalu. Siapa yang menyangka, bakat yang Zain miliki ternyata menurun ke putri satu-satunya. Berbeda dengan Marshal yang sangat senang mempelajari anatomi tubuh manusia. "Benar, ya? Mami bakal marah kalau kamu jauh-jauh dari Mami!" Hana tertawa seraya mengangguk. "Aku janji!" Hana selesai sarapan lebih dulu karena ia tidak ingin sampai terlambat pergi ke sekolah. Ia pun segera berpamitan pada ayah dan ibunya lalu menghampiri sopir keluarga mereka. Namun, Hana terkejut begitu ia melihat sosok yang sangat ia kenali. "K-kak Dami?" Sosok yang ia sebut namanya itu berbalik seraya tersenyum. "Hai, Sayang! Mana Tante? Aku sekalian minta izin antar anak gadisnya ini ke sekolah." "Ada di dalam, Kak," jawab Hana. "Masuk aja, Kak!" "Oke!" sahut Damian. Belum sempat Damian masuk ke rumah Hana, Evita dan Zain keluar bersama. "Eh, ada Damian!" Tampak raut terkejut di wajah Evita. "Ada apa, Nak?" "Saya minta izin untuk antar Hana ke sekolah, Tante!" "Oh, begitu! Boleh kok!" sahut Evita ramah seraya menoleh ke arah putrinya. "Hati-hati di jalan!" Damian dan Hana mengangguk. Setelah itu, mereka masuk ke dalam mobil yang baru kali ini dilihat oleh Hana. "Tumben pakai mobil, Kak!" Damian tersenyum. "Biar kamu lebih nyaman aja. Lagi pula dari sini ke sekolah jarang macet." Hana hanya mengangguk seraya mengucapkan terima kasih. Damian menyalakan mesin mobil tanpa membalas ucapan Hana. Saat Damian dan Hana sudah pergi, Zain menatap sang istri. "Siapa dia?" tanyanya. "Damian, pacarnya Hana. Ganteng, kan?" celetuk Evita. Zain mendengus kesal. "Jadi kamu berani memuji pacar putriku?" "Ih, Mas! Kamu kok cemburunya sama bocah sih?" rengek Evita. "Kamu sendiri yang berani memuji laki-laki lain di depanku!" Evita terkekeh geli. Wajah merajuk sang suami selalu menjadi hiburan tersendiri baginya. "Yang aku cintai cuma kamu, Mas," bisik Evita. Zain tersenyum penuh arti sembari menarik pinggang istrinya agar tubuh wanita mungil itu semakin merapat dengannya. "Sepertinya bermain sejenak di pagi hari boleh juga, Sayang," bisiknya. Evita mendadak tak mampu berkata-kata lagi. *** "Hana," lirih Damian. "Ada apa, Kak?" tanya Hana. Damian tak langsung menjawab. Tatapan matanya tak lepas dari wajah cantik Hana meskipun ada kacamata minus yang harus dipakainya. "Cantik. Kamu selalu cantik di mataku, Hana." Wajah Hana terlihat merona. Tanpa ia duga, ia merasakan bibir lembut Damian mendarat di keningnya. "K-kak Dami!" "Selamat belajar, Sayang!" ucap Damian seraya tersenyum. Hana hanya menjawab dengan anggukan kepala lalu bergegas turun dari mobil sebelum Damian mendengarkan suara detak jantungnya. Saat Hana turun dari mobil, Damian terkekeh geli hingga gadis itu hilang dari pandangannya. "Aku cinta kamu, Hana," gumamnya. Setelah ia terdiam beberapa saat, Damian segera menyalakan mesin mobilnya lalu bergegas meninggalkan sekolah. Ia akan kembali setelah jam pelajaran berakhir. Sementara Hana masuk ke dalam kelas dengan wajah yang terus tersenyum. "Hana, kamu gak gila, kan?" celetuk Gracia tiba-tiba. Hana langsung mendelik pada sahabatnya. "Gak bisa banget lihat orang senang!" sungutnya. "Dih, Hana kok jadi galak! Kenapa, Neng? Bilang atuh sama aku!" Gracia menaikturunkan alisnya. Hana menghela napasnya dalam-dalam. "Ceritanya nanti aja! Tuh, Bu Rika udah masuk!" ucapnya seraya mengedikkan dagunya ke arah wanita muda yang melangkah masuk dengan wajah datar. "Yah, dia lagi ... dia lagi!" keluh Gracia. *** "Jadi, Damian bakal ke Jerman setelah pengumuman hasil ujian?" tanya Gracia. Hana mengangguk lemah. "Begitulah." "Yah, baru aja jadian, udah mau LDR aja!" celetuk Gracia. "Mau gimana lagi. Selama gak ada yang minta putus, aku sama dia tetap lanjut," ungkap Hana. "Sabar, Sist!" Gracia menepuk pelan pundak sahabatnya. "Yang bakal LDR bukan cuma kamu, tapi aku sama Nino juga," sambungnya. "Eh, memangnya Kak Nino mau ke mana?" tanya Hana. "Jepang!" Gracia meneguk es teh manis miliknya hingga habis. "Dia langsung ditawari kakeknya yang memang asli sana. Mana aku sempat ngambek sama Nino gara-gara dia gak bilang-bilang soal ini sama aku. Ah, nyebelin banget!" "Nyebelin, tapi bakal kamu kangenin!" ledek Hana. "Halah, kayak kamu gak aja!" balas Gracia. Hana tertawa begitu melihat tatapan kesal yang Gracia berikan. "Cia, sepertinya hari-hari kita bakalan berat," keluh Hana. Gracia mengangguk setuju. "Tapi kita harus kuat! Mereka kan cuma mau meraih cita-cita, bukan mau selingkuh." Seketika Hana menggeleng. Membayangkan Damian dikejar gadis lain saja mampu membuatnya uring-uringan, apalagi jika Damian benar-benar terpikat pada salah satu di antara mereka. Tidak, Hana yakin Damian akan setia hanya padanya. *** Hana menunggu Damian yang sudah berjanji akan menjemputnya. Lima belas menit ia menunggu, akhirnya kekasihnya datang juga. "Kelamaan, ya? Maafkan aku, tadi ada urusan sebentar sama Mama," ucap Damian. Hana menggeleng. "Belum lama kok. Terus, beliau mana?" "Langsung aku antar pulang, terus ke sini," jawab Damian jujur. "Masuklah, Sayang!" Hana menurut. Gadis itu pun masuk ke dalam mobil. Mobil Damian melaju perlahan meninggalkan gedung sekolah. "Sayang, kita ke pantai, yuk!" "Tumben ngajak ke pantai, Kak?" Hana mengernyit. Damian menggenggam jemari Hana dengan salah satu tangannya yang bebas. "Aku terlalu kangen sama kamu," ujarnya. "Aku juga kangen sama kamu, Kak." Damian tersenyum lebar lalu mengecup punggung tangan kekasihnya berulang kali hingga Hana tertawa. Empat puluh menit berlalu, mereka sudah sampai di tempat yang dituju. Damian membuka pintu mobil lalu berlari kecil untuk membukakan pintu untuk Hana. "Ayo!" Hana menggenggam jemari Damian lalu keluar dari mobil. Setelah mengunci mobil, mereka berjalan hingga ke tepi pantai. "Kamu senang?" tanya Damian. "Iya, Kak. Makasih, ya!" "Lho, kok bilang gitu?" "Karena udah bikin aku senang hari ini." Damian tersenyum sendu. "Ini yang bikin aku berat ninggalin kamu. Aku bakal merindukan semua tentang kamu." Mata Hana berkaca-kaca. "Bukan hanya kamu yang merasa berat untuk berpisah, tapi aku juga. Mau gimana lagi, aku hanya bisa menunggumu kembali." "Aku janji, Sayang. Aku janji akan kembali untukmu." Damian mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna merah lalu membukanya. "Kak, ini-" Damian memasang cincin perak itu di jari manis kiri Hana. "Aku serius sama kamu, Sayang. Setelah studiku selesai, kita akan menikah." "Kak, aku-" Damian memeluk Hana begitu erat. Hingga tanpa sadar hujan turun semakin deras. "Sepertinya kita harus istirahat sebentar di sana," ujar Damian seraya menunjuk sebuah hotel. Hana mengangguk setuju. Mereka pun bergegas berlari menuju hotel yang tidak jauh dari bibir pantai. Setelah sampai, Damian langsung memesan kamar untuknya dan Hana. "Maaf, hanya tersisa satu kamar saat ini," kata sang resepsionis. Damian dan Hana saling pandang sejenak lalu mengangguk pelan. Toh hanya beberapa jam saja hingga pakaian mereka kering. Setelah memesan kamar, mereka langsung menuju lift dan menekan tombol lantai yang akan mereka tuju. Setelah itu, mereka masuk ke kamar untuk membersihkan diri secara bergantian. Hujan masih turun deras, sementara mobil Damian terparkir cukup jauh dari hotel. Mau tidak mau mereka harus menunggu hingga hujan reda. "Duh, gimana nih? Jangan sampai orang rumah menungguku!" ucap Hana. "Coba kamu telepon mereka!" tukas Damian. Hana pun menurut. Namun, sayang sekali ponselnya mati total karena kehabisan daya. "Kenapa, Sayang?" "Baterainya habis. Boleh pinjam ponsel kamu, gak?" Damian menggeleng. "Aku baru sadar kalau aku lupa bawa." Hana menghela napas pasrah sembari memeluk dirinya sendiri karena udara yang cukup dingin padahal suhu AC kamar tidak terlalu dingin. Tubuhnya menegang begitu Damian memeluknya. "Udah hangat?" Hana mengangguk pelan. Ia mendongak, menatap lekat mata Damian yang selalu membuatnya terbuai. "Aku mencintaimu, Hana," bisik Damian seraya mendekatkan wajahnya. Perlahan namun pasti, ia mencium bibir gadis itu. Hujan deras membuat mereka berbagi kehangatan. Perlahan nafsu* menjerat jiwa mereka hingga berani melepaskan apa yang seharusnya dijaga. Sekali lagi, indahnya jatuh cinta membuat sepasang manusia jatuh dalam dosa. Jangan salahkan cinta, tetapi salahkan diri yang membuang iman demi nafsu* atas nama cinta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD