Hana menatap nanar kamar hotel itu sembari memegang selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Perlahan ia menoleh ke arah Damian yang kondisinya juga sama.
"A-apa yang sudah aku lakukan?" gumamnya.
Perlahan ia bangun dari ranjang, akan tetapi rasa perih begitu terasa di pusat tubuhnya.
Ia sadar bahwa mahkota yang selama ini ia jaga telah ia berikan pada Damian.
Air mata penyesalan kembali menetes. Entah sudah berapa kali ia menangis, akan tetapi ia tak peduli. Kembali batinnya berandai-andai, akan tetapi semuanya sudah terlanjur terjadi.
Ya, Damian telah mengambil semuanya.
"Sayang, a-aku ... aku minta maaf," ucap Damian dengan suara serak. Pasalnya pria itu baru bangun tidur dan suara tangisan Hana membangunkannya.
Hana menggeleng. "Antar aku pulang sekarang!"
Damian menoleh ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 19.00. Artinya ia sudah tertidur selama dua jam setelah hubungan panas namun terlarang itu terjadi.
Ah, memang benar. Setan* akan menjadi pihak ketiga saat manusia berbeda jenis berduaan di tempat tertutup.
Damian mengangguk pelan. Ia membiarkan Hana masuk ke kamar mandi terlebih dahulu dengan berjalan tertatih karena menahan perih yang luar biasa di pusat tubuhnya. Ia menoleh ke kiri di mana terdapat bercak merah di seprei putih itu. Batinnya bergejolak. Di satu sisi, ia merasa menyesal telah merusak* kekasihnya sendiri. Namun, di sisi lain ia merasa beruntung telah menjadi yang pertama untuk gadis itu.
Tangan Damian terkepal kuat. Ya, ia bertekad untuk berjuang membahagiakan Hana yang sudah mengisi relung hatinya itu.
Tak berselang lama, Hana keluar dari kamar mandi dan sudah mengenakan kembali seragamnya. Damian pun menghampiri Hana lalu mengecup keningnya.
"Aku akan bertanggung jawab, Sayang. Tunggu aku pulang, ya!"
Hana mendongak, mencoba mencari kebohongan di kedua mata Damian. Namun, yang ia temukan hanyalah kesungguhan yang berasal dari hati laki-laki itu.
"Aku tunggu kamu, Kak. Aku menunggumu memenuhi janjimu," lirih Hana.
Damian mengangguk mantap. Selanjutnya Hana menggeser tubuhnya agar kekasihnya segera membersihkan dirinya di kamar mandi.
Hana melirik seprei putih yang sudah dinodai* bercak darah yang ia yakin adalah miliknya. Ia kembali menghela napas dalam-dalam. Ia sudah menyerahkan kehormatannya pada Damian dan seketika ia takut jika laki-laki yang ia cintai tidak akan bertanggung jawab padanya mengingat sebentar lagi akan ke Jerman.
"Semuanya tidak akan kembali seperti semula," gumamnya, lirih.
***
Damian berulang kali mengajak kekasihnya mengobrol, akan tetapi Hana hanya menanggapi seadanya. Karena Damian tak tahu lagi harus bicara apa, akhirnya ia memilih ikut diam. Suasana hening di mobil menandakan bahwa dua insan tersebut memilih fokus pada pikiran masing-masing.
Cukup lama mereka berada di jalan raya karena terjebak macet sampai akhirnya tiga puluh menit kemudian mobil itu tiba di depan rumah Hana.
"Sayang," lirih Damian.
Hana menoleh dengan tatapan datar. "Udah malam, Kak. Aku capek!"
"Nanti kamu makan dulu, ya!" ujar Damian lemah lembut seperti biasanya.
Hana hanya mengangguk pelan kemudian membuka pintu mobil tanpa menoleh lagi pada kekasihnya. Damian hanya bisa menghela napas kasar saat Hana keluar dari mobil setelah menghempas kasar pintu mobilnya. Ia berharap Hana-nya baik-baik saja.
***
Seminggu setelah kejadian di hotel itu membuat hubungan Hana dan Damian merenggang. Hana sengaja menghindari laki-laki itu karena ia masih butuh waktu untuk bertemu dengannya.
Sementara Damian seringkali merasa frustrasi. Di sela kesibukannya mempersiapkan keberangkatannya, Hana sulit sekali dihubungi. Kekasihnya lebih sering menonaktifkan ponselnya saat ia berusaha menghubunginya. Seketika ia mengambil kunci motornya lalu segera berangkat ke rumah Hana. Ia tak peduli jika Hana masih enggan bertemu dengannya karena ia perlu bicara.
Saat Damian tiba di rumah Hana, Evita memberitahunya bahwa Hana sudah pergi setengah jam yang lalu diantar sopir keluarga. Dengan sopan, Damian pamit pada ibu kekasihnya itu tanpa menghiraukan tatapan penuh tanya dari wanita paruh baya itu.
"Apa mereka sedang bertengkar, ya? Hana juga akhir-akhir ini terlihat murung," gumam Evita.
Damian melajukan motornya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di sekolah. Saat ia sampai, ia disambut beberapa teman-teman sekelasnya.
"Gue kira lo lupa kalau hari ini pengumuman hasil ujian kita," ledek Fadli.
Damian mendelik. "Tentu aja gue gak lupa, cuma gue sempat mau jemput Hana di rumahnya, tapi dia udah berangkat."
"Wah, telat lo! Tuh Hana di sana duduk sendirian!" celetuk Karl.
Damian hendak menghampiri Hana, tetapi suara bel tanda jam pelajaran akan dimulai menghentikan langkahnya. Ia hanya bisa menatap sendu kekasihnya dari jauh.
"Lo ada masalah sama Hana?" tanya Nino, menyelidik.
Damian menghela napas kasar. "Udah seminggu dia menghindar dari gue," lirihnya.
Nino yang hendak bertanya lebih jauh tentang renggangnya hubungan Hana dan Damian langsung berbalik begitu kepala sekolah meminta mereka berkumpul di lapangan.
***
"Yes, akhirnya kita lulus!" pekik Karl.
Semua siswa kelas XII akhirnya lulus seratus persen. Mereka pun merayakan kelulusan dengan cara berbeda. Alih-alih mereka melakukan aksi coret-coret, mereka justru mengumpulkan baju seragam mereka untuk didonasikan kepada kaum dhuafa.
Setelah melakukan aksi tersebut, Damian dan empat sahabatnya berkumpul di taman belakang sekolah.
"Gimana mobilnya, Dami?" celetuk Gibran.
Damian mengacungkan jempolnya. "Gue suka!"
"Gue baru sekali pakai mobil itu. Gue kasih cuma-cuma buat lo karena gue salut sama lo!"
Damian mengernyit bingung.
"Iya, Gibran salut sama lo karena lo udah berhasil dapatin Hana, cewek cupu dengan segudang prestasinya itu," timpal Karl. "Apalagi kalau lo berhasil tidur sama Hana, wah lo-"
Belum sempat Karl menyelesaikan ucapannya, Damian langsung menghantam wajahnya dengan satu pukulan.
"Lo pikir Hana cewek seperti itu, hah! Hana cewek baik-baik!" sentak Damian.
"Argh, gue cuma bercanda, Dam!" Karl meringis kesakitan.
"Lo bercandanya kelewatan!" hardik Damian.
"Ck, padahal lo udah dapat mobil karena berhasil bikin Hana takluk sama lo!" cibir Karl.
Tanpa mereka sadari, seseorang mendengarkan hal itu dengan hati pilu. Perlahan air matanya turun membasahi wajahnya, membuat kacamatanya berembun. Kakinya terus melangkah menghampiri mereka yang sedang berdebat setelah sempat terjadi pemukulan.
"Dam, cewek lo!" bisik Gibran.
Sontak tubuh Damian menegang. Mendadak gerakannya terasa kaku, akan tetapi ia tetap memaksakan diri untuk berbalik.
"Aku gak nyangka perasaanku yang tulus dipermainkan sedemikian rupa." Bibir Hana terlihat bergetar.
Damian hendak menghampiri kekasihnya, akan tetapi Hana mengangkat tangannya sebagai isyarat untuk tidak mendekat.
"Sayang!"
"Tadinya aku ke sini mau membicarakan lebih lanjut tentang hubungan kita. Tadinya aku ingin minta maaf karena sudah menghindar darimu." Hana menggeleng pelan seraya tersenyum miring. "Sayangnya kenyataan ini harus aku dengar dari kalian. Rasa cintaku yang tulus dihargai sebuah mobil," kekehnya.
"Hana, maksudnya gak kayak gitu!"
Damian terlihat putus asa, akan tetapi Hana tetap pada pendiriannya.
"Maaf, Kak. Kita putus!" pungkas Hana.
"Gak, Hana! Aku gak mau putus!"
Hana segera pergi meninggalkan Damian yang menatapnya terluka.
"Hana!"
Damian berlutut di atas rumput sembari menutup wajahnya yang basah karena air mata. Ia tak menyangka hubungannya berakhir secepat ini.